NovelToon NovelToon
Suami Cupu Kakak Ku Ternyata Mafia

Suami Cupu Kakak Ku Ternyata Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:20k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Hazella Adeline, atau Hazel, adalah gadis 19 tahun yang dikenal sebagai bad girl. Meski keras kepala dan berani, Hazel sebenarnya memiliki hati yang sangat baik. Saat pindah sekolah, Hazel harus tinggal di rumah kakaknya, Cateline, yang ternyata sudah menikah selama dua tahun dengan seorang pria bernama Sagara. Namun, Sagara jauh dari bayangan Hazel tentang seorang suami. Ia terlihat penakut, mudah menangis, selalu mengalah, dan sering menjadi sasaran amarah Cateline. Hazel pun selalu membelanya hingga tanpa sadar mulai menyukai pria itu. Hazel tahu perasaannya salah karena Sagara adalah suami kakaknya. Ia berusaha menahannya. Hingga sebuah rahasia perlahan terbongkar. Sagara ternyata mengalami amnesia dan tidak mengingat siapa dirinya sebelum kecelakaan. Tak ada yang tahu bahwa sebelum kehilangan ingatan, Sagara adalah mafia paling kejam sekaligus salah satu pria terkaya di dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Hawa dingin membekukan lorong kumuh di sudut kota malam itu. Di depan pintu apartemen yang sudah tersegel pita merah milik klan Victor, Helena dan Cateline terduduk bersimpuh di atas lantai semen yang kotor. Seluruh barang-barang mereka yang tersisa dilemparkan begitu saja ke jalanan oleh puluhan pria berjas hitam yang berdiri tegap berbaris.

Suara langkah sepatu kulit beradu konstan dengan lantai semen. Dari balik kegelapan lorong, sosok Arlend Kyren Victor melangkah maju. Jas hitamnya terpasang sempurna, memancarkan aura dominasi mutlak yang pekat dan menindas. Di sampingnya, Gideon berdiri memegang map dokumen penyitaan.

Melihat kehadiran pria itu, Helena dan Cateline langsung merangkak maju, mengabaikan lutut mereka yang memar dan berdarah.

"Sagara! Maksudku... Tuan Arlend! Tolong kami!" jerit Helena histeris, mencoba menggapai ujung celana Arlend sebelum salah satu pengawal menendang tangannya menjauh. "Tolong jangan usir kami! Ini satu-satunya tempat tinggal kami yang tersisa! Kami mohon!"

Cateline dengan wajah yang sembap, pakaian kotor, dan rambut berantakan, berlutut seraya menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. Air matanya menetes deras membasahi lantai.

"Arlend... aku mohon padamu..." tangis Cateline pecah, suaranya parau dan terengah-engah. "Aku tahu aku salah! Aku tahu kami sangat jahat padamu dan Hazel! Tapi tolong... jangan hancurkan kami sampai seperti ini. Aku ini pernah merawatmu selama dua tahun! Ampuni kami, Arlend... bunuh saja kami kalau kau memang begitu membenci kami! Jangan siksa kami seperti ini!"

Arlend menghentikan langkahnya tepat di hadapan kedua wanita yang kini merangkak bagaikan pengemis di kakinya. Pria itu menunduk pelan. Iris mata elangnya memancarkan kilatan pembunuh yang teramat dingin sebuah ketajaman tanpa ampun yang sanggup mengikis nyali siapa pun yang menatapnya.

Arlend berjongkok perlahan, menyamakan tingginya dengan Cateline. Jemari tegapnya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam mendadak mencengkeram rahang Cateline dengan sangat keras, memaksa wanita itu mendongak menatap matanya yang membara.

"Membunuh kalian?" bisik Arlend. Suaranya begitu rendah, berat, dan sarat akan kekejaman yang membekukan darah. "Itu terlalu mudah... dan terlalu indah untuk iblis seperti kalian."

Arlend menghempaskan rahang Cateline hingga wanita itu tersungkur menghantam lantai. Ia berdiri kembali, mengusap sarung tangannya seolah baru saja menyentuh sesuatu yang sangat menjijikkan.

"Mati adalah sebuah kebebasan, Cateline. Dan aku... tidak akan pernah membiarkan kalian mati dengan tenang," pangkas Arlend dingin, tatapannya menyapu Helena dan Cateline bergantian.

"Mulai detik ini, seluruh rekening bank milik kalian di dalam maupun luar negeri telah diblokir total. Nama kalian dimasukkan ke dalam daftar hitam seluruh instansi hukum dan lapangan kerja di negara ini. Siapa pun yang berani memberi kalian makanan, pekerjaan, atau tempat berteduh... akan kubuat bernasib sama seperti kalian."

Helena menjerit histeris seraya memegang dadanya yang sesak. "Kau... kau iblis, Arlend! Kau ingin kami mati kelaparan di jalanan?!"

"Aku ingin kalian merasakan bagaimana rasanya merangkak di dasar neraka," balas Arlend dengan senyum miring yang teramat kejam. "Kalian akan hidup sebagai pengemis tanpa harta, tanpa tempat tinggal, dan tanpa masa depan. Kalian akan memohon kematian setiap hari, tapi napas kalian akan tetap kupaksa berembus agar kalian bisa menikmati setiap detik siksaan ini."

Arlend memalingkan badannya tanpa rasa iba sedikit pun.

"Gideon," panggil Arlend seraya melangkah pergi meninggalkan lorong. "Ratakan apartemen ini malam ini juga. Pastikan mereka tidak membawa sepeser pun uang atau barang berharga. Biarkan mereka tidur di jalanan."

"Siap, Tuan Besar," jawab Gideon tegas.

Jeritan histeris, tangisan keputusasaan, dan raungan memohon ampun dari Cateline dan Helena bergema memenuhi lorong kumuh tersebut, namun Arlend terus melangkah pergi tanpa sekali pun menoleh kembali.

Suara deru mesin mobil mewah yang memasuki pelataran mansion menandai kepulangan Arlend di larut malam. Suasana rumah raksasa itu sudah amat hening, hanya diterangi oleh pendar lampu-lampu dinding yang hangat.

Arlend melangkah menaiki tangga melingkar berkarpet tebal menuju lantai dua. Jas hitam yang dipakainya sejak pagi kini sudah ia lepas dan tersampir di lengannya, sementara dua kancing teratas kemejanya terbuka, menyiratkan kelelahan setelah seharian mengurus penumpasan keluarga Adeline di markas utama. Namun, begitu kakinya mendekati pintu kamar Hazel, garis-garis tegas di wajah tampannya mendadak melunak.

Pintu kamar terdorong pelan tanpa suara.

Di dalam ruangan yang hangat itu, Hazel sedang berdiri di depan lemari pakaian kayu raksasa. Gadis itu mengenakan gaun tidur sutra longgar berwarna merah muda pucat. Jemari halusnya sedang telaten menyetrika dan menggantung seragam sekolah lamanya rok lipat dan kemeja putih yang baru saja diantarkan oleh pelayan setelah dibersihkan secara profesional.

Arlend bersandar di ambang pintu, menyilangkan kedua kakinya seraya memperhatikan punggung Hazel dalam diam. Sebuah senyuman tipis yang amat jarang terlihat di wajah sang Raja Mafia mengembang perlahan.

"Belum tidur, Hazel?" suara berat Arlend memecah keheningan, mengalun lembut dan hangat.

Hazel tersentak pelan, lalu membalikkan badannya. Melihat sosok Arlend yang berdiri di sana, Hazel menyunggingkan senyum manis yang nampak sangat polos dan hangat.

"Belum, Kak," sahut Hazel halus. Ia merapikan seragamnya yang sudah tergantung rapi, lalu melangkah pelan mendekati Arlend. "Aku sedang merapikan seragamku. Besok kan aku sudah harus kembali masuk sekolah. Aku sudah ketinggalan banyak pelajaran selama di rumah sakit."

Arlend mengerutkan alisnya tipis, melangkah masuk ke dalam kamar dan meletakkan jasnya di atas sofa. Ia memegang kedua bahu Hazel lembut, menatap gadis itu dengan cemas.

"Apakah tubuhmu sudah benar-benar pulih?" tanya Arlend halus, memiringkan kepalanya sedikit. "Luka di punggungmu baru saja mengering. Jika kau masih merasa lelah atau nyeri, tidak perlu terburu-buru masuk sekolah. Aku bisa meminta kepala sekolah meliburkanmu seminggu lagi."

Hazel tertawa kecil sebuah tawa renyah yang terdengar amat menyenangkan di telinga Arlend. Ia menggeleng pelan.

"Tidak usah sampai seperti itu, Kak," kekeh Hazel seraya menepis pelan kekhawatiran Arlend. "Aku sudah merasa sangat sehat, kok. Lagipula, duduk diam di kamar ini seharian membuatku sangat bosan. Aku merindukan suasana kelas dan teman-temanku."

Arlend menghela napas pasrah, namun jemarinya bergerak lembut mengusap helai rambut Hazel yang terurai. "Baiklah... kalau itu memang kemauanmu. Tapi besok kau harus berangkat dan pulang diantar oleh pengawal. Tidak ada bantahan untuk yang satu ini."

"Iya, Kak Sagara... aku menurut," cicit Hazel manis, sengaja menyisipkan nama lamanya untuk membuat suasana makin hangat dan rileks.

Mendengar panggungan 'Kak Sagara', mata Arlend berkilat hangat. Rasa lelah yang menumpuk di pundaknya seolah menguap begitu saja saat berdiri di dekat gadis ini.

"Bagaimana dengan makan malammu tadi?" tanya Arlend lagi seraya mendudukkan dirinya di tepi ranjang, menatap Hazel yang kini berdiri di hadapannya. "Apakah makanan di mansion ini sesuai dengan seleramuu?"

"Sangat enak," puji Hazel penuh antusiasme, matanya berbinar manis. "Koki di sini memasak sup ayam yang sangat lezat. Tapi..." Hazel menggantung kalimatnya, menyunggingkan senyuman tipis yang sedikit jahil.

"Tapi kenapa?" Arlend menaikkan sebelah alisnya penasaran.

"Tapi tetap saja... rasanya ada yang kurang kalau makan sendiri di meja sebesar itu," goda Hazel pelan, menatap Arlend lurus-lurus. "Besok-besok, Kakak harus pulang lebih awal supaya bisa makan malam bersamaku."

Arlend terkekeh pelan—sebuah tawa rendah yang sarat akan rasa bahagia. Pria itu mengangguk mantap tanpa ragu sedikit pun.

"Janji," sahut Arlend lembut. "Mulai besok, aku akan menyelesaikan seluruh pekerjaanku sebelum matahari terbenam."

Arlend berdiri dari duduknya, merengkuh kepala Hazel pelan lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat di dahinya kecupan yang penuh perlindungan dan kasih sayang mutlak.

"Sekarang masuklah ke dalam selimut dan tidurlah. Hari sudah sangat malam, Anak Sekolah," bisik Arlend bercanda dengan nada menyayangi.

"Selamat malam, Kak," balas Hazel manis seraya berjalan menuju ranjangnya.

Saat Hazel menarik selimut hingga ke dadanya dan Arlend berjalan keluar seraya mematikan lampu utama kamar, senyuman polos di wajah Hazel perlahan berubah di dalam kegelapan yang remang.

Sebuah senyuman dingin dan penuh perhitungan kembali terukir di bibirnya. Semua perhatian, keposesifan, dan janji manis Arlend malam ini adalah fondasi yang makin mengukuhkan posisinya. Besok di sekolah, babak baru penuntutannya akan segera dimulai.

1
merry
🤣🤣🤣🤣cemburuuan bos mu gidion
falea sezi
g suka karakter nya sok alias licik🤣 bunglon
falea sezi
😒 rugi gue nangisin elu zel 😒
falea sezi
q malah berharap hazel di Selamat kan orang trs di bawa pergi jauh 🤣 trs ketemu beberapa tahun kemudian hazel ilang ingatan😕
falea sezi
😓part hazel nangis q😕
falea sezi
nunggu qm nyesel😒
merry
jdiin pelayan ajj si zel trs viral kn mrkk biar kmu gk dicap ank haram trs sm mrkj
merry
bgs hazel bgs jujur dan terbuka,, dr pd bhong kn yg ada repot,,, lgian Sagara psti dukung kmu untuk bls perbuatan y Helena dan cat cat ap lg Bpk y lon selingkuh dgn Helena gmpng x hancurin y biar mmmy Leon gk di selingkuh trss
Mundri Astuti
nah gitu jujur aja hazel ..
Mundri Astuti
omelin aja si hazel ..arlend🤭
merry
knp gk. jdiin babu ajj hazel tu mrk berdua,, kn Helena dh bunuh mmu dan jebak papamu ,,di saat papa mu msh tunangannya dr mmu,, biar cat muka mata y berapa licik y mmy itu
merry
hazel menurut mu jgn pura pura polos dan lugu dech asli y kn ngk 🤭🤭🤭bgs jdi cwe manja biar di manja sm mafia dan nikmatin falistas mewah ya,, sambil ngehukum ibu Tri dan saudara trimu,,,
Mundri Astuti
kirain hazel bener" tulus ...wewww sama aja kamu kaya Catlin zel, cuma manfaatin arlend
merry
astoge klian berdua in psangan bonglon ternyata,, klo Sagara tidak anemsia knp mau aj di injk injk cbb sm cat,,, hazel tujuan y ap sm Sagara selain bls dendam,, 🤔🤔🤔🤔
merry
jdi psagann gk y nntii hazel sm Sagara
Mundri Astuti
dikit beud thor...perasaan baru baca dah kelar aja 🤭
double up y thor 😄🙏
@cristi
kaak bagus banget ceritanya😍
Mundri Astuti
Alhamdulillah selamet juga akhirnya hazel
merry
syukur ktmu bos cb telat dikit ajjh,,, cept sembuh hazel kmu kn hrs sekolh zel 🤭🤭🤭jgn bnci arlend ya kn dia lupa🤭🤭🤭🤭
𝐀⃝🥀Weny
wes telat🤣🤣 sak Iki nyesel kan/Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!