NovelToon NovelToon
Babu Yang Dicintai

Babu Yang Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Bad Boy
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara

Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.

“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”

Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.

Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Lampu berubah hijau. Reja menginjak gas dengan beringas, membuat ban mobil berdecit keras di aspal. Ia menyalip kendaraan lain dengan ugal-ugalan, seolah ingin menunjukkan pada Celin bahwa dialah penguasa jalanan, dan tidak ada satu orang pun—termasuk Celin atau Papanya—yang bisa menjinakkan keliarannya.

Di kursi penumpang, Celin hanya bisa memegang erat sabuk pengamannya. Ia menyadari bahwa misi yang diberikan Adrian bukanlah sekadar tugas berat, melainkan misi bunuh diri di dalam kandang singa yang sedang mengamuk.

Rumah baru mereka terletak di sebuah kompleks elit yang sangat sunyi. Desainnya modern minimalis, dengan kaca-kaca besar yang memperlihatkan pemandangan taman kecil di belakang.

Sebuah rumah yang seharusnya sangat nyaman bagi pasangan muda, namun bagi Celin, setiap sudut rumah ini terasa seperti mata yang mengawasinya.

Seorang wanita paruh baya, Bi Ratna, menyambut mereka di depan pintu. Ia adalah ART yang diutus Adrian untuk membantu mereka.

"Selamat datang, Den Reja, Non Celin," ucap Bi Ratna dengan ramah.

Reja bahkan tidak membalas sapaan itu. Ia langsung masuk ke dalam, melemparkan jaketnya ke sofa ruang tamu yang mewah, dan menatap berkeliling dengan tatapan sinis.

"Bi, bawain koper-koper ke kamar utama di atas," perintah Reja. Ia kemudian menoleh ke arah Celin yang masih berdiri di ambang pintu dengan koper kecilnya.

Reja berjalan mendekat, membisikkan sesuatu tepat di telinga Celin agar tidak terdengar oleh Bi Ratna.

"Selamat datang di neraka pribadi lo, sayang," bisik Reja dengan nada yang membuat bulu kuduk Celin berdiri.

"Mulai detik ini, lo adalah pelayan gue di sini. Bi Ratna cuma buat urusan rumah, tapi urusan gue... itu semua tugas lo. Jangan pernah berharap bisa tidur tenang di rumah ini."

Bi Ratna segera bergegas membawa koper-koper besar milik Reja ke lantai atas, meninggalkan suasana yang mendadak beku di ruang tamu. Reja kembali berbalik tepat di depan tangga, menatap Celin dengan sorot mata yang penuh akan peringatan.

"Satu hal lagi," ucap Reja, suaranya terdengar tajam dan dingin. "Meskipun kita cuma tinggal berdua di sini, jangan pernah lo pikir kita bakal jadi pasangan suami istri sesungguhnya. Jangan pernah sekalipun lo berani ikut campur urusan gue, nanya gue mau ke mana, atau mencoba masuk ke dunia gue yang lo anggap 'kotor' itu."

Reja menunjuk ke arah lantai atas dengan dagunya. "Di sini kamar ada tiga. Dua kamar utama di atas, dan satu kamar kecil di bawah dekat dapur. Gue bakal pake kamar utama yang paling besar. Dan gue nggak mau liat muka lo ada di area lantai atas kalau bukan gue yang suruh."

Celin menarik napas panjang, mencoba menahan getaran di suaranya. Mengetahui bahwa ia tidak harus berbagi tempat tidur dengan Reja adalah satu-satunya berita baik yang ia dengar sepanjang hari ini. Jarak fisik adalah perlindungan terbaik yang bisa ia dapatkan saat ini.

"Gue di kamar bawah," jawab Celin dengan tegas.

Reja tertawa hambar, seolah jawaban itu sudah ia prediksi. "Bagus. Sadar diri emang cocok buat lo. Kamar pembantu itu emang paling pas buat status lo di rumah ini."

Celin tidak membantah. Ia tahu Bi Ratna hanya bekerja pulang-pergi dan tidak menetap, yang berarti saat malam tiba, ia akan benar-benar sendirian menghadapi Reja.

Memilih kamar di bawah, meski kecil dan pengap, setidaknya memberinya akses lebih cepat ke pintu keluar jika sewaktu-waktu Reja kembali kehilangan kendali.

"Jangan pernah berani masuk ke kamar gue tanpa izin gue," Reja memberikan penekanan pada setiap katanya sebelum melangkah pergi.

Celin memutar matanya dengan malas "Siapa juga yang mau kamar lo." Ucap Celin dengan pelan agar tidak di dengar Reja.

Celin menyeret kopernya menuju kamar kecil di sudut lantai bawah. Kamar itu sangat sederhana, hanya ada tempat tidur tunggal dan satu lemari, sangat kontras dengan kemewahan bagian rumah lainnya.

Namun, saat ia menutup pintu kamar itu dan menguncinya dari dalam, Celin menyandarkan punggungnya di pintu. Ia mematikan lampu, membiarkan dirinya tenggelam dalam kegelapan.

Di lantai atas, ia bisa mendengar suara langkah kaki Reja yang berat dan dentuman musik keras yang mulai diputar pria itu. Perang dingin baru saja dimulai, dan di rumah sunyi ini, Celin harus belajar bertahan hidup di bawah bayang-bayang ancaman yang bisa meledak kapan saja.

Di lantai atas, Reja berdiri di tengah kamar utama yang luas sambil memperhatikan tumpukan barang bermerek dan furnitur tambahan yang baru saja dibeli oleh papanya.

Matanya menatap jijik ke arah set seprai sutra dan perlengkapan tidur yang jelas-jelas disiapkan untuk pasangan pengantin baru. Ia memanggil Bi Ratna dengan suara yang tidak mau dibantah.

"Bi," panggil Reja ketus.

"Iya, Den Reja?" Bi Ratna datang dengan terburu-buru, tangannya masih memegang lap pembersih.

"Semua barang-barang baru yang ada di sini—baju wanita, perlengkapan mandi, sampai koper kecil itu—keluarkan semuanya dari kamar ini. Pindahkan ke kamar bawah, di kamar kecil dekat dapur tempat Celin," perintah Reja sambil menunjuk tumpukan barang dengan kaki sepatunya.

Bi Ratna tertegun sejenak. "Tapi Den, ini kan barang-barang yang disiapkan Bapak untuk..."

"Jangan banyak tanya, Bi," potong Reja cepat, tatapannya menajam. "Satu lagi hal yang paling penting. Jangan pernah sekalipun Bibi melaporkan apa yang terjadi di dalam rumah ini kepada Papa atau Mama. Jangan beritahu kalau kami beda kamar, dan jangan beritahu apa pun soal urusan saya."

Reja merogoh saku celananya, mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu dan meletakkannya di atas meja rias. "Ini untuk Bibi. Selama Bibi bisa tutup mulut dan cuma kerja apa yang saya suruh, uang ini bakal rutin masuk ke kantong Bibi. Tapi kalau saya dengar ada laporan sampai ke telinga Papa... Bibi tahu sendiri konsekuensinya."

Bi Ratna menelan ludah. Sebagai orang kecil yang sangat membutuhkan pekerjaan dan uang untuk kiriman di kampung, ia tidak punya pilihan selain menunduk patuh.

Ia tidak ingin kehilangan pekerjaan di rumah mewah ini hanya karena mencampuri urusan majikannya yang temperamental.

"Baik, Den. Bibi mengerti. Bibi akan pindahkan sekarang," jawab Bi Ratna lirih.

Reja menyerngai puas, lalu mengibaskan tangannya mengusir wanita paruh baya itu keluar.

Sesaat kemudian, Celin yang sedang merapikan kasur tipisnya di kamar bawah terkejut melihat Bi Ratna datang membawa tumpukan barang mewah dan meletakkannya dengan tergesa-gesa di lantai kamarnya yang sempit.

"Non Celin, maaf... ini perintah Den Reja. Katanya semua barang Non harus ditaruh di sini," ucap Bi Ratna dengan nada tidak enak hati.

Celin melihat tumpukan barang itu—gaun-gaun indah, tas, dan perlengkapan mahal pemberian Adrian. Di kamar yang kecil dan pengap itu, barang-barang mewah tersebut tampak sangat tidak pada tempatnya.

Celin menyadari bahwa Reja benar-benar ingin mengisolasinya, membuangnya ke sudut rumah yang paling gelap seolah ia adalah aib yang harus disembunyikan.

"Nggak apa-apa, Bi. Taruh aja di situ," jawab Celin berusaha tetap tegar.

Setelah Bi Ratna pergi, Celin duduk di tepi ranjangnya. Ia bisa mendengar suara langkah kaki Reja di atas kepalanya, mondar-mandir di kamar mewah yang seharusnya menjadi hak mereka berdua.

Di rumah sunyi ini, kerja sama antara Reja yang kejam dan Bi Ratna yang terbungkam uang telah membuat tembok penjara bagi Celin semakin tinggi dan tak tertembus.

Keputusan pindah rumah ternyata menjadi kemenangan besar bagi Reja. Tanpa pengawasan Adrian yang biasanya memantau setiap jam kepulangannya, Reja merasa seperti raja yang baru saja lepas dari pasungan.

Malam pertama di rumah baru, Reja tidak membuang waktu. Setelah memastikan Bi Ratna pulang ke rumahnya, ia langsung menyambar kunci mobil-nya.

Di ruang tengah Celin sedang membaca buku-bukunya sampai akhirnya terganggu dengan keberadaan Reja. "Gue pergi. Jangan kunci pintu depan, atau gue dobrak kamar lo kalau gue harus nunggu di luar," ancam Reja pada Celin sebelum ia mengeber mesin mobilnya hingga suaranya memekakkan telinga di dalam garasi.

Malam itu, Reja benar-benar menggila. Tanpa beban harus masuk kantor hingga minggu depan, ia menghabiskan waktu di sirkuit balap liar pinggiran kota.

Ia bertaruh besar, memacu mobilnya hingga batas maksimal, dan berteriak sepuasnya saat angin malam menerpa wajahnya. Tidak ada lagi teguran Papa, tidak ada lagi tatapan kecewa Mama.

Ia berpesta bersama teman-temannya hingga larut malam. Alkohol mengalir bebas, dan Reja kembali menjadi pusat perhatian—sosok bad boy yang tak tersentuh.

Bagi Reja, rumah baru ini bukanlah tempat untuk membina rumah tangga, melainkan markas rahasia di mana ia bisa menyembunyikan semua kebusukannya.

Bersambung.....

1
Nelson Sihombing
semangat celin
araaself
lanjutttt
Alia Chans: siap kak🔥🔥
total 1 replies
Nelson Sihombing
cerita yang seru lagi nih....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!