NovelToon NovelToon
THE PRIDE BETWEEN US

THE PRIDE BETWEEN US

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:166
Nilai: 5
Nama Author: Aravienne

Reyhan (31), pemilik Waroeng Sederhana di Bandung, dingin dan penuh gengsi. Anindya (30), tukang cuci piring baru dengan mimpi kecil membuka usaha kuliner sendiri.

Sepasang sarung tangan tanpa nama, wedang jahe yang "kebetulan kelebihan", dan tumpangan "searah" mengubah segalanya. Tapi gengsi lebih keras dari perasaan, dan gosip dapur tak pernah berhenti.

Saat Reyhan terpaksa memecatnya, mereka berpisah. Akankah gengsi terus berdiri di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aravienne, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Tubuh Anindya belum tahu bahwa ia tidak punya tempat untuk dituju.

Jam enam lewat empat puluh, matanya terbuka sendiri. Tangannya sudah meraba-raba mencari apron yang tidak ada, dan kakinya hampir menapak lantai sebelum ia ingat. Ia duduk di pinggir kasur dalam cahaya kamar kos yang masih kelabu, menatap dinding bercak lembap yang sama, dan membiarkan kenyataan itu mengendap pelan, seperti teh yang baru dituang dan belum menemukan dasar gelasnya.

Tidak ada piring. Tidak ada bak cuci. Tidak ada Mbak Sari yang berdiri di depan pintu sambil melipat tangan.

Dan tidak ada seorang pun yang bertanya apakah ia baik-baik saja.

Hari pertama, ia membersihkan kamar sampai tidak ada debu yang tersisa. Hari kedua, ia mencuci semua pakaian, termasuk yang sebenarnya masih bersih. Hari ketiga, ia berhenti pura-pura sibuk dan duduk di lantai dengan buku tulis bergaris di pangkuan, menghitung.

Gaji terakhir, dikurangi sewa kos bulan ini, dikurangi makan, dikurangi ongkos angkot kalau ia mencari kerja. Angka-angka itu rapi dan jujur. Cukup untuk dua bulan, kalau ia hemat. Tiga, kalau ia sangat hemat.

Ia menutup buku itu dan menarik napas panjang.

*Dua bulan,* katanya dalam hati. *Cukup.*

Tapi malam itu, di antara bunyi tetes air dari talang kos yang bocor, ia terjaga lama. Ia tidak menangis. Ia sudah menghabiskan tangisnya di lorong loker beberapa minggu lalu, dan yang tersisa kini hanya sesuatu yang lebih sunyi, sesuatu yang tidak punya bentuk. Bukan marah pada Reyhan. Bukan sedih kehilangan pekerjaan. Hanya kehilangan sebuah tempat di mana, untuk pertama kalinya setelah sangat lama, ia merasa dilihat.

Dan yang paling menyakitkan: ia bahkan tidak tahu salahnya di mana.

---

Minggu pertama, Anindya melamar ke enam tempat.

Sebuah toko kue di dekat pasar membutuhkan tenaga bantu. Dua kedai kopi mencari kru dapur. Satu katering rumahan menawarkan pekerjaan menata nasi kotak. Satu rumah makan Padang butuh orang untuk mencuci piring, tapi ia hanya menatap lowongan itu lama sebelum melewatinya.

Tiga tempat tidak membalas. Satu membalas dengan gaji yang bahkan tidak cukup untuk ongkosnya.

Yang keempat, sebuah kedai kopi kecil di dekat kampus, memanggilnya wawancara.

Pemiliknya seorang laki-laki berusia empat puluhan dengan kacamata bulat dan sikap yang ramah tapi tidak hangat. Ia membaca surat lamaran Anindya dengan tenang, mengangguk beberapa kali, lalu menaruhnya di meja.

"Jadi Mbak sebelumnya kerja di Waroeng Sederhana?"

"Iya, Pak. Sekitar sebulan lebih."

"Kenapa berhenti?"

Pertanyaan itu sederhana, dan Anindya sudah menyiapkan jawabannya semalam. *Kondisi warung sedang tidak memungkinkan.* Kalimat yang benar secara teknis dan tidak menyakiti siapa pun.

Tapi sebelum ia sempat membuka mulut, laki-laki itu melanjutkan, dengan senyum yang terlalu sopan untuk dipercaya.

"Maaf kalau saya lancang. Kami sempat dengar sedikit kabar. Dunia kuliner di Bandung ini kecil, Mbak."

Hening.

"Kabar apa, Pak?"

"Ah, cuma obrolan. Saya nggak percaya semuanya." Ia melambaikan tangan. "Tapi Mbak tahu sendiri, pemilik usaha harus hati-hati."

Anindya menatapnya, dan perasaan dingin merayap dari tengkuk ke punggungnya. Ia sudah menduga fitnah itu akan ikut keluar bersamanya dari warung, tapi ia tidak menyangka secepat ini. Dan seluas ini.

"Boleh saya tahu siapa yang cerita, Pak?"

"Wah, saya lupa. Orang-orang."

"Orang-orang."

"Iya."

Anindya berdiri. Ia merapikan tasnya dengan tenang, dan suaranya ketika berbicara sama sekali tidak bergetar.

"Terima kasih sudah menerima saya, Pak. Saya tidak akan membuang waktu Bapak."

"Mbak, bukan begitu maksud saya..."

"Saya mengerti, Pak. Selamat siang."

Di luar, hujan Bandung turun tipis dan dingin. Anindya berdiri di bawah kanopi kedai kopi itu cukup lama, menatap rintik air yang jatuh dari tepi atap. Tangannya mengepal di balik tas, kukunya menekan telapak, tapi ia tidak menangis.

Ia hanya memikirkan satu hal: *siapa?*

Dan di balik pertanyaan itu, ada sesuatu yang lebih berat dan lebih lama: tiga bulan, dua kali dipecat, dua kali tanpa penjelasan. Ia mulai bertanya, untuk pertama kalinya, apakah ada sesuatu pada dirinya yang membuat orang-orang merasa boleh memperlakukannya seperti ini. Lalu ia teringat kata ibunya, pelan dan sabar, di suatu sore yang jauh: *Nin, orang yang nyakitin kamu itu ngasih tahu soal dirinya, bukan soal kamu.*

Ia menarik napas panjang, dan membiarkan kalimat itu masuk pelan-pelan, seperti hujan yang meresap ke tanah.

---

Beberapa pesan datang ke ponselnya di minggu-minggu itu.

Dari Bayu, singkat, di larut malam. *Kamu baik-baik aja?*

Ia membalas setelah dua jam menatap layar. *Baik, Bay. Makasih udah nanya.*

Dari Jaka, lewat Bayu, hanya satu kalimat yang disampaikan lisan oleh orang lain: *Jaga kesehatan.*

Dari Teh Lilis, lima pesan panjang dalam satu malam, penuh permintaan maaf yang mengalir tanpa titik dan koma. *Maafin Teteh, Nin. Teteh salah banget. Teteh nggak tahu harus gimana. Teteh nggak bisa tidur.* Anindya membacanya satu per satu, dan dengan setiap pesan, perasaan aneh di dadanya tumbuh. Bukan marah, bukan sakit hati. Lebih seperti seseorang yang berdiri di depan teka-teki yang hampir lengkap, tapi masih kurang satu potongan.

Teh Lilis tidak minta maaf karena sudah bergosip. Ia minta maaf seperti seseorang yang tahu kesalahan yang jauh lebih besar dari itu.

Anindya tidak membalas.

Dan dari Reyhan, tidak ada apa-apa.

Ia memeriksa ponselnya di pagi hari, di siang hari, di tengah malam, hanya untuk memastikan, bukan karena berharap. Tidak ada panggilan, tidak ada pesan, tidak ada titik tiga yang muncul lalu hilang. Hanya layar yang gelap, yang menatapnya balik dengan ketenangan yang menyebalkan.

Suatu malam, ia meletakkan ponsel itu terbalik di laci, menutupnya, dan berkata pada dirinya sendiri dengan suara pelan, *Kamu tidak sedang menunggu siapa pun.*

Kamarnya tidak menjawab. Tapi kali ini, untuk pertama kalinya, ia sendiri tidak yakin apakah kalimat itu benar.

---

Sebulan setelah pemecatan itu, pintu kamar nomor tujuh diketuk dua kali.

"Neng Anin? Ibu masuk, ya."

Bu Heni berdiri di ambang pintu dengan sepiring pisang goreng dan daster batik yang sama seperti biasa. Matanya menyapu kamar yang terlalu rapi, buku tulis di meja, dan Anindya yang duduk di lantai dengan tatapan kosong.

"Belum dapet kerjaan, Neng?"

"Belum, Bu."

"Yah." Bu Heni meletakkan piring itu di meja kecil dan duduk di pinggir kasur, tanpa diminta. "Ibu mau nanya sesuatu, tapi Neng jangan kaget."

"Iya, Bu?"

"Nasi uduk yang dulu. Yang Neng bikin pas awal-awal pindah." Bu Heni menatap tangannya sendiri. "Tetangga pada nanyain. Bu Dini sebelah, Pak Haji, Bu Lurah. Mereka pada bilang masih kebayang rasanya."

Anindya mengangkat kepala.

"Mereka pada nanya, Neng bisa bikinin lagi nggak? Mau pesen. Buat acara pengajian hari Jumat, sepuluh bungkus."

"Sepuluh bungkus?"

"Iya. Dibayar. Ibu yang jamin."

Hening sejenak. Anindya menatap pisang goreng di piring itu, lalu menatap Bu Heni. Ia melihat bagaimana perempuan itu berpura-pura sibuk merapikan lipatan dasternya, dan sadar bahwa Bu Heni tahu. Tahu bahwa ia dipecat, tahu bahwa ia tidak punya pekerjaan, tahu bahwa ia sudah dua minggu tidak keluar kamar kecuali untuk mencari kerja. Dan perempuan itu tidak bertanya, tidak berkomentar, hanya mengetuk pintu dengan sepiring pisang goreng dan sebuah pesanan yang mungkin ia karang sendiri.

"Bu, saya..."

"Nggak usah dijawab sekarang." Bu Heni berdiri, menepuk bahunya pelan. "Neng pikirin aja. Tapi Ibu cuma mau bilang, tangan yang bisa bikin nasi uduk kayak gitu, sayang kalau cuma disimpan."

Ia pergi. Pintu tertutup pelan.

Anindya duduk lama dalam keheningan. Di luar, hujan berhenti, dan cahaya sore menyelinap lewat celah gorden. Ia merangkak ke sudut kamar, membuka tas kecil itu, dan mengeluarkan buku tulis lusuh yang tulisan pensilnya sudah agak pudar.

Halaman pertama hanya berisi satu kalimat, ditulis dengan tulisan tangan ibunya yang miring dan sabar.

*Masak itu bukan soal bumbu. Masak itu soal orang yang kamu pikirkan waktu mengaduknya.*

Anindya menatap kalimat itu cukup lama. Dan untuk pertama kalinya sejak pagi di ruang kerja itu, ia membiarkan dirinya benar-benar menangis, bukan tangis tertahan dan diam-diam seperti di lorong loker, tapi tangis yang keluar tanpa malu, dengan bahu yang bergetar dan suara yang pecah. Ia menangis untuk ibunya. Untuk dua kali dipecat. Untuk semua kalimat yang tidak sempat ia ucapkan. Untuk seseorang yang pernah berkata *Kamu nggak perlu berhenti bikin*, dan lalu mengatakan *itu tidak penting lagi.*

Ketika tangis itu reda, matahari sudah hampir tenggelam. Ia menutup buku itu dengan lembut, memeluknya sebentar, dan tersenyum, kecil dan sangat tipis, tapi nyata.

Ia punya sesuatu yang tidak bisa dipecat darinya.

Bersambung ke Bab 18...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!