Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Pintu Penthouse dan Bayangan Musuh
Pernikahan itu berlalu seperti mimpi buruk yang berjalan sangat cepat. Tanpa gaun putih mekar, tanpa pesta, dan tanpa ucapan selamat dari keluarga. Hanya ada pengucapan janji di hadapan petugas catatan sipil dan penandatanganan berkas resmi yang disaksikan Pak Hendra.
Dalam hitungan jam, status Dania Kirana resmi berubah menjadi istri dari Arvin Dirgantara.
Malam harinya, sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di depan gedung apartemen pencakar langit di kawasan paling elit Jakarta Selatan. Sopir pribadi Arvin membukakan pintu untuk Dania, membantunya membawakan satu koper sedang yang berisi seluruh pakaian dan barang-barang penting miliknya.
Dania melangkah masuk ke dalam penthouse di lantai 45 itu. Matanya berbinar sebentar mengagumi interior ruangan—sebagai seorang desainer, ia harus mengakui gaya minimalis modern bertema monokrom di tempat ini sangat berkelas. Namun, suasana di dalamnya terasa sangat dingin dan hampa. Sama seperti pemiliknya.
"Koper bawa ke kamar sebelah kanan," suara berat Arvin menginterupsi. Pria itu baru saja keluar dari ruang kerja dengan kemeja putih yang gulungan lengannya disingsingkan hingga siku.
Dania menoleh. "Terima kasih. Saya akan segera membereskan barang-barang saya."
"Ingat poin perjanjian kita," ujar Arvin seraya berjalan ke dapur bersih, mengambil segelas air dingin. "Kamar utama di sebelah kiri adalah area pribadi saya. Kamu dilarang masuk ke sana tanpa izin. Area kerja dan dokumen di meja tengah juga pantang kamu sentuh."
Dania menghembuskan napas pelan. "Tuan Arvin, Anda tidak perlu mengulanginya sepuluh kali. Saya bukan pencuri dan saya tahu batasan."
Arvin menatap Dania tajam di balik gelasnya. Sikap wanita ini yang tidak pernah merengek atau menunjukkan rasa takut sedikit pun mulai membuat Arvin merasa aneh. Wanita mana pun yang mendapatkan akses tinggal di penthouse triliunan rupiah biasanya akan tampak kagum atau mencoba menarik perhatiannya. Tapi Dania justru bersikap seolah tinggal di tempat ini adalah sebuah beban.
Tiba-tiba, ponsel Arvin di atas meja makan berdering nyaring.
Layar ponsel itu menampilkan sebuah nama yang membuat rahang Arvin seketika mengeras: Dion.
Arvin menggeser layar dan menempelkan ponsel ke telinganya. "Ada apa?"
"Wah, santai sedikit, Sepupuku yang terhormat," suara sinis Dion terdengar dari seberang telepon. "Aku cuma mau mengucapkan selamat. Notaris Hendra baru saja mengabarkan kalau kamu sudah resmi menikah hari ini. Cepat sekali bergerak, Arvin?"
"Bukan urusanmu," jawab Arvin dingin.
"Tentu saja jadi urusanku. Saham Kakek itu harusnya jatuh ke tanganku kalau kamu meleset sehari saja," Dion tertawa pelan, suara tawanya terdengar penuh intrik. "Tapi jangan senang dulu, Arvin. Aku tahu siapa wanita yang kamu nikahi itu. Dania Kirana, kan? Gadis jelata yang tiba-tiba muncul di surat wasiat Kakek?"
Arvin menyipitkan mata, lirikannya menyambar Dania yang sedang berdiri di dekat koridor kamar. "Jaga mulutmu, Dion."
"Hati-hati, Arvin. Kamu pikir kamu yang paling pintar di Dirgantara Group? Kita lihat saja berapa lama pernikahan 'kontrak' rahasiamu itu bisa bertahan sebelum aku membongkar semuanya ke dewan komisaris. Nikmati masa manismu... selama masih bisa."
Bip. Sambungan telepon diputus sepihak oleh Dion.
Arvin menggenggam ponselnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dion jelas sudah mulai memata-matai gerak-geriknya. Musuh dalam selimut itu tidak akan tinggal diam melihat posisi CEO lepas dari genggamannya.
Dania yang menangkap raut ketegangan di wajah Arvin melangkah mendekat selangkah. "Ada masalah?"
Arvin menoleh cepat, tatapannya kembali dipenuhi kecurigaan yang membara. Ia melangkah mendekati Dania, memangkas jarak hingga Dania harus mendongak untuk menatap matanya.
"Dion tahu namamu," desis Arvin tajam. "Bagaimana bisa Dion tahu siapa kamu padahal pernikahan ini baru diresmikan tadi pagi?"
Dania terkejut, namun ia tidak mundur. "Mana saya tahu? Saya bahkan baru mendengar nama sepupu Anda itu kemarin di kantor notaris!"
"Jangan main-main denganku, Dania," ancam Arvin dengan suara rendah penuh intimidasi. "Kalau sampai aku tahu kamu bekerja sama dengan Dion untuk menjatuhkanku dari dalam, aku pastikan hidupmu dan adikmu tidak akan pernah tenang di kota ini."
Dania merasakan dadanya bergemuruh menahan amarah yang meledak. Ia menatap lurus ke dalam mata Arvin tanpa rasa takut sedikit pun.
"Dengar baik-baik, Tuan Arvin yang terhormat," ucap Dania dengan penekanan di setiap kata. "Saya menerima pernikahan gila ini murni demi menyelamatkan nyawa adik saya yang sedang kritis di rumah sakit! Saya tidak kenal sepupu Anda, saya tidak butuh saham perusahaan Anda, dan saya paling benci dituduh sebagai pengkhianat!"
Dania membalikkan badan, menyambar gagang kopernya, lalu melangkah lebar menuju kamar sebelah kanan. Sebelum masuk, ia menoleh kembali ke arah Arvin.
"Jika Anda ingin melawan sepupu Anda, pakailah otak dan fakta, bukan melemparkan tuduhan bohong pada orang yang sudah menyelamatkan posisi CEO Anda!"
BAM!
Suara pintu kamar yang dibanting keras itu bergema di seluruh sudut penthouse yang luas.
Arvin masih berdiri mematung di tengah ruangan. Rahangnya menegang, matanya menatap tajam daun pintu kayu jati yang kini tertutup rapat. Selama dua puluh delapan tahun hidupnya—baik sebagai pewaris tunggal maupun sebagai pimpinan tertinggi Dirgantara Group—tidak ada satu orang pun yang berani membentak atau mengusirnya seperti yang baru saja dilakukan Dania.
"Wanita nekat," desis Arvin pelan.
Ia mengusap tengkuknya yang terasa tegang, berusaha menetralkan rasa terkejut yang aneh di dalam dadanya. Kata-kata Dania tadi masih terngiang jelas: pakai otak dan fakta, bukan melemparkan tuduhan bohong. Ada kejujuran yang membakar di mata wanita itu—sebuah tatapan yang sangat sulit dipalsukan bahkan oleh aktris terbaik sekalipun.
Arvin mengambil ponselnya kembali, lalu mendial nomor sekretaris pribadinya.
"Rian," sapa Arvin dingin begitu sambungan terhubung.
"Ya, Pak Arvin? Ada petunjuk baru?"
"Perketat pengawasan di sekitar rumah sakit tempat adik Dania dirawat. Pastikan tidak ada orang-orang Dion yang mendekati area itu," perintah Arvin tegas. "Dan satu lagi... selidiki bagaimana Dion bisa tahu nama Dania secepat ini. Aku mau laporannya besok pagi."
"Baik, Pak. Segera dilaksanakan."
Sementara itu, di balik pintu kamar yang terkunci, Dania menyandarkan punggungnya pada daun pintu. Dadanya naik-turun menahan napas yang memburu, sementara kedua tangannya gemetaran hebat.
Ia memejamkan mata erat-erat. Keberanian yang ia tunjukkan di depan Arvin tadi nyaris menguras seluruh tenaganya. Tinggal di bawah satu atap dengan pria dingin yang penuh rasa curiga seperti Arvin ternyata jauh lebih memeras mental daripada yang ia bayangkan.
Dania melangkah pelan menuju tepi tempat tidur berukuran king size yang empuk. Ia merogoh saku celananya, mengambil ponselnya yang bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor pihak rumah sakit.
Pesan: Pembayaran uang muka operasi jantung atas nama pasien Rehan Kirana telah diterima penuh dari dana perwalian. Jadwal operasi utama ditetapkan hari Jumat ini.
Membaca pesan itu, setetes air mata akhirnya lolos membasahi pipi Dania. Rasa sesak di dadanya perlahan terangkat. Ia mengusap air matanya cepat-cepat, lalu mengulas senyum tipis seraya menatap layar ponselnya.
"Semuanya bakal baik-baik saja, Rehan," bisik Dania pada dirinya sendiri. "Mbak bakal bertahan di sini, demi kamu."
Dania berjalan menuju jendela kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit. Dari lantai 45 ini, pemandangan gemerlap lampu kota Jakarta di tengah malam terlihat begitu megah sekaligus asing.
Tempat ini mungkin terasa seperti sangkar emas yang dingin dan penuh ancaman dari Arvin maupun Dion. Namun, Dania berjanji pada dirinya sendiri: ia tidak akan biarkan siapa pun merobohkan pertahanannya selama satu tahun ke depan.