NovelToon NovelToon
Datang Untuk Membayar

Datang Untuk Membayar

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Iblis
Popularitas:295
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

DATANG UNTUK MEMBAYAR

(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)

"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."

Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.

Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.

Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.

Siapa yang baru saja membayar?



Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: OLAH TKP DI BALIK TEMBOK

Malam Senin tanggal sembilan merayap perlahan menyelimuti permukiman gang di kawasan dingin Kota Malang.

Lampu gantung porselen di ruang tengah menyinari wajah Dini dan Ranti yang duduk bersandar kaku di sofa kayu.

Keheningan malam terasa begitu pekat di balik pintu kayu yang terkunci dua putaran dari dalam.

Ganjal kayu jati tebal tertancap kokoh di ambang pintu samping, menahan hembusan angin dingin luar.

"Bu... pintu samping sudah dipastikan terkunci rapat nggih?" bisik Dini menatap ke arah koridor.

"Sampun, Din. Selot besi dan ganjal kayu jati sudah Ibu pasang kencang," sahutku berbisik pelan.

"Mbak Dini tadi sore sempat dengar suara orang di luar mboten?" tanya Ranti cemas.

"Mboten ada suara apa-apa, Ran. Cuma bau tanah basah saja yang tercium," jawab Dini menggeleng.

"Ibu juga mboten dengar suara langkah kaki di luar," timpalku menenangkan kedua putriku.

"Tapi bau tanah basah tadi sore benar-benar menyengat banget ya, Bu?" tanya Dini lagi.

"Iya, Din. Makanya kita semua harus tetap waspada dan mboten boleh keluar rumah malam ini," pesanku tegas.

"Ranti takut kalau nanti malam ada yang ngetok pintu samping lagi, Bu," bisik Ranti gemetar.

"Mboten usah takut, Ran. Kita berdoa bersama dan saling menjaga di dalam rumah," balasku mengusap bahunya.

Pukul sepuluh malam lewat dua puluh menit, hawa dingin dari lereng gunung menyusup tipis dari celah ventilasi.

Aroma tanah merah yang agak amis kusam menguap samar, mengendap di sekitar ubin koridor samping.

Aku memeluk erat kedua bahu putriku, memberikan rasa hangat di tengah keheningan ruangan yang membeku.

"Kita tidur di kamar utama bertiga malam ini nggih," ajakku pada Dini dan Ranti.

"Inggih, Bu. Ranti mboten mau tidur sendiri di kamar depan," sahut Ranti mengangguk cepat.

"Pintu kamar utama juga diganjal kursi kayu saja, Bu," usul Dini menambahkan.

"Iya, Din. Ayo kita masuk kamar sekarang," balasku mengusap lembut punggung mereka.

"Lampu ruang tengah biarkan menyala terang nggih, Bu?" tanya Ranti menengok ke belakang.

"Iya, Ran. Lampu ruang tengah dan koridor samping tetap kita biarkan menyala," sahutku setuju.

Kami bertiga melangkah masuk ke kamar tidur utama, memutar kunci kuningan dan menggeser kursi ganjal kayu.

Lampu tidur kecil berwarna kuning redup menyinari meja rias jati tempat laci penyimpanan kain dulu berada.

Di atas tempat tidur, Dini dan Ranti berbaring berdampingan di bawah selimut kain tebal.

Pukul sebelas malam lewat empat puluh menit, suara gesekan tipis terdengar dari arah dinding semen luar.

Srok... srok...

Suara itu terdengar sangat pelan, mirip gesekan kain kusam yang terseret kaku di atas tanah basah.

Dini terbangun seketika, menatapku dengan mata terbuka lebar dalam kegelapan kamar yang redup.

"Bu... Ibu dengar suara gesekan itu mboten?" bisik Dini menahan napasnya.

"Dengar, Din. Tetap tenang dan jangan bersuara sama sekali," bisikku memegang jemari tangannya.

"Suaranya persis di balik tembok pekarangan belakang rumah sebelah ya, Bu?" tanya Dini sangat pelan.

"Iya, Din. Ibu minta kalian berdua tetap diam dan jangan bergerak," bisikku menegaskan.

"Ranti pegang selimut rapat-rapat nggih, Mbak," bisik Ranti ketakutan.

"Iya, Ran. Mbak ada di samping Ranti kok," sahut Dini menggenggam tangan adiknya.

Suara gesekan tipis itu berlangsung sekitar tiga menit di balik tembok batas pekarangan belakang Maya.

Setelah itu, keheningan kembali melingkupi lorong samping tanpa ada ketukan atau panggilan suara kata.

Aroma tanah basah yang menyengat perlahan-lahan memudar seiring berjalannya waktu menuju larut malam.

Kami bertiga bertahan di dalam kamar utama hingga fajar hari Selasa tanggal sepuluh membias terang.

Cahaya fajar menembus celah ventilasi kayu, menandai dimulainya hari baru di permukiman gang kami.

Pukul enam pagi, aku memutar kunci kuningan kamar utama dan melangkah keluar menuju dapur kecil.

Dini dan Ranti menyusul dari belakang, menyapu teras depan sembari melihat suasana di luar pagar.

"Suasana gang pagi ini masih sepi banget ya, Bu," ujar Dini memegang gagang sapu.

"Iya, Din. Warga gang biasanya baru ramai belanja jam tujuh lewat," jawabku mengangguk.

"Garis polisi di teras rumah sebelah mboten ada yang menyentuh kan, Bu?" tanya Ranti menunjuk ke sebelah.

"Mboten ada, Ran. Pita kuningnya masih terikat kencang di tiang teras," sahut Dini membenarkan.

Garis polisi kuning hitam di teras rumah sebelah memang masih terbentang kaku menutupi jalan masuk utama.

Daun-daun kering pohon mangga yang gugur semalam berserakan kusam di atas ubin teras rumah Maya.

Pukul delapan pagi lewat tiga puluh menit, deru mesin sepeda motor dinas kepolisian terdengar memasuki gang.

Bripka Haryono datang bersama seorang petugas tim identifikasi Polsek yang membawa koper besi kuning.

Pak RT dan Pak Wo berjalan cepat mendampingi dua petugas kepolisian tersebut menuju teras rumah kami.

"Selamat pagi, Bu Sari, Pak RT, Pak Wo," sapa Bripka Haryono menganggukkan kepala secara sopan.

"Selamat pagi, Pak Bripka, Pak RT, Pak Wo," sahutku menyambut kedatangan mereka di pagar teras.

"Sesuai rencana kemarin, kami datang untuk olah tempat kejadian perkara lanjutan di dalam rumah Bu Maya," terang Bripka Haryono.

"Niki petugas tim identifikasi Polsek yang bakal meneliti bekas jejak di dalam," tambah Bripka Haryono mengenalkan temannya.

"Matur nuwun sanget atas kedatangan tim Polsek, Pak Bripka," balasku mengangguk mantap.

"Pemeriksaan hari ini fokus pada bagian dapur dan kamar tengah nggih, Pak Bripka?" tanya Pak RT memastikan.

"Inggih, Pak RT. Kami bakal meneliti seretan tanah merah dan mencari barang bukti tambahan," jawab Bripka Haryono.

"Kulo dan Pak Wo siap mendampingi proses pemeriksaan dari dekat," ujar Pak RT.

"Mari kita menuju pintu dapur belakang yang kemarin sudah dipasang garis polisi," ajak Bripka Haryono mengarahkan.

Bripka Haryono, petugas identifikasi, Pak RT, Pak Wo, dan aku melangkah menyusuri lorong samping rumah.

Di atas ubin semen lorong samping, butiran tanah merah basah kemarin telah mengering menjadi bercak kusam.

Petugas identifikasi memperhatikan bercak tanah merah kering itu sebelum mengangkat pita garis polisi di dapur belakang.

"Bercak tanah merah di ubin lorong samping ini kelihatan memanjang ke arah tembok batas nggih?" tanya petugas identifikasi.

"Inggih, Pak Polisi. Kemarin sore bercak tanah merah niki sempat tercium bau basah," jawabku menjelaskan.

"Kami catat dulu posisi bercak tanah ini sebagai bahan pembanding di lapangan," kata Bripka Haryono.

Petugas identifikasi mengangguk pelan, lalu melepaskan ikatan pita garis polisi di pintu dapur belakang.

Kreeek...

Petugas membuka daun pintu kayu dapur rumah Maya yang kemarin telah diselidiki secara awal.

Hawa dingin lembap dan aroma debu tua menguar keluar melintasi ambang pintu dapur rumah sebelah.

Petugas identifikasi mengeluarkan lampu sorot portabel dan bubuk pemutus jejak dari dalam koper besi kuningnya.

Lampu sorot menyala terang, menyinari ubin semen dapur yang berdebu dan berantakan tak teratur.

Aku, Pak RT, dan Pak Wo berdiri tertib di balik ambang pintu dapur, memperhatikan proses pemeriksaan.

Petugas identifikasi berjongkok di atas ubin dapur, mengukur panjang bekas seretan tanah merah yang mengering.

"Bekas seretan tanah merah ini lebarnya sekitar tiga puluh sentimeter, Pak Bripka," ujar petugas identifikasi.

"Garis seretan ini memanjang dari ambang pintu dapur menuju lorong kamar tengah," lanjut petugas identifikasi.

"Apakah ada sidik jari atau jejak telapak kaki yang teridentifikasi di ubin dapur?" tanya Bripka Haryono.

"Tekstur tanah merah di ubin ini terlalu kering dan tebal, jadi sidik sepatu agak kabur," jawab petugas identifikasi.

"Tapi pola seretan ini jelas menunjukkan ada benda berat yang ditarik melintasi ubin," tambah petugas identifikasi.

"Iya, Pak Polisi. Jejak seretan ini kelihatan ditarik lurus menuju kamar tengah," timpal Pak Wo mengamati.

Petugas identifikasi melangkah masuk ke dalam kamar tengah rumah Maya untuk melakukan olah TKP lanjutan.

Lampu sorot portabel diarahkan ke kolong tempat tidur kayu jati yang tertutup debu kusam di kamar tengah.

Di sudut kolong tempat tidur kayu itu, petugas identifikasi menemukan sebuah kotak kayu kecil berlapis seng.

Kotak kayu kecil itu terbungkus kantong plastik kusam yang tertutup kerak tanah merah basah mengering.

"Lihat ini, Pak Bripka. Ada kotak kayu kecil yang tersembunyi di kolong tempat tidur," ujar petugas identifikasi.

"Tolong dikeluarkan hati-hati memakai sarung tangan karet," perintah Bripka Haryono menegaskan.

"Iya, Pak Bripka. Kotak kayu ini posisinya mepet sekali di sudut tembok kamar," sahut petugas identifikasi.

Petugas identifikasi menarik kotak kayu kecil itu dari kolong tempat tidur dengan gerakan sangat cermat.

Kotak kayu kusam itu diletakkan di atas meja makan dapur yang tertutup debu tua di depan kami.

"Kira-kira apa isi di dalam kotak kayu kecil niki, Pak Polisi?" tanya Pak RT penasaran.

"Mari kita buka bersama di hadapan pengurus RT dan saksi warga," sahut Bripka Haryono pelan.

"Tolong disaksikan dengan teliti nggih, Pak RT dan Bu Sari," pesan Bripka Haryono pada kami.

"Inggih, Pak Bripka. Kami menyaksikan dari dekat," sahutku bersama Pak RT.

Petugas identifikasi membuka engsel kuningan kotak kayu kecil itu di bawah sorotan lampu penerang.

Di dalam kotak kayu kusam tersebut, tersimpan sebuah buku catatan utang piutang bertuliskan nama Maya.

Buku catatan sampul batik kusam itu tampak lembap dengan bercak tanah merah mengering di sudut kertasnya.

Bripka Haryono membuka lembaran buku catatan itu memakai sarung tangan transparan secara perlahan.

Di lembaran bagian tengah buku catatan, tertera tulisan tangan tinta hitam yang agak luntur.

Beberapa rincian catatan angka dan tanggal transaksi tercantum rapi di atas lembaran kertas kusam itu.

Di baris paling bawah halaman tengah, tercatat nama Sari beserta nominal uang tiga puluh ribu rupiah.

Di samping nama dan nominal tersebut, tertulis tanggal delapan dengan lingkaran tinta merah yang memudar.

"Lho... niki kan catatan utang piutang milik Mbak Maya?" cetus Pak Wo terkejut melihat buku itu.

"Iya, Pak Wo. Di halaman ini ada nama Bu Sari dan nominal uang tiga puluh ribu," ujar Bripka Haryono.

"Gusti Allah... catatan tiga puluh ribu itu memang sisa uang belanja yang belum diambil Maya," bisikku gemetar.

"Buku catatan niki makin memperjelas adanya catatan janji transaksi antara Bu Maya dan Bu Sari," terang Pak RT.

"Buku catatan utang piutang niki kami amankan resmi sebagai barang bukti tambahan," tegas Bripka Haryono.

"Lalu nominal utang warga lain apakah tercantum juga di dalam buku itu, Pak Bripka?" tanya Pak RT.

"Wonten beberapa nama warga gang lain yang dicatat di halaman depan," jawab Bripka Haryono memeriksa lembaran.

"Tapi catatan tanggal delapan yang dilingkari merah cuma ada di baris nama Bu Sari," tambah Bripka Haryono.

"Inggih, Pak Bripka. Langkah amankan barang bukti niki sangat tepat untuk penyelidikan," timpal Pak RT setuju.

Petugas identifikasi memasukkan buku catatan sampul batik itu ke dalam kantong plastik bukti transparan.

"Selain buku catatan niki, apakah ada barang lain di dalam kamar tengah?" tanya Bripka Haryono.

"Kondisi kamar tengah kosong, tidak ada pakaian lain atau dokumen pribadi yang tertinggal," jawab petugas identifikasi.

"Berarti bukti fisik di dalam rumah Bu Maya untuk sementara sudah cukup kami kumpulkan," kata Bripka Haryono.

"Kami bakal minta keterangan dari saksi tukang sayur keliling siang ini di Polsek," tambah Bripka Haryono.

"Tukang sayur yang sempat lihat Rian bawa karung hari Sabtu lalu nggih, Pak?" tanya Pak RT memastikan.

"Inggih, Pak RT. Keterangan saksi tukang sayur itu sangat penting untuk menelusuri arah kaburnya Rian," jawab Bripka Haryono.

"Inggih, Pak Bripka. Kami pengurus RT siap membantu kalau ada panggilan pemeriksaan saksi warga," sahut Pak RT.

"Bu Sari, tolong tetap tenang dan jangan ragu melapor kalau ada hal ganjil lagi," pesan Bripka Haryono.

"Inggih, Pak Bripka. Kulo pasti langsung menghubungi Pak RT dan Polsek," balasku mengangguk mantap.

Petugas identifikasi merapikan kembali peralatan olah TKP ke dalam koper besi kuningnya.

Bripka Haryono memasang kembali pita garis polisi melintasi pintu dapur belakang rumah Maya secara rapat.

Klip!

Pasak kayu pengikat garis polisi tertancap kokoh di sudut dinding semen pekarangan belakang.

Garis polisi kuning hitam itu kini mengurung seluruh rahasia di dalam rumah tetangga sebelah kami.

Aku melangkah kembali ke teras rumahku bersama Pak RT dan Pak Wo yang hendak pamit pulang.

"Matur nuwun sanget, Bu Sari, sudah mendampingi pemeriksaan sampai selesai," ujar Pak RT di teras depan.

"Sami-sami, Pak RT. Kulo juga mengucapkan terima kasih atas bantuan Pak RT dan Pak Wo," sahutku.

"Kalau ada kabar terbaru dari Polsek soal saksi tukang sayur, kulo langsung kabari," janji Pak RT.

"Inggih, Pak RT. Kulo nunggu kabar resmi dari Pak RT saja," balasku mengangguk.

Pak RT dan Pak Wo melangkah meninggalkan teras rumah kami, menyusuri jalan gang yang mulai hangat.

Matahari pagi hari Selasa tanggal sepuluh bersinar hangat menembus celah dahan pohon mangga tua.

Penemuan buku catatan utang berkerak tanah merah menjadi fakta baru dalam penyelidikan resmi Polsek.

Namun, jawaban tentang di mana keberadaan Maya dan Rian masih menjadi misteri kaku di balik garis polisi.

Aku berdiri di dekat tiang teras, menatap pintu samping rumahku yang tertutup ganjal kayu jati tebal.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!