NovelToon NovelToon
KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

KAU KHIANATI AKU, KUNIKAHI AYAHMU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Dicampakkan Aris karena dianggap tidak selevel, Aura memilih balas dendam paling elegan: Menikahi Hendra (38th), ayah Aris yang tampan dan kaya raya.
​Kini, sang mantan harus tunduk di bawah kekuasaan ibu tiri barunya.
​"Dulu kamu menginjakku, Aris. Sekarang, panggil aku Ibu!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BADAI DIKEDIAMAN FAHREZA

“Aris... Apa maksud kalimatmu baru saja... tentang kenangan tiga tahun bersama calon ibumu?”

Suara Hendra terdengar begitu pelan, namun berbobot bagaikan gumpalan es yang sanggup membekukan seluruh udara di taman itu. Pria berusia tiga puluh delapan tahun itu berdiri tegap di bawah naungan pilar taman. Tatapan matanya yang tajam bagai elang menghujam lurus ke arah putranya yang masih berlutut kaku di atas tanah.

Aris gemetar hebat. Seluruh persendian tubuhnya mendadak lemas, dan warna di wajahnya memudar sepenuhnya. Peluh dingin membanjiri dahi dan lehernya. Rasa takut yang sangat luar biasa menyelimuti dirinya—rasa takut kepada sosok sang ayah yang selama ini memegang kendali atas seluruh hidup dan masa depannya.

Aura berdiri beberapa langkah dari tempat Aris berlutut. Dadanya berdebar sedikit lebih kencang, namun ia berhasil mempertahankan raut wajah yang tenang, anggun, dan tak tergeser. Ia tidak memperlihatkan kepanikan sedikit pun. Sebagai seorang wanita yang cerdas, Aura tahu persis bahwa di saat-saat paling krusial seperti ini, ketenangan adalah satu-satunya perisai terbaiknya.

Hendra melangkah maju secara perlahan. Suara denting sepatu kulit mewahnya di atas batu alam taman terdengar teratur, bagaikan detakan jarum jam eksekusi. Pria matang itu menghentikan langkahnya tepat di sebelah Aura, lalu merengkuh pinggang istrinya dengan jemarinya yang kokoh—sebuah gestur kepemilikan mutlak yang tak tergoyahkan.

Hendra menunduk, menatap Aris dari ketinggian tubuhnya yang tegap.

“Jawab Papa, Aris,” perintah Hendra, suara rendahnya dipenuhi aura kepemimpinan yang dingin dan menekan.

“Apa yang kamu lakukan di sini sambil berlutut di depan istri Papa? Dan apa maksud ucapanmu yang memohon-mohon padanya tadi?”

Aris menelan ludahnya yang terasa bagai duri tajam. Bibirnya gemetar, mencoba merangkai kata-kata untuk menyelamatkan dirinya atau menghancurkan Aura, namun intimidasi dari ayahnya terlalu kuat.

“Pa... Papa...” suara Aris tercekat di tenggorokan, terputus-putus.

“Aris... Aris cuma... Aris mau minta maaf sama Aura...”

“Minta maaf?”

Hendra menaikkan sebelah alisnya, matanya memicing meneliti raut ketakutan di wajah anak tunggalnya.

“Minta maaf untuk apa? Dan kenapa kamu menyebut-nyebut soal hubungan tiga tahun di antara kalian?”

Ketegangan di area taman itu berada di puncaknya. Jika Aris mengaku sekarang secara blak-blakan bahwa Aura adalah mantannya yang pernah ia buang, situasi bisa berubah menjadi sangat rumit. Namun, sebelum Aris sempat menyusun kebohongan baru atau membongkar kebenaran, Aura melangkah satu titik lebih depan dengan sangat tenang.

Aura mengusap lembut lengan jas Hendra, menarik perhatian suaminya. Ia mendongak menatap Hendra dengan binar mata yang jernih, jujur, dan penuh kelembutan.

“Biar saya yang jelaskan, Hendra,”

tutur Aura dengan suara selembut sutra yang menenangkan amarah sang taipan.

Hendra menoleh menatap istri mudanya. Tatapan matanya yang tadi sekeras karang perlahan melunak saat memandangi wajah cantik Aura.

“Katakan padaku, Aura. Apa yang sebenarnya terjadi saat saya tidak ada di sini?”

Aura menatap Aris sekilas—memberikan tatapan dingin penuh ancaman terselubung yang membuat Aris menahan napas—sebelum kembali menatap Hendra.

“Aris merasa terpukul dan frustrasi karena keberadaan saya di rumah ini, Hendra,”

jawab Aura dengan nada tenang yang sangat meyakinkan.

“Dia merasa bahwa kehadiran saya sebagai istri baru Anda dan komisaris di perusahaan akan menggeser posisinya di mata Anda. Sebelum Anda datang tadi, dia memohon agar saya membujuk Anda untuk mengembalikan posisi manajerialnya yang sempat Anda evaluasi.”

Hendra mengerutkan keningnya, menatap Aris dengan nada tidak percaya.

“Hanya karena itu?”

“Tentu saja,” sambung Aura lancar tanpa ada keraguan sedikit pun di matanya.

“Soal kalimat 'tiga tahun' yang dia ucapkan... Aris merasa tiga tahun masa kerjanya di perusahaan cabang menjadi sia-sia kalau saya tiba-tiba duduk di jajaran komisaris untuk mengawasinya. Dia emosional dan mulai meracau hal-hal yang tidak masuk akal karena takut kehilangan kepercayaan dari Papanya sendiri.”

Aris membelalakkan matanya mendengar penjelasan Aura. Ia tidak menyangka Aura sanggup memutarbalikkan kalimat emosionalnya tadi menjadi narasi tentang persaingan posisi kerja di perusahaan dengan begitu rapi dan masuk akal di mata ayahnya!

Hendra menghembuskan napas panjang. Ketegangan di bahunya perlahan melonggar. Sebagai seorang pebisnis yang biasa menilai orang dari logika, penjelasan Aura terasa sangat masuk akal bagi Hendra. Ia tahu betul betapa manja dan takutnya Aris jika posisinya di Fahreza Group terancam.

Hendra menatap Aris dengan pandangan kekecewaan yang makin mendalam.

“Berdiri, Aris!” bentak Hendra dingin.

“Bangun! Tidak malu kamu berlutut dan merengek-rengek seperti anak kecil di depan calon ibumu hanya karena takut dievaluasi di perusahaan?!”

Aris dengan tubuh gemetar perlahan berdiri, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

“Maaf, Pa... Aris... Aris cuma emosi tadi...”

“Aura adalah komisaris sah dan istri Papa,” tegas Hendra tanpa ragu, suaranya menggelegar di taman itu.

“Dia berhak mengawasi seluruh kinerjamu di kantor. Kalau kamu memang berprestasi dan punya kemampuan selama tiga tahun ini, kamu tidak perlu takut dinilai oleh siapa pun! Tapi kalau kamu bertindak tidak sopan lagi padanya di rumah ini, Papa tidak akan segan-segan mencabut seluruh fasilitas dan posisimu di perusahaan!”

Aris mengepalkan tangannya di samping tubuh, menahan rasa malu dan hancurnya ego yang tak tertahankan. Kata-kata ayahnya bagai tamparan keras di wajahnya.

Aura tersenyum tipis, merapatkan tubuhnya di samping Hendra.

“Sudahlah, Hendra. Aris hanya butuh bimbingan agar bisa lebih dewasa. Saya akan membantumu mengawasinya di kantor mulai esok hari.”

Hendra menatap Aura dengan binar kebanggaan dan rasa sayang yang luar biasa. Ia mengecup kening Aura secara mesra di depan mata Aris, membuat Aris memalingkan wajahnya dengan kepalan tangan yang makin erat.

“Kamu wanita yang terlalu sabar dan bijaksana, Aura,” puji Hendra pelan.

“Ayo, ikut saya ke mobil. Berkas saya sudah diambil oleh pengawal, kita berangkat ke kantor bersama sekarang.”

“Baik, Mas Hendra,” sahut Aura lembut, sengaja menggunakan panggilan mesra itu untuk makin meremukkan hati Aris.

Hendra merangkul pinggang Aura dengan anggun, membimbing istrinya melangkah pergi meninggalkan taman.

Sebelum benar-benar berlalu, Aura menoleh sedikit ke arah Aris dari balik bahu suaminya. Ia menyunggingkan senyuman paling manis namun paling dingin di bibirnya—sebuah sinyal tegas bahwa permainan balas dendam ini baru saja memasuki babak yang jauh lebih kejam.

Siang harinya di Fahreza Tower.

Gedung pencakar langit berlantai empat puluh lima di pusat kawasan bisnis Jakarta itu tampak sangat sibuk. Namun siang ini, seluruh lantai eksekutif diliputi kasak-kusuk dan ketegangan yang intens. Berita tentang kedatangan Nyonya baru Fahreza—sang komisaris baru—telah menyebar ke seluruh penjuru kantor.

Aura melangkah menyusuri lorong berlantai marmer di lantai paling atas, didampingi oleh dua sekretaris senior dan beberapa pengawal pribadi bersetelan hitam. Ia mengenakan setelan blazer berwarna biru navy potongan tajam yang membingkai tubuh jenjangnya dengan sempurna. Setiap langkah kaki hak tingginya memancarkan aura dominasi, keanggunan, dan kecerdasan yang tak tertandingi.

Para karyawan dan jajaran direksi yang berpapasan dengannya langsung menundukkan kepala dengan penuh rasa hormat.

“Selamat siang, Nyonya Fahreza,” sapa para staf dengan sangat sopan.

Aura membalas mereka dengan anggukan kepala yang anggun dan senyuman ramah namun tegas. Ia melangkah menuju ruang rapat utama di mana seluruh kepala divisi dan jajaran direksi sudah berkumpul untuk mengikuti rapat koordinasi mingguan.

Pintu ganda ruang rapat berukir mewah dibuka oleh pengawal.

Di dalam ruangan berkapasitas lima puluh orang itu, suasana seketika mendadak hening. Hendra Fahreza sudah duduk di kursi utama kepala meja rapat dalam balutan jas hitam mewahnya, memancarkan wibawa sang taipan tertinggi. Di sebelah kanan Hendra, sebuah kursi kosong berukir mewah telah disiapkan khusus untuk Aura—sebagai jajaran komisaris utama baru.

Sedangkan Aris duduk di barisan tengah meja rapat bersama jajaran manajer lainnya, tampak pucat dan kaku dengan kemeja kerjanya.

Hendra berdiri dari kursinya saat melihat Aura masuk, memberikan penghormatan resmi yang membuat seluruh direksi ikut berdiri seketika.

“Selamat siang semuanya,” buka Hendra dengan suara beratnya yang memenuhi seluruh sudut ruangan.

“Sebelum kita memulai agenda rapat hari ini, saya ingin mengenalkan secara resmi Komisaris Baru Fahreza Group, sekaligus istri sah saya... Nyonya Aura Fahreza.”

Tepuk tangan meriah dan penuh rasa hormat seketika membahana di dalam ruang rapat tersebut. Para direksi senior mengangguk-angguk kagum melihat kecantikan, ketenangan, dan pembawaan kelas atas yang dipancarkan oleh istri muda sang taipan.

Aura melangkah menuju kursinya di sebelah Hendra, lalu berdiri sejenak menatap seluruh jajaran eksekutif di ruangan itu, termasuk menatap Aris yang duduk kaku di tengah.

“Terima kasih, Pak Hendra dan seluruh jajaran direksi,” ujar Aura, suaranya begitu jernih, tegas, dan berbobot.

“Sebagai komisaris baru, fokus utama saya adalah memastikan efisiensi kerja dan integritas di setiap divisi, khususnya evaluasi kinerja pada proyek-proyek di kantor cabang yang dipimpin oleh para manajer muda.”

Mata Aura tertuju lurus pada Aris saat mengutarakan kalimat tersebut. Aris menelan ludah yang terasa dingin, dadanya sesak akibat tatapan dominan dari mantan kekasihnya yang kini menjadi atasan tertingginya.

“Saya berharap seluruh tim bisa bekerja sama dengan standar profesionalisme tertinggi,” lanjut Aura dengan senyuman anggun. “Duduklah semuanya.”

Rapat koordinasi pun berlangsung dengan sangat intensif. Selama dua jam penuh, Aura menunjukkan kapasitas kecerdasannya yang luar biasa. Ia tidak hanya menjadi pajangan cantik di sebelah Hendra—Aura menanyakan detail angka laporan keuangan, menganalisis proyek yang tersendat, dan memberikan masukan kritis yang membuat para direksi senior terpukau oleh ketajaman intuisinya.

Hendra menatap istrinya dari samping dengan binar kebanggaan dan ketertarikan yang tak lagi disembunyikan. Ia makin yakin bahwa keputusannya menikahi Aura adalah langkah terbaik yang pernah ia ambil dalam hidupnya.

Di tengah sesi presentasi laporan divisi pengembangan yang dipimpin oleh Aris, suasana rapat mendadak tegang saat Aura mengangkat tangannya pelan, menghentikan penjelasan Aris di depan layar proyektor.

“Tunggu sebentar, Manajer Aris,” potong Aura dengan suara tenang namun tegas.

Aris menghentikan presentasinya, tangannya yang memegang pointer laser gemetar pelan.

“Ya... Ada apa, Nyonya Aura?”

Aura membalik lembaran berkas laporan di depannya, lalu menatap Aris dengan pandangan menelisik.

“Saya melihat ada penggelembungan anggaran sebesar lima belas persen pada alokasi pemasaran proyek hotel di Bali untuk kuartal ini. Apakah Anda bisa menjelaskan kenapa ada kejanggalan dana sebesar itu di bawah pengawasan Anda?”

Seluruh jajaran direksi di ruangan itu seketika menoleh menatap Aris. Wajah Aris yang tadinya pucat kini bertambah merah padam akibat rasa malu. Anggaran lima belas persen itu adalah dana yang diam-diam ia alokasikan untuk memfasilitasi kemewahan pribadi Siska demi menjaga gengsinya di depan keluarga pemilik hotel tersebut!

“I-itu... dana itu alokasinya sudah disetujui untuk kegiatan promotional event bersama mitra kerja, Nyonya,”

jawab Aris terbata-bata, mencoba membela diri di hadapan ayahnya dan seluruh direksi.

Aura mengukir senyuman tipis yang sangat dingin.

“Setuju? Tapi tidak ada rincian vendor atau bukti transaksi yang sah di laporan ini. Sebagai komisaris, saya membekukan sementara anggaran tersebut sampai Anda bisa menyerahkan bukti audit transparan esok pagi.”

Aris mengepalkan tangannya di atas podium presentasi, menahan amarah yang membakar dadanya. Ia dipermalukan secara terbuka di hadapan seluruh jajaran direksi dan ayahnya sendiri oleh wanita yang dulu ia ejek 'cuma staf biasa di perusahaan kecil'!

Hendra mengangguk setuju dengan keputusan istrinya.

“Keputusan Komisaris Aura sangat tepat. Aris, serahkan laporan audit itu besok pagi ke ruangan Aura.”

“Ba... Baik, Pak,” bisik Aris parau, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Sore harinya.

Jam kerja telah usai. Hendra harus menghadiri pertemuan darurat dengan menteri investasi di gedung pemerintahan, sehingga ia meminta Aura untuk menunggu di ruang kerja utamanya sampai ia kembali untuk pulang bersama.

Aura duduk di kursi kerja kulit yang megah di ruang kerja Hendra, menyesap cangkir teh hangatnya seraya menikmati pemandangan senja Jakarta dari balik jendela kaca tinggi. Kemenangan demi kemenangan yang ia raih terasa sangat manis.

Tiba-tiba, pintu ruang kerja berukir mewah itu terdorong terbuka tanpa ada ketukan terlebih dahulu.

Aris melangkah masuk ke dalam ruangan dengan napas memburu. Wajahnya dipenuhi oleh dendam, rasa malu, dan keputusasaan yang sudah mencapai batasnya. Pria muda itu mengunci pintu dari dalam, lalu melangkah cepat menghampiri meja kerja tempat Aura duduk.

Aura tidak bergeming. Ia meletakkan cangkir tehnya ke atas tatakan porselen dengan gerakan yang sangat tenang, lalu menatap Aris dengan pandangan dingin.

“Tidak ada tata krama sama sekali, Aris?” tegur Aura datar.

“Kamu masuk ke ruang kerja pimpinan tanpa mengetuk pintu.”

“Cukup, Aura! Cukup!”

bentak Aris dengan suara parau menahan tangis. Pria itu menopang kedua tangannya di atas meja kerja mahoni, mengikis jarak dengan Aura di balik meja.

“Kamu puas kan?! Kamu puas meremukkan harga diri aku di depan semua direksi tadi?! Kamu mau bikin aku hancur di depan Papa, kan?!”

Aura menyandarkan punggungnya pada kursi kulit, menatap Aris dengan sudut bibir yang terangkat tipis.

“Harga diri?” ulang Aura pelan.

“Bukannya kamu sendiri yang menghancurkan harga diri kamu saat kamu mencuri anggaran perusahaan cuma demi membelikan barang-barang mewah untuk Siska? Aku cuma menjalankan tugasku sebagai komisaris untuk membersihkan kebusukan di kantor ini.”

“Kamu lakuin ini karena kamu benci sama aku!” jerit Aris frustrasi.

“Kamu sengaja nikahin Papa, kamu sengaja masuk ke perusahaan ini cuma buat balas dendam! Kamu penipu, Aura! Kamu wanita licik yang memanfaatkan Papa!”

Aura berdiri dari kursinya secara perlahan. Postur tubuhnya yang anggun dan dingin memancarkan kekuasaan yang jauh melampaui Aris. Ia melangkah keluar dari balik meja, berdiri tepat di hadapan Aris dengan tatapan mata yang tak tergoyahkan.

“Terserah kamu mau menyebutku apa, Aris,” bisik Aura dengan suara rendah yang mengintimidasi.

“Tapi kenyataannya tidak berubah. Aku adalah Nyonya Hendra Fahreza. Pria yang kamu panggil Papa itu bertekuk lutut padaku, menyerahkan sepuluh persen sahamnya padaku, dan mencintaiku dengan seluruh kekuasaannya. Sedangkan kamu? Kamu cuma anak kecil yang ketakutan kehilangan uang jajan dari Papamu.”

Kalimat itu bagaikan hantaman tajam yang menghancurkan sisa-sisa kesabaran Aris. Rasa frustrasi, penyesalan, dan dendam yang membakar otaknya membuat pria muda itu kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Dengan mata memerah penuh emosi yang liar, Aris mendadak mencengkeram kedua pergelangan tangan Aura dengan sangat kuat!

“Aris! Lepaskan!” geram Aura rendah, matanya berkilat marah.

“Nggak! Aku nggak akan lepasin kamu, Ra!” teriak Aris hilang akal. Pria itu menarik tubuh Aura mendekat ke arahnya secara paksa.

“Kamu punya aku! Tiga tahun kamu milik aku! Kamu nggak boleh ada di pelukan Papa! Kamu harus ceraikan Papa sekarang juga atau aku—”

KLAK!

Suara engsel pintu ruang kerja yang dikunci dari dalam mendadak berbunyi nyaring usai diputar secara paksa dari luar menggunakan kunci master eksekutif.

Pintu ganda kayu jati itu terbuka lebar dengan dorongan keras.

Hendra Fahreza berdiri di ambang pintu bersama dua pengawal pribadinya. Wajah sang taipan yang baru saja kembali dari pertemuannya seketika membeku. Mata cokelat gelap milik Hendra membelalak tajam saat menyaksikan putranya sedang mencengkeram tubuh istrinya secara paksa di tengah ruangan.

Aura yang memancarkan kebengisan dan amarah pembunuh seketika menyelimuti seluruh tubuh tegap Hendra.

“ARIS... APA YANG KAMU LAKUKAN PADA ISTRIKU?!”

1
Ds Phone
dia lagi cekap
Ds Phone
siapa pulak tu tak habis lagi ke
Ds Phone
akhir nya derama dah berhair
Ds Phone
meraka lagi cekap
Ds Phone
dah culik anak orang tu pulak
Ds Phone
apa kagi dia nak buat
Ds Phone
semua nya dah kenatankap
Ds Phone
ada yang tak betul ni
Ds Phone
ada yang tak kena lah ni
Ds Phone
ada apa masalah lagi tu
Ds Phone
semua bolih di patah kan nya
Ds Phone
ada masalah lagi
Ds Phone
apa masut dia ya
Ds Phone
kena tankap juga sudah nya
Ds Phone
macam mana kau bolih dapat fi al rasia tu
Ds Phone
dapat lari apa dia akan buat hal
Ds Phone
kalau kita apa
Ds Phone
kena penjara juga sudah nya
Ds Phone
banyak sangat duit yang dia pakai
Ds Phone
kenapa nak kena tankap pulak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!