NovelToon NovelToon
Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Tuan Muda Kota Terjebak Di Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sibee

Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."

Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.

Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.

sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Perhatian Bude Lastri dan Siasat Ratih

Matahari perlahan mulai tenggelam di ufuk barat, memancarkan semburat warna oranye yang puitis di atas langit. Setelah dirasa tenaganya pulih berkat es teh manis buatan Ibu Aminah, Arkan akhirnya berpamitan untuk melanjutkan perjalanan pulang. Langkah kakinya kini terasa sedikit lebih ringan, meskipun rasa pegal di seluruh persendian tubuhnya masih tersisa.

Begitu Arkan menapakkan kaki di halaman rumah pedesaan milik Mbah Harjo, ia langsung disambut oleh Bude Lastri yang sedang menyapu pelataran. Wanita paruh baya itu seketika menjatuhkan sapu lidinya begitu melihat penampilan Arkan yang sudah berantakan. Kaus putih oblongnya penuh noda cokelat kering, rambutnya acak-acakan, dan tangan kanannya belepotan cairan hijau pekat.

"Ya ampun, Le! Kamu ini habis mencangkul ladang atau habis bergulat dengan lumpur sawah?" seru Bude Lastri dengan wajah penuh kepanikan yang jenaka. Ia buru-buru mendekati Arkan, lalu meraih pergelangan tangan kanan pria itu. "Loh, ini tanganmu kenapa hijau-hijau begini? Gusti... kulitmu melepuh sampai mengelupas begini, Arkan!"

"Ini tadi diobati pakai daun binahong sama Nayla, Bude. Katanya biar tidak infeksi," jawab Arkan pelan, mencoba menarik tangannya karena merasa tidak enak ditatap dengan begitu khawatir.

Bude Lastri menghela napas panjang, menepuk dahinya pelan. "Nayla memang pintar kalau urusan obat tradisional. Tapi ya ampun, kasihan sekali kamu. Pasti perih luar biasa, kan? Kulit kota yang halus begini langsung dipaksa memegang cangkul besi kasar seharian. Barkah itu benar-benar tidak punya perasaan kalau menyuruh orang bekerja." Bude Lastri mengomeli suaminya sendiri, membuat Arkan diam-diam merasa hangat karena diperhatikan. "Ayo cepat masuk, Le. Bersihkan badanmu dulu, setelah itu Bude siapkan kain kasa bersih untuk membungkus tanganmu agar tidak terkena debu."

Setelah membersihkan tubuhnya dengan bersusah payah menggunakan tangan kiri di kamar mandi belakang, Arkan kembali ke kamarnya dengan pakaian yang lebih bersih. Bude Lastri dengan telaten membantunya membersihkan sisa daun binahong yang mengering, lalu membalut telapak tangan Arkan dengan kain kasa putih secara perlahan agar cairan obatnya tetap terlindungi namun tangannya tidak kotor.

Selesai di obati, Arkan duduk bersandar di bangku kayu teras depan rumah untuk menghirup udara malam desa yang mulai terasa sejuk. Mbah Harjo tampak duduk di sampingnya, menghisap rokok lintingan sendiri dengan tenang.

"Bagaimana hari pertamamu di ladang, Arkananta?" tanya Mbah Harjo tanpa menoleh, suaranya terdengar berat dan sarat akan pengalaman hidup.

Arkan terdiam sejenak, menatap telapak tangannya yang terbalut kain kasa. "Melelahkan, Mbah. Dan menjengkelkan," jawab Arkan jujur, bayangan wajah menantang milik Nayla mendadak melintas di pikirannya.

Mbah Harjo terkekeh pelan. "Tanah desa ini tidak pernah bohong, Le. Apa yang kamu tanam dengan kerja keras, itu yang akan kamu tuai. Keangkuhan tidak akan bisa menumbuhkan padi di sawah. Pelajaran pertamamu hari ini adalah menurunkan egomu di depan alam."

Arkan merenungkan ucapan kakek itu dalam diam. Belum sempat ia membalas, sebuah suara gesekan langkah kaki dari arah pintu pagar halaman depan membuyarkan suasana tenang teras rumah tersebut.

"Selamat malam, Mbah Harjo! Selamat malam, Mas Arkan yang tampan!"

Sesosok gadis dengan pakaian blus kuning ketat dan rok jins pendek melangkah masuk ke halaman rumah dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin. Di kedua tangannya, ia menjinjing sebuah kotak makan plastik berukuran besar yang tampak modern dan mahal. Siapa lagi kalau bukan Ratih, kembang desa antagonis yang agresif.

Ratih berjalan dengan gaya berlenggak-lenggok centil menaiki anak tangga teras. Begitu matanya melihat kain kasa putih yang membungkus tangan kanan Arkan, wajahnya langsung berubah menjadi ekspresi sedih yang terkesan sangat berlebihan dan dibuat-buat.

"Ya ampun... Mas Arkan! Tangan Mas Arkan kenapa sampai dibalut begitu?" pekik Ratih histeris, langsung mengambil posisi duduk di bangku kayu dekat sekali dengan Arkan tanpa memedulikan keberadaan Mbah Harjo. Ratih mencoba meraih tangan Arkan yang terluka, namun Arkan dengan cepat menarik tangannya menjauh. "Ih, ini pasti gara-gara si Nayla itu, kan? Dia sengaja menyiksa Mas Arkan di ladang kotornya! Kurang ajar sekali anak petani itu, berani-beraninya membuat Tuan Muda Jakarta terluka begini!" Ratih mengomeli Nayla dengan nada ketus yang melengking, memojokkan saingannya.

Arkan mengernyitkan dahinya dalam-dalam. Kehadiran gadis ini benar-benar merusak ketenangan malamnya. "Ini bukan salah Nayla. Saya yang belum terbiasa bekerja. Dan tolong, jangan bicara berisik di sini, kepala saya sedang pening," ketus Arkan dengan suara dingin yang menusuk.

Ratih sempat tertegun mendapat respons ketus untuk kesekian kalinya, namun sifat bermuka duanya segera mengambil alih. Ia tersenyum manis kembali sambil menepuk kotak plastik di pangkuannya. "Eh... maaf ya, Mas Arkan. Ratih cuma khawatir. Oh iya, ini Ratih sengaja datang malam-malam untuk mengantarkan makanan spesial untuk Mas Arkan. Ini Ratih beli langsung dari restoran cepat saji di kota kabupaten tadi sore, loh! Ada ayam goreng krispi dan burger daging sapi. Mas Arkan pasti bosan dan tidak selera kan makan masakan desa yang serba sederhana dan murahan di rumah ini? Ayo dimakan, Mas!" Ratih membuka tutup kotak makan tersebut, memamerkan aroma makanan kota yang sudah agak dingin.

Mendengar kata 'masakan desa yang murahan', Bude Lastri yang kebetulan baru keluar dari pintu dalam membawa teko air hangat langsung menghentikan langkahnya. Sepasang alis wanita paruh baya itu menukik tajam, merasa tersinggung karena masakan harian keluarganya dihina secara tidak langsung oleh anak Juragan Karno yang sombong itu. Mbah Harjo sendiri hanya menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala melihat tabiat Ratih yang tidak punya unggah-ungguh kesopanan.

Arkan menangkap perubahan ekspresi Bude Lastri. Sifat gila hormatnya dulu di Jakarta mungkin akan membuatnya memilih makanan kota tersebut. Namun, ingatan tentang betapa nikmatnya nasi goreng kampung buatan Bude Lastri pagi tadi, serta kehangatan es teh manis aren buatan Ibu Aminah siang tadi, mendadak membuat makanan cepat saji di depan matanya ini terlihat sangat tidak menarik.

Arkan menatap Ratih dengan pandangan meremehkan yang sangat kentara, jenis tatapan mematikan yang biasa ia gunakan untuk menjatuhkan lawan bisnisnya di Jakarta.

"Bawa pulang makanan kotamu itu, Ratih," ucap Arkan dengan nada suara yang sangat dingin, berat, dan penuh penekanan. "Saya lebih menghargai masakan buatan Bude Lastri di rumah ini daripada makanan restoran cepat saji yang sudah dingin dan berminyak ini. Dan satu hal lagi... di desa ini, saya belajar menghargai proses kerja keras orang lain. Masakan di rumah ini jauh lebih terhormat daripada kesombongan keluargamu yang suka pamer harta di depan orang tua."

Kalimat menohok dari Arkan bagaikan tamparan keras tepat di wajah Ratih. Senyuman manja di bibirnya seketika lenyap, digantikan oleh wajah yang memerah padam menahan malu yang luar biasa di depan Mbah Harjo dan Bude Lastri. Ratih buru-buru menutup kembali kotak plastiknya dengan tangan yang bergetar menahan dongkol.

"M-Mas Arkan... Ratih kan niatnya baik..." bisik Ratih dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena harga dirinya sebagai kembang desa yang paling dipuja mendadak diinjak-injak oleh pria yang ia taksir.

"Niat baik tidak perlu merendahkan orang lain," potong Arkan tanpa kompromi, lalu berdiri dari bangkunya menggunakan kaki kirinya yang sehat. "Bude Lastri, saya masuk ke dalam dulu untuk beristirahat," pamit Arkan dengan sopan pada Bude Lastri, mengabaikan keberadaan Ratih sepenuhnya sebelum melangkah masuk ke dalam rumah.

Ratih menghentakkan kakinya ke lantai teras dengan kasar. Ia menatap kepergian Arkan dengan kepalan tangan kuat-kuat. Rasa malunya malam ini berubah menjadi dendam yang membara. Di dalam hatinya, Ratih bersumpah bahwa penolakan Arkan ini pasti terjadi karena pengaruh buruk dari Nayla. "Awas kamu, Nayla! Lihat saja nanti, aku akan membuat hidupmu di desa ini tidak tenang karena sudah berani merebut Mas Arkan dariku!" batin Ratih penuh amarah sebelum akhirnya berlari pergi meninggalkan halaman rumah Mbah Harjo dengan menahan perasaan dongkol.

1
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian Author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya Author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
Tina
Hallo semuanya... semoga suka sama bukunya ya, kalo ada masukan ataupun kritikan dari kalian author sangat menerima ya, kedepannya nanti bakal diperbaiki, soalnya author juga baru belajar nih🥰🫶🏻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!