NovelToon NovelToon
Nona Muda Jatuh Miskin

Nona Muda Jatuh Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:524
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.

Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.

Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.

Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.

Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15. Ratu yang Terbuang

Valeska melangkah masuk ke dalam kelas XI-1 dengan pandangan lurus ke bawah. Namun, langkahnya mendadak terhenti di tengah jalan begitu matanya menangkap pemandangan di area meja depan—tempat yang dulu menjadi wilayah kekuasaannya.

Giselle, Clarissa, dan Jena tampak duduk melingkar sambil tertawa renyah. Di atas meja mereka bertumpuk tas-tas berdesainer terbaru dan minuman racikan kafe mahal.

Giselle merangkul bahu Jena dengan sangat akrab, sementara Clarissa kini kembali tampil elegan dengan perhiasan perak berkilau di pergelangan tangannya dan senyum yang kembali percaya diri.

"Seriusan, Jen? Papa lo baru beliin lo tas yang edisi terbatas itu?!" seru Giselle dengan nada kagum yang dibuat-buat.

"Iya dong," sahut Jena sombong sambil mengibaskan rambutnya yang kemarin sempat dijambak Valeska. "Bagi keluarga gue mah barang kayak gitu kecil. Yang penting kan geng kita ini isinya anak-orang kaya beneran, bukan anak koruptor yang cuma numpang gaya!"

Clarissa ikut tertawa pelan, lalu melirik ke arah Valeska yang berdiri membatu.

Bisnis keluarga Clarissa rupanya cepat membaik setelah menyuntikkan modal dari investor baru. Dan untuk mengamankan posisinya agar tidak disingkirkan lagi dari lingkaran elite sekolah, Clarissa merapat ke Jena—cewek kaya raya yang kini resmi menggantikan posisi Valeska sebagai pemimpin baru di geng mereka. Jena dianggap jauh lebih cocok dan pantas berada di puncak hierarki Velvet Sovereign dibanding Valeska yang kini bangkrut total.

Jena menyadari keberadaan Valeska. Dia berdiri dari kursinya, menyilangkan dada, lalu menatap Valeska dari atas ke bawah dengan pandangan penuh rasa jijik.

"Ups... ada serangga lewat," cibir Jena sengaja dengan suara keras, memancing gelak tawa dari Giselle dan Clarissa. "Selle, Rissa... suruh satpam semprot baygon dong, geli banget gue lihat orang miskin lalu lalang di dekat meja kita."

Clarissa menyunggingkan senyum tipis yang dingin. Tidak ada lagi raut takut atau mata berkaca-kaca seperti saat dia dimaki Valeska di mall waktu itu. Bagi Clarissa dan Giselle, Valeska sekarang hanyalah serangga kecil tak berguna yang layak diinjak-injak.

Valeska mengepalkan jemarinya erat-erat sampai kuku-kukunya menancap di telapak tangan. Rasa hancur, dikhianati, dan hinaan yang menumpuk membuat dadanya terasa mau meledak. Dulu dia yang mengendalikan mereka semua, tapi sekarang dia bahkan tak lebih berharga dari sekadar debu di mata mereka.

Tanpa membalas sepatah kata pun—karena tahu suaranya pasti akan pecah oleh tangis jika dia bersuara—Valeska berjalan cepat menundukkan kepala menuju meja berdebu di pojok paling belakang dekat tempat sampah, satu-satunya tempat yang tersisa untuknya di kelas itu.

Melihat Valeska cuma bisa menunduk pasrah di pojok belakang, Jena, Giselle, dan Clarissa justru makin menjadi-jadi. Mereka sengaja memutarkan kursi menghadap ke arah meja Valeska, menyindir dengan suara yang sengaja dinyaringkan agar seisi kelas mendengar.

"Dulu aja belagu banget, ngusir-ngusir orang kayak ratu," cibir Giselle sambil memoles lip balm di bibirnya. "Sekarang? Duduk di sebelah tempat sampah aja udah pas banget sama levelnya."

Clarissa terkekeh dingin, mengusap gelang mewahnya. "Iya nih, ternyata roda berputar cepet banget ya? Dulu bilang takut ketularan sial... sekarang dia sendiri yang jadi sumber kesialan."

Jena menepuk meja pelan sambil tertawa keras. "Makanya, kalau orang tuanya tukang makan uang rakyat, anaknya enggak usah sok suci! Mending sadar diri deh, dari pada bikin sempit kelas!"

BRAK!

Valeska menggebrak mejanya kencang hingga seluruh isi kelas tersentak kaget. Emosi yang ditahannya sejak pagi akhirnya meledak total. Matanya memerah padam, dadanya naik turun menahan amarah yang membakar.

"TUTUP MULUT KALIAN, BANGSAT!" teriak Valeska histeris, melangkah cepat menghampiri meja mereka. "Lo bertiga cuma cewek bermuka dua yang bisanya nempel kalau ada uangnya aja! Giselle, Clarissa... kalian lupa siapa yang selama ini nraktir dan beliin baju-baju mahal kalian?! Dasar nggak tahu diri!"

Jena ikut berdiri, menatap Valeska dengan senyum mengejek tanpa rasa takut sedikit pun. "Terus kenapa?! Lo mau jambak gue lagi kayak kemarin? Coba aja kalau berani! Sekarang lo cuma anak koruptor miskin yang enggak punya bekingan apa-apa!"

Beberapa anak kelas yang dari awal memang membenci sifat angkuh Valeska mulai ikut bersorak dan menyoraki Valeska.

"Udah miskin masih aja banyak gaya!"

"Tahu diri dong, Valeska! Pergi aja lo dari kelas ini!"

"Inget karma, woy! Dulu lo yang suka bully orang!"

Sorakan dan ledekan seisi kelas menggema menghantam Valeska dari segala sisi. Valeska mematung di tengah ruangan. Tatapan benci dan cemoohan dari teman-teman sekelasnya membuat tenggorokannya tercekat, menyadarkannya bahwa dia benar-benar sudah menjadi bahan bulian sekelas.

Dengan air mata yang akhirnya menetes membasahi pipinya, Valeska berbalik dan berlari keluar dari kelas XI-1. Dia menyusuri koridor lantai dua dengan napas memburu dan pandangan kabur oleh air mata.

Saat melintasi pagar pembatas lantai dua, mata Valeska yang sembap tidak sengaja melirik ke arah halaman bawah. Di dekat teras perpustakaan, dia melihat Elang sedang berdiri bersama Caca. Cowok itu tampak tertawa renyah merespons candaan Caca—pemandangan yang sangat bertolak belakang dengan tatapan dingin yang selalu Elang berikan padanya.

"Brengsek lo semua!" desis Valeska penuh dendam dan rasa sakit dari atas koridor, lalu melanjutkan larinya mencari tempat bersembunyi.

Di bawah, Caca tidak sengaja menengadah ke atas dan menangkap bayangan Valeska yang berlari sambil menangis. Caca menyenggol lengan Elang pelan.

"Kak... itu Kak Valeska bukan sih?" tanya Caca cemas sambil menunjuk ke arah koridor lantai dua. "Dia kayaknya lagi nangis... Kok larinya kayak panik gitu?"

Elang cuma melirik sekilas ke atas, lalu kembali merapikan tasnya tanpa ada riak khawatir sedikit pun di wajahnya.

"Biarin aja," sahut Elang datar. "Enggak usah dipedulikan."

Caca mengernyit bingung, menatap Elang heran. "Kok Kak Elang gitu sih? Bukannya kemarin Kak Elang yang anterin dia pulang pas hujan-hujan? Kakak juga yang ngasih dia makanan pas di kelas?"

Elang menghela napas panjang, menatap Caca lurus-lurus.

"Gue kayak gitu cuma karena Papa dia orang baik, Ca," jelas Elang pelan dan jujur. "Gue merasa utang budi banget sama Papanya. Dulu waktu gue mau masuk sekolah ini, Papanya yang bantu ngurus rekomendasi beasiswa penuh gue. Terus kemarin pas Papanya ditangkap, Beliau sempat titip pesan ke gue buat ngawasin Valeska."

Caca mendengarkan dengan seksama, mengangguk-angguk paham.

"Sebenarnya gue juga males dan kagak mau dekat-dekat lagi sama cewek rewel kayak Valeska," lanjut Elang dingin sambil menyampirkan tasnya di bahu. "Tapi mau gimana lagi? Gue terpaksa berbuat baik cuma buat balas budi ke Papanya. Bukan karena gue peduli sama dia."

Caca masih memiringkan kepalanya, menatap Elang dengan raut selidik yang belum sepenuhnya puas. "Tapi beneran cuma karena utang budi, kan? Enggak ada alasan lain?"

Elang menghela napas pendek, lalu terkekeh pelan melihat wajah polos Caca yang penuh rasa penasaran itu. Dia melangkah satu tindak mendekat, menundukkan sedikit badannya agar sejajar dengan tinggi cewek di depannya.

"Ca, lo tahu enggak bedanya Valeska sama lo?" tanya Elang tiba-tiba dengan nada suara yang mendadak lembut.

Caca mengedipkan matanya polos, mengernyit bingung. "Ya... beda lah. Maksudnya gimana, Kak?"

"Kalau Valeska itu cuma kewajiban yang bikin pusing," ujar Elang pelan sambil menyunggingkan senyum tipis yang jarang banget dia perlihatkan. "Tapi kalau lo... itu prioritas yang bikin seneng."

Mendengar gombalan tak terduga itu, pipi Caca seketika merona merah padam. Dia langsung memalingkan wajahnya, menyembunyikan senyum senewennya di balik buku Biologi yang dipegangnya.

"Dih... Kak Elang apaan sih! Mulai deh ngaco!" gerutu Caca malu-malu, tangannya refleks memukul pelan lengan Elang.

Elang tertawa renyah, mengacak-acak rambut depan Caca gemas. "Makanya jangan nanya-nanya soal Valeska mulu. Bikin pusing tahu enggak? Mending mikirin mau jajan es krim rasa apa nanti sore."

"Iya, iya! Beli es krim dua scoop ya nanti!" sahut Caca cepat, berusaha mengalihkan rasa canggungnya walau senyum manis masih terukir di bibirnya.

Sementara itu, di sudut tersembunyi di balik tangga lantai satu yang gelap dan berdebu, Valeska terduduk sendirian. Dia memeluk kedua lututnya erat-erat, menyembunyikan wajahnya yang sudah sembap total oleh air mata.

Setiap kata hinaan dari Jena, tawa mengejek dari Giselle dan Clarissa, serta rasa terbuang yang begitu menyesakkan dada terus menekan pikirannya. Suara gelak tawa Elang dan Caca dari luar sana seolah makin melengkapi penderitaannya hari ini.

"Kenapa... kenapa semuanya harus kayak gini?" bisik Valeska lirih di antara isak tangisnya yang tak bersuara, memukuli dadanya sendiri yang terasa begitu sesak.

Tidak ada lagi geng mewah, tidak ada perhiasan berkilau, dan tidak ada lagi yang melindunginya. Ratu sekolah yang dulu dipuja-puja kini benar-benar tinggal sebatang kara di dasar jurang karma yang diciptakannya sendiri.

1
Paw_chan🐾
bagus seru ceritanya
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Covernya Bagus... 👍 Cuma yaaa itu, sinopsisnya 'Belum bisa' menggetarkan hatiku 🙏🙏🙏 tidak ada adegan menegangkan, atau situasi menegangkan yang bisa menjadi Pertimbanganku. 🙏🙏🙏 Novel ini, masuk Berandaku soalnya... 😁😁😁🙏 'Mungkin' Lain kali aku akan mampir 🙏🙏🙏😁
Fadillah Ahmad: Baik Kak 🙏🙏🙏😁 Dari Segi Pemilihan Cover yang aku suka dari Novel ini... 🙏🙏🙏 Cuma, Unruk Sinopsia Kurang Kak 🙏🙏🙏 Kalau, judul sudah bagus 👍 Hanya di Sinopsis saja yang kena... 🙏🙏🙏😁
total 2 replies
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
wkwkwk 🤣🫵
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
He no no ya, gaboleh gitu
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Ko lucu kalo di bayangin 🙈 jadi kaya rival gitu. moga akur nanti
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Hedehhh Valeska Valeska🙂‍↔️🙂‍↔️/Facepalm/
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Hai kaka, aku barusan baca deskripsi nya, dan itu menarik perhatian ku, semoga seru ceritanya. Semangat ya🥰💪
BUNGA LYONA: wahh makasih yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!