Tanda tangani ini. Ingat, kita menikah hanya di atas kertas. Jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu!"
Demi melunasi biaya pengobatan ibunya yang kritis, Naura Ayu terpaksa menjual kebebasannya. Dia setuju menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Mahendra, seorang CEO tampan yang terkenal dingin, kejam, dan tidak tersentuh wanita.
Bagi Adrian, Naura hanyalah 'istri pajangan' demi memuaskan tuntutan sang kakek agar posisinya sebagai pewaris tahta perusahaan aman.Awalnya, semua berjalan sesuai kesepakatan. Mereka hidup dalam dinding pembatas yang dingin. Namun, pesona Naura yang mandiri, tegar, dan tidak silau akan hartanya perlahan mulai mengusik pertahanan hati Adrian.
Saat kontrak hampir berakhir dan Naura bersiap untuk pergi, Adrian justru mengunci pintu rapat-rapat. Tatapan dingin pria itu berubah menjadi kilat obsesi yang membara."Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kontrak bisa berakhir, tapi kamu... selamanya milikku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nyonya Mahendra yang baru
Dua hari setelah malam perjanjian di rumah sakit, cuaca kota Jakarta tampak mendung, seolah turut menggambarkan suasana hati Naura Ayu. Hari ini, dengan setelan blus putih sederhana dan rok plisket hitam yang merupakan pakaian terbaik yang dia miliki, Naura resmi menyandang status baru.
Nyonya Mahendra.
Sebuah gelar yang diimpikan oleh ribuan wanita sosialita di luar sana, kini jatuh ke tangan seorang gadis yang miskin. Namun bagi Naura, gelar itu tidak lebih dari sebuah rantai emas yang mengikat kebebasannya selama satu tahun ke depan.
Proses pendaftaran pernikahan mereka dilakukan secara sangat tertutup di sebuah ruangan privat di kantor catatan sipil, jauh dari sorotan kamera wartawan. Tidak ada gaun pengantin mewah, tidak ada dekorasi bunga, dan tidak ada senyum bahagia. Hanya ada dua orang asing yang menandatangani berkas, disaksikan oleh seorang petugas dan asisten pribadi Adrian yang bernama Dimas.
"Selamat, Tuan dan Nyonya Mahendra. Mulai hari ini kalian sah menjadi suami istri di mata hukum," ucap petugas dengan senyum ramah yang terasa canggung karena menyadari atmosfer dingin di antara kedua mempelai.
Adrian hanya mengangguk samar tanpa ekspresi. Dia berdiri dari kursinya, merapikan kancing jas abu-abu mahalnya, lalu menatap Naura dengan pandangan datar. "Dimas akan membantumu membawa barang-barangmu ke mansion. Mulai hari ini, kamu tinggal di sana."
Tanpa menunggu jawaban Naura, pria itu melangkah pergi begitu saja dengan langkah lebar, meninggalkan aroma mint yang tertinggal di udara. Naura hanya bisa menghela napas panjang. Dia sudah tahu pernikahan ini akan sedingin es, jadi dia tidak boleh terkejut ataupun sakit hati.
Sore harinya, sebuah mobil sedan mewah hitam berhenti di depan sebuah gerbang besi yang menjulang tinggi di kawasan perumahan elit Menteng. Ketika gerbang terbuka, pemandangan sebuah mansion megah bergaya Eropa klasik langsung menyapa mata Naura. Halaman rumputnya yang luas tertata sangat rapi dengan sebuah air mancur besar di bagian tengah.
Mobil berhenti tepat di depan lobi utama. Dimas turun dan membukakan pintu untuk Naura.
"Silakan, Nyonya. Mari saya antar ke dalam," ucap Dimas dengan nada sangat formal.
Naura turun sambil mendekap sebuah tas ransel usang dan satu koper kecil berisi pakaian-pakaian lamanya. Hanya itu harta benda yang dia bawa dari rumah kontrakannya yang sempit. Kontrakan itu sudah dia lepaskan, karena seluruh biaya hidupnya kini sudah ditanggung oleh kontrak kerja sama ini. Setidaknya, satu beban di pundaknya terangkat. ibunya kini sudah dipindahkan ke ruang perawatan VIP dan operasinya kemarin berjalan dengan sangat sukses.
Begitu melangkah masuk ke dalam mansion, kemewahan yang sesungguhnya baru terasa. Langit-langit rumah itu sangat tinggi dengan lampu kristal besar yang menggantung di tengah-tengah. Lantainya dilapisi marmer mengkilap Tanpa noda. Beberapa pelayan berseragam rapi langsung berdiri berjejer dan membungkuk hormat ke arahnya.
"Selamat datang, Nyonya," ucap mereka serempak.
Naura merasa sangat canggung. Dia membalasnya dengan senyuman tipis dan anggukan kepala yang ragu-ragu. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian rapi melangkah maju. Dia adalah Bik Sumi, kepala pelayan di mansion tersebut.
"Nyonya, mari saya antar ke kamar Anda. Tuan Muda Adrian berpesan agar barang-barang Anda langsung diletakkan di sana," ujar Bik Sumi ramah.
Naura mengikuti Bik Sumi menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Sepanjang jalan, Naura tidak bisa berhenti mengagumi kemewahan rumah ini, sekaligus merasa asing. Karena Ini bukan dunianya.
Bik Sumi membuka sebuah pintu yang besar di ujung lorong. "Ini kamar Anda, Nyonya."
Saat melangkah masuk, Naura tertegun. Kamar itu sangat luas, bahkan mungkin lebih luas daripada seluruh area rumah kontrakan lamanya. Di tengah ruangan, terdapat sebuah ranjang berukuran king size dengan sprei sutra berwarna abu-abu gelap. Jendela besar dari lantai hingga langit-langit menyajikan pemandangan kolam renang di halaman belakang.
Namun, perhatian Naura langsung teralih pada sebuah pintu penghubung di sudut ruangan.
"Itu pintu menuju kamar Tuan Muda Adrian, Nyonya," jelas Bik Sumi seolah bisa membaca pikiran Naura. "Tuan Muda meminta agar kalian menempati kamar yang bersebelahan. Jika Nyonya memerlukan sesuatu, saya ada di lantai bawah."
Setelah Bik Sumi pamit keluar, Naura meletakkan kopernya di sudut kamar. Dia duduk di tepi ranjang yang sangat empuk, merenungi nasibnya. Di sinilah dia akan menghabiskan waktu selama 365 hari ke depan. Menjadi istri rahasia dari seorang CEO berdarah dingin.
Malam harinya, sekitar pukul sembilan malam, pintu penghubung itu mendadak terbuka tanpa ketukan.
Naura yang sedang duduk di sofa sambil membaca buku novelnya langsung tersentak kaget. Dia menoleh dan melihat Adrian melangkah masuk. Pria itu sudah menanggalkan jasnya, hanya mengenakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka dan lengan yang digulung hingga siku. Wajahnya tampak lelah, namun aura intimidasinya tidak berkurang sedikit pun.
Secara refleks Naura langsung berdiri dari duduknya. "Tuan Adrian..."
Adrian berjalan mendekat, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan hitamnya. Matanya menatap tajam ke arah Naura, lalu beralih pada tas dan koper usang milik Naura yang masih tergeletak di sudut ruangan.
"Besok Dimas akan membawakan beberapa desainer dan penata busana ke sini. Buang semua pakaian usangmu itu. Mulai besok, kamu harus berpakaian layak sebagai istri seorang Adrian Mahendra," ucap Adrian dengan nada memerintah tanpa bantahan.
Naura mengernyitkan dahinya. Rasa tidak nyaman mulai menggelitik hatinya. "Pakaian saya masih sangat layak pakai, Tuan. Lagipula, kita kan hanya menikah kontrak. Di dalam rumah ini, tidak akan ada orang luar yang melihat saya."
Adrian melangkah maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka. Sifat dominannya langsung terasa menekan. "Kamu lupa aturan kita? Di depan publik dan di depan keluargaku, kamu adalah istriku. Minggu depan, kakekku akan mengadakan perjamuan makan malam keluarga untuk menyambutmu. Aku tidak mau kakekku curiga hanya karena melihatmu mengenakan pakaian murahan seperti itu."
Naura menggigit bibir bawahnya, menahan rasa kesal. Pria ini selalu saja menekankan kata "murahan" dan status sosial mereka yang berbeda jauh.
"Baiklah. Saya akan menuruti semua perintah Anda yang berhubungan dengan publik. Tapi saya harap, Anda juga menghormati privasi saya di kamar ini," balas Naura, mencoba menegakkan harga dirinya.
Adrian menyipitkan matanya. Dia menatap bibir Naura yang ranum yang malam ini tampak sedikit pucat. Entah mengapa, keberanian gadis ini selalu berhasil memancing emosi aneh di dalam dadanya. Pria itu memajukan wajahnya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Naura bisa merasakan embusan napas hangat Adrian yang beraroma mint di wajahnya.
"Privasi?" Adrian mendengus sinis. "Ingat Naura, seluruh mansion ini adalah milikku. Termasuk kamar tempatmu berdiri sekarang. Aku bisa masuk kapan saja aku mau. Jadi, jangan pernah mengaturku di rumahku sendiri."
Sebelum Naura sempat membalas, Adrian berbalik dan berjalan menuju pintu penghubung kamarnya. Namun, tepat sebelum dia menutup pintu, dia menoleh sedikit.
"Satu hal lagi. Jangan pernah mengunci pintu penghubung ini dari sisimu. Jika aku tahu kamu menguncinya, aku tidak akan segan-segan merobek kontrak kerja sama kita malam itu juga," ancam Adrian dingin.
Brak.
Pintu ditutup dengan cukup keras, meninggalkan Naura yang berdiri terpaku dengan dada yang naik turun menahan amarah. Gadis itu mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Dasar CEO sombong dan egois!" umpat Naura lirih dalam hati.
Dia menatap pintu penghubung itu dengan tatapan tajam. Malam pertama di mansion mewah ini sudah memberikan sinyal jelas bahwa satu tahun ke depan tidak akan berjalan dengan mudah. Namun Naura berjanji pada dirinya sendiri, sekeras apa pun Adrian mencoba menginjak harga dirinya, dia tidak akan pernah menyerah, dan yang paling penting. dia tidak akan pernah jatuh cinta pada pria kejam itu.
Di balik dinding kamar sebelah, Adrian berdiri menyandarkan punggungnya di pintu. Pria itu memegang dadanya yang entah mengapa berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya setelah menatap mata jernih Naura tadi. Dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mengusir pikiran aneh yang mulai mengganggu fikiran nya.