Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.
Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.
Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.
Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.
Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.
Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.
Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Raya: Apa Aku Salah?
Sementara Raya tetap menginjak pedal gas. Tatapannya lurus ke depan, sama sekali tidak berniat menoleh ke belakang.
‘Salah paham katanya?’
Raya mendengus pelan. Jemarinya mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih.
‘Salah paham macam apa sampai membuat adik iparnya sendiri hamil?’
Rahangnya mengeras.
‘Menjijikkan.’
Ia mempererat genggaman pada kemudi, lalu kembali memusatkan perhatian pada jalanan di hadapannya.
“Sudahlah...” gumamnya lirih.
Mobil terus melaju melewati jalanan kota yang kini mulai ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang.
Namun ada satu masalah disini. Ia tidak tahu harus pergi ke mana.
.
.
Beberapa saat kemudian, ia mengurangi kecepatan. Mobil perlahan menepi hingga akhirnya berhenti di pinggir jalan yang berada di dekat sebuah taman kecil.
Raya mematikan mesin.
Untuk beberapa detik, ia hanya duduk diam di balik kemudi. Tatapannya kosong mengarah ke depan.
Setelah cukup lama ia diam dengan tatapan kosong. Raya membuka pintu dan turun dari mobil.
Udara pagi langsung menyapu wajahnya. Angin yang berembus ringan sedikit menggerakkan ujung blazer yang dikenakannya.
Brak!
Pintu mobil tertutup setelah Raya menariknya.
Ia mengunci kendaraan, lalu berjalan menuju salah satu bangku yang berada di bawah pepohonan. Langkahnya tidak terburu-buru.
Raya akhirnya duduk.
Ia menyandarkan punggung, lalu mengembuskan napas panjang sambil menatap lurus ke depan.
“Sepertinya di sini lebih baik daripada harus di rumah seharian dan melihat kemesraan mereka,” gumamnya pelan. “Bisa-bisa aku benar-benar gila dan nggak mampu menahan diri.”
Sudut bibirnya bergerak tipis, tetapi senyum itu tidak bertahan lama. Pandangan Raya beralih ke taman bermain yang berada tidak jauh dari tempatnya duduk.
Beberapa anak berseragam sekolah tampak bermain bersama. Ada yang berlari mengejar temannya, ada pula yang tertawa sambil bergantian menaiki wahana permainan.
Raya terdiam.
‘Apa aku salah?’ Jemarinya perlahan meremas ujung blazer. ‘Selama ini aku hanya menundanya.’
Raya menundukkan kepala. Pandangannya jatuh pada kedua tangannya yang saling bertaut di atas pangkuan.
Bibirnya bergetar tipis.
‘Kalau saja waktu itu aku tahu akhirnya akan seperti ini...’
Raya menarik napas panjang, tetapi udara yang masuk terasa berat. Ia mengusap sudut matanya sebelum air mata kembali jatuh.
Tepat saat itu.
Kling.
Suara notifikasi memecah lamunan Raya. Pandangannya beralih kepada tas yang berada di sampingnya.
Ia meraih tas tersebut, kemudian mengambil ponsel dari dalamnya. Layar menyala dan sebuah nama muncul di balon percakapan.
Mas Zevan.
Raya terdiam, memperhatikan balon percakapan yang rasanya enggan ingin ia buka.
{Sayang, Mas minta maaf. Jangan be...}
Setelah membaca setengah teks pesan itu, Raya lalu mematikan ponselnya. Tidak ingin membaca kelanjutannya.
‘Pasti isinya sama seperti sebelumnya. Meminta maaf, memberi alasan, lalu kalau bukan itu apa lagi.’
Raya memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
Kling.
Notifikasi lain terdengar.
Pandangan Raya kembali turun ke ponsel yang masih ia genggam.
Pak Kansa.
Setelah membaca nama pengirim pesan.
Raya membuka pesan tersebut.
{Raya, kamu sedang berada di mana sekarang?}
Jemarinya baru saja hendak mengetik balasan ketika ponselnya bergetar di tangan.
Panggilan masuk.
Nama Pak Kansa kembali tertera jelas di layar.
Raya segera mengangkatnya.
“Pagi, Pak.”
“Pagi, Raya,” jawab Kansa dari seberang. “Kamu di mana sekarang? Apa hari ini masuk kerja untuk menyerahkan surat pengunduran diri?”
Raya terdiam.
Matanya menatap kosong ke arah anak-anak yang masih bermain di taman.
‘Pengunduran diri?’
Raya terdiam sejenak sebelum akhirnya ia menepuk dahinya.
‘Aku hampir melupakan hal itu. Saat dari luar kota, aku pernah bilang kepada Pak Kansa kalau proyek selesai dan sudah disetujui klien, aku akan mengundurkan diri.’
Raya menggigit bibir bawah.
‘Apa sebaiknya aku lanjut bekerja?’
Pandangannya kembali beralih ke jalanan di depannya.
‘Daripada terus berada di rumah dan melihat mereka setiap hari? Untuk apa?’
Raya mengembuskan napas panjang.
‘Lebih baik aku bekerja, dan menghasilkan uang untuk diriku sendiri. Aku nggak mau bergantung pada suami, karena aku belum yakin apa dia mampu mempertahankan nafkah bulananku yang tiga juta perbulan?’
Raya terkekeh geli.
‘Mana mungkin… paling tiga juta di bagi dua sama si Rara.’
“Saya sedang berada di luar, Pak,” jawabnya. “Hari ini saya mau meminta izin cuti sehari. Lalu, soal rencana saya untuk mengundurkan diri... sepertinya saya batalkan, Pak.”
Ia berhenti sejenak.
“Kalau surat pengunduran diri saya belum diproses, apa masih bisa ditarik kembali?”
Dari seberang terdengar helaan napas lega.
“Bisa, Raya,” jawab Kansa. “Dan saya bersyukur. Akhirnya kamu masih mau lanjut bekerja. Akan sulit kalau saya harus mencari asisten baru. Saya sudah cocok bekerja dengan kamu.”
Raya tersenyum tipis. “Terima kasih, Pak.”
Ia kemudian mengubah posisi duduknya.
“Jadi, ada apa, ya, Pak?”
“Saya ingin kamu ikut dengan saya. Apa kamu ada waktu?”
Raya mengangkat alis.
“Ada, Pak. Kebetulan saya ada di luar.”
“Kalau begitu, saya jemput. Kirimkan lokasimu.”
“Pak, saya bawa mobil. Saya jemput Bapak saja.”
“Kirim lokasinya sekarang.”
“Baik, Pak Kansa.”
Sambungan telepon berakhir.
“Dasar pemaksa.”
Raya segera membuka tanda lokasi, lalu mengirimkan titik lokasinya kepada Kansa.
Setelah itu, ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.
Pandangannya kembali lurus ke depan.
“Daripada duduk di sini dan nggak tahu harus ke mana,” gumamnya pelan.
Raya menyandarkan tubuhnya pada bangku.
.
Sementara itu di tempat lain, Zevan berdiri di area gudang perusahaan. Di hadapannya, beberapa karyawan tampak sibuk mengangkat dan menyusun barang ke dalam bak truk yang akan segera dikirim kepada para konsumen.
Biasanya, perhatian Zevan akan tertuju pada proses pengiriman tersebut. Namun, kali ini pikirannya justru terjebak pada benda yang berada di tangannya.
Ponsel.
Layar itu masih menampilkan ruang percakapannya dengan Raya.
Tidak ada balasan.
Zevan menggeser layar beberapa kali, seolah berharap sebuah pesan tiba-tiba muncul.
Tetap tidak ada.
Ia mengembuskan napas pelan.
“Apa kamu masih marah sama Mas, Ray?” gumamnya lirih. “Sampai kamu nggak balas pesan dari, Mas.”
Jarinya sempat mengetik sesuatu, tetapi kembali ia hapus.
Ia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Sejak pagi, Raya bahkan tidak membalas satu pun pesannya.
“Pak.”
Suara seorang karyawan membuat Zevan mengangkat wajah.
Pria itu berdiri beberapa langkah di hadapannya.
“Truk satu sudah siap berangkat ke desa. Truk dua akan mendistribusikan barang ke warung-warung di wilayah sebelah. Sementara truk ketiga akan membantu mendistribusikan ke minimarket.”
Zevan memasukkan ponselnya ke saku celana.
“Jalan,” perintahnya singkat.
“Baik, Pak.”
Karyawan itu segera berbalik dan memberikan aba-aba kepada para pekerja.
Beberapa saat kemudian, mesin truk mulai menyala. Suaranya menggelegar memenuhi area gudang sebelum satu per satu kendaraan bergerak meninggalkan tempat tersebut.
Zevan berdiri di sana, memperhatikan truk-truk itu hingga perlahan menjauh.
Zevan mengembuskan napas panjang.
Ia memasukan ponselnya ke dalam saku celananya. Perhatiannya kembali tertuju pada tugasnya untuk mengawasi keamanan dan pengiriman.