"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"
Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.
"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?
Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...
Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Izin yang Salah Alamat
"Enggak usah nasi, Kak. Samain aja kayak Rafka, tapi aku mau minumnya moka float ya. Kentangnya yang ukuran besar sekalian," jawab Keisha akhirnya, memberikan keputusan jalan tengah.
"Tunggu di meja. Biar Kakak yang pesan," perintah Satria formal.
"Siap, Pak Mayor! Laksanakan!" Keisha memberikan gestur hormat pramuka yang asal-asalan, membuat sudut bibir Satria sempat berkedut tipis sebelum pria itu berbalik menuju antrean kasir.
Keisha segera menggandeng tangan Rafka mencari meja kosong di sudut ruangan yang agak dekat dengan jendela kaca besar. Begitu mendapatkan tempat yang pas, Rafka langsung sibuk mengeluarkan robot dinosaurusnya dari kotak, memainkannya di atas meja dengan riang.
Sementara Rafka sibuk dengan dunianya, mata Keisha iseng bergerak memperhatikan sosok Satria yang sedang berdiri mengantre di depan kasir. Harus Keisha akui secara objektif, pesona kakak iparnya itu memang tidak main-main. Meski hanya mengenakan kaos polo kasual dan celana chinos, postur tubuh tegap, dada bidang, serta aura maskulin yang melekat pada diri Satria dengan sukses mencuri perhatian beberapa wanita di dalam restoran.
Keisha melihat jelas ada dua orang remaja perempuan di antrean sebelah yang diam-diam melirik Satria sembari berbisik-bisik genit. Bahkan mbak-mbak kasir yang melayani pesanan Satria pun tampak tersenyum lebih ramah dan merona merah saat berbicara dengan sang Mayor.
"Cih, dasar kanebo kering. Di mana-mana selalu bikin Ibu-ibu sama anak gadis orang terpesona," gerutu Keisha dalam hati, ada sedikit rasa geregetan yang menggelitik hatinya tanpa alasan yang jelas.
Tidak butuh waktu lama bagi Satria untuk membawa nampan besar berisi pesanan mereka. Pria itu meletakkan dua piring ayam goreng berbalut tepung renyah, dua porsi kentang goreng ukuran besar, dan minuman mereka dengan sangat rapi di atas meja, lalu mengambil tempat duduk tepat di hadapan Keisha.
"Wah! Ayamnya besar sekali!" Rafka bersorak kegirangan, langsung menyambar sepotong ayam dan melahapnya dengan lahap.
Keisha mengambil satu buah kentang goreng, mencocolnya ke dalam saus sambal, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Matanya melirik Satria yang mulai makan dengan sangat tenang dan rapi, khas didikan militer yang tidak pernah bersuara saat mengunyah.
Jiwa jahil dan ceplas-ceplos Keisha mendadak meronta-ronta melihat ketenangan pria di depannya. Keisha menopang dagunya dengan tangan kiri, lalu menjulurkan kepalanya sedikit maju ke depan meja sembari tersenyum menyindir.
"Kak," panggil Keisha setengah berbisik.
Satria menghentikan gerakan tangannya, mendongak menatap adik iparnya datar. "Apa?"
"Kakak lihat deh ke arah jam dua dari posisi Kakak," ujar Keisha sembari mengedipkan matanya jenaka. "Itu ada mbak-mbak pakai baju kuning dari tadi ngelihatin Kakak terus sampai hampir salah nyuap kentang ke hidung. Terus tadi mbak kasirnya juga senyumnya manis banget kayak sirup ditaruh gula."
Satria tidak menoleh sama sekali ke arah yang ditunjukkan Keisha. Dia tetap menatap lurus pada wajah ceria gadis di hadapannya. "Lalu?"
"Ya ampun, responnya dingin banget sih!" Keisha mendengus absurd, lalu kembali mengunyah kentang gorengnya. "Maksud aku ... Kakak lihat tuh, banyak banget cewek yang terpesona sama Kakak di mal ini. Makanya, buruan buka hatinya, Kak. Memangnya Kakak enggak mau jatuh cinta lagi apa? Bosan tahu lihat Kakak tiap akhir pekan mukanya ditekuk terus kayak cucian belum disetrika."
Mendengar sindiran tajam bernada gurauan dari Keisha, Satria perlahan meletakkan kembali potongan ayamnya ke atas piring. Suasana di sekitar meja mereka mendadak berubah drastis. Keheningan yang pekat dan intens tiba-tiba saja melingkupi kedua orang dewasa itu, memotong keriuhan restoran cepat saji tersebut dalam sekejap.
Satria memajukan sedikit tubuhnya, menumpukan kedua lengannya di atas meja. Mata hitam pekatnya menatap dalam, mengunci seluruh fokus pada manik mata Keisha dengan keseriusan yang mutlak hingga membuat Keisha mendadak berhenti mengunyah.
"Memangnya kamu izinkan Kakak jatuh cinta lagi?" tanya Satria. Suaranya terdengar sangat berat, dalam, dan sama sekali tidak ada nada bercanda di dalamnya.
Uhuk!
Keisha hampir saja menyemburkan potongan kentang yang ada di dalam mulutnya. Wajahnya mendadak terasa panas, dan jantungnya memberikan hantaman keras yang tidak sah di dalam dadanya. Dia benar-benar tidak menduga pertanyaan seberani dan seserius itu akan keluar dari mulut seorang Mayor Satria Pramudya di tengah-tengah restoran ayam.
Keisha buru-buru menyambar gelas moka float-nya, meminumnya dengan cepat untuk menetralkan rasa gugup dan kegilaan yang mendadak menyerang sistem sarafnya. Setelah berhasil menguasai diri, Keisha mencoba mengembalikan mode barbarnya agar tidak terlihat salah tingkah.
"Lah! Kenapa tanya ke aku, Kak? Salah alamat tahu!" balas Keisha dengan nada ketawa yang dipaksakan, mencoba menganggap kalimat Satria sebagai angin lalu. "Aku mah setuju-setuju aja seratus persen! Ayah sama Ibu juga tadi siang udah bilang kan kalau mereka ikhlas banget kalau Kakak mau nikah lagi. Kita semua dukung kok kalau Kakak mau cari Ibu baru buat Rafka. Jadi enggak usah minta izin ke aku, Kak, langsung gasspoll aja!"
Keisha kembali mengambil sebatang kentang goreng dengan gerakan cepat, berpura-pura sibuk mengunyah demi menyembunyikan rona merah yang samar-samar mulai merayap di kedua belah pipinya.
Satria tidak memutuskan kontak mata mereka. Dia memperhatikan bagaimana mata Keisha bergerak gelisah ke sana kemari, menghindari tatapannya. Sudut bibir kaku pria berusia 33 tahun itu kembali terangkat seulas—sangat tipis, hampir tidak terlihat, namun menyimpan sebuah kepuasan tersendiri melihat adik iparnya yang barbar itu akhirnya bisa dibuat mati kutu.
"Begitu?" ucap Satria pendek, suaranya kembali terdengar dingin namun ada nada misterius yang tertinggal di sana. Pria itu kembali mengambil potongan ayamnya dan melanjutkan makannya dengan tenang, seolah-olah dia tidak baru saja membuat dunia Keisha jungkir balik dalam hitungan detik.
Keisha batinnya menjerit histeris. "Gila, gila, gila! Ini Kak Satria beneran makin aneh! Pertanyaannya kenapa bikin baper begini sih? Ingat Keisha, dia kakak ipar kamu! Dia tentara kaku yang super galak! Jangan mau terpesona!"
Sementara itu, Rafka yang duduk di sebelah Keisha sama sekali tidak menyadari perang urat saraf dan ketegangan menggemaskan yang baru saja terjadi di atas meja makan. Bocah itu dengan riang menyodorkan potongan kentangnya yang penuh saus tomat ke arah Keisha. "Tante Kei, suapin kentangnya dong! Rafka kesusahan sambil pegang robot!"
"Eh? Oh ... iya, sini Jagoan, Tante suapin," jawab Keisha dengan suara yang agak kagok, buru-buru mengalihkan seluruh fokusnya pada Rafka demi menyelamatkan hatinya yang masih berdegup kencang akibat tatapan mematikan sang Mayor.
Dari balik gelas minumannya, Satria kembali melirik diam-diam ke arah Keisha yang sedang sibuk membersihkan sisa saus di sudut bibir Rafka menggunakan tisu dengan telaten. Sorot mata dingin sang Mayor perlahan melunak, digantikan oleh kehangatan tersembunyi yang mengalir lambat seiring berjalannya waktu di dalam mal malam itu.
Bersambung...