NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti / Penyesalan Keluarga
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

Serena mati tersambar petir saat bermain hujan di tengah malam karena bosan, Serena berpikir dia akan ke alam baka. Siapa sangka jiwa Serena malah masuk ke tubuh seorang gadis bernama Serena juga, seorang gadis malang yang dikorbankan keluarganya sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi seorang mafia kejam untuk melunasi hutang.

Sebagai seorang pecinta dunia mafia, Serena sangat menikmati hidupnya didunia baru ini. Serena berencana akan memikat hati mafia kejam itu hingga jatuh ke pelukannya.

Bagaimana kehidupan Serena di dunia ini, apakah Serena mampu meluluhkan hati sang mafia? Ataukah Serena malah menjadi mainan mafia itu sendiri?. Stay tune!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hukuman Kecil Calum

​Angin malam berembus dingin, membawa aroma khas rumput basah dan mesiu yang menguar di pelataran luas belakang gedung utama Ziegler Mansion. Siapa sangka, di balik megahnya arsitektur bergaya klasik Eropa itu, terdapat sebuah lapangan terbuka yang malam ini dipadati oleh puluhan orang. Para pengawal berjas hitam, pelayan, hingga para tukang kebun berbaris rapi dalam diam yang mencekam.

​Serena Amaryllis mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali. Selama ini ia mengira mansion milik suaminya hanya dihuni oleh beberapa pelayan pribadi dan belasan pengawal saja. Namun, malam ini, lebih dari seratus orang dikumpulkan dalam satu garis lurus di bawah langit gelap tanpa bintang.

​Di tengah lapangan, sebuah tiang kokoh berdiri tegak. Di sanalah Calum pria pucat kepercayaan Sergio yang terkenal dingin dan kejam terikat erat dengan tali tambang kasar melilit tubuhnya. Wajah Calum tampak lebam, tetapi sorot matanya masih menyisakan ketegasan seorang bawahan setia yang tahu persis konsekuensi dari sebuah kesalahan.

​"Sudah siap, Nyonya Ziegler?"

​Sebuah suara berat berbisik tepat di samping telinganya, membuat bulu kuduk Serena meremang seketika. Aroma maskulin bercampur wewangian kayu cedar yang khas langsung mendefinisikan kehadiran pria itu.

​Serena menoleh sedikit, mendapati Sergio Maximilian Ziegler berdiri tepat di belakang punggungnya. Suami berusia tiga puluh lima tahun itu menatap lurus ke depan dengan tatapan setajam elang. Tidak ada senyum, tidak ada kehangatan, yang ada hanya aura dominasi mutlak yang selalu berhasil membuat Serena merasa kecil.

​"A... apa harus seperti ini, Sergio?" tanya Serena dengan suara bergetar hebat. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin merobek rongga dadanya.

​Sergio tidak langsung menjawab. Ia justru merapatkan posisinya, membuat punggung Serena bersandar sempurna pada dada bidang pria itu. Tangannya yang besar dan hangat terulur, menggenggam tangan jemari Serena yang lemas. Di dalam genggaman tangan mereka berdua, sebuah pistol berkaliber besar dengan laras dingin berkilau diterpa cahaya lampu sorot.

​"Tentu saja, Nyonya Ziegler," bisik Sergio pelan, bibirnya nyaris bersentuhan dengan daun telinga Serena.

"Bukankah beberapa hari lalu kamu bilang sangat penasaran dengan dunia mafia dan ingin melihat sebuah perang? Anggap saja ini perang pertamamu."

​Serena memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa penasarannya yang dulu meletup-letup didorong oleh rasa penasaran saat di dunia sebelumnya kini terasa seperti bumerang yang siap menghancurkannya hidup-hidup.

​"T... tapi tidak dengan cara seperti ini!" jerit kecil lolos dari bibir Serena.

"Calum itu... dia anak buah mu sendiri!"

​"Dan dia sudah lancang," potong Sergio dengan nada dingin yang langsung membungkam protes Serena.

"Calum memang bawahan yang setia, Serena. Tapi aku sangat tidak menyukai seseorang yang ikut-ikutan menyiksa mainanku. Serena-ku... hanya aku yang berhak mengatur, memarahi, dan membuat gadis itu kesal. Di luar dari itu, siapapun yang berani menyentuhmu, hukumannya adalah kematian."

​Mendengar kata mainan dari mulut suaminya, hati Serena berdenyut nyeri. Namun, ketakutan mendominasi segalanya saat ini.

​"Siap, sayang?" tanya Sergio lagi, kali ini nada suaranya sedikit melunak, meski tetap terdengar mematikan.

​"Kalau... kalau nanti Calum mati, bagaimana?" tanya Serena dengan suara parau, nyaris menangis.

​"Bukannya itu bagus?" balas Sergio tanpa beban sedikit pun.

"Pemberontak memang pantas mati."

​"T... tidak boleh begitu! Aku tidak mau jadi pembunuh, huwawaaa!" teriak Serena histeris, air matanya langsung tumpah membasahi pipi mulusnya.

​Sergio menghela napas pendek. Meski ia dikenal sebagai sosok yang kejam dan irit bicara di hadapan musuh-musuhnya, melihat air mata sang istri selalu berhasil melunakkan sedikit sisi posesif di dalam dirinya, meski tidak mengubah keputusannya barang sedikit pun.

​"Fokuskan pandanganmu, Serena. Lihat ke depan," ucap Sergio tajam namun tegas, membimbing tangan Serena agar lurus mengarah ke tiang tengah.

"Anggap saja Calum itu boneka porselen milik kakak tirimu, Ivanna, yang ingin kamu hancurkan."

​"A... aku tidak bisa! Tanganku gemetar!" jerit Serena sambil menutup kedua matanya rapat-rapat.

​Ia memang sering mendengar cerita-cerita kejam dari ayahnya, Sebastian, yang kerap memperlakukannya seperti beban keluarga. Sebastian selalu membanding-bandingkannya dengan Ivanna, mengatakan bahwa Serena tidak berguna selain untuk dijual demi melunasi hutang sang ayah. Namun, dibuang ke dunia mafia dan dipaksa memegang senjata api untuk merenggut nyawa seseorang adalah batas kewarasan yang tidak pernah Serena bayangkan.

​"Buka matamu, Serena," titah Sergio mutlak.

​"Aku tidak mau! Aku tidak mau jadi pembunuh, Max!" teriak Serena putus asa.

​Kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa disadari Serena. Namun, begitu nama panggilan itu keluar dari bibirnya, tubuh Sergio mendadak menegang kaku di belakangnya. Suasana di sekitar mereka seolah membeku.

​Sergio menurunkan sedikit pistolnya, menunduk, dan menatap sisi wajah Serena lekat-lekat.

"Panggil namaku lagi," pinta Sergio dengan suara rendah yang sarat akan emosi tertahan.

​Serena yang ketakutan membuka matanya perlahan, mendapati jarak wajah mereka yang sangat dekat.

"Se... Sergio," panggil Serena patuh dengan bibir bergetar.

​"Bukan itu," bisik Sergio, tatapannya menggelap.

"Tapi yang tadi."

​Serena tertegun sejenak sebelum menyadari panggilan masa lalu yang tidak sengaja ia sebutkan. Panggilan yang hanya boleh diucapkan dalam situasi tertentu ketika pertahanan pria dingin ini runtuh.

​"M... Max, ampun..." mohon Serena dengan air mata yang semakin deras mengalir.

​Mendengar nama itu diucapkan dengan suara bergetar penuh ketakutan oleh wanita di pelukannya, mata Sergio menajam kembali ke arah depan. Tanpa memberi kesempatan bagi Serena untuk menarik tangannya, jari telunjuk Sergio yang melapis di atas jari Serena menarik pelatuk pistol tersebut.

​DARR!

​Suara letusan senjata memecah kesunyian malam di lapangan utama. Peluru itu melesat cepat dan langsung menghantam bahu kiri Calum.

​Argh!

​Ringisan tertahan lolos dari bibir Calum. Darah segar seketika merembes keluar, mengotori kemeja putih yang dikenakannya.

​Tubuh Serena bergetar hebat hingga hampir ambruk jika saja lengan kokoh Sergio tidak menopang pinggangnya. Dunianya berputar seketika. Bau mesiu yang menyengat bercampur dengan realitas pahit bahwa ia baru saja menembak seseorang membuat mentalnya runtuh.

​"Aku... aku sudah jadi pembunuh..." cicit Serena dengan suara parau.

​Saking syoknya, Serena bahkan tidak berani membuka matanya lagi. Dengan gerakan kilat, ia berbalik, membenamkan wajahnya di dada bidang Sergio, dan memeluk erat tubuh suaminya itu. Bahunya bergetar hebat seiring dengan tangisannya yang pecah.

​"Huwawaaa...! Aku jadi pembunuh, Sergio! Aku membunuh orang!" jeritnya histeris di balik jas hitam suaminya.

​Para pengawal dan penghuni mansion yang menyaksikan kejadian itu langsung menunduk hormat secara serentak, tidak ada yang berani bersuara sedikit pun. Di tengah keheningan barisan manusia itu, Zayden pria tampan eksotis kepercayaan Sergio yang terkenal tenang dan ramah di luar, namun menyimpan kekejaman luar biasa di balik senyum manisnya hanya melirik sekilas ke arah tengah lapangan. Zayden tersenyum tipis, menikmati drama malam itu dengan tatapan kosong tanpa empati.

​Sementara itu, di tengah pelukan erat sang istri, Sergio perlahan membalas pelukan Serena. Satu tangannya mengusap lembut surai panjang gadis itu, sementara bibirnya, untuk pertama kalinya malam ini, menyunggingkan senyuman kecil yang sangat langka.

​"Sstt... tenanglah, sayang," bisik Sergio lembut tepat di pucuk kepala Serena, kontras dengan kekejaman yang baru saja ia perintahkan.

"Kamu bukan pembunuh. Kamu hanya sedang belajar cara bertahan hidup di sisiku."

​Serena terus menangis sesenggukan, tidak peduli dengan tatapan ratusan pasang mata di sekitarnya. Yang ia tahu, malam ini dunianya benar-benar telah berubah selamanya, terjebak dalam sangkar emas penuh darah bersama pria paling berbahaya di kota ini.

​Bagaimana kelanjutan nasib Serena setelah insiden penembakan pertama ini, apakah ia perlahan akan terbiasa dengan sisi gelap dunia Sergio?.

Bersambung...

Sepertinya Calum udah mati deh. Lagian mulutnya licin banget.😏

1
Ita Putri
kasihan nasib Callum setelah ini....jangan terlalu kejam hukum Callum nya sergio
It's me Ri🥕: Kayaknya bakalan di bunbun dehh🙏😭
total 1 replies
Mia Camelia
seru banget ngliat tingkah polos serena🤭
Mia Camelia
sergio bisa lembut juga 🤭
Dessy Rinda
klo serenanya jago nela diri sm nembak keren kak thor🤭😁🙏
Dessy Rinda: siiippp
total 2 replies
Mia Camelia
mampir thor🤭
cerita nya bagus thor, pliss jangan di hapus lgi kya 2 judul yg kemarin itu ya😔🤭🤔
Dessy Rinda: semangat nulisnya kk thor,semoga di berikan ide2 cemerlang sehat2 ya kak💪👍
total 2 replies
Sumawita
saya suka dengan cerita nya bagus bangett 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!