Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan Di Atas Kertas Basah
Hari-hari di kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu berjalan dalam renggangan sunyi. Sejak malam ketika Davin melontarkan pertanyaan tajam mengenai orang kantor, tidak ada lagi pembahasan serupa yang diangkat ke permukaan.
Hubungan mereka tampak kembali pada poros semula Davin tetap datang membawa martabak manis setiap sore, mencium kening Keira, dan merebahkan diri dengan keluhan lelah korporat, sementara Keira tetap menyambutnya dengan secangkir air hangat dan senyuman penurut.
Namun, di balik permukaan yang tenang itu, hubungan mereka telah berubah. Keira tahu persis bahwa interaksi kini dibatasi oleh lapis-lapis kewaspadaan.
Setiap kali Davin menceritakan soal kantor, Keira mendengarkan dengan kehati-hatian, menyaring setiap kata untuk menebak di mana letak kebenaran dan kebohongan beririsan.
Kebohongan kecil yang ia ucapkan malam itu bahwa tidak ada orang kantor yang menghubunginya telah mengubah Keira dari seorang perempuan yang sepenuhnya pasif menjadi seseorang yang mulai menyimpan rahasia demi kelangsungan batinnya.
Pagi itu, hari Senin, hujan gerimis menyelimuti Kota Bimantara sejak subuh, meninggalkan hawa dingin di sepanjang koridor Jalan Melati. Davin sudah berangkat kerja lebih awal karena ada rapat koordinasi triwulan di kantor pusat.
Selepas kepergian kekasihnya, Keira memanfaatkan kesunyian kamar untuk melanjutkan pekerjaannya. Di atas meja plastik kecil, di sebelah buku sketsa bersampul hitam, layar ponsel retaknya menyala menampilkan detail konsep proyek zine edisi kedua dari Rian.
Tema yang diusung kali ini adalah ‘Kota di Bawah Hujan’. Tema yang terasa begitu dekat, seolah menyatu dengan cuaca kelabu yang menaungi hari-harinya.
Rian mengirimkan beberapa poin narasi dan puisi pendek yang membutuhkan visualisasi.
Salah satunya menggambarkan sebuah halte bus tua di sudut kota yang lengang,
di mana seorang perempuan berdiri sendiri menatap tetesan air hujan tanpa membawa payung sebuah gambaran tentang kesunyian di tengah keramaian kota besar.
Keira membaca teks puisi tersebut berulang-ulang, meresapi setiap baris kata hingga membentuk bayangan visual di dalam kepalanya. Tangannya yang memegang pensil 2B mulai bergerak di atas permukaan kertas gambar bertekstur kasar.
Mulanya, goresan itu terasa kaku. Bayangan tentang pertanyaan Davin malam itu sempat berkelebat, mengganggu konsentrasi dan membuat garis arsirannya sedikit melenceng. Keira menghela napas panjang, menghentikan gerakannya, lalu memejamkan mata sejenak untuk menenangkan debar di dadanya.
Fokus, Kei. Ini duniamu, bisik suara kecil di dalam hatinya.
Ia menghapus garis yang salah dengan lembut, lalu kembali menari-nari di atas kertas. Kali ini, ia memasukkan seluruh emosi yang berkecamuk di dalam dadanya—rasa terkurung, kebingungan, serta kerinduan akan kebebasan ke dalam tarikan garis arsir yang membentuk genangan air dan pantulan lampu jalan yang buram.
Jam demi jam berlalu. Keheningan kamar kos hanya ditemani oleh suara rintik hujan yang menghantam atap seng dan desau angin dari ventilasi atas. Keira begitu tenggelam dalam pekerjaannya hingga ia tidak menyadari hari telah beranjak siang.
Ketika goresan terakhir pada bayangan jas hujan sosok perempuan di draf tersebut selesai disapukan, Keira menarik napas panjang. Ia mengangkat kertas itu, menerawangnya di bawah cahaya redup jendela. Gambar itu berhasil menangkap kesunyian yang ingin disampaikan oleh puisi Rian, sekaligus mencerminkan rasa terisolasi yang sedang ia rasakan di kamar kos ini.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa goresan tangannya bukan sekadar pelarian, melainkan sebuah bahasa yang jujur—sebuah cara bagi dirinya untuk berbicara ketika mulutnya dipaksa bungkam oleh keadaan.
Sementara itu, di lantai dua puluh gedung perkantoran Jalan Sudirman, suasana di divisi keuangan terasa jauh lebih menegangkan daripada deru hujan di luar sana.
Davin duduk di kursi kerjanya dengan tatapan kosong menatap layar komputer yang menampilkan lembar kerja kosong.
Pikirannya tidak berada di angka-angka laporan, melainkan pada satu masalah besar yang belum juga menemukan titik terang: salinan dokumen pembanding audit proyek cabang Bandung yang disimpan oleh Nadia di dalam laci meja kerjanya.
Semenjak insiden surat pemberitahuan verifikasi ulang dari auditor pusat minggu lalu, Davin tahu bahwa waktu yang dimilikinya tidak banyak. Meskipun atasan tingkat atas sempat menjanjikan perlindungan administratif untuk menjaga agar laporan akhir tetap lolos, keberadaan salinan data yang dipegang oleh Nadia tetaplah sebuah risiko yang besar jika perempuan itu memutuskan untuk melapor secara resmi ke komite etika perusahaan.
Davin tidak bisa membiarkan karier dan reputasi yang telah ia bangun dengan susah payah terancam oleh seorang staf keuangan.
Ia sudah mencoba berbagai cara untuk menekan Nadia mulai dari menegur di ruang rapat, mendiskreditkannya di hadapan tim, hingga memberikan tugas-tugas administratif yang melelahkan. Namun, perempuan itu tetap bergeming dan menyimpan dokumen tersebut di laci mejanya.
Menjelang jam istirahat siang, ketika sebagian besar pegawai divisi keuangan beranjak meninggalkan ruangan untuk makan di kantin lantai bawah, Davin melihat kesempatan itu.
Ia melirik ke arah meja kerja Nadia di sudut ruangan. Kursi itu tampak kosong; tas kerja Nadia tersampir di sandaran kursi, menandakan pemiliknya sedang pergi ke toilet atau pantry sebentar.
Jantung Davin berdegup kencang. Dorongan untuk bertindak di luar batas profesionalitas merayap di kepalanya. Ia harus memastikan di mana dokumen itu disimpan dan mencegah dokumen tersebut berpindah tangan.
Dengan langkah senyap, Davin bangkit dari kursi kerjanya. Ia berpura-pura berjalan menuju mesin pembuat kopi, melemparkan pandangan ke sekeliling untuk memastikan tidak ada rekan kerja lain yang memerhatikan gerak-geriknya. Suasana lantai itu kebetulan sangat sepi karena bertepatan dengan jam makan siang dan cuaca hujan di luar.
Davin berhenti tepat di samping meja kerja Nadia. Laci meja bagian bawah tampak tidak terkunci rapat.
Dengan tangan yang sedikit berkeringat, Davin menarik perlahan gagang laci tersebut.
Laci terbuka dengan derit halus.
Di dalam laci yang dipenuhi tumpukan map arsip itu, matanya langsung menangkap map plastik bening yang sama dengan yang pernah ia lihat dalam daftar referensi audit map berisi salinan lembar rekapitulasi anggaran pembanding yang diberi catatan tangan oleh Nadia.
Tanpa membuang waktu, tangan Davin terulur cepat ke dalam laci, berniat mengambil map tersebut untuk diamankan dari jangkauan siapa pun.
"Lagi nyari apa, Pak Davin?"
Sebuah suara dingin dan tajam tiba-tiba memecah keheningan sudut ruangan, menghempas punggung Davin hingga sekujur darahnya mendadak membeku di tempat.
Davin terkesiap hebat. Ia menarik tangannya dari laci bagaikan tersengat listrik, lalu berbalik badan dengan napas memburu.
Nadia berdiri kurang dari dua meter darinya, membawa segelas air hangat di tangan kanannya. Perempuan itu menatap Davin dengan sorot mata penuh peringatan sorot mata seseorang yang sudah menduga bahwa atasannya itu akan nekat melakukan tindakan di luar batas profesionalitas kantor.
Suasana di sudut ruangan lantai dua puluh itu mendadak terasa begitu mencekam, terjepit di antara ancaman korporat dan rahasia yang saling berbenturan di balik meja kerja.
Kembali ke Jalan Melati, di dalam kamar kos berukuran tiga kali tiga meter yang basah oleh sisa hujan, Keira baru saja selesai memotret draf ilustrasi edisi kedua dan mengirimkannya kepada Rian lewat pesan digital.
Tidak lama setelah foto itu terkirim, balasan dari Rian langsung masuk.
“Kak Keira! Ini bagus banget. Aku suka cara Kakak menggambarkan pantulan cahaya lampu jalan pada genangan air di bawah halte itu suasananya dapet banget, benar-benar sepi tapi hidup. Enggak ada revisi dari tim, kita langsung pakai ini ya!”
Membaca respons yang menyebutkan detail spesifik tersebut, rasa lelah di jemari Keira seketika terbayar lunas. Apresiasi yang jujur itu memberikan kehangatan tersendiri di dadanya.
Ia menutup ponselnya, merapikan meja, lalu merebahkan diri sejenak di tepi kasur.
Matanya menatap langit-langit kamar yang temaram.
Di luar sana, intrik kantor sedang bergerak mendekati titik didihnya. Namun di dalam ruangan sempit ini, Keira merasa ia baru saja menyalakan sebuah pelita kecil sebuah bukti bahwa di atas kertas basah dan ubin keramik yang dingin, ia mulai menulis ulang jalan hidupnya sendiri.