NovelToon NovelToon
MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

MODEL RAHASIA TEMAN KAKAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.

Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.

Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.

"Jangan sentuh!"

Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.

"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

Pagi harinya, pendar sinar matahari menembus jendela Ruang Melati dengan pancaran keemasan yang hangat. Namun, kehangatan itu sama sekali tak mampu mengikis ketakutan dan rasa hina yang masih membekas di benak Aluna. Semalaman ia tidak bisa tidur, terus dibayangi oleh sentuhan lancang Hayden di studio perbukitan itu.

Tekad Aluna sudah bulat. Ia tidak bisa terus-terusan menjadi boneka yang dikendalikan oleh keangkuhan Hayden Mahendra. Ia harus mencari jalan keluar sendiri demi mempertahankan sisa harga dirinya, sekaligus melunasi seluruh biaya rumah sakit kakaknya secara terhormat.

Pukul tujuh pagi, Aluna sudah merapikan selimut Romeo dan menyiapkan sarapan dari rumah sakit.

Romeo yang baru terbangun menatap adiknya dengan senyum tipis. "Pagi-pagi sekali kamu sudah rapi, Na. Ada kuliah pagi hari ini?"

Aluna menahan napas sejenak, memaksakan senyuman paling alami agar kakaknya tidak menangkap kebohongan di matanya. "Iya, Kak. Hari ini ada kelas pagi jam delapan. Dosennya ketat sekali, jadi Aluna harus jalan sekarang supaya tidak terlambat."

"Ya sudah, berhati-hatilah di jalan, Na. Jangan lupa sarapan juga," pesan Romeo lembut.

"Pasti, Kak. Aluna pamit ya," bisik Aluna seraya mencium tangan Romeo penuh hormat, lalu melangkah keluar dari Ruang Melati dengan ransel yang diapit erat di dadanya.

Namun, Aluna sama sekali tidak melangkahkan kakinya menuju kampus. Begitu keluar dari area Rumah Sakit Medika, ia merogoh amplop berisi lembaran riwayat hidup dan berkas lamaran kerja yang sudah ia persiapkan secara diam-diam. Hari ini, ia bertekad mendedikasikan seluruh waktunya untuk mencari pekerjaan.

*

Matahari kian meninggi, memancarkan terik yang membakar jalanan kota. Aluna menyusuri koridor-koridor pertokoan, pusat perbelanjaan, hingga deretan perkantoran kecil di pusat kota. Keringat membasahi dahi dan kemeja putihnya.

Satu per satu tempat ia datangi. Mulai dari toko pakaian, minimarket, hingga restoran cepat saji. Namun, jawaban yang ia terima selalu sama dan meruntuhkan harapannya.

"Maaf, Mbak, kami sedang tidak membuka lowongan."

"Dibutuhkan lulusan D3/S1 pengalaman minimal dua tahun, Mbak."

"Lowongan full-time saja, Mbak, tidak bisa paruh waktu."

Aluna mengusap pelan pelipisnya yang basah oleh keringat. Rasa lelah yang luar biasa menghantam fisik dan mentalnya. Kaki yang pegal terbungkus sepatu kets usang tak lagi dirasakannya saat memikirkan deretan angka biaya rumah sakit Romeo yang terus menumpuk.

Aku tidak boleh menyerah... Aku harus lepas dari bayang-bayang Hayden, batinnya meneguhkan diri.

Langkah kakinya terus membawa Aluna menyusuri kawasan komersial di sudut jalan besar yang agak rindang. Saat melewati sebuah bangunan berdesain aesthetic kayu dengan kaca-kaca besar bertuliskan "Lumière Coffee & Eatery", matanya menangkap selembar kertas ukuran A4 yang ditempel di kaca depan:

"DIBUTUHKAN SEGERA: BARISTA / SERVER SHIFT MALAM (PARUH WAKTU). DIBUTUHKAN SESEORANG YANG JUJUR & PEKERJA KERAS."

Jantung Aluna berdesir hebat. Tanpa membuang waktu, ia mendorong pintu kaca kafe itu. Denting bel kecil menyambut kedatangannya, disertai aroma harum biji kopi panggang dan mentega yang meruap hangat di udara.

Kafe itu cukup luas dan bernuansa tenang. Seorang wanita berusia awal tiga puluhan berpenampilan anggun dengan kemeja kasual sedang berdiri di balik meja kasir, memeriksa beberapa lembar resi penjualan.

Aluna melangkah mendekat dengan hembusan napas tertahan. "Permisi... Selamat siang, Mbak."

Wanita itu mendongak dan menyunggingkan senyum ramah. "Selamat siang. Ada yang bisa dibantu?"

"Saya melihat pengumuman lowongan kerja di kaca depan," ujar Aluna seraya menyodorkan amplop cokelatnya secara sopan. "Apakah lowongannya masih tersedia, Mbak? Saya Aluna, sangat berharap bisa mengisi posisi tersebut."

Wanita itu menatap Aluna dari atas ke bawah. Ia memperhatikan raut wajah Aluna yang kentara sangat lelah dan bajunya yang sedikit basah oleh keringat, namun memancarkan kebeningan dan kejujuran yang jujur.

"Saya Diana, pemilik kafe ini," jawab wanita itu ramah seraya menerima amplop Aluna. "Kebetulan sekali, karyawan shift malam kami baru saja mengundurkan diri kemarin karena ikut suaminya pindah kota. Mari duduk dulu di sana."

Mbak Diana menunjuk sebuah meja bundar di sudut kafe yang sepi. Mereka berdua duduk berhadapan. Mbak Diana membuka amplop tersebut dan membaca lembar demi lembar riwayat hidup serta dokumen pendukung milik Aluna dengan teliti.

"Kamu masih status mahasiswa aktif ya, Aluna?" tanya Mbak Diana.

"Benar, Mbak. Saya kuliah pagi sampai siang," sahut Aluna cepat. "Karena itu saya sangat membutuhkan pekerjaan shift malam. Saya berjanji akan bekerja keras, jujur, dan tidak akan mengganggu performa kerja walau harus membagi waktu dengan kuliah."

Mbak Diana menatapi mata Aluna yang berbinar penuh kesungguhan. Ada rasa keharusan dan tekad baja yang begitu kuat terpancar dari garis wajah gadis di hadapannya ini.

"Kenapa kamu sangat membutuhkan pekerjaan shift malam ini, Aluna? Shift malam di sini cukup menyita energi, dari jam 6 sore sampai jam 12 malam."

Aluna menelan saliva pelan, dadanya sedikit sesak mengingat situasi Romeo dan jeratan Hayden. "Kakak saya sedang dirawat di rumah sakit setelah operasi besar, Mbak. Saya harus mencari penghasilan sendiri untuk biaya hidup dan mencicil pengobatannya."

Atmosfer di meja itu mendadak hening sejenak. Mbak Diana mengangguk-angguk pelan, raut wajahnya melunak penuh empati. Ia melipat kembali berkas Aluna lalu menautkan jemarinya di atas meja.

"Jujur saja, saya menyukai kejujuran dan pancaran mata kamu, Aluna," kata Mbak Diana seraya tersenyum hangat. "Di bisnis kuliner, keterampilan bisa diajarkan dalam dua hari, tapi karakter dan tekad yang kuat itu jarang ditemukan. Kamu diterima."

Aluna tertegun seketika, matanya membelalak tak percaya. "M-maksud Mbak Diana... saya diterima kerja?"

"Iya, kamu diterima sebagai server sekaligus kasir untuk shift malam," ujar Mbak Diana mantap. "Gaji pokok akan dibayarkan setiap akhir bulan, dan ada insentif harian dari tips pengunjung. Jam kerjamu mulai pukul enam sore sampai kafe tutup jam dua belas malam."

Air mata haru mendadak menggenang di pelupuk mata Aluna. Senyum lega yang sudah lama tak dirasakannya kini merekah lebar di paras cantiknya. Beban berat yang menghimpit dadanya terasa sedikit terangkat.

"Terima kasih banyak, Mbak Diana! Terima kasih banyak atas kesempatannya! Saya janji akan bekerja sebaik mungkin!" ucap Aluna dengan suara bergetar dan membungkukkan badannya berkali-kali.

"Sama-sama, Aluna. Kamu bisa mulai bekerja besok malam," balas Mbak Diana ramah. "Hari ini kamu pulanglah dulu, istirahat dan temani kakakmu."

Aluna mengangguk mantap. Saat melangkah keluar dari kafe menuju jalan raya, matanya menatap langit siang yang cerah. Ia sudah menemukan pijakan awalnya sendiri—sebuah pekerjaan jujur yang akan menjadi senjatanya untuk terbebas dari cengkeraman sang master lukis yang dingin dan angkuh itu.

*

*

*

1
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Mia Camelia
Hayden makin gak bisa melepaskan Aluna nih🤭
𝐀⃝🥀Weny
baru aja baca, udah disuguhin Bombay banyak sama othor😭
Mia Camelia
siap thor 😁penasaran nih visual ny gimana😂
diga pues
+21☻️☻️☻️
diga pues
☻️☻️☻️
diga pues
serigala☻️
diga pues
ugh☻️
Mia Camelia
hayden obsesif banget ini mah ke aluna🤭
sukaa banget nih sama modelan ky hayden 😁
diga pues
ugh🌚
Ita Putri
haduuhh
bahaya Aluna
sudah dong Hayden kasihan aluna
Mia Camelia
lanjut thor😁
Mita Paramita
Thor nih novelnya sampai tamat kn? gak kayak novel kemarin yang dihapus? padahal lagi seru cerita ny
Mita Paramita: siap Thor 🔥🔥🔥🔥
semangat Thor 🔥🔥🔥
total 2 replies
Mia Camelia
seru banget thor😁😁😁
MissSHalalalal: terimakasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!