AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN
Namaku Kirana, 22 tahun.
Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.
Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.
"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"
Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.
Aku pikir hidupku sudah selesai.
Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.
Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:
"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."
Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?
Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: HASIL USG DAN RAHASIA BESAR TENTANG SALSA YANG SELAMA INI DISEMBUNYIKAN
Pagi jam 7, aku dan Bu Minah berangkat ke Puskesmas Desa Wonorejo buat USG pertama dalam hidupku. Perutku sekarang 4 bulan 3 minggu, 17 minggu kata Bu Bidan nanti.
Uang 150 ribu lecek pemberian Mas Arga semalam, 2 lembar 50 ribu dan 5 lembar 20 ribu, aku genggam erat di dalam kantong daster bunga biru pudar. Telur 1 kilo pemberian Mas Arga juga sudah aku rebus 2 butir pagi ini buat sarapan aku dan Salsa, sisanya aku simpan buat besok.
Salsa aku titipkan ke Pak Karim di rumah induk, karena Puskesmas tidak boleh bawa anak kecil masuk ruang USG. Salsa nangis waktu aku tinggal, "Ibu, Ibu jangan tinggalin Salsa," tapi Pak Karim gendong dia.
Jalan ke Puskesmas 1 kilometer lewat pematang sawah dan jalan aspal rusak. Aku jalan pelan karena perut sudah mulai berat, Bu Minah tuntun aku.
Di Puskesmas, antriannya panjang. Banyak ibu-ibu hamil yang perutnya besar-besar, ditemani suami pakai motor. Aku cuma ditemani Bu Minah, tidak ada suami, karena suami siriku Mas Arga kerja di kebun karet jam 7 pagi, tidak bisa antar.
Jam 9.30, giliranku dipanggil Bu Bidan Susi.
"Kirana, ayo masuk, Nduk. Hamil berapa bulan?" tanya Bu Bidan Susi yang kenal aku karena dulu waktu aku SMP pernah berobat demam.
"4 bulan 3 minggu, Bu, 17 minggu katanya," jawabku pelan, naik ke kasur USG yang dingin.
Bu Bidan Susi olesin gel dingin di perutku. Dingin, aku kaget. Perutku yang buncit 4 bulan 3 minggu kelihatan jelas di bawah lampu.
Bu Bidan Susi gerakin alat USG di perutku. Layar hitam putih di samping kasur mulai muncul gambar.
"Ini, Nduk, anaknya. Lihat, ini kepalanya, bulat. Ini tangannya, kecil. Ini kakinya. Detak jantungnya... dengerin..."
Tuk... tuk... tuk... tuk... cepat sekali.
Aku nangis langsung di kasur USG. Itu detak jantung anakku. Anak yang selama 4 bulan 3 minggu ini aku benci, aku anggap aib, aku anggap penyebab aku diasingkan, diusir Mbah Sarti, diusir dari warung Bu Lasmi, tinggal di rumah bocor angker Mbah Wiryo.
Ternyata dia sudah jadi manusia kecil di layar, ada kepala, tangan, kaki, jantung berdetak.
"Anakku sehat, Bu?" tanyaku sambil nangis, air mata netes ke bantal kasur USG.
"Sehat, Nduk. Sehat banget. Usia 17 minggu, berat 150 gram, panjang 13 cm. Aktif, gerak terus. Tapi kamu, Nduk, kamu kurang gizi. Berat badanmu 42 kilo, padahal hamil 4 bulan harusnya 50 kilo. Lingkar lenganmu kecil. Kamu makan apa sehari-hari, Nduk?"
Aku diam. Makan apa? Nasi sama garam, kadang tempe 1 potong dibagi dua sama Salsa, kadang telur rebus 1 dibagi dua.
"Harus makan telur tiap hari, Nduk, sehari 2 butir, sama susu hamil kalau ada uang. Jangan cuma tempe sama garam. Kasihan anaknya nanti lahir kecil, BBLR."
Aku angguk-angguk, nangis lagi.
Bu Bidan Susi cetak foto USG, kertas kecil hitam putih, ada gambar bayi keriting. Dikasih ke aku.
"Ini foto anaknya, Nduk. Simpan. Laki-laki atau perempuan belum kelihatan, masih kecil, nanti 7 bulan baru kelihatan jelas."
Aku pegang foto USG itu erat-erat, seperti pegang harta karun. Foto pertama anakku.
Pulang dari Puskesmas jam 10.30, jalan kaki lagi lewat pematang sawah yang panas terik. Bu Minah gandeng aku karena aku masih nangis lihat foto USG.
Di tengah pematang, Bu Minah berhenti, tarik napas panjang, lihat sawah yang menguning.
"Nduk, ada yang mau Bu Minah omongin. Tentang Salsa. Sudah lama Bu Minah simpan, tapi baru berani ngomong sekarang setelah kamu USG dan tahu anakmu sehat."
Aku berhenti jalan, jantung deg-degan. "Kenapa, Bu? Salsa kenapa? Sakit?"
Bu Minah duduk di pematang, aku ikut duduk, perut 4 bulan 3 minggu berat.
"Bukan sakit, Nduk. Salsa itu... Salsa itu bukan anak yatim piatu biasa yang bapaknya gak jelas. Bapaknya Salsa itu... Rendo."
Aku berhenti napas. Dunia berhenti. Suara jangkrik di sawah hilang.
"Apa, Bu? Salsa anak Rendo? Anak Rendo yang hamilin aku juga?"
Bu Minah angguk, nangis, air matanya netes ke sawah.
"Iya, Nduk. Mira, ibu kandung Salsa, dulu pacarnya Rendo sebelum kamu, 2 tahun lalu. Mira itu masih kelas 2 SMA, cantik, pinter. Pacaran sama Rendo 1 tahun, terus hamil duluan juga sama Rendo di gubuk kebun karet yang sama, gubuk yang sama tempat kamu hamil sama Rendo. Rendo juga gak mau tanggung jawab waktu itu, sama persis kayak kamu. Rendo bilang 'gugurin aja, aku belum siap'. Mira gak mau gugurin, dia kabur ke rumah tantenya di kota, melahirkan Salsa sendirian di rumah bidan kampung, pendarahan banyak, meninggal 3 hari setelah melahirkan. Bapaknya Salsa, Rendo, gak pernah datang lihat anaknya sama sekali. Makanya Mira titip Salsa ke Bu Minah sebelum meninggal, karena Bu Minah teman ibu Mira."
Aku lemas, duduk di pematang sawah yang panas, foto USG di tanganku hampir jatuh ke lumpur.
Jadi Salsa, anak 2 tahun yang aku rawat 3 bulan ini, yang aku gendong tiap hari, yang aku kasih makan telur dibagi dua, yang panggil aku Ibu, yang tidur meluk perutku tiap malam, yang aku anggap adik...
Ternyata adalah kakak se-ayah sama anakku? Satu bapak, beda ibu. Dua-duanya anak Rendo. Dua-duanya korban Rendo yang tidak mau tanggung jawab.
"Jadi selama ini aku rawat anak Rendo juga, Bu? Bukan cuma anak Mira? Aku rawat kakak dari anakku sendiri?"
"Iya, Nduk. Makanya Bu Minah titip Salsa ke kamu waktu kamu diusir Mbah Sarti ke gudang Pak Karim. Biar kamu gak sendirian di pengasingan, dan biar Salsa ada saudara senasib. Kalian berdua senasib, Nduk. Dihamilin Rendo, ditinggal Rendo, diasingkan warga. Bedanya, Mira sudah meninggal, kamu masih hidup. Salsa yatim piatu, anakmu nanti kalau lahir juga hampir yatim karena bapaknya gak mau akui."
Aku peluk foto USG erat-erat, nangis sejadi-jadinya di tengah sawah jam 11 siang panas terik. Bu Minah peluk aku.
"Anakku, Salsa kakakmu, Nak..." bisikku ke perut 4 bulan 3 minggu.
Sore jam 4, aku sudah di rumah bocor lagi, Salsa sudah pulang dari rumah Pak Karim, main tanah di depan rumah. Aku panggil Salsa, peluk erat-erat.
"Salsa, sini Ibu peluk."
Salsa bingung, tapi peluk aku. "Ibu, Ibu kenapa nangis?"
Aku cerita ke Mas Arga jam 6 maghrib, waktu Arga datang bawa kayu bakar kering dan susu hamil kotak kecil 200 ml yang dia beli di warung desa sebelah, harganya 8 ribu.
Arga kaget besar, sampai kayu bakar jatuh.
"Jadi Salsa itu anak Rendo juga? Anak kandung Rendo sama Mira? Pantas, pantas Rendo gak pernah mau dekat sama Salsa, gak pernah mau gendong Salsa, gak pernah mau kasih uang buat Salsa! Ternyata dia tahu Salsa anaknya!"
Aku angguk sambil nangis, kasih lihat foto USG ke Arga.
"Mas, ini anakku, Mas. Sehat, kata Bu Bidan. 17 minggu. Tapi aku kurang gizi, Mas. Harus makan telur tiap hari."
Arga pegang foto USG itu, tangannya gemetar. Pertama kalinya dia lihat foto anak, meskipun bukan anak kandungnya, tapi anak istri sirinya.
"Sehat, Kir. Sehat. Kepalanya bulat. Mirip kamu."
Aku nangis lagi.
"Mas, Salsa itu kakak dari anakku, Mas. Satu bapak beda ibu. Gimana nanti warga ngomong, Mas? Anakku dan Salsa satu bapak, dua ibu, dua-duanya hamil duluan sama Rendo."
Arga duduk lama di bale depan, mikir, tidak masuk rumah, jaga syarat.
"Kir, justru itu bagus. Artinya kamu dan Salsa memang ditakdirkan jadi keluarga. Takdir Allah. Kamu rawat Salsa 3 bulan ini, Salsa rawat kamu juga. Nanti kalau adiknya lahir, Salsa jadi kakak yang jaga adiknya. Soal warga, biar Mas yang hadapi. Kita jaga rahasia ini dulu, jangan bilang ke warga kalau Salsa anak Rendo, biar warga tidak makin hina Salsa. Kita bilang Salsa anak yatim piatu biasa. Rahasia ini kita simpan bertiga: kamu, aku, Bu Minah. Jangan sampai Rendo tahu dan ambil Salsa buat dijual atau buat minta uang ke orang."
Aku peluk Salsa erat-erat lagi. Salsa yang 2 tahun, yang tidak tahu apa-apa, yang bapaknya sama dengan bapak adiknya yang masih di perut.
Malam itu jam 9 malam, di rumah bocor yang atapnya sudah tidak bocor lagi karena dibenerin Arga pakai seng baru, lantai tanah sudah aku sapu, aku tidur bertiga: aku di tengah, Salsa di kanan meluk tanganku, dan perut 4 bulan 3 minggu di kiri yang isinya adik Salsa se-ayah, foto USG aku taruh di bawah bantal.
Belum nikah KUA, masih istri siri tidak diakui desa, masih diasingkan di rumah bocor angker Mbah Wiryo, masih dianggap perawan hamil haram.
Tapi sekarang aku tahu rahasia besar: aku tidak sendirian. Aku punya Salsa, yang ternyata kakak kandung se-ayah dari anakku, yang senasib sama aku.
Dan aku punya foto USG, bukti anakku sehat, jantungnya berdetak tuk tuk tuk.
Dan aku punya telur 1 kilo dan susu hamil kotak dari suami siriku.
Besok, aku harus makan telur 2 butir sehari biar anakku tidak BBLR, kata Bu Bidan.
Tapi malam ini, aku mau tidur dulu, peluk Salsa, peluk perut, peluk foto USG.
Karena rahasia besar sudah terbuka, dan aku harus kuat buat dua anak Rendo yang tidak diakui Rendo.