Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.
Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.
Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.
Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.
Sementara Utara tetap mengingatnya.
Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 : PASUKAN LANGIT
Azazil tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia hanya mengibaskan pedang dan sayap keemasannya, menciptakan gelombang terpaan angin luar biasa dahsyat yang membuat Zhuin terlempar beberapa meter ke belakang.
Matanya dingin, seperti tak lagi mengenali Zhuin maupun daratan tempat ia pernah berpijak.
“Bangsa ini sudah menyimpang, Zhuin. Berbuat kerusakan,” bisik Azazil. Suaranya terdengar dari segala arah, bergaung di antara kilatan petir yang membelah langit malam.
“Agharta, Atlantis, Mu... kalian semua sibuk memperebutkan takhta bumi, hingga lupa siapa pemegang kekuasaan yang sejati.”
Ia mengangkat pedangnya.
“Ini bukan pembantaian. Ini adalah penyucian.”
“Azazil, hentikan!”
Feng Yao melompat menerjang.
Pedangnya melingkar, memancarkan cahaya biru-kehijauan dari gerbang cakra kedelapan yang baru saja ia buka.
Jurus Seribu Pedang kembali terbentuk.
Ribuan bayangan pedang meluncur deras, menghantam perisai cahaya milik Azazil.
BLAMMM! DUAAARRR!
Dentuman raksasa itu menggetarkan tanah.
Azazil sedikit terkejut menahan tekanan energi Feng Yao.
Namun ia dengan cepat membalikkan keadaan dengan satu tebasan pedang cahayanya.
Feng Yao terlempar.
Gaun birunya terkoyak dan terkena noda darah.
“Utara!”
Zhuin melesat dengan sisa tenaganya dan menangkap tubuh Feng Yao sebelum menghantam reruntuhan pilar istana.
Kondisi medan perang benar-benar berubah menjadi neraka.
Di satu sisi, armada kapal terbang Atlantis kian gencar menembakkan meriam kristal biru ke arah benteng Agharta.
Di sisi lain, Pasukan Langit menyerang dengan petir dan api, membakar apa saja tanpa membedakan bendera Atlantis maupun Agharta.
Bumi purba mulai retak.
Benua raksasa itu terguncang hebat di ambang perpecahan.
Zhuin mengusap darah di bibir Feng Yao.
Matanya bergetar menahan gejolak emosi yang mengiris hatinya.
Ia tahu, pertempuran ini tidak akan pernah bisa mereka menangkan.
“Utara... dengarkan aku.”
Zhuin memeluk erat tubuh gadis itu di balik bayang-bayang pilar yang rubuh.
“Kau harus selamat. Apa pun yang terjadi hari ini... kau harus tetap bernapas.”
“Tidak , Zhuin! Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu!”
Tangis Feng Yao pecah.
Genggaman tangannya pada baju zirah Zhuin makin mengencang.
“Kita bertarung bersama sama kita saling menjaga”
Zhuin menatapnya.
“Aku mencintaimu, Utara. Selalu.”
Tanpa memberi kesempatan bagi Feng Yao untuk menjawab, Zhuin menekan titik nadir di leher gadis itu.
Tepat saat kesadaran Feng Yao mulai kabur dan pandangannya menggelap, ia melihat Zhuin tersenyum.
Senyuman penuh duka dan cinta yang teramat dalam.
Sebelum pria itu bangkit dan menerjang lurus ke arah Azazil dan kobaran api pertempuran demi melindunginya.
Zhuin pun bertarung melawan Azazil dengan segenap kekuatannya.
“Kami para Penjaga tidak serakah seperti Atlantis dan Banul Jan! Kau mestinya bisa memilah, Azazil!” geram Zhuin.
“Dan aku hanya menjalankan perintah, Zhuin.”
Pedang Azazil hampir menebas Zhuin.
Namun tiba-tiba.
Dari belakang, energi besar menghantam tubuh Zhuin.
DUAAARRR!
“Arrghhhh!” Zhuin ambruk dan muntah darah.
Azazil terkejut. “Zhuin...”
Ia segera menangkap tubuh Zhuin sebelum jatuh ke tanah.
“Zhuuiiinn...!”
Feng Yao yang mulai sadar kembali histeris dan berlari menghampiri tubuh Zhuin.
“Azazil... kenapa? Kenapa kau menyerang Zhuin?”
Azazil mendekat dan melindungi Feng Yao dengan sayapnya ,ketika armada Atlantis mulai menembakkan gelombang energi.Dan tidak sempat menjawab pertanyaan Feng Yao
Dengan cepat, Azazil mengibaskan sayapnya.
Gelombang energi itu terpental kembali.
Armada Atlantis langsung kocar-kacir.
Azazil menatap Feng Yao.
Ia kemudian berbisik pelan,
“Utara, kau harus pergi dari sini. Sebentar lagi tempat ini akan lenyap.”
“Apa katamu...?”
Feng Yao belum sempat meneruskan kata-katanya.
Azazil langsung membentangkan sayapnya, menutupi tubuh Feng Yao dan Zhuin.
Dalam sekejap, cahaya keemasan menyelimuti mereka dan memindahkan mereka ke tempat yang lebih aman.
Setelah itu
DUAAAAARRR!
Bumi berguncang hebat.
Tanah mulai retak. Gunung-gunung bergemuruh.
Feng Yao langsung memeluk tubuh Zhuin yang sudah tidak bernyawa.
“Zhuin...”
Tubuhnya gemetar. “Zhuin... bangun...”
Namun Zhuin tetap diam.Tidak ada lagi suara yang menjawabnya.
" Zhuin... " Feng Yao mengusap wajah kekasih nya, ia sadar kalau Zhuin, telah tiada.
Ia menangis, Air matanya mengalir deras, sambil memeluk tubuh zhuin.