Aluna adalah seorang gadis yang diangkat oleh keluarga kaya sebagai pengganti anak perempuan mereka yang hilang, Jesselyn. Meski hidupnya tampak bahagia, sebenarnya ia hanya diperlakukan sebagai bayangan dari Jesselyn.
Setelah dewasa Aluna dijodohkan dengan Davion Harold, yang lagi-lagi karena pria itu adalah pria yang dulu Jesselyn sukai. Apapun yang terjadi Aluna harus bertahan dalam pernikahan tersebut, itulah pesan kedua orang tua angkatnya.
Namun pernikahan itu membuat Aluna semakin tersiksa dan merasa tak diinginkan oleh siapapun. Pada akhirnya Aluna mengambil keputusan paling mengerikan di dalam hidupnya, coba keluar dari bayang-bayang Jesselyn dan hidup sebagai dirinya sendiri. Melanggar keinginan orang tua angkatnya untuk pertama kali.
"Dav, aku ingin kita cerai," ucap Aluna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PP Bab 33 - Rekaman
Kalimat itu seperti palu yang menghantam keras kepala Pieter, karena baginya berurusan dengan Aston akan lebih udah dibanding berurusan dengan Davion.
Tapi apa yang diucapkan oleh Aston itu bukan sekadar formalitas. Karena beberapa minggu terakhir, perubahan besar memang telah terjadi di Harold Kingdom.
Davion kini resmi mengambil alih posisi tertinggi. Ia bukan lagi sekadar pewaris, Ia adalah pemegang kendali.
Orang yang memiliki kuasa penuh atas setiap keputusan. Termasuk nasib keluarga Myles sekarang.
Di ruang kerja Vincent, suasana berubah semakin panas. Pria itu berdiri dengan napas memburu, tangannya menghantam meja dengan keras hingga beberapa dokumen bergeser.
“Brengsek!” umpatnya kasar, setelah panggilan telepon dengan Aston terputus.
Pieter sudah terdiam karena bingung, sementara Vincent berjalan mondar-mandir, emosinya benar-benar tidak lagi terkontrol. Situasi ini terlalu menekan. Perusahaan di ambang kehancuran, bank terus menekan, dan pencarian Jesselyn pun tak mungkin dihentikan.
Dan satu-satunya jalan keluar justru berada di tangan seseorang yang sejak awal tidak pernah benar-benar ingin membantu mereka.
Davion.
“Dia memang menunggu ini,” lanjut Vincent dengan rahang mengeras. “Dari awal dia sudah mengincar ini.”
Pieter tidak langsung menjawab. Namun wajahnya terlihat semakin tua dalam sekejap. Karena ia tahu apa yang dikatakan Vincent adalah benar.
Davion tidak pernah datang untuk menolong, Ia datang untuk mengambil. Dan sekarang, mereka berada di posisi yang tidak punya pilihan.
Sunyi memenuhi ruangan beberapa saat. Sampai akhirnya Vincent berhenti melangkah, lalu menatap lurus pada ayahnya.
“Apa kita masih punya pilihan lain?” tanyanya rendah.
Tidak ada jawaban, karena keduanya tahu jawabannya adalah tidak ada.
Vincent menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Matanya memejam sejenak, seolah menelan semua harga diri yang tersisa.
Keputusan ini terasa pahit, namun hanya inilah satu-satunya jalan. Setelah Aluna sedikitpun tidak membantu mereka.
“Baiklah,” ucapnya akhirnya, suaranya berat sekali. “Aku akan menemui Davion.”
Pieter mengangkat wajahnya perlahan. Dan untuk pertama kalinya tidak ada perlawanan yang ia berikan.
Siang itu juga Vincent pergi ke perusahaan Harold Kingdom, pertemuan itu benar-benar terjadi diantara dia dan Davion.
Di ruang rapat Harold Kingdom yang megah dan dingin, Vincent duduk berhadapan dengan Davion.
Kontras di antara keduanya terasa jelas. Di satu sisi Vincent yang terlihat tegang, terdesak, dan menahan emosi.
Di sisi lain Davion yang duduk dengan tenang, bersandar santai seolah seluruh situasi ini hanyalah bagian kecil dari rutinitasnya.
“Jadi akhirnya kamu datang juga,” ucap Davion memulai pembicaraan.
Vincent mengepalkan tangannya di atas meja, namun berusaha menjaga suaranya tetap stabil. “Kita langsung saja ke intinya.”
Davion tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak hangat.
“Aku setuju,” lanjut Vincent, kata-kata itu terasa berat saat keluar dari mulutnya. “Aku akan menjual sebagian saham perusahaan.”
Hening.
Beberapa detik yang terasa begitu panjang. Davion tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Vincent, mengamati setiap ekspresi di wajah pria itu.
Menikmati momen itu.
Momen di mana pihak lawan akhirnya menyerah.
“Baiklah,” ucap Davion akhirnya.
Vincent menahan napas, sementara Davion sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. “Kita akan bahas detailnya,” lanjutnya tenang. “Tapi ingat satu hal, Vincent. Kali ini aku tidak sedang membantu. Ini murni bisnis.”
'Kurang ajar,' batin Vincent. Namun ia menganggukkan kepalanya setuju.
Pertemuan kali ini diam-diam di rekam oleh Haris, dan Davion meminta asistennya untuk segera mengirim rekaman tersebut pada Aluna.
Nah apakah disini Aluna dan Davion bisa bersama? sedangkan Aluna sdh nyaman hidup seperti ini, Davion setelah bertemu Aluna mungkin sdh tidak bermain wanita lagi. Tapi entahlah dulu sampai tahap mana dia bermain, Yang pasti Aluna sdh tidak peduli lagi. Mungkin akan sedikit tersentuh kalau Davion berhasil membawa Aluna bertemh keluarga kandungnya kembali.
gw bisa callingin psk ..davion, kalau lo gk bisa tahan, mau lo?
davion bilek....mau lah, dah lama juga gk main😌
Biarkan Aluna menjemput kebahagiaannya dgn pria lain yg baik, yg menghargainya..