'Hati manusia seluas samudra.'
Di dalamnya terdapat banyak hal baik dan buruk.
》Kadang bahagia, sedih, cemburu, emosi, marah, benci, kecewa, datang silih berganti.
》Kadang merasa ragu-ragu dan sulit membuat keputusan, karena isi kepala dan perasaan saling bertentangan.
》Kadang harus berjuang untuk memulihkan rasa sakit, kecewa akan masa lalu yang penuh luka. Oleh sebab itu :
~••°°••~
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
~••°°••~
》Ikuti kisah perjuangan dan pemulihan hati orang-orang berintegritas mempertahankan kredibilitasnya di Novel : "LIKA LIKU HATI"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Keluarga Nelson.
...~•Happy Reading•~...
Nelson memikirkan keputusan Kakek Samy sepanjang siang. Dia khawatir keputusan Kakeknya akan menjadi pemicu pertengkaran baru dalam keluarga.
Selesai makan malam, Nelson duduk di teras bersama Kakek Samy. Sedangkan Tine membersihkan perangkat makan yang kotor.
"Kakek, apa ini sering terjadi?" Nelson bertanya serius.
"Apa yang sering terjadi?" Kakek Samy heran mendengar pertanyaan Nelson yang samar.
"Om Tante tidak datang makan malam bersama Kakek." Nelson bertanya sambil berpikir makan malam mereka bertiga.
"Ya, kadang seperti ini. Kakek dan Tine makan malam berdua. Mama Tine cuma antar makanan buat kami atau Tine pergi ambil..." Kakek Samy menjelaskan.
"Apa Zeth pernah antar makanan atau menginap dengan Kakek di sini?" Nelson terus bertanya, karena dia melihat Zeth mengantar makanan untuk mereka, lalu pulang tanpa menyapanya. Oleh sebab itu, dia ingin tahu yang terjadi dan merasa tidak enak terhadap Om dan Tantenya.
Kakek Samy jadi melihat Nelson dengan serius. "Sebenarnya, Nel mau tahu apa? Apa ada yang mengganggumu?"
"Tidak mengganggu, Kek. Cuma ingin tahu, supaya bisa menjaga hubungan baik. Kalau biasanya tidak begini, dan ada yang berubah, mungkin terjadi sesuatu."
"Atau lebih tepatnya, aku merasa tidak enak sama Om Tante karna keputusan Kakek tadi siang." Nelson mengatakan yang dia rasakan.
"Bagian mana dari keputusan Kakek itu yang bikin kau tidak enak pada mereka? Memberimu jatah dapat durian?" Kakek Samy bertanya serius.
Nelson menggangguk sambil mengusap rambutnya. "Sebenarnya, Kakek tidak perlu lakukan itu. Aku ke sini cuma mau melatih diri dan mohon dukungan doa Kakek saja. Bisa makan durian gratis, sudah lebih dari cukup."
"Kakek tahu itu. Kau sudah bilang berapa kali? Kau cucu Kakek jangan merasa tidak enak pada sesuatu yang tidak seharusnya." Kakek Samy ingat pertanyaannya pada Nelson pertama kali datang untuk makan durian dan Nelson balik bertanya tentang musim durian. Jadi Kakek Samy yakin, Nelson datang bukan karena musim durian.
"Kakek, bisa kembalikan lagi aturan sepeti sebelumnya? Biar seperti Papa bilang, damai di hati, damai bumi." Nelson berkata sambil tersenyum ingat Papanya.
"Mereka harus belajar terima sesuatu yang mungkin tidak disukai. Papamu anak Kakek seperti Om Ridho. Papamu punya hak yang sama dan itu tidak bisa dihindari selama Kakek hidup."
"Tapi Papa tidak ada di sini, Kek. Biarkan buat Om Ridho saja." Nelson mengusulkan agar dia tenang mempersiapkan diri.
Nelson berpikir, perubahan sikap Om Tantenya berhubungan dengan penghasilan durian yang akan berkurang. Apa lagi Nelson sudah melihat banyaknya uang yang didapat Kakeknya.
Jika dia mendapat jatah hari seperti yang diputuskan Kakeknya, penghasilan Om Tantenya akan berkurang banyak.
"Papamu tidak ada, tapi kau ada di sini. Mereka harus belajar berbagi dengan saudaranya. Sudah berapa tahun Papamu tidak pernah mendapatkan itu?"
"Mereka mendapatkan semua hasil kebun buah-buahan Kakek. Tanpa ingat, kalau Papamu ada bagian di dalamnya. Sekarang kau datang pada waktu yang tepat, agar Zeth juga belajar. Bukan cuma dia cucu laki-laki Kakek."
"Kau cucu yang tertua, dan harus diperlakukan selayaknya, bagian dari keluarga ini." Ucap Kakek Samy tegas.
"Aku setuju dengan Kakek, Kak Nel. Maaf, bukan aku mau nguping. Tapi mau pamit masuk kamar, dan dengar permbicaraan Kakek dan Kak Nel." Ucap Tine yang berdiri di depan pintu.
"Sorry, Tine. Aku sedang berusaha untuk konsentrasi dengan studyku. Hatiku gak tenang kalau orang tuamu salah paham dengan kedatanganku dan juga keputusan Kakek tadi."
"Tine ambil kursi, duduk di situ. Kakek mau bicara dengan kalian sebagai cucu tertua Kakek." Kakek Samy menunjuk tempat di samping Nelson.
Tine segera masuk ambil kursi. "Kakek senang, kau bisa berpikir baik dalam situasi ini. Supaya Kakek tidak merasa sendiri berhadapan dengan orang tuamu."
"Jangan kau merasa tersinggung atau berpikir Kakek lebih sayang Nel karna keputusan tadi siang. Selain kau tinggal dengan Kakek, kau anak Papa Mamamu yang sudah mendapat jatah sendiri."
"Kalau Nel, karna Papanya tidak ada di sini, jadi dia mewakili."
"Iya, Kek. Aku mengerti kok. Aku kan tinggal di sini, jadi tahu semua. Om Esra kan, gak pernah diberikan jatah setiap tahun. Aku malah berpikir, Kakek mau kasih semua jatah Papa buat Kak Nel."
"Jaga bicaramu. Kalau didengar orang tuamu, kau akan dideportasi keluar gunung." Nelson terkejut dan mengingatkan Tine sambil menepuk bahunya.
"Aku kan, bicara di sini saja, Kak. Supaya kakak gak usah kepikiran. Besok kita jualan lagi, ya." Tine mau menghibur Nelson, agar betah tinggal bersamanya dengan Kakek.
"Kau sangat modus. Sana tidur, nanti kesiangan dan dibilang pergi pacaran di hutan." Ucapan Nelson membuat mereka tertawa.
~•~
Di sisi lain ; Orang tua Tine sedang duduk berdua di ruang makan setelah Zeth berdiri meninggalkan mereka. "Pa, mengapa tadi diam saja saat Kakek putuskan mau kasih jatah buat Nelson?" Mama Tine berbicara setelah sepanjang siang tidak berbicara.
"Aku mau bilang apa? Itu haknya Papa. Nelson datang pas waktu." Pak Ridho berkata tanpa melihat istrinya.
"Pas waktu? Kau percaya yang dia bilang mau minta doa restu? Apa bukan sengaja ke sini pas tahu lagi musim durian?"
"Kita jangan berpikir lain. Anggap saja, yang dibilang Nelson benar."
"Kau gampang percaya. Dia masih muda sudah mau ujian skripsi? Perasaan belum lama dia dengan orang tuanya ke sini buat kasih tahu mau kuliah."
"Aku gak mau berpikir benar atau tidak. Situasi sekarang bikin perutku mual. Ikut saja maunya Papa. Paling cuma berapa kali jatah kita berkurang." Pak Ridho merasa lelah harus bertukar kata dengan istrinya yang masih emosi dan tidak terima.
"Mengapa harus bagi tiga? Bagi dua saja. Jatah Papa dikasih ke dia, supaya jatah kita tidak berkurang."
"Aku sudah bilang, sabar dan ikuti saja. Toh, ini tidak terjadi setiap tahun."
"Kau selalu mengalah. Kau tidak memikirkan masa depan Zeth?"
"Apa maksudmu dengan masa depan Zeth? Dia baru kelas 8, masih jauh."
"Padahal jatah Papa untuk apa? Semua keperluannya kita beli. Uangnya untuk apa? Jatahnya saja dikasih ke Nelson."
"Apa Papa pergi periksa kesehatan minta uang darimu?"
"Tidak. Selama ini, Papa sehat-sehat saja." Jawab Bu Ridho cepat.
"Tapi usianya sudah tua, mungkin perlu uang untuk beli obat atau ke rumah sakit. Kau tidak lihat, kadang Papa ke kota? Mungkin Papa merasa kurang sehat dan tidak bilang ke kita."
"Terserah. Kita lihat saja nanti. Dia pasti akan tinggal sampai daun durian yang jatuh, baru pulang." Ucap sinis Bu Ridho sambil berdiri, hingga kursi makan terseret ke belakang.
"Kau harus hati-hati bicara atau protes tentang jatah yang Papa putuskan hari ini. Jangan sampe Papa akan memutuskan lebih dari tadi siang."
"Apa maksudmu?" Bu Ridho kembali duduk.
"Jangan sampe, karna kau protes lagi, Papa kasih semua jatah durian buat Nelson." Ucap Pak Ridho serius.
...~•••~...
...~•○♡○•~...