NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Mafia

Istri Kontrak Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / CEO / Tamat
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*

Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.

Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.

Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.

Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ENAM MINGGU

Hari ketujuh setelah mereka mengetahui kehamilan itu.

Usia kandungan lima minggu enam hari, besok genap enam minggu. Di dalam rahim, sesuatu yang selama ini hanya berupa kantong kecil berwarna hitam di layar USG kini mulai memiliki titik terang di tengahnya. Panjangnya sudah mencapai empat sampai lima milimeter. Sebesar biji delima kecil. Di titik itu, tabung jantung yang selama ini hanya berupa lipatan sel, hari ini mulai berdenyut untuk pertama kalinya. Denyutnya belum teratur, belum kuat, dan belum akan terlihat di USG hari ini. Denyut itu baru akan terlihat sebagai kedipan kecil di layar dua atau tiga hari lagi, saat usia enam minggu lebih. Tapi ia sudah hidup dengan iramanya sendiri.

Pukul 05.48 pagi, Alya terbangun bukan karena ingin buang air kecil.

Ia terbangun karena rasa tidak nyaman di perut. Bukan kram seperti kemarin. Bukan sakit. Tapi rasa penuh, rasa begah, seperti ada sesuatu yang naik dari perut ke tenggorokan.

Ia duduk di tepi ranjang dengan napas yang agak cepat.

Rafael yang tidurnya tidak pernah pulas sejak semalam langsung terbangun. "Kamu kenapa? Mau ke kamar mandi lagi?"

Alya menggeleng. "Bukan. Perutku... aneh. Seperti mual, tapi bukan mual. Seperti... perutku menolak kosong, tapi juga menolak isi."

Rafael mengerti. Ia pernah membaca tentang ini. Pada akhir minggu kelima menuju minggu keenam, hormon hCG mencapai lonjakan pertama yang tinggi. Lonjakan itulah yang biasanya menjadi pemicu awal mual di pagi hari. Bukan mual yang langsung muntah, tapi mual yang menggantung, rasa tidak enak yang datang bahkan sebelum makanan masuk.

"Coba minum air putih hangat sedikit saja. Pelan-pelan. Jangan langsung banyak," kata Rafael sambil mengambilkan gelas yang sudah ia siapkan di nakas sejak semalam.

Alya menyesap sedikit. Seteguk, dua teguk. Ia memejamkan mata, menunggu rasa itu hilang.

Setelah beberapa menit, rasa itu mereda, tapi tidak hilang sepenuhnya. Ia hanya menipis, menjadi rasa tidak nyaman yang menggantung di latar belakang.

"Sudah mendingan?" tanya Rafael.

Alya mengangguk. "Sudah. Tapi tidak hilang total. Apakah ini yang namanya mual hamil?"

"Ini awalnya. Dokter bilang di buku, mual biasanya mulai di usia enam minggu. Kamu sekarang lima minggu enam hari, jadi ini masih permulaan. Tubuhmu mulai bereaksi terhadap hCG yang naik cepat. Tapi kamu belum muntah. Dan tidak semua orang langsung muntah. Beberapa orang hanya merasa begah seperti ini selama beberapa hari pertama."

Alya mengelus perutnya yang masih rata. "Selamat pagi, Sia. Jadi kamu sudah bisa membuat Ibu merasa seperti ini ya."

Pagi itu, sarapan berubah lagi. Roti panggang kemarin tidak laku. Nasi goreng juga tidak. Alya hanya mau biskuit tawar dan potongan apel kecil yang dingin dari kulkas. Apel yang dingin ternyata membantu. Rasa asam dan dinginnya membuat rasa begah itu sedikit teralihkan.

"Apelnya enak?" tanya Rafael.

"Enak. Tidak berbau menyengat. Aku suka yang dingin," jawab Alya. Ia makan pelan-pelan, sepotong kecil demi sepotong kecil.

Pukul 09.30, jadwal USG kedua tiba.

Mereka sudah membuat janji di klinik yang sama dengan dokter yang sama. Dokter perempuan yang tenang, yang tidak banyak bicara tapi setiap kalimatnya jelas.

Di ruang periksa yang dingin dan agak gelap, Alya berbaring. Rafael berdiri di sampingnya, menggenggam tangan Alya yang dingin.

Dokter mengoleskan gel hangat di perut bawah Alya, lalu menempelkan probe.

Layar USG menyala. Hitam putih dengan bintik-bintik.

"Itu kantongnya," kata dokter, menunjuk lingkaran hitam. "Ukuran sudah lebih besar dari kemarin. Sekarang sekitar lima milimeter."

Alya menahan napas.

"Di dalamnya, sudah mulai ada embrio kecilnya," lanjut dokter, memperbesar gambar. "Lihat titik putih kecil ini. Ini dia. Besok atau lusa, kalau kita USG lagi di usia enam minggu satu atau dua hari, kita sudah bisa melihat kedipan jantungnya. Hari ini jantungnya baru mulai berdenyut, tapi masih terlalu kecil untuk tertangkap mesin USG perut. Denyutnya baru sekitar 90 sampai 100 kali per menit, masih pelan."

Rafael meremas tangan Alya lebih erat. "Jadi hari ini Sia sudah punya jantung yang berdenyut, Dok, tapi belum terlihat?"

Dokter tersenyum, mendengar nama itu. "Sia? Nama panggilannya Sia? Ya. Hari ini Sia sudah punya jantung yang berdenyut, tapi masih malu-malu untuk terlihat di layar. Dua hari lagi dia pasti sudah mau menunjukkan diri."

Alya menatap layar itu tanpa berkedip. Air matanya menetes tanpa suara. Bukan karena sedih, tapi karena sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Sesuatu sebesar lima milimeter di dalam tubuhnya sudah memiliki jantung.

"Apakah dia sehat, Dok?" tanya Alya dengan suara pelan.

"Sehat. Kantongnya bagus, posisinya bagus, ukurannya sesuai usia. Ibu juga sehat. Hanya memang wajar kalau mulai merasa lebih lelah, lebih sering buang air kecil, payudara nyeri, dan mulai rasa begah atau mual tipis di pagi hari. Itu semua karena hormon. Istirahat yang cukup, makan sedikit tapi sering, jangan biarkan perut kosong terlalu lama."

Dokter mencetak foto USG itu. Lebih jelas dari kemarin. Lingkaran hitam dengan titik putih kecil di dalamnya.

Di bawah foto itu, dokter menulis tangan: *6w0d - CRL 5mm - YS (+) - Fetal pole (+) - Belum terlihat DJJ, evaluasi 2-3 hari lagi.*

Perjalanan pulang ke apartemen mereka lalui dengan diam. Bukan diam yang canggung, tapi diam yang penuh.

Di dalam tas Alya, ada foto USG terbaru Sia.

Pukul 14.11, ponsel Rafael bergetar. Nama yang muncul: *Papa.*

Rafael menatap Alya. Alya menatap Rafael.

Ini adalah ujian kedua setelah telepon Mama kemarin.

Rafael mengangkat, dengan pengeras suara.

"Halo, Pa."

"Fa, kamu di mana? Mama kamu nanya, minggu ini jadi pulang tidak? Sudah dua minggu tidak pulang. Mama masak rendang kesukaan kamu."

Rafael menarik napas. Ia ingin sekali bilang, _Pa, Alya hamil. Enam minggu. Kami baru USG. Jantungnya sudah berdenyut._ Tapi ia ingat janji itu. Janji yang mereka buat di malam pertama, di bawah rekaman Ayah mengaji.

"Belum bisa pulang minggu ini, Pa. Alya masih ada revisi skripsi, aku juga ada kerjaan yang tidak bisa ditinggal. Mungkin minggu depan kami pulang. Nanti kami kabari."

"Ya sudah, jaga Alya baik-baik. Jangan suruh dia begadang."

"Iya, Pa."

Telepon ditutup.

Rafael menghela napas panjang. "Hampir."

"Hampir," kata Alya, mengulang. "Tadi aku lihat tanganmu gemetar."

"Karena aku ingin sekali bilang. Aku ingin Papa tahu kalau dia akan jadi kakek."

Mereka saling menatap, lalu tersenyum. Senyum yang lelah tapi lega karena berhasil menjaga rahasia itu satu hari lagi.

Sore itu, ritual kalender kembali dilakukan.

Rafael menulis:

*15 Okt 2026 - 5 minggu 6 hari / 6w0d - 5 mm - Sia - Jantung mulai berdenyut hari ini (belum terlihat USG, evaluasi 2-3 hari lagi). Gejala: begah/mual tipis pagi hari (belum muntah), BAK sering, payudara nyeri, hidung tajam, lelah. Foto USG ke-2 didapat. Janji rahasia tetap dijaga (telepon dari Papa).*

Alya menambahkan di bawahnya dengan tulisan kecil: _Sia, hari ini jantungmu sudah berdenyut. Ibu belum bisa lihat, tapi Ibu tahu kamu ada. Tetap jadi rahasia kita ya._

Menjelang malam, Alya kembali berbaring di pangkuan Rafael. Rasa begah pagi tadi datang lagi sedikit, tapi hilang setelah makan biskuit.

"Fa," kata Alya pelan, matanya sudah mengantuk.

"Ya?"

"Terima kasih sudah menjaga rahasia ini bersamaku. Aku tahu tidak mudah. Tadi kamu ingin cerita ke Papa."

"Menjaga rahasia ini memang tidak mudah. Tapi ini adalah rahasia paling indah yang pernah kita jaga. Aku ingin ketika Ayah dan Mama tahu, mereka tahu langsung dari kita, dengan foto USG yang sudah ada kedipan jantungnya. Bukan lewat telepon. Aku ingin melihat Ayah mengusap mata, dan Mama memeluk kamu lama."

Alya mengangguk, memejamkan mata. Tangannya mengelus perutnya.

"Selamat malam, Sia. Hari ini jantungmu sudah berdetak. Ibu belum bisa dengar, tapi Ibu tahu. Kamu kuat ya di dalam. Kita masih simpan rahasia ini berdua sama Ayah. Sampai waktunya kita pulang."

Rafael mematikan lampu, membiarkan foto USG kedua Sia tergeletak di atas meja nakas, diterangi sedikit cahaya dari jendela.

Di luar, Jakarta hujan rintik-rintik.

Di dalam, seorang bayi sebesar biji delima baru saja memulai detak jantung pertamanya, tanpa diketahui dunia, kecuali oleh dua orang yang berjanji untuk tetap menjaganya sebagai rahasia untuk beberapa hari lagi.

Bersambung...

1
Renjana
🥰
ocvia
sudah kak
Mia Camelia
lanjut thor
Nda
mampir disini thor..😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!