Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Sejak insiden di lobi kantor hari itu, tembok es yang membentengi hati Amanda perlahan mulai merembeskan air. Dan Alan—dengan insting predatornya yang tajam—tahu persis bagaimana cara memperlebar retakan kecil itu menjadi sebuah celah yang menganga.
Pria itu tidak lagi menyerang Amanda secara langsung. Taktiknya berubah haluan, menjadi lebih halus, lebih mematikan. Ia menjadikan Lily sebagai pusat gravitasinya. Setiap kali ada kesempatan, Alan akan menyisipkan hadiah kecil untuk Lily melalui Amanda; entah itu sekotak pensil warna keluaran terbaru, jepit rambut berbentuk kupu-kupu, hingga buku cerita dongeng yang selalu berhasil membuat mata kelam bocah empat tahun itu berbinar memuja.
Puncaknya terjadi pada Jumat sore. Alan, dengan senyum andalannya yang melumpuhkan, berjongkok di depan Lily saat kebetulan berpapasan di pelataran parkir. Dengan nada santai yang terdengar begitu natural, ia mengundang gadis kecil itu untuk melihat pertunjukan sulap jalanan dan bermain di Central Park akhir pekan ini.
Tentu saja, Lily yang sudah kadung memuja 'Paman Alan' langsung bersorak kegirangan. Dan Amanda? Ia sama sekali tidak berkutik ketika sepasang mata bulat putrinya menatapnya dengan penuh harap, memohon hingga nyaris menangis agar sang ibu bersedia ikut serta.
Sabtu pagi itu, matahari musim gugur bersinar hangat, menembus sela-sela dedaunan maple yang mulai menguning. Angin berembus sejuk, membawa aroma kacang panggang dan cotton candy dari gerobak pedagang kaki lima.
Amanda berdiri dengan canggung di dekat pintu masuk taman. Ia mengenakan kardigan rajut berwarna beige dan celana jeans yang nyaman, namun wajahnya memancarkan kegelisahan yang kentara. Jari-jarinya meremas tali tas selempangnya dengan gugup. Ini adalah kali pertama dalam lima tahun ia keluar di akhir pekan bersama seorang pria.
"Bunda, ayo cepat! Paman Alan pasti sudah menunggu!" Lily menarik-narik ujung kardigan Amanda, melompat-lompat kecil dengan sepatu kets merah mudanya.
"Iya, Sayang, sebentar. Jangan lari-lari nanti kau ja—"
"Lily!"
Sebuah suara bariton yang hangat memotong kalimat Amanda. Di bawah bayangan pohon ek besar, Alan berdiri menyandarkan tubuh jangkungnya. Pria itu menanggalkan setelan jas kaku yang biasa ia kenakan di kantor. Hari ini, ia tampak sangat memukau sekaligus membumi dengan balutan sweter turtleneck hitam yang mencetak dada bidangnya, dipadukan dengan mantel panjang berwarna khaki dan celana denim gelap.
Melihat pria itu, napas Amanda sempat tertahan sedetik. Ada getaran aneh di perutnya yang buru-buru ia tepis.
"Paman Alan!" Lily melepaskan genggaman tangan ibunya, berlari kencang menerjang kaki pria itu.
Alan tertawa lepas. Dengan gerakan yang begitu luwes dan terlatih—seolah ia sudah menjadi ayah selama bertahun-tahun—pria itu membungkuk, menangkap tubuh kecil Lily, dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara, memutar bocah itu hingga tawa renyah Lily menggema memenuhi udara taman.
Amanda terpaku di tempatnya. Langkahnya terhenti. Melihat pemandangan di depannya—seorang pria dewasa yang menggendong putrinya dengan tawa yang begitu lepas di bawah siraman cahaya matahari—membuat tenggorokannya terasa tercekat. Hatinya yang selama bertahun-tahun kering kerontang, tiba-tiba tersiram sepercik kehangatan yang menyakitkan. Ini adalah adegan yang selalu Lily tatap dengan iri setiap kali mereka ke taman.
"Kau datang," sapa Alan lembut, membuyarkan lamunan Amanda. Pria itu berjalan mendekat dengan Lily yang kini duduk nyaman dalam gendongan satu lengannya.
Amanda memaksakan seulas senyum, berusaha menyembunyikan rona merah yang perlahan menjalar di pipinya. "Aku tidak punya pilihan lain. Putri kecilku ini mengancam akan mogok makan dan menangis seharian jika aku tidak mengantarnya menemuimu."
Alan terkekeh, menatap Lily dengan sebelah alis terangkat menggoda. "Oh ya? Strategi negosiasi yang sangat brilian, Nona Kecil. Paman bangga padamu."
Lily hanya menyembunyikan wajahnya yang merona di perpotongan leher Alan sambil tertawa geli.
Sisa hari itu berjalan seperti sebuah ilusi yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan bagi Amanda. Alan benar-benar mengambil alih peran itu dengan sempurna. Ia membelikan Lily es krim, menemaninya bermain perosotan, bahkan rela berlutut di atas rerumputan yang lembap hanya untuk membantu Lily menerbangkan layang-layang, sama sekali tidak memedulikan lutut celana mahalnya yang kotor oleh noda tanah.
Amanda mengamati semuanya dari atas bangku taman kayu. Secangkir latte hangat yang tadi dibelikan Alan berada dalam genggamannya. Ia merasa... damai. Sebuah kata yang sudah lama hilang dari kamus hidupnya.
"Dia memiliki energimu, tapi matanya... mata itu sangat tajam dan dalam," gumam Alan, tiba-tiba sudah duduk di sebelah Amanda. Napas pria itu sedikit memburu setelah berlarian, membuat aroma maskulin dari parfumnya—campuran bergamot dan kayu-kayuan—menguar, menggelitik indra penciuman Amanda.
Amanda menoleh, menatap Alan yang tengah menyeka keringat di pelipisnya. "Lily memang anak yang aktif. Maaf kalau dia merepotkanmu di hari libur begini."
"Sama sekali tidak, Amanda," Alan menoleh, mengunci pandangan Amanda dengan sepasang matanya yang gelap dan sulit dibaca. "Aku justru bersyukur kau mengizinkanku masuk ke dunianya. Dan... duniamu."
Jantung Amanda berdegup lebih kencang. Ia buru-buru memalingkan wajah, menatap lurus ke arah Lily yang sedang bermain dengan anjing golden retriever milik pengunjung lain di kejauhan. "Alan... aku... aku tidak tahu harus bilang apa. Aku hanya seorang ibu tunggal. Hidupku rumit. Aku tidak ingin kau merasa terbebani atau—"
"Amanda, lihat aku," sela Alan. Suaranya merendah, berat, dan penuh wibawa, menuntut perhatian absolut.
Perlahan, Amanda menoleh. Alan mengangkat satu tangannya, merapikan seuntai anak rambut Amanda yang tertiup angin musim gugur, lalu menyelipkannya dengan lembut ke belakang telinga wanita itu. Sentuhan hangat jemari Alan di kulit dinginnya membuat tubuh Amanda meremang.
"Membesarkan anak sehebat Lily sendirian di dunia yang keras ini... kau adalah wanita yang luar biasa tangguh," bisik Alan, tatapannya menyusuri lekuk wajah Amanda dengan intensitas yang membuat napas wanita itu tertahan. "Kau tidak perlu terus-menerus membangun tembok. Kau boleh merasa lelah. Kau boleh bersandar. Aku tidak akan ke mana-mana."
Kata-kata itu menghantam pertahanan terakhir Amanda hingga hancur berkeping-keping. Air mata menggenang di pelupuk matanya, membuat pandangannya mengabur. Untuk pertama kalinya setelah malam kelam lima tahun lalu, Amanda merasa dilihat, dihargai, dan dijaga oleh seorang pria. Ia tersenyum, sebuah senyum rapuh yang tulus dari lubuk hati terdalam.
Namun, di balik senyum memikat dan tatapan teduh Alan, tersembunyi kekejaman yang tak terbayangkan.
Jemari Alan yang baru saja membelai lembut rahang Amanda adalah jemari yang sama yang telah mencabut nyawa puluhan orang tanpa berkedip. Saat mata Alan menatap wajah haru Amanda, batin sang pemimpin The Dragon Black itu menyeringai penuh kemenangan. Racunnya telah menyebar. Umpannya telah digigit dengan sempurna.
Dari sudut matanya, Alan sempat menangkap kilatan lensa kamera dari balik semak-semak di seberang jalan. Anak buahnya sedang mendokumentasikan momen kebersamaan ini. Gambar-gambar yang akan ia kirimkan secara anonim ke markas The Iron Crown untuk memancing sang Raja Iblis keluar dari sarangnya.
Nikmatilah ilusi ini selagi bisa, Nona Millen, batin Alan dingin. Karena sebentar lagi, dunia kecilmu yang menyedihkan ini akan menjadi arena pertumpahan darah.
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭