NovelToon NovelToon
Gadis Barbar Kesayangan Ketos Dingin

Gadis Barbar Kesayangan Ketos Dingin

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Ketos / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Desty Haris Wahyuni

kalau adaa yang salah atau enggk nyambung ceritanyaa maapp yaaaahhh soalnya baru pertama bikin cerita kayak ginii (⁠◠⁠‿⁠◕⁠)


Siapa sangka gadis yang berisik, ceroboh, dan selalu bikin keributan itu justru jadi satu-satunya yang bisa meluluhkan hati ketua osis paling dingin, cuek, dan ditakuti seantero sekolah?


Dari yang saling tak suka, jadi tak bisa terpisahkan. Ini kisah gadis barbar yang mencuri hati ketos dingin yang tak pernah tersenyum pada siapa pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANGAN BARU.

Semua terasa tenang. Dimas sudah melapor ke pihak berwajib, menjalani prosesnya dengan jujur. Kirana mulai tertawa lagi — tawa yang ringan, tanpa beban. Teman-teman rame di kantin tiap hari, keluarga sering berkumpul, dan Arka… Arka berubah jadi milik gue seutuhnya. Dinginnya dulu nggak hilang, tapi sekarang cuma muncul ke orang lain. terkecuali Ke gue dan teman-teman yang lain. Dia manis, perhatian, kadang malu-malu tapi selalu jujur.

Pagi itu, gue jalan ke gerbang sekolah sambil nyanyi pelan, tas disampirkan sembarang di bahu, rambut sedikit berantakan kena angin — gaya biasa gue. Tiba-tiba suara klakson nyaring bunyi tepat di samping gue.

"Minggir sana, jalan pelan banget!"

Gue menoleh. Motor hitam mengkilap berhenti tepat di depan gue. Pengendaranya turun — tinggi, berpakaian rapi, rambut ditata rapi, senyum yang kelihatan sopan tapi matanya meremehkan. Namanya Kevin. Murid pindahan baru, anak orang kaya yang katanya pindah karena masalah di sekolah lamanya.

"Lo bisa bicara sopan nggak?" tanya gue, berdiri tegak nggak mundur. "Ini jalan umum, bukan jalan pribadi lo."

Kevin tertawa pendek. "Sopan sama orang yang enggak pantas dapat sopan dari gue. Lo siapa sampai berani jawab gue begitu?"

Sebelum gue balas, ada tangan yang merangkul bahu gue pelan tapi tegas. Arka muncul dari samping, berdiri di samping gue. Wajahnya dingin banget — sedingin dulu, tatapannya tajam menusuk.

"Dia Aluna," suaranya rendah tapi berat. "Dan dia orang yang paling pantas dihormati di sini. Kalau lo cari masalah, cari sama gue."

Kevin menatap Arka dari atas sampai bawah, lalu senyum sinis. "Oh, si ketos dingin yang akhirnya punya simpanan? Bagus deh. Kita lihat berapa lama lo akan bertahan." Dia naik motornya lagi, melesat pergi sambil menoleh sekilas, tatapannya penuh tantangan.

Gue mau lari kejar, tapi Arka tahan pelan.

"Jangan, Luna. Nanti orang salah paham."

"Lo dengar kan dia ngomong apa?!" gue masih emosi, tangan mengepal. "Dia nggak tahu sopan santun!"

Arka senyum tipis, usap rambut gue yang berantakan. "Itu cara dia. Lo nggak perlu turun ke level dia. Tapi gue suka… lo berani bela diri sendiri."

"Gue bukan cuma bela diri," gue tatap matanya lurus. "Gue juga bela nama lo. Siapa dia berani ngomong kayak gitu?"

Arka diam sebentar, lalu kecup kening gue pelan di tempat sepi. "Gue tahu. Makasih ya. Itulah kenapa gue sayang sama lo — lo berisik, kadang nggak peduli aturan, tapi hatimu lurus banget. Lo gadis barbar kesayangan gue."

Siangnya di kantin, kita duduk beramai-ramai. Raka langsung buka mulut heboh.

"Kevin itu berita banget pagi ini! Katanya pindah karena suka ganggu cewek di sekolah lama!"

Bela mengangguk cemas. "Hati-hati ya Luna, dia kelihatan nggak baik."

Gue geleng pelan, dan senyum santai. "Tenang aja, gue nggak takut. Kalau dia macem-macem, gue jawab langsung!"

Arka pegang tangan gue di bawah meja. "Jangan bertindak sendiri ya. Bilang gue dulu."

"Siap, Ketos!" goda gue sambil kedip mata. Semua orang tertawa. Arka cuma geleng-geleng kepala, tapi sudut bibirnya naik.

Tapi Kevin nggak diam. Mulai hari itu, dia sering muncul tiba-tiba — lewat dekat meja kita, berbisik sesuatu, menatap gue dengan tatapan yang bikin nggak nyaman. Kadang dia sengaja menabrak bahu gue pas lewat, lalu tertawa pelan. Gue tahan, nggak mau ribut. Sampai suatu sore…

Gue sendirian di perpustakaan, mencari buku. Kevin muncul di rak sebelah, berdiri terlalu dekat.

"Sendirian ya?" suaranya rendah, menjijikkan. "Arka nggak bisa jaga lo terus."

Gue mundur selangkah. "Maksud lo apa?"

"Gue cuma mau bilang," dia mendekat lagi. "Arka itu kaku, dingin, nggak paham cara manjakan cewek. Lo bakal bosan. Dan kalau lo bosan… cari gue aja." Dia mencoba menyentuh tangan gue.

Gue menepisnya keras. "Jangan sentuh gue! Dan dengar baik-baik — gue sayang Arka, bukan karena dia manis tiap saat. Gue sayang dia karena dia Arka. Dingin ke orang lain, hangat cuma ke gue. Itu lebih dari cukup. Lo nggak bisa mengerti itu karena lo cuma lihat tampang luar!"

Kevin tersenyum sinis. "Keras kepala ya? Nanti lo akan tahu siapa yang lebih baik."

Tiba-tiba pintu terbuka. Arka berdiri di sana. Wajahnya sedingin es, matanya gelap mengamati semuanya. Dia melangkah masuk, berdiri di antara kami.

"Lo sudah dengar jawabannya," suaranya tenang tapi mengancam. "Pergi. Dan jangan pernah deketin dia lagi."

Kevin tertawa. "Takut kalah?"

"Takut lo terluka," jawab Arka datar. "Karena kalau lo sentuh dia sekali saja… gue nggak bisa jaga sikap gue."

Kevin menatapnya lama, lalu berbalik pergi. Tapi sebelum keluar, dia menoleh. "Kita lihat aja nanti."

Setelah dia pergi, gue baru sadar napas gue tertahan. Arka berbalik cepat, cek wajah gue.

"Dia nyakiti lo?"

"Nggak," gue pegang tangannya erat. "Gue nggak apa-apa. Gue jawab dia kok."

Arka senyum bangga, usap pipi gue lembut. "Gue dengar. Jawaban bagus. Tapi lain kali panggil gue ya?"

"Gue bukan anak kecil!" protes gue.

"Gue tahu," dia peluk gue erat. "Tapi gue tetap ingin jadi orang pertama yang lo cari."

Beberapa hari kemudian, suasana di kelas makin tegang. Kevin menyebarkan cerita — katanya Arka sombong, kasar, memaksa gue bersamanya. Ada yang percaya, ada yang ragu. Kirana datang ke meja kita sore itu.

"Gue dengar teman-teman ngomongin kalian," katanya cemas. "Kevin ini pandai bicara manis. Hati-hati."

Arka mengangguk. "Makasih, Kirana. Kita tahu."

Gue senyum. "Jangan khawatir. Kita kuat."

Saat istirahat besar, Kevin sengaja datang ke meja kami, berbicara cukup keras didengar orang-orang sekitar.

"Arka, kenapa lo larang teman dekat sama dia? Takut dia tahu siapa lo sebenarnya? Dingin, tertutup, nggak pernah peduli orang lain?"

Arka berdiri pelan. Semua orang hening.

"Lo boleh nggak suka sama gue," suaranya tenang, terdengar jelas. "Tapi jangan lo bawa- bawa Aluna. Dia gadis yang tulus, berani, satu-satunya yang nggak takut lihat sisi gelap gue dan tetap bilang — gue mau di sini. Kalau lo nggak paham itu, itu masalah lo, bukan masalah kami."

Dia berbalik ke arah gue, tangannya lembut sekali beda dengan tatapannya ke Kevin.

"Maaf ya… bikin lo dengar semua ini."

Gue berdiri di sampingnya, pegang tangannya erat.

"Maaf buat apa? Itu semua benar. Lo dingin ke orang yang nggak kenal lo, tapi ke gue… lo hangat banget. Dan itu cukup."

Orang-orang yang mendengar mulai berbisik, bukan lagi curiga tapi mengerti. Kevin berdiri kaku, nggak tahu harus berkata apa, lalu pergi dengan wajah memerah.

Sore itu pulang berdua, langkah kami ringan kembali.

"Lo tahu nggak?" kata Arka tiba-tiba. "Dulu gue pikir sifat dingin gue itu kekurangan. Ternyata itu yang bikin kita spesial. Karena cuma lo yang bisa lihat di baliknya."

Gue senyum lebar, cubit pipinya pelan. "Nah itu baru ketos dingin kesayangan gue! Biar orang lain nggak berani deket, biar cuma gue yang tahu manisnya!"

Arka tertawa lepas — tawa yang bikin dunia terasa indah. "Iya. Cuma lo. Selamanya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!