NovelToon NovelToon
[~ Seluruh Keluargaku Adalah Mafia ~]

[~ Seluruh Keluargaku Adalah Mafia ~]

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Misteri / Sistem
Popularitas:98
Nilai: 5
Nama Author: Bintang Pury A.

Di Tengah papan catur yang berkilauan, berdiri bidak ratu emas raksasa yang gagah dan berkuasa menjadi pusat perhatian, dikelilingi barisan bidak-bidak setia yang tak tergoyahkan. Langit di belakangnya bergolak dengan pijar galaksi, seolah menggambarkan dunia yang luas namun penuh rahasia dan kekuatan tersembunyi.

Simbol sempuna dari sebuah keluarga satu pemimpin utama yang memegang kendali, didukung seluruh anggota yang berdiri tegak bersama tak terpisahkan, tak terkalahkan. Di balik kemewahan dan keanggunan, tersimpan jarring kekuasaan yang mengatur segalanya. Setiap langkah adalah taktik, setiap senyuman menyimpan rahasia, dan setiap anggota adalah bagian dari permainan yang tak semua orang pahami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Pury A., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 Tujuh Bidak Satu Raja

Tepuk tangan perlahan mereda, digantikan suara percakapan yang kembali mengalun lembut di ruangan itu. Namun aku tetap berdiri di tempatku, jantung berdegup tak menentu, seolah setiap tatapan yang melintas telah meninggalkan jejak di kulitku. Daddy menurunkan tangannya perlahan, lalu menyapa beberapa tokoh penting yang mendekat wajahnya tetap tenang, senyumnya terukur sempurna, tak satu pun menampakkan beban yang baru saja ia ucapkan.

Aku melangkah mundur pelan, berniat menyisihkan diri sejenak. Sebelum aku sempat pergi, sebuah suara rendah terdengar di sampingku.

“Kau tidak biasa, bukan?”

Aku menoleh. Edward berdiri di sana, tatapannya tenang namun tajam, seolah ia bisa membaca apa yang tersembunyi di balik diamku.

“Edward...” suaraku terdengar lemah. “Bagaimana kau bisa begitu tenang? Semua ini... rasanya seperti kita bukan manusia biasa.”

Edward melirik sekilas ke arah Daddy yang kini dikelilingi kerumunan, lalu kembali menatapku. “Aku juga pernah merasakannya, Grace. Saat pertama kali Daddy memperkenalkanku pada sisi lain keluarga ini, aku hampir lari. Aku berpikir apakah aku akan menjadi bagian dari sesuatu yang kelam?” Ia berhenti sejenak, menyilangkan tangan di dada. “Tapi kemudian aku paham. Dunia di luar sana tidak seindah yang terlihat. Ketika orang-orang berkuasa ingin merampas apa yang menjadi milik kita, mereka tidak akan bertanya dulu siapa yang benar. Mereka hanya akan mengambil. Dan Daddy membangun kekuatan ini agar tak ada yang berani menyakiti kita.”

“Jadi kita menakut-nakuti orang lain supaya aman?” tanyaku pelan.

Edward menghela napas. “Kita tidak menakut-nakuti tanpa alasan. Tapi kita juga tidak membiarkan diri kita diinjak-injak. Ingat, Grace ketika semua orang memegang senjata, kau tak bisa berdiri dengan tangan kosong.”

Sebelum aku menjawab, Will mendekat, langkahnya tegap dan mantap. “Edward benar, Grace. Kau belum melihat apa yang terjadi pada keluarga lain yang tidak punya kekuatan. Mereka hancur. Dihancurkan oleh orang-orang yang tersenyum di depan wajah mereka.” Suaranya rendah namun tegas. “Aku akan berdiri di barisan paling depan jika ada yang berani menyentuhmu. Demi Daddy, demi Mommy, demi kalian semua. Itulah mengapa kami melakukan ini.”

Aku menatap kedua kakak laki-lakiku satu tenang mengatur segala rencana, satu siap melindungi dengan nyawanya. Keduanya tampak yakin, namun entah mengapa, aku justru merasa semakin jauh.

“Tapi bagaimana jika perlindungan ini justru mengurung kita?” tanyaku pelan. “Bagaimana jika suatu hari kita tidak bisa lagi membedakan antara melindungi... dan menindas?”

Keheningan menyelimuti kami sejenak. Lalu Charlotte muncul di sampingku, gaunnya berkilauan, senyumnya manis namun matanya serius. “Pertanyaan yang indah, Grace. Tapi dunia tidak berjalan dengan keindahan saja. Kau lihat mereka di sana?” Ia melirik para tamu. “Mereka tersenyum, berterima kasih, memuji nama Margaretha. Tapi di belakang punggung? Mereka menunggu celah. Satu kesalahan kecil, dan mereka akan menyerang. Aku tahu siapa yang berbicara buruk tentang kami. Aku tahu siapa yang berjanji setia namun merencanakan pengkhianatan. Itulah mengapa aku mengawasi mereka.”

“Dan kau tidak takut?” tanyaku.

Charlotte tersenyum tipis. “Takut? Tentu saja. Tapi aku lebih takut melihat keluargaku hancur.”

Henry yang sedari tadi berdiri agak jauh kini melangkah mendekat. Wajahnya tenang, matanya tajam seperti biasa. “Kau tidak perlu menyetujui semuanya sekarang, Grace. Tapi perhatikanlah. Amati. Dunia ini penuh dengan permainan yang tak semua orang pahami. Setiap orang punya topeng. Kita bukan satu-satunya yang memakainya.”

“Tapi apakah topeng kita paling berat?” tanyaku.

Henry diam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Mungkin. Tapi kita memakainya bersama-sama.”

George ikut bergabung, rahangnya kokoh, tatapannya lurus. “Aku tidak suka berputar-putar dengan kata-kata manis,” ucapnya jujur. “Jika ada yang menyakiti salah satu dari kita, aku akan membuat mereka menyesal. Bukan karena aku kejam. Tapi karena aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti keluargaku.” Ia berhenti, suaranya melembut. “Itulah yang diajarkan Daddy kepada kita. Kesetiaan di atas segalanya.”

Aku menatap mereka satu per satu Edward, Will, Charlotte, Henry, George. Masing-masing dengan cara sendiri, masing-masing dengan keyakinannya. Lalu tatapanku jatuh pada Sophie yang berdiri sedikit di belakang, menatapku dengan mata yang penuh pengertian. Ia melangkah maju dan merangkul lenganku pelan.

“Kau tidak harus sama dengan kami, Grace,” bisiknya lembut. “Kau boleh takut. Kau boleh ragu. Itu tidak membuatmu kurang bagian dari keluarga ini. Tapi tolong... jangan menjauh dari kami. Saat kau siap, kami ada di sini.”

Air mata hampir menetes di mataku. Aku mengangguk pelan, menelan benjolan di tenggorokan. Tujuh bersaudara. Tujuh arah yang berbeda, namun menuju satu tempat yang sama.

Saat itu Daddy berbalik dan melihat kami berkelompok. Ia mengangguk pelan, memberi isyarat agar kami mendekat. Ketujuh kami berjalan beriringan langkah serempak, bahu sejajar. Kerumunan memberi jalan, hening dan hormat.

Daddy menatap kami, satu per satu, lalu berkata cukup keras agar hanya kami yang mendengar.

“Kalian adalah kekuatanku. Tujuh tiang yang menopang rumah ini. Tidak ada satu pun yang boleh jatuh. Tidak ada satu pun yang boleh berjalan sendiri. Jika satu terluka, semua terluka. Jika satu jatuh, semua bangkit mengangkatnya.” Ia berhenti, menatapku khususnya. “Grace... aku tahu beban ini berat. Tapi kau tidak memikulnya sendirian. Kami ada.”

Aku menatap wajah-wajah di sekelilingku Daddy yang tampak tegar namun lelah, Mommy yang menatapku dengan kasih sayang tanpa syarat, dan kakak-kakakku yang siap berdiri di antara aku dan dunia.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk. “Baik, Daddy. Aku akan mencoba.”

Tapi di sudut hatiku yang paling dalam, aku tahu satu hal. Pertanyaan-pertanyaan ini belum usai. Keraguanku belum hilang. Dan suatu hari nanti, aku harus memilih apakah aku akan ikut mengalir bersama arus yang gelap ini... atau aku akan menjadi satu-satunya yang berani menentang arahnya.

Malam itu, saat pesta berakhir dan lampu-lampu mulai dipadamkan, aku berdiri sendirian di jendela kamarku, menatap ke arah taman yang gelap. Di luar sana, dunia tidur tanpa tahu apa yang tersembunyi di balik dinding tinggi rumah ini. Dan di dalam sini, aku berdiri di persimpangan yang tak terlihat siapa pun antara cinta kepada keluargaku... dan kebenaran yang perlahan mulai kutemukan.

...~ Bersambung ~...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!