NovelToon NovelToon
Super Sistem Pekerjaan Impian

Super Sistem Pekerjaan Impian

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:9.6k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Setelah dipecat dari pekerjaannya dan diputuskan oleh sang pacar di hari yang sama, Bima Aditama mengira hidupnya telah hancur, hingga sebuah "Sistem Pekerjaan Impian" mendadak muncul dan memutarbalikkan nasibnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Udara siang di Universitas Nusantara terasa cukup terik saat Bima melangkah keluar dari ruangan kelas 4A.

Suasana di dalam kelas yang tadinya riuh layaknya pasar malam kini telah berubah menjadi keheningan yang canggung.

Puluhan mahasiswa kaya yang sebelumnya bertingkah sombong kini hanya bisa duduk manis menatap kepergian dosen baru mereka.

Langkah kaki Bima bergema pelan di sepanjang lorong fakultas yang sepi.

Dia merogoh saku celana jinsnya saat merasakan getaran panjang dari ponsel murahan miliknya.

Layar ponsel itu menampilkan sebuah pesan masuk dari Nadhira.

"Bima, kamu sedang sibuk gak siang ini?"

"Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan denganmu secara langsung."

"Temui aku di Restoran Daun Kemangi jam satu siang, aku sudah memesan tempat."

Bima membaca pesan bernada perintah khas CEO itu sambil tersenyum tipis.

'Wanita ini benar-benar tidak suka membuang waktu dengan basa-basi,' batin Bima geli.

Dia mengetik balasan singkat menyetujui ajakan tersebut lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu siang, waktu yang pas untuk mencari makan siang gratis dari mantan bosnya.

Bima berjalan menuju area parkir khusus dan masuk ke dalam kabin Lamborghini Urus hitam miliknya.

Vrooom.

Mesin buas itu mengaum memecah kesunyian area parkir kampus elit tersebut.

Mobil mewah itu melesat membelah kemacetan kota dengan sangat mulus berkat insting mengemudi profesional yang Bima miliki.

Restoran Daun Kemangi adalah salah satu restoran tradisional kelas atas yang sering dikunjungi oleh para pejabat dan pengusaha.

Hanya butuh waktu dua puluh menit bagi Bima untuk tiba di area lobi restoran yang asri dan dipenuhi pepohonan rindang.

Dia menyerahkan kunci mobilnya kepada petugas valet yang langsung menyambutnya dengan sikap sangat hormat.

Bima melangkah masuk ke dalam restoran dan menyebutkan nama Nadhira kepada resepsionis di pintu depan.

Seorang pelayan wanita langsung mengantarnya menuju sebuah paviliun privat yang terpisah dari ruang makan utama.

Paviliun itu dikelilingi oleh kolam ikan koi yang jernih dan suara gemericik air buatan yang sangat menenangkan.

Di dalam paviliun, Nadhira sudah duduk menunggunya dengan postur anggun yang sempurna.

Wanita itu mengenakan blus sutra berwarna krem yang membalut tubuhnya dengan sangat pas.

Wajahnya yang biasanya dingin kini terlihat sedikit lebih rileks dan berseri.

"Tumben sekali bos besar mengajak mantan karyawannya makan siang di hari kerja," sapa Bima memecah keheningan.

Dia menarik kursi kayu berukir itu dan duduk tepat di seberang Nadhira dengan gaya santai.

Nadhira meletakkan cangkir teh hangatnya dan menatap Bima dengan lekat.

"Kamu ini selalu saja memanggilku bos besar padahal kekayaanmu jauh lebih banyak dariku sekarang," balas Nadhira sambil mendengus pelan.

"Lagipula, ada kabar bagus yang ingin aku sampaikan padamu hari ini."

Bima menyandarkan punggungnya dan melipat kedua tangannya di atas meja.

"Kabar bagus apa?" tanya Bima memancing.

"Jangan bilang perusahaanku yang lama itu tiba-tiba bangkrut dan butuh suntikan dana dari pemilik hotel."

Nadhira tertawa kecil mendengar lelucon Bima yang agak kejam namun sangat masuk akal itu.

"Bukan soal itu, Bima."

Nadhira mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan dengan ekspresi yang kembali serius.

"Pagi ini aku baru saja menandatangani surat pemecatan tidak hormat untuk Pak Hendra."

Bima sedikit mengangkat alisnya mendengar nama mantan manajernya disebut.

Pak Hendra adalah orang yang memecat Bima di hari yang sama saat sistem pekerjaan impian ini muncul dalam hidupnya.

"Dipecat tidak hormat?" ulang Bima dengan nada santai.

"Apa dia ketahuan memasukkan keponakan bodohnya itu ke dalam divisi penjualan?"

Nadhira menggelengkan kepalanya perlahan.

"Bukan cuma soal keponakannya, Bima."

"Setelah obrolan kita di mobil waktu itu, aku langsung memerintahkan tim audit internal untuk memeriksa divisi penjualan."

"Ternyata Pak Hendra dan beberapa kroninya diam-diam memanipulasi data komisi penjualan selama setahun terakhir."

Nadhira menghela napas panjang menunjukkan kekecewaannya sebagai seorang pemimpin.

"Mereka memotong bonus karyawan berprestasi sepertimu dan memasukkannya ke kantong mereka sendiri."

Bima mengangguk-anggukkan kepalanya pelan merespons informasi tersebut.

Dia sebenarnya sudah tahu soal itu sejak lama, namun sebagai karyawan rendahan dulu dia tidak punya kekuatan untuk melawan.

"Lalu apa hubungannya pemecatan Pak Hendra dengan ajakan makan siang ini?" tanya Bima santai.

"Aku melakukan ini sebagai bentuk kompensasi atas perlakuan buruk perusahaan padamu, Bima."

Tatapan mata Nadhira terlihat sangat tulus saat mengucapkan kalimat tersebut.

"Dan karena posisi Manajer Penjualan sekarang sedang kosong, aku ingin menawarkan posisi itu kembali padamu."

Tawaran itu meluncur begitu saja dari mulut Nadhira, membuat suasana di paviliun itu mendadak hening.

Bima terdiam sejenak menatap wajah wanita cantik di depannya ini.

Ini adalah ironi yang sangat lucu bagi Bima.

Seminggu yang lalu dia ditendang keluar dari perusahaan itu layaknya anjing kurap.

Dan sekarang, direktur utama perusahaan itu sendiri yang memintanya kembali untuk menduduki kursi manajer.

"Nadhira, Nadhira," panggil Bima sambil tersenyum geli.

"Kamu lupa kalau pria yang duduk di depanmu ini adalah pemilik tunggal Hotel Grand Cakrawala?"

"Untuk apa aku kembali bekerja dari jam delapan pagi sampai jam lima sore hanya untuk gaji puluhan juta?"

Nadhira menggigit bibir bawahnya karena merasa tawarannya memang terdengar sangat bodoh.

Tentu saja seorang triliuner tidak akan mau kembali bekerja sebagai pegawai kantoran.

"Aku tahu kamu tidak butuh uangnya, Bima."

"Tapi aku merasa bersalah karena membiarkan karyawan terbaikku diusir begitu saja oleh parasit seperti Hendra."

Bima mengambil teko kecil di atas meja dan menuangkan teh hangat ke dalam cangkirnya sendiri.

"Kamu tidak perlu merasa bersalah atas hal yang tidak kamu ketahui secara langsung," ucap Bima menenangkan.

"Lagipula, aku sedang sibuk menjalani profesi baruku sebagai dosen pengganti di Universitas Nusantara sekarang."

Mata Nadhira seketika membelalak lebar mendengar pernyataan Bima barusan.

"Dosen pengganti?"

"Sejak kapan kamu tertarik dengan dunia akademis dan mengajar anak-anak manja di kampus elit itu?"

1
Naga Hitam
wahh tidak ada truk tronton
YUI: tidak perlu ketabrak truk dulu🤣🤣
total 1 replies
Yuliana Tunru
bodoh dan arogan x kau vina ..tak sabar mau tau gmn reaksi x saat tau siapa bima 🤣🤣 makin seruuu dan yg pasti up x benar2 bikin puasss 👍👍
Oarashi
gas
Yuliana Tunru
cuma bisa bilang wooow bima ..cslon pacar udaman tuh siska 🤭🤭
Kasma Wati
.🤣🤣🤣🤣🤣
Heri Susanto8246
bodoh
Yuliana Tunru
up x ndk kaleng3 ..ma kasih thorr 💪💪 trs ya 👍👍
aldo
lanjut author semangat terus 🙏🙏🙏🙏
Yuliana Tunru
cerita yg bagus thorr wuka gaya bima yg tenang tp cerdik..bonus vote buat kisah mu
YUI: terimakasih kak☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!