Ditolak di depan teman-temannya sendiri, harga diri Jaka hancur berkeping-keping. Satu penolakan yang seharusnya cuma luka kecil, kini menjelma dendam yang membutakan.
Demi mendapatkan Dea—perempuan yang menolaknya—Jaka rela menempuh jalan yang tak seharusnya dilalui siapa pun: mencuri, berbohong, dan akhirnya menyerahkan dirinya pada ilmu hitam seorang dukun tua di ujung hutan bambu.
Namun, cinta yang direbut paksa selalu punya harga. Dan harga itu tak pernah berhenti di satu nyawa saja.
PELET LAKNAT 2 — ketika obsesi menemukan jalannya lewat kegelapan, siapa yang benar-benar akan selamat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BISIKAN YANG MERASUK
# PELET LAKNAT 2
## Bab 17: Bisikan yang Merasuk
Deru mesin motor memecah heningnya subuh yang dingin. Sepanjang jalan pulang menuju kampung, Kiki tak banyak bicara. Sesekali ia melirik kaca spion, merasa aneh karena bahu Jaka menempel kaku tanpa bergerak sedikit pun—seperti sedang membonceng patung yang bisa bernapas.
Sesampainya di rumah Kiki, motor yang mereka kendarai perlahan masuk ke halaman. Suara ban menggilas kerikil kecil di tanah terdengar jelas di tengah sunyinya subuh.
"Akhirnya sampai juga! Jak, masuk dulu?" seru Kiki seraya turun dari atas motor, sedangkan Jaka masih diam duduk di atas jok.
"Tidak usah, Ki! Aku mau langsung pulang saja, mau istirahat... aku capek," sahut Jaka dingin seraya mengambil alih posisi kemudi.
Tanpa menunggu jawaban dari Kiki, Jaka langsung memutar gas dan memacu motornya pergi memecah remang subuh, meninggalkan Kiki yang masih berdiri diam di halaman rumahnya.
Tak butuh waktu lama, Jaka akhirnya tiba di rumahnya. Jarak antara rumah Jaka dan Kiki memang terbilang dekat, hanya sekitar tiga kilometer saja. Kebetulan sang ibu belum berangkat ke pasar, sehingga Jaka berpapasan langsung di depan pintu.
"Astagfirullah, Nak! Kamu dari mana saja jam segini baru pulang?!" tanya sang ibu dengan nada sedikit tinggi penuh keprihatinan.
Jaka tak langsung menjawab. Ia sengaja memarkirkan motornya terlebih dahulu, seolah enggan menatap sang ibu.
"Sudah, Bu... nanya-nanyanya nanti saja. Jaka capek mau tidur, ngantuk," sahut Jaka dingin seraya melangkah masuk melewati ibunya begitu saja, sama sekali tak menghiraukan teguran itu.
Melihat tingkah laku anak tunggalnya yang tak biasa, Ibu Lasmi hanya bisa mengelus dada seraya beristigfar lirih.
"Astagfirullahaladzim... kenapa dengan anak itu?" ujar Ibu Lasmi seraya menatap punggung anaknya yang tak bergerak.
Tanpa bertanya lebih lanjut, Ibu Lasmi kembali membetulkan gendongan tenggok sayurnya, lalu bergegas melangkah menuju pasar.
Jaka langsung menghempaskan tubuhnya dan rebahan di atas kasur kusamnya. Di dalam kamar yang remang, ia memutar otak keras-keras, mencari cara untuk kembali mendapatkan uang demi membeli seekor ayam cemani dan kembali ke gubuk Simbah Usman sebelum batas waktu satu minggu habis.
"Aku harus cari uang ke mana lagi?! Sedangkan sampai saat ini, tidak ada seorang pun yang butuh tenagaku untuk bekerja," gerutu Jaka frustrasi seraya menatap langit-langit kamarnya yang berdebu.
"Kalau aku ambil uang Ibu lagi, yang ada makin ketahuan kalau aku yang selama ini mencuri cincin emasnya, hah!" ujar Jaka makin kesal. "Tapi kalau aku tidak kembali ke sana sambil membawa ayam cemani, semua pengorbananku akan sia-sia begitu saja!"
Karena tidak kunjung dapat ide, Jaka akhirnya memutuskan untuk tidur. Ia berharap setelah bangun nanti ada keajaiban atau ide segar yang terlintas untuk mendapatkan uang. Matanya yang lelah perlahan menutup, membiarkan tubuhnya yang lemas tenggelam ke dalam kasur.
Waktu terus bergulir. Dinginnya subuh berganti terik siang, lalu hangatnya sore, sampai akhirnya kembali merayap ke dinginnya malam. Suara azan Magrib dari musala kampung samar-samar terdengar menembus jendela kamar Jaka yang tertutup.
Kala itu, Jaka sudah terbangun dari tidurnya. Sekarang ia tengah duduk bersila menghadap dinding kamarnya seraya mengamalkan mantra yang tertulis pada secarik kertas pemberian Mbah Usman. Jaka terlihat sangat sungguh-sungguh menjalankan perintah itu, hingga panggilan dari sang ibu yang memanggilnya untuk makan pun ia abaikan begitu saja.
Jauh berkilo-kilometer dari rumah Jaka—tepatnya di kediaman Dea—efek pelet yang dijalani Jaka mulai bekerja. Malam itu, rumah Dea sudah sepi; hanya suara jangkrik dari halaman belakang yang terdengar sayup masuk lewat celah jendela. Dea tampak diliputi kegelisahan yang teramat sangat. Segala hal yang ia lakukan terasa serbasalah, sementara pikirannya terus melayang dan hanya dipenuhi oleh bayangan Jaka. Bahkan, guling yang berada di sampingnya pun mendadak tampak seperti sosok Jaka di matanya.
"Aduh, kenapa dengan diriku ini? Kenapa aku jadi terus-terusan memikirkan Jaka? Sebenarnya apa yang terjadi denganku?" bisik Dea gelisah pada dirinya sendiri.
Di saat itulah, pergolakan batin dan bisikan gaib mulai melilit dan meracuni pikirannya.
"Jangan dekat-dekat dengan Jaka! Dia hanya akan menjerumuskanmu ke dalam kegelapan!" bisik hati nuraninya, mencoba memperingatkan.
"Pergi dan temui dia! Katakan bahwa kamu mencintainya! Kamu akan diistimewakan oleh Jaka, dia akan menjadikanmu ratu dalam hidupnya, dan teman-temanmu pasti akan iri padamu..." goda suara gelap yang kian bergema kuat memburu jiwanya.
Hal itu membuat Dea semakin kalut dan diliputi kegelisahan luar biasa. Ia bergegas menutup kedua telinganya rapat-rapat, mencoba mengusir bisikan-bisikan gaib yang membuat kepalanya kian pening dan terasa ingin pecah. Dengan sisa kesadarannya, Dea mencengkeram kepalanya erat-erat, berjuang melawan sekuat tenaga agar tidak terseret makin jauh ke dalam jerat kegelapan. Peluh dingin membasahi lehernya, sementara napasnya memburu tak beraturan di tengah kamar yang tiba-tiba terasa pengap.
Sementara itu, Jaka terus-menerus melafalkan mantra pelet tersebut hingga larut malam. Ternyata, pada secarik kertas itu tertulis instruksi khusus: amalkan mantra ini mulai pukul tujuh malam atau selepas Magrib hingga pukul sepuluh malam. Pada rentang waktu Magrib, gerbang gaib mulai terbuka lebar, dan menjelang pukul sepuluh malam, makhluk-makhluk halus mulai bergentayangan menembus alam manusia.