NovelToon NovelToon
The Silhouette Of Class

The Silhouette Of Class

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Dosen
Popularitas:811
Nilai: 5
Nama Author: Midtwilight03

"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."

Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.

Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.

Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.

Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16 Badai yang Mereda dan Perlindungan Nyata

Sinar matahari pagi menembus kaca-kaca besar perpustakaan di lantai dua, menumpahkan semburat keemasan di antara rak-rak buku yang menjulang tinggi. Debu-debu kecil menari perlahan di udara, seolah dunia di tempat itu berjalan jauh lebih tenang dibandingkan kekacauan yang masih bergemuruh di dalam dada Liora.

Gadis itu duduk sendirian di sudut meja yang tersembunyi dari lalu-lalang mahasiswa. Jemarinya yang dingin saling meremas di atas paha, sementara matanya terus-menerus melirik ke arah jarum jam dinding.

Sudah lebih dari satu jam sejak Ravian mengatakan bahwa ia sedang menyelesaikan urusan dengan Kaivan di lantai dasar.

Satu jam yang terasa seperti berhari-hari.

Setiap suara langkah kaki yang terdengar dari lorong luar membuat bahu Liora menegang. Setiap kali gagang pintu bergerak, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat sebelum kembali menghantam dadanya dengan keras.

Pikirannya dipenuhi kemungkinan-kemungkinan terburuk.

Bagaimana jika foto itu sudah tersebar?

Bagaimana jika Kaivan benar-benar menyerahkannya kepada Dekan?

Bagaimana jika nama Ravian ikut terseret?

Dan yang paling menakutkan, bagaimana jika semua ini menghancurkan masa depan mereka?

Liora menghela napas panjang, berusaha menenangkan diri. Namun rasa sesak di dadanya tak kunjung menghilang.

Kemudian... suara gesekan pintu kayu terdengar dari kejauhan.

Liora mendongak cepat.

Sosok tegap Ravian muncul di balik pintu. Langkahnya tenang dan mantap, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda seorang pria yang baru saja menghadapi masalah besar.

Jas abu-abu yang tadi dikenakannya sudah tidak terlihat. Ia hanya mengenakan kemeja putih dengan dua kancing bagian atas yang sengaja dilepas. Lengan kemejanya terlipat hingga siku, memperlihatkan garis otot yang tegas.

Namun bukan penampilannya yang membuat Liora terpaku. Melainkan ketenangan di wajahnya.

Tak ada kepanikan.

Tak ada amarah yang meledak-ledak.

Tak ada keraguan.

Hanya ketenangan mutlak yang selama ini selalu menjadi ciri khas pria itu.

Ravian menemukan keberadaan Liora di sudut ruangan. Tatapannya langsung tertuju kepada gadis itu, dan dalam sekejap, mimik wajah dingin yang biasa ia perlihatkan perlahan melunak.

Ia berjalan mendekat, menarik kursi kayu di samping Liora, lalu duduk tanpa banyak suara.

"P-Pak Ravian..." suara Liora akhirnya keluar, lirih dan sedikit bergetar. Matanya meneliti wajah pria itu seolah berusaha membaca jawaban sebelum pertanyaannya benar-benar selesai. "Bagaimana? Kaivan... apa dia..."

"Semuanya sudah selesai, Liora," Ravian memotongnya dengan suara rendah, tetapi penuh kepastian.

Tangannya terulur ke atas meja. Telapak tangannya yang hangat kemudian menutup jemari Liora yang masih dingin dan gemetar.

"Foto itu sudah dihapus permanen dari seluruh perangkat dan penyimpanan awannya. Tidak ada lagi salinan yang tersisa," tatapannya tak bergeser dari wajah Liora. "Dia juga sudah menandatangani surat pernyataan hukum di hadapan tim legal saya."

Liora terdiam.

Untuk beberapa detik, ia hanya mampu menatap Ravian dengan mata membelalak.

"Dihapus...?" bisiknya, seolah takut mempercayai kabar itu terlalu cepat. "Kaivan benar-benar menghapusnya?"

Ravian mengangguk pelan. "Dia tidak akan berani menyentuh namamu ataupun berkas itu lagi."

Jempolnya bergerak perlahan mengusap punggung tangan Liora. Gerakan sederhana itu terasa jauh lebih menenangkan daripada ribuan kata yang mungkin bisa diucapkan.

"Saya pastikan dia memahami batasannya."

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun bagi Liora, rasanya seperti pintu yang selama berjam-jam terkunci akhirnya terbuka.

Napas yang sejak tadi tertahan perlahan terlepas dari bibirnya. Bahunya yang tegang akhirnya luruh. Seluruh kekuatan yang ia gunakan untuk bertahan sejak kemarin seakan runtuh dalam satu tarikan napas.

Matanya mulai berkaca-kaca. "Syukurlah..." gumamnya nyaris tak terdengar.

Tanpa sadar, jemari Liora menggenggam balik tangan Ravian. Erat. Seolah tangan pria itu adalah satu-satunya benda yang mampu menahannya agar tidak kembali tenggelam dalam ketakutan.

"Terima kasih, Pak..." suaranya bergetar. "Maaf saya sudah merepotkan Bapak dan membawa masalah ini ke hidup Bapak."

Liora menundukkan kepala. Ada rasa bersalah yang berat menggantung di dadanya.

Namun Ravian justru mengeratkan genggamannya. "Lihat saya."

Liora perlahan mengangkat wajah.

Tatapan Ravian sudah berubah.

Ada sesuatu yang lebih dalam di sana. Sesuatu yang tidak bisa lagi disembunyikan di balik sikap profesional seorang dosen atau ketegasan seorang CEO.

"Bukan kamu yang merepotkan saya, Miss Arwen."

Ravian sedikit memajukan tubuhnya. Jarak di antara mereka menyempit, membuat Liora dapat merasakan kehangatan pria itu di tengah dinginnya perpustakaan.

"Tapi saya yang bertindak ceroboh karena membiarkan pria lain memiliki celah untuk mengancammu."

Liora menggeleng kecil. "Pak, itu bukan salah Bapak..."

"Saya tidak sedang mencari siapa yang salah," nada suara Ravian tetap tenang, tetapi ketegasannya membuat Liora terdiam.

"Saya hanya memastikan hal itu tidak akan terjadi lagi," Ravian berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Mulai hari ini, Pak Hendra akan mengawasi dan mengantarmu setiap kali kamu harus keluar dari area kampus."

Mata Liora langsung membulat. "Pak Hendra?" Ia berkedip beberapa kali. "Tapi... bukankah itu terlalu berlebihan, Pak? Nanti teman-teman di kampus malah semakin curiga."

"Saya tidak peduli dengan rasa penasaran mereka."

"Tapi..."

"Ini bukan tawaran, Liora," Ravian memotongnya dengan tegas. Tapi anehnya, tak ada sedikit pun kekasaran dalam tatapan pria itu.

Yang ada justru kekhawatiran yang begitu jelas hingga membuat hati Liora terasa menghangat.

"Keselamatan dan ketenanganmu adalah prioritas saya sekarang," jemari Ravian masih menggenggam tangannya.

"Di kampus, di kantor, atau di mana pun kamu berada..." suaranya merendah, seolah setiap kata sengaja ditanamkan agar Liora mengingatnya baik-baik, "tidak ada seorang pun yang boleh membuatmu ketakutan seperti kemarin."

Liora kembali terdiam.

Untuk pertama kali sejak semua masalah itu bermula, ia merasa benar-benar aman.

Bukan karena masalahnya telah selesai.

Bukan pula karena Kaivan sudah tidak lagi memiliki ancaman.

Melainkan karena ada seseorang yang berdiri di sisinya dan bersedia menjadi benteng ketika dunia terasa terlalu kejam.

Mata cokelat Liora bertemu dengan iris gelap Ravian. Tak ada lagi dinding dingin yang biasanya memisahkan mereka. Tidak ada lagi jarak yang cukup untuk menyembunyikan perasaan.

Liora dapat melihatnya dengan jelas sekarang, kekhawatiran yang selama ini disamarkan Ravian sebagai ketegasan, kelembutan yang bersembunyi di balik sikap dinginnya, dan rasa memiliki yang semakin sulit ditutupi.

Begitu pula sebaliknya.

Ravian tahu, sejak ia melihat mata Liora yang berkaca-kaca, bahwa perasaannya terhadap gadis itu telah melampaui batas yang seharusnya.

Dinding profesionalisme yang dahulu berdiri kokoh di antara seorang dosen dan mahasiswinya kini telah runtuh secara perlahan.

Dan di balik reruntuhan itu, ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya sekaligus jauh lebih indah.

Perasaan.

Perasaan yang tidak bisa lagi mereka pungkiri.

Di luar jendela, angin pagi bergerak lembut menggoyangkan dedaunan. Langit yang sejak kemarin terasa begitu berat kini perlahan berubah cerah.

Seolah badai telah benar-benar berlalu.

Namun bagi Liora dan Ravian, pagi itu bukan sekadar akhir dari sebuah masalah.

Itu adalah awal dari sesuatu yang tidak mungkin lagi mereka sembunyikan.

1
Sandiakala_
Ceritanya menarik, sukakkk😌🫰🏻
Sandiakala_
Lanjutannya mana Thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!