Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Malam Ketika Batas Berakhir
Dari jendela ruang kerjanya, Ares melihat mobil yang dikendarai Pak Darto memasuki halaman.
Beberapa saat kemudian, Pak Darto turun dan membukakan pintu belakang.
Alisha keluar. Perempuan itu tidak berhenti lama. Ia langsung masuk ke dalam rumah.
Ares melirik jam tangannya. Kalau Alisha langsung mandi, ia tahu perempuan itu membutuhkan waktu lebih lama. Namun kalau hanya berganti pakaian, beberapa menit kemudian ia biasanya sudah duduk di tepi ranjang dengan mata tertutup.
Ares hampir membuka laptop yang terhubung ke CCTV. Tangannya berhenti.
Tidak. Ia tidak ingin mengulang kejadian kemarin.
Alisha memang istrinya, tetapi hubungan mereka masih sebatas perjanjian. Melihatnya dalam keadaan yang seharusnya tidak ia lihat hanya membuat batas yang sudah susah payah mereka bangun semakin kabur.
Ares mengembuskan napas. Masalahnya bukan hanya itu. Semakin sering bersama Alisha, semakin sulit baginya mengendalikan reaksi tubuhnya sendiri. Tetapi menjauh darinya juga bukan pilihan yang terasa mudah lagi.
Lima menit berlalu. Ares akhirnya bangkit dari kursinya. Ia meninggalkan ruang kerja dan berjalan menuju kamar. Sesampainya di depan pintu, langkahnya terhenti. Tangannya terangkat.
Tok. Tok.
“Siapa?” Suara Alisha terdengar dari dalam.
“Ini aku.”
Alisha terdiam. Biasanya Ares tidak pernah mengetuk.
“Aku masuk.”
Sebelum Alisha sempat menjawab, gagang pintu bergerak.
Ares membuka pintu sedikit lebih dulu. Setelah memastikan Alisha sudah mengenakan penutup mata, barulah ia membuka pintu lebih lebar dan masuk.
Pintu kembali tertutup.
Langkah kaki yang sudah sangat dikenalnya terdengar mendekat. Alisha mendengar suara kain bergeser, lalu sisi kasur bergerak ketika Ares naik ke atasnya.
“Tidur.”
Seperti biasa, sebuah lengan merengkuhnya. Tubuh Alisha langsung mengenali posisi itu. Ia bersandar tanpa banyak berpikir. Namun beberapa detik kemudian, rasa penasarannya muncul.
“Tuan Ares?”
“Hm?”
“Kenapa tadi ngetuk pintu?”
Lengan Ares yang melingkari pinggangnya terdiam sesaat.
“Biasanya Anda langsung masuk.”
Ares menatap langit-langit. “Mulai sekarang aku akan mengetuk.”
Alisha mengernyit di balik penutup matanya. “Kenapa?”
Ares terdiam cukup lama. “Karena aku pikir itu lebih baik.”
Jawaban itu membuat Alisha semakin penasaran. “Lebih baik untuk siapa?”
Ares tidak langsung menjawab. Pelukannya justru sedikit mengerat.
“Tidur, Alisha.”
Alisha tersenyum tipis. Jawaban itu sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Tapi entah kenapa, malam ini ia tidak ingin mendesak.
Mereka akhirnya sama-sama diam.
Ares berusaha memejamkan mata. Namun aroma rambut Alisha yang begitu dekat justru membuat pikirannya kembali pada kejadian kemarin. Rambut basah, kulit yang masih menyimpan aroma sabun, dan sosok Alisha yang waktu itu keluar dari kamar mandi tanpa menyadari dirinya sedang diperhatikan.
Ares menarik napas perlahan. Pelukannya tanpa sadar mengerat.
Alisha merasakan perubahan itu. “Tuan Ares?”
Ares tidak menjawab. Napasnya terdengar lebih berat dari sebelumnya.
Alisha ragu beberapa saat sebelum tangannya bergerak. Jemarinya menyentuh dada Ares yang terasa hangat.
Tubuh pria itu langsung menegang.
Alisha ikut membeku. Ia merasakan sesuatu di sisi pahanya perlahan menegang. Lalu berdenyut.
“Aku...” Suaranya mengecil.
Ares segera mengendurkan pelukannya dan hendak menjauh. Namun tangan Alisha lebih dulu menangkap lengannya.
“Alisha, lepas.” Suara Ares terdengar berat.
Alisha menelan ludah. Pipinya terasa panas, tetapi ia tidak melepaskan lengan itu. “Kita udah nikah.”
Ares terdiam.
“Kenapa Tuan selalu menahan diri?”
Beberapa detik berlalu sebelum Ares menjawab.
“Karena aku gak mau kamu melakukan sesuatu hanya karena merasa harus.”
Alisha menundukkan wajah. “Saya gak merasa harus.”
Ares menatapnya lama. “Kamu yakin?”
Alisha mengangguk. Gerakannya kecil, tetapi cukup jelas.
Ares masih tidak bergerak. “Kamu bisa berubah pikiran kapan saja.”
“Iya.”
“Dan kalo kamu gak nyaman, bilang.”
Alisha mengangguk lagi.
Barulah Ares mendekat. Ia berhenti beberapa sentimeter dari wajah Alisha, memberi kesempatan terakhir bagi perempuan itu untuk mundur.
Alisha tidak bergerak. Di balik kain yang menutup matanya, dunia gelap, membuat semua indra lainnya seolah menajam. Ia bisa mendengar napas Ares yang sedikit berat, bisa merasakan hawa hangat dari tubuh pria itu semakin dekat.
Ares akhirnya menyentuhkan bibirnya pada bibir Alisha.
Singkat. Hati-hati. Begitu bibir mereka berpisah, keduanya sama-sama diam.
Alisha bahkan lupa bernapas sesaat. Baru ketika dadanya mulai terasa sesak, ia sadar telah menahan napas. Jantungnya berdegup lebih kencang.
Ares juga terlihat kaku. Ia mengusap tengkuknya, seolah tidak tahu harus melakukan apa setelah ciuman pertama mereka. Padahal, di dalam dada, segala sesuatu bergemuruh.
Alisha tanpa sadar menyentuh bibirnya sendiri. Rasanya aneh, masih ada sisa kehangatan yang ditinggalkan Ares di sana, lembut, hampir seperti mimpi yang terlalu nyata.
“Ternyata...” gumamnya, suaranya lebih rendah dari yang ia kira.
“Apa?”
“Gak kayak yang saya bayangin.”
Ares terdiam. Dari balik kegelapan kain, Alisha tidak bisa melihat ekspresinya. Tapi ia bisa merasakan perubahan di udara, seolah Ares menatapnya lebih intens.
“Emangnya gimana yang pernah kamu bayangin?” tanya Ares, suaranya serak.
Alisha langsung menyesal sudah bicara. Pipinya memanas. “Bukan begitu.”
Untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibir Ares terangkat tipis. Senyum kecil yang tidak bisa dilihat Alisha, tapi terdengar dari perubahan nada suaranya.
“Aku juga gak tau harus gimana,” aku Ares, meski sebenarnya ia sudah terlalu sering membayangkan momen ini.
“Kita sama-sama baru?” tanya Alisha.
Ares terdiam sebentar. “Kayaknya.”
Alisha tersenyum kecil. Ada kelegaan aneh mengetahui bahwa ia tidak sendirian dalam kebingungan ini.
Ares kembali merengkuhnya, kali ini lebih perlahan, menghapus jarak di antara mereka. Tangannya akhirnya benar-benar menyentuh sisi wajah Alisha, ibu jarinya mengusap lembut tulang pipi perempuan itu, seolah takut Alisha akan menghilang kalau ia menekan terlalu keras.
Ketika bibir mereka bertemu untuk kedua kalinya, tidak ada yang terburu-buru. Ciuman itu masih canggung, tapi sudah tidak lagi ragu.
Ares sedikit memiringkan kepala, memperdalam kontak itu tanpa memaksa, bergerak pelan seolah sedang mempelajari Alisha. Tangannya turun ke rahang, menahan wajah perempuan itu dengan lembut.
Alisha tanpa sadar mencengkeram lengan Ares. Kulit itu terasa halus di bawah jari-jarinya, tapi yang ia rasakan justru panas tubuh Ares yang membuat telapak tangannya berkeringat.
“Masih gak kayak yang kamu bayangin?” tanya Ares, suaranya rendah, hampir seperti rahasia yang hanya boleh didengar Alisha.
Alisha menggeleng pelan, tidak mampu membentuk kalimat yang utuh.
“Kalau begitu,” bisik Ares, suaranya hampir bergetar, “kita cari tahu bersama.”
Alisha tidak menjawab. Ia hanya membiarkan kepalanya sedikit condong ke arah suara Ares, membiarkan jarak yang selama ini mereka jaga mulai menghilang sedikit demi sedikit.
Malam itu berjalan pelan di awal, lalu semakin sulit dikendalikan. Ciuman yang semula lembut berubah lebih dalam, napas yang semula teratur mulai saling mengejar. Tidak ada lagi kata-kata yang perlu diucapkan, hanya sentuhan yang menjawab setiap pertanyaan yang belum sempat terucap.
Hingga akhirnya, di bawah selimut yang menutupi mereka berdua, jarak yang selama ini mereka jaga sepenuhnya menghilang. Malam itu, mereka menjadi satu.
...✨“Kontrak memiliki batas waktu, tetapi perasaan tidak pernah mengenal tanggal berakhir.”✨...
.
To be continued
Hanya ada Raka di rumah, Alisha belum pulang.
Ares yang ingin ketemu Alisha mendapat pertanyaan dari Raka.
Setelah mendengar maksud kedatangan Ares, dan mendengar apa yang dikatakan Ares, Raka mempersilahkannya masuk.
Raka belum tahu kalau pria yang telah menyakiti Kakaknya itu, orang yang telah membiayai pengobatannya.
Terlalu lamban membuka jati dirinya, sampai kontrak selesai baru menyesal setelah ditinggal Alisha.
Kejadian di malam gala bisnis menjadi puncak kekecewaan Alisha.
Alisha mengambil langkah untuk meninggalkan Ares.
Sekarang Alisha sudah tidak memberi kesempatan untuk Ares bicara.
Tinggal menunggu apakah Alisha mau bertemu Ares. Ares akan mengatakan yang sebenarnya. Tidak akan menyembunyikan identitasnya lagi.
Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Ares tidak mau hubungannya dengan Alisha berakhir karena kontrak sudah selesai.
Ares tidak bisa menjawab pertanyaan Alisha - sebagai apa - ketika Ares mengatakan ingin tetap bersama.
Ares lupa apa yang di katakan Reki, kalau ingin Alisha tetap tinggal - resmikan pernikahan.
Malah minta sedikit waktu. Alisha sudah cukup memberi waktu.
Ares mesti mengatakan yang jelas tujuannya hidup bersama Alisha.
Sulit amat mengatakannya.
Ares mengaku salah. Lalu menceritakan alasannya kenapa memperlakukan Alisha begitu.
Mendengar apa yang dikatakan Ares, Alisha baru mengerti bahwa dibalik aturan-aturan yang terasa menyakitkan ternyata ada luka lama yang belum sembuh.
Alisha merasa kenapa dirinya juga harus menanggung akibatnya. Alisha seperti tidak terima dengan perlakuan Ares yang seolah-olah mungkin dirinya akan mengkhianati Ares kapan saja.
Ares hanya bisa menyesali perbuatannya yang telah membuat Alisha terlihat sangat terluka.
Ssmangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
calon bapak ntar cemburu ni
pasti lucu 🫣🤣🤣
Alisha yang mendengar pintu diketuk mengira yang datang orang suruhannya Ares datang lagi.
Alisha membalas perbuatan Ares yang di malam gala ketika dirinya berdiri dihadapannya, sikapnya seolah tidak mengenalnya.
Ares baru bisa merasakan seperti itu sakitnya Alisha ketika di malam gala dirinya seolah tidak mengenal Alisha.
Alisha benar juga mengatakan nggak ingat pernah kenalan dengan anda.
Saking sakitnya hati Alisha, terpaksa Alisha memperlakukan Ares seperti orang asing yang benar-benar tidak ia kenal.
Satu-satunya supaya Alisha tetap tinggal seperti saran Reki. Meresmikan pernikahan. Menunjukkan wajahnya.
Ares ini bisa-bisanya membiarkan wanita yang setiap malam menemani tidur, tidak boleh melihat wajahnya. Aneh.
Reki sudah terlalu sering menyadarkan Ares harus bagaimana supaya Alisha tetap tinggal.
Namu Ares sendiri yang memilih untuk tetap pada pendapatnya.
Sekarang setelah Alisha pergi dan tidak mau bertemu dengannya, baru bertanya pada Reki harus mulai dari mana.
Alisha saat ini tidak mau berubah dengan keputusannya. Kontrak sudah selesai, Alisha merasa sudah tidak punya kewajiban untuk menenuhi permintaan Ares.
Ares sendiri yang membuat Alisha memilih jalannya. Muka saja selama kontrak tidak boleh dilihat istrinya. Di gala bisnis Ares juga membuat Alisha sangat kecewa. Beberapa hari sebelum berakhirnya kontrak Ares juga tidak berusaha menemui Alisha karena sedang keluar kota.
Kontrak benar-benar berakhir baru suruhan orang untuk memanggil Alisha.
Ares diluar kota sudah lima hari ?? Atau Ares sakit ?
Alisha benar-benar mengakhiri kebersamaannya dengan Ares.
Hari saat Raka boleh pulang, kontrak juga berakhir masanya.
Raka merasa Kakaknya menyembunyikan sesuatu. Kakaknya terlihat capai.
Alisha berusaha meyakinkan Raka kalau dirinya baik-baik saja.
Ares malam ini memutuskan berangkat ke perusahaan cabang.
Reki sudah memperingatkan Ares kalau kondisinya belum pulih. Menyarankan untuk istirahat.
Ares menolak.
Sebelum keberangkatannya, Ares akan menemui Alisha dulu.
Namun situasi di kantor cabang segera membutuhkan kedatangan Ares untuk menyelesaikan masalah yang ada. Pusing tujuh keliling nih Ares.
Ares tidak peduli dengan kondisi tubuhnya yang masih belum pulih. Yang dipikirkan hanya Alisha.
Ares tahu kalau Alisha terluka dengan sikapnya yang seperti tidak peduli ketika ia membutuhkan seseorang untuk menolongnya.
Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏
Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏