Yun Sheren seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran Awan Emas terseret melintasi waktu. Dia terjebak di dalam raga sang ibu ketika masih muda di zaman modern.
Namun alih-alih takut--- Yun Sheren justru menikmati semua itu. Ia bersumpah akan membalaskan dendam ibu dan neneknya pada keluarga benalu yang telah merampas seluruh hak ibunya.
Namun--- perjalanan Yun Sheren tidak semudah itu, saat ia harus berhadapan dengan para kultivator iblis dari zaman modern--- kelompok kultivator tersembunyi yang ternyata bekerja sama dengan keluarga Jia.
Dalam perjalanan nya, Yun Sheren di pertemukan kembali sama kedua kakaknya yang ternyata juga terlempar ke zaman modern. Kini, sama seperti sang ibu yang menjalankan takdirnya di zaman kuno. Mereka juga harus menjalankan takdirnya di zaman modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liu Han
Jarum jam dinding besar berlapis emas itu berdenting pelan, menunjukkan pukul setengah 5 sore.
Sinar matahari yang mulai meredup menerobos masuk melalui celah gorden, menyinari ruang kerja Jia Ren yang megah namun terasa dingin.
Sejak pagi, pikiran Jia Ren sebenarnya terbagi. Ia terus memikirkan perubahan drastis pada sikap Jia Li—anak itu mendadak bertingkah aneh dan sulit ditebak, seolah sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat besar.
Namun, lamunannya buyar seketika, digantikan oleh rasa pening yang menghantam kepalanya saat membaca berkas di atas meja.
"Kau bilang apa tadi? Coba ulangi sekali lagi," tanya Jia Ren. Suaranya rendah, namun getaran kemarahan di dalamnya membuat atmosfer ruangan langsung mencekam.
Sepasang matanya menatap tajam, mengunci pergerakan sang asisten pribadi.
Hong Min menelan ludahnya dengan susah payah. Keringat dingin mulai membasahi tengkuknya. Dengan kepala tertunduk dalam, tidak berani menatap langsung sang atasan, ia menjawab dengan suara gemetar, "Liu Group... mereka secara resmi menolak memberikan tanah itu, Tuan. Negosiasi kita ditolak mentah-mentah oleh pihak mereka."
Brak!
Tangan Jia Ren mengepal sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih, menghantam pinggiran meja kerjanya. Napasnya memburu.
Tanah itu... itu adalah tanah yang sangat diinginkan oleh gurunya. Jujur saja, Jia Ren sendiri tidak tahu apa tujuan tersembunyi sang guru sampai begitu menginginkan lahan tersebut.
Namun, ada satu hukum mati yang tertanam di kepala Jia Ren: apa pun perintah gurunya, dia tidak akan pernah bisa—dan tidak akan pernah berani—untuk menolaknya.
"Liu Group..." Jia Ren bergumam, memecah keheningan dengan tawa hambar yang sinis. "Mereka memang bukan perusahaan biasa yang bisa di gertak. Mereka adalah penguasa sebenarnya di Negara C. Berbeda jauh dengan perusahaan-perusahaan lain yang bisa dengan mudah kita tekan dan hancurkan lewat jalur belakang."
Perlahan, ketegangan di wajah Jia Ren mengendur, digantikan oleh sebuah senyuman licik yang menyiratkan kelicikan murni. "Tapi, bukan berarti aku tidak bisa memaksa mereka berlutut dan menyerahkannya."
Jia Ren bangkit dari kursi kebesarannya, melangkah tegap ke arah jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota dari ketinggian. Ia memandang ke luar, namun tatapannya kosong, menembus ambisi yang membakar dadanya.
"Apa pun yang diinginkan oleh Guru, harus bisa aku dapatkan. Aku sudah berjanji, dan aku tidak boleh mengecewakan beliau, sedikit pun tidak. Tanah itu... dengan cara apa pun, pasti akan jatuh ke tanganku," gumam Jia Ren dengan penuh penekanan di setiap kata.
Namun, di balik ambisinya yang membara, ada satu hal besar yang tidak disadari oleh Jia Ren. Ia sama sekali tidak tahu bahwa tanah yang sedang coba ia rampas dengan segala kelicikannya adalah tanah yang sama persis dengan lahan yang diincar oleh Jia Li.
Tanah itu adalah lokasi yang diberikan oleh Sistem untuk membangun sebuah bunker pertama penyelamatan demi bertahan hidup di masa depan.
Sementara itu, di sisi lain kota, atmosfer yang jauh lebih megah dan mengintimidasi menyelimuti sebuah gedung pencakar langit. Gedung itu milik Liu Group, sebuah dinasti bisnis yang skalanya jauh lebih raksasa daripada Jia Group—lambang dari kekayaan dan kekuasaan yang sesungguhnya.
Di lantai 70, di dalam ruangan yang luasnya berkali-kali lipat dari kantor biasa, keheningan terasa begitu tebal.
Tampak seorang pria tampan dengan kulit putih, berwajah simetris sempurna, dengan tubuh tegap yang terbalut setelan jas mahal.
Rambut hitamnya ditata rapi dengan poni yang disisir ke belakang, mempertegas dahi dan tatapan matanya yang setajam elang.
Pria itu sedang duduk diam, menghadap jendela besar yang langsung menyajikan pemandangan awan sore.
Dialah Liu Han—sang penguasa tertinggi Liu Group yang terkenal di dunia bisnis sebagai sosok yang sangat kejam, dingin, dan tak kenal ampun.
Di belakangnya, Asisten Yu berdiri dengan sikap tegap, memegang sebuah dokumen hitam sebelum akhirnya membuka suara untuk memberikan laporan.
"Sesuai dengan permintaan dan instruksi Anda, Tuan," kata Asisten Yu dengan nada suara yang tertata rapat. "Kita sudah menolak memberikan tanah itu kepada pihak Jia Group. Surat penolakan resmi sudah dikirimkan."
Asisten Yu menjeda kalimatnya. Meski suaranya terdengar profesional, kilatan kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan tampak jelas di raut wajahnya. Ia meremas pelan map di tangannya sebelum memberanikan diri untuk melanjutkan.
"Tapi... apakah langkah ini benar-benar tidak akan memicu masalah ke depannya, Tuan?" tanya Asisten Yu dengan nada sangsi. "Keluarga Jia bukan sekadar keluarga kaya biasa yang bisa kita abaikan begitu saja. Berdasarkan rekam jejak mereka, mereka terkenal sangat licik, menghalalkan segala cara, dan tidak segan bermain kotor jika keinginan mereka diusik."
Liu Han tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap refleksi dirinya di kaca jendela, menyunggingkan senyum tipis yang begitu dingin hingga mampu membekukan ruangan, seolah menganggap peringatan tentang kelicikan Jia Group tak lebih dari sekadar lelucon angin lalu.
"Selicik apa pun mereka... jika mereka berusaha mengusik seekor naga yang sedang tenang, mereka harus bersiap menerima kehancuran mereka sendiri," kata Liu Han dengan nada suara yang rendah namun bergaung penuh intimidasi.
Sambil memutar tubuhnya perlahan, tatapan matanya menajam, memancarkan aura seorang penguasa yang tak tergoyahkan. "Perketat keamanan setiap anggota keluarga... terutama Liu Yue. Pastikan tidak ada satu pun bahaya yang mendekati mereka."
Asisten Yu hanya mengangguk patuh. Ia tidak banyak bicara lagi, tahu betul bahwa titah sang tuan adalah hukum yang tidak bisa dibantah.
Namun, ada satu hal berbahaya yang sama sekali tidak diketahui oleh Liu Han—bahwa lawan yang sedang ia hadapi kali ini bukan sekadar manusia biasa dengan taktik bisnis kotor.
Di balik topeng Keluarga Jia, ada seorang kultivator iblis tersembunyi; kelompok mengerikan yang tidak akan pernah bisa dikalahkan hanya dengan kemampuan fisik manusia normal atau pasukan pengawal bersenjata api sekalipun.
Sementara itu, Jia Li baru saja meninggalkan gedung perusahaan tepat ketika jam dinding digital menunjukkan pukul jam lima pas. Deru mesin motor matic nya membelah jalanan yang mulai padat. Sambil mengencangkan pegangan pada setang, ia sesekali melirik tajam ke arah spion motornya.
Jia Li tahu persis, sejak roda motornya melewati gerbang perusahaan, dirinya sudah diikuti. Meskipun tidak ada pantulan kendaraan aneh di kaca spion itu, insting kultivator di dalam tubuhnya mendadak menyala hebat, mengirimkan sinyal bahaya yang menggelitik sumsum tulangnya.
Mereka tidak mengejar menggunakan kendaraan mesin. Mereka bergerak cepat membelah angin menggunakan kekuatan spiritual.
Namun, Jia Li tidak panik. Fokusnya terbagi dengan tenang. Tepat di depan matanya—hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri—sebuah hologram transparan berwarna biru pudar yang menunjukkan peta lokasi sedang melayang dinamis.
Peta digital dari sistem itu terus berputar, menunjukkan rute dan titik koordinat yang paling cocok untuk pembuatan bunker rahasia pertama miliknya.
Namun Jia Li sadar, sebelum ia tiba di lokasi itu, ia harus memutar otak dan mencari cara paling cerdik untuk mengecoh para kultivator iblis di belakangnya agar jejak rahasianya tidak pernah terlacak.