NovelToon NovelToon
Mertua Pilih Kasih

Mertua Pilih Kasih

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:610
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Tiga tahun lalu, Maya seorang gadis desa yang polos dan tulus melangkah ke kota membawa impian sederhana: membangun keluarga kecil yang bahagia bersama suaminya. Mengabdi penuh sebagai istri dan menantu, Maya dengan sabar menelan setiap cemoohan, perbedaan perlakuan, dan sikap pilih kasih dari sang ibu mertua yang selalu mengagung-agungkan menantu kayanya.

Bagi Maya, diam dan mengalah adalah kunci keharmonisan. Namun, kepasrahannya justru dimanfaatkan. Di rumah itu, Maya tak lebih dari seorang pelayan yang tenaganya diperas, sementara hak dan perasaannya terus diinjak-injak oleh keluarga parasit yang manipulative. Ketika masalah besar datang dan pengorbanannya kembali dibalas dengan pengkhianatan serta tuduhan keji, mata Maya akhirnya terbuka: kesabaran tanpa batas hanya akan membunuhnya perlahan.

Kini, Maya harus memilih: tetap bertahan dalam cengkeraman keluarga mertua yang toxic demi mempertahankan rumah tangganya, atau memberanikan diri patah arah untuk melepaskan jerat belenggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bentakan bapak mertua

"Mbak Santi, ini pembalutnya," panggil Maya pelan di depan pintu kamar Santi

Setelah Maya mengetuk pintu beberapa kali, barulah kayu bercat putih tu terbuka kasar. Tampak wajah Santi yang sangat kusut, lengkap dengan raut bersungut-sungut seperti orang yang terbangun dari tidur nyenyaknya.

"Mengganggu banget sih, May! Mbak ini lagi tidur!" cetus Santi ketus tanpa basa-basi.

"Ini, Mbak, pembalutnya," ucap Maya tenang seraya mengulurkan kantong plastik minimarket tersebut.

Santi merebut plastik itu dengan cepat, lalu seketika memetakkan pintu dengan kencang tepat di depan wajah Maya.

Maya menarik napas panjang, mengelus dadanya pelan. Ia sudah sama sekali tidak heran lagi dengan tabiat minus anggota keluarga di rumah ini. Tanpa membuang kata, Maya berbalik menuju kamarnya. Ia membersihkan diri, mengambil wudu, dan berniat untuk menunaikan salat Zuhur.

Namun, lagi dan lagi, baru saja Maya mengucap salam, gedoran kasar menghantam pintu kamarnya.

"Maya! Sudah waktunya makan siang, kok kamu belum masak?!" teriak Bu Rika melengking dari luar.

Khawatir teriakan mertuanya semakin menjadi-jadi, Maya bergegas melepas mukena lalu membukakan pintu.

"Tadi kan Maya disuruh beli oleh-oleh dulu, Bu... Ini juga baru selesai sholat," sahut Maya sabar, meski di dalam hati jarinya tak berhenti mengusap tasbih batin.

"Halah, alasan saja! Harusnya tadi langsung masak, bukannya malah sholat dulu!" sungut Bu Rika tanpa rasa berdosa.

"Astagfirullah..." bisik Maya refleks.

"Ngapain kamu istigfar?! Ngelihat setan kamu?!" semprot Bu Rika dengan mata melotot galak.

Ibu setannya, sahut Maya, yang tentu saja hanya sanggup ia gaungkan di dalam hati.

"Cepat sana ke dapur! Bapak sudah lapar!" suruh Bu Rika ketus sebelum membalikkan badan dan meninggalkan Maya.

Tanpa membantah, Maya melangkah cepat ke dapur. Mengingat waktu yang sudah terdesak, ia memilih memasak menu yang simpel dan praktis agar tak memicu omelan panjang dari mertuanya jika telat disajikan.

Sekitar setengah jam kemudian, hidangan hangat tertata di meja makan. Bu Rika, Pak Hendra, dan Rara sudah duduk mengelilingi meja yang kini menyajikan ikan goreng, tahu tempe goreng, sambal terasi, serta sepiring lalapan daun kemangi dan mentimun.

"Heh, Maya! Kamu kira kita ini kambing disajiin daun-daun begini?!" protes Bu Rika nyaring saat melihat piring lalapan.

Rara ikut merengut, mengibaskan tangannya jijik. "Mbak Maya, menu kampung jangan dibawa-bawa ke kota dong! Bikin tidak selera makan saja!"

"Diam! Bapak sudah lapar! Kalau tidak mau makan, jangan ribut di sini!"

Suara berat dan tajam Pak Hendra seketika memotong bentakan Bu Rika dan Rara. Pak Hendra, yang raut wajahnya tampak masam, sudah lebih dulu menjejakkan suapan nasi ke dalam mulutnya.

Bu Rika melotot kaget karena mendadak dibentak oleh suaminya. Namun, melihat raut Pak Hendra yang sedang sangat tidak bersahabat, Bu Rika memilih mengatupkan bibir dan memberi isyarat mata agar Rara diam.

Rara yang tak terima ditegur keras oleh bapaknya langsung menghentakkan kaki, berdiri dari kursi, lalu menghentak masuk ke kamar dengan wajah bersungut-sungut.

Maya yang menyaksikan dinamika ganjil itu hanya bungkam. Ia tidak berniat sedikit pun untuk ikut campur. Maya memilih berbalik ke dapur, melanjutkan kegiatannya membersihkan sisa-sisa alat masak dan piring kotor. Di tengah gemercik air keran, Maya kembali merasakan kepalanya berdenyut pelan, menahan rasa mual yang diam-diam kembali merayap di tenggorokannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!