NovelToon NovelToon
Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Maya menyapu air mata yang masih membasahi pipinya dengan ujung lengan seragam kusamnya. Setiap helaan napas terasa berat dan sesak, meninggalkan rasa nyeri yang menjalar dari dadanya hingga ke tenggorokan. Setelah beberapa menit tertahan dalam kesunyian gudang yang berdebu, ia akhirnya memberanikan diri untuk berdiri. Dinding kayu tua dan tumpukan meja bekas yang menjadi saksi bisu rasa takutnya kini ia tinggalkan perlahan.

Dengan jemari yang masih bergetar hebat, Maya membenarkan kacamata berbingkai retaknya yang sempat miring. Ia mendorong pintu gudang yang berdecit pelan, lalu melangkah keluar menembus koridor sekolah. Langkah kakinya tertatih-tatih, seolah seluruh tenaga dan keberaniannya telah dikuras habis di dalam ruangan gelap tadi. Wajahnya yang sembab, mata yang memerah akibat tangis yang ditahan, serta noda debu tipis yang menempel di seragamnya menjadi tanda yang terlalu jelas bagi siapa pun yang melintas.

Koridor lantai dua yang biasanya riuh kini terasa begitu mengintimidasi. Maya berjalan sambil menundukkan kepala sejajar dengan lantai, berusaha sekuat tenaga menghindari kontak mata dengan siapa pun. Namun, bayangan tubuhnya yang lesu tak bisa menyembunyikan kenyataan dari pandangan murid-murid lain.

Saat Maya akhirnya menggeser pintu kelasnya dan melangkah masuk, suasana riuh percakapan antar siswa seketika meredup untuk beberapa detik. Pandangan belasan pasang mata tertuju padanya. Melihat penampilan Maya yang berantakan dan raut wajahnya yang hancur, teman-teman sekelasnya sama sekali tidak terkejut. Mereka sudah hafal betul pola ini. Pemandangan seperti ini bukanlah hal baru setiap kali Maya menghilang sejenak lalu kembali dengan keadaan mengenaskan, semua orang di ruangan itu tahu persis siapa yang baru saja memangsa gadis mungil itu.

Rasa kasihan dan iba menyelimuti udara di dalam kelas. Beberapa siswa perempuan menatap Maya dengan binar mata prihatin yang mendalam. Seorang teman sekelas yang duduk di barisan tengah bahkan sempat menahan napas, menatap jemari Maya yang gemetar saat memegang tali ranselnya. Ada dorongan di dalam hati mereka untuk bangkit dari kursi, menghampiri Maya, menyodorkan tisu, atau sekadar menanyakan keterlibatannya. Ada rasa amarah yang terpendam melihat bagaimana seorang murid yang begitu rajin dan tak pernah mengusik siapa pun harus terus-menerus dijadikan samsak kemarahan.

Namun, empati itu berhenti di sana hanya sebatas tatapan iba yang tertahan di balik keheningan. Tak ada satu pun dari mereka yang berani melangkah maju. Tak ada satu pun tangan yang terulur untuk merangkul bahu Maya yang tergetar.

Ketakutan akan sosok Lexa dan gengnya terlalu besar untuk dilawan. Di sekolah ini, kekuasaan keluarga Lexa dan intimidasi dari Hani, Aurel, serta Lana telah menancapkan doktrin tak tertulis yang sangat jelas,barang siapa yang berani membela korban perundungan Lexa, maka orang itu akan menjadi target berikutnya. Membantu Maya sama saja dengan menyerahkan diri ke dalam neraka yang sama. Mereka terlalu takut untuk mengorbankan kenyamanan, reputasi, atau bahkan keselamatan mereka sendiri demi seorang gadis miskin yang tak punya kuasa.

Akhirnya, satu per satu dari mereka berpaling. Mereka memilih pura-pura sibuk kembali dengan buku pelajaran, memainkan ponsel, atau melanjutkan obrolan yang sempat terputus, menyembunyikan rasa bersalah mereka di balik sikap ketidakpedulian yang dipaksakan.

Maya meresapi keheningan yang menyakitkan itu. Ia tahu persis apa yang dipikirkan teman-temannya, dan ia sama sekali tidak menyalahkan mereka. Maya sadar, tidak ada orang yang cukup gila untuk mempertaruhkan nasibnya demi membela seseorang seperti dirinya.

Dengan langkah yang terasa amat berat, Maya menyusuri lorong di antara deretan meja hingga tiba di bangkunya yang berada di barisan paling depan. Ia menarik kursi kayu pelan-pelan, lalu mendaratkan tubuhnya yang terasa amat lelah. Maya meletakkan tas ranselnya di lantai, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lipatan tangannya di atas meja. Di sana, dalam kegelapan yang diciptakan oleh lengannya sendiri, ia membiarkan hisakan kecil yang sangat pelan lolos dari bibirnya.

Di barisan belakang kelas, tempat kekuasaan itu bersemayam, Lexa duduk santai di kursinya. Gadis itu sedang meneliti setiap lembar jawaban di dalam buku catatan bernuansa merah miliknya yang tadi dirampas dari Maya. Di sekelilingnya, Hani, Aurel, dan Lana terkekeh pelan sambil membisikkan lelucon-lelucon culas.

Lexa melirik sekilas ke arah meja depan, menatap punggung Maya yang terguncang pelan oleh isak tangis yang tertahan. Senyum tipis yang dingin mengembang di bibirnya sebuah senyum kepuasan karena merasa berhasil mempertahankan dominasinya di kelas ini. Bagi Lexa, kepintaran Maya yang dipuji Pak Danu kemarin sama sekali tak berarti jika pada akhirnya gadis itu tetap tunduk dan gemetar di bawah telapak kakinya.

Namun, di balik kepuasan dan rasa bangga yang menyelimuti dada Lexa, takdir yang tak kasatmata sedang bergerak diam-diam di antara mereka berdua. Benih-benih penderitaan, keputusasaan, dan kejamnya rasa tidak adil yang Maya tanggung pagi ini sedang menumpuk hingga batas maksimalnya. Tanpa ada satu orang pun di dalam kelas itu yang menyadari, alam semesta sedang bersiap memutar balik poros kehidupan mereka memaksa sang ratu sekolah untuk merasakan langsung setiap tetes air mata dan debu kotor yang selama ini ia timpakan pada korbannya.

1
Hadi Mulyono
seru ceritanya
Hadi Mulyono
jaman sekarang jangankan anak orang kaya .anak orang biasa ga pny aja bnyk yg kelakuan gayanya kaya orang kaya .kasihan maknya jg
Hadi Mulyono
kapan nih pindah jiwa maya
Hadi Mulyono
di awal cerita SDH menarik semoga bab nya ga terlalu panjang yg penting pny kualitas isi yg bagus
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!