Karena terlalu lelah dengan urusan skripsi, Ayara pingsan dan saat terbangun Ayara mendapati dirinya berada dikehidupan dimasa depan.
Dimasa depan Ayara menikah dan bahkan sudah memiliki seorang anak laki-laki tampan, tetapi yang membuat Aya ingin pingsan kembali adalah Ayara menikah dengan musuhnya saat di bangku kuliah, pria tampan bernama Guzelar adalah suaminya dimasa depan.
Guzelar pria tampan yang suka menghinanya dan mengatainya wanita tidak benar karena saat di bangku kuliah Ayara suka gonta-ganti pacar hampir setiap hari, bagaimana bisa dimasa depan Guzelar menjadi pria yang lembut dan manja serta bucin padanya?.
Bagaimana Ayara bisa mengatasi semuanya dimasa depan? Menghadapi Guzelar versi bucin dan menerima fakta jika mereka sudah memiliki anak? Ikuti terus perjalanan Ayara dimasa depan! Selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Guzelar Musuh Buyutan
Cklek.
Suara gagang pintu yang ditekan dari luar terdengar begitu pelan, namun di telinga Ayara, bunyi itu rasanya seperti dentang lonceng kematian. Jantungnya mendadak melonjak sampai ke tenggorokan, membuat paru-parunya serasa kehilangan pasokan oksigen. Ayara menatap pintu kamar yang perlahan-lahan terbuka lebar dengan mata melotot sempurna dan tubuh menegang kaku bagaikan patung manekin di etalase toko baju.
Pintu itu terbuka sepenuhnya. Menampilkan sosok seorang pria tinggi berpostur tegap dengan setelan jas tailor-made melekat sempurna di tubuh atletisnya. Aura dominan dan intimidatif langsung menyeruak masuk, membuat suhu udara di dalam kamar yang tadinya hangat mendadak terasa dingin, mencekam, dan pengap.
Ayara terdiam mematung, benar-benar kehilangan kemampuan untuk sekadar mengedipkan mata.
Sosok yang berdiri di ambang pintu itu bukan lagi pemuda arogan berwajah menyebalkan yang dulu suka mendengus sinis di koridor kampus. Di depannya kini berdiri seorang pria matang dengan ketampanan luar biasa, bak pahatan dewa Yunani yang turun dari kayangan. Garis wajahnya tegas, rahangnya kokoh, hidungnya mancung sempurna, dan sorot mata tajamnya dibingkai oleh bulu mata lentik. Rambut hitamnya ditata rapi ke belakang, menambah kesan maskulin yang begitu memikat sekaligus berbahaya.
"Jadi... pria di depanku ini benar-benar Guzelar versi dewasa?" batin Ayara histeris di dalam hati.
"Sejak kapan musuh bebuyutanku berubah wujud jadi semenarik dan seseksi ini?! Ini penipuan visual namanya!"
Ayara benar-benar terpukau, terpesona, sekaligus merasa ingin menangis di saat bersamaan. Otaknya yang biasa dipakai berpikir kritis mendadak konslet total.
"Ayara," panggil pria itu. Suaranya terdengar berat, serak-serak basah, dan begitu menghanyutkan.
Mendengar suara bariton itu, Ayara akhirnya tersadar dari lamunan kekagumannya yang memalukan. Sifat defensifnya seketika bangkit. Matanya langsung menyipit tajam, dagunya terangkat, dan ekspresi sinis andalannya terpampang nyata di wajahnya untuk menyambut sang musuh besar.
Namun, reaksi yang ditunjukkan Guzelar justru di luar nalar. Alih-alih berdecih sinis atau melontarkan hinaan pedas seperti masa lalu, pria berdarah Rusia-Indonesia itu justru mengerjap bingung melihat tatapan membunuh dari istrinya.
"Ada apa, sayang?" tanya Guzelar lembut, suaranya melembut seketika, kontras dengan auranya yang tadinya dingin membeku.
"WHAT? SAYANG?!" pekik Ayara kencang-kencangnya di dalam kepala.
Kepala Ayara serasa mau meledak. Apa-apaan ini? Guzelar Jonathan Maximilian si mulut beracun, si raja julid kampus, pria yang pernah dengan tega meludah dan mengatainya jalang baru saja memanggilnya dengan sebutan sayang menggunakan nada semanis madu?! Apa bumi sudah berhenti berputar? Apa kutub utara sudah pindah ke equator? Tolong sadarkan Ayara sekarang juga, karena dia benar-benar tidak sanggup menghadapi kenyataan seabsurd ini!
"Ayara? Sayang, kamu kenapa? Wajah kamu pucat sekali," tanya Guzelar penuh kekhawatiran yang tulus.
Tanpa membuang waktu, pria itu melangkah lebar-lebar mendekati tempat tidur. Insting bertahan hidup Ayara langsung menjerit. Begitu Guzelar merangsek maju, Ayara refleks melangkah mundur ke belakang hingga punggungnya membentur tepian ranjang.
Melihat istrinya menghindar seolah dirinya adalah makhluk menakutkan, langkah Guzelar terhenti seketika. Manik matanya melebar, memancarkan keterkejutan yang nyata.
"Sayang, sebenarnya ada apa?" suara Guzelar berubah panik, ketegasan khas seorang CEO lenyap tanpa sisa, digantikan oleh kecemasan seorang suami yang takut kehilangan istrinya.
"Apa kamu masih marah karena aku pulang terlalu lama dari luar kota?" tanyanya penuh sesal.
Ayara masih bungkam, menelan ludahnya dengan susah payah. Otaknya sibuk merangkai bantahan, tapi lidahnya kelu.
"Sayang, maafkan aku... sungguh, aku tidak bermaksud meninggalkan kamu dan Iel selama ini," ucap Guzelar lirih, sarat akan permohonan maaf. Pria itu kembali mendekat secara perlahan, tidak memedulikan tatapan horor dari Ayara.
"Hanya saja proyek di cabang baru itu benar-benar kacau dan tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Aku harus membereskannya cepat supaya bisa segera pulang menemui kalian."
Sebelum Ayara sempat melayangkan protes atau melontarkan kata-kata tajam untuk mengusirnya, Guzelar sudah merengkuh tubuh Ayara ke dalam pelukan hangatnya. Pria itu mendekap erat, seolah menyalurkan seluruh rindu yang tertahan selama berhari-hari.
Belum cukup sampai di situ, Guzelar mendaratkan kecupan yang lama dan penuh kelembutan di kening Ayara. Sentuhan hangat itu begitu nyata, menyebarkan aroma parfum maskulin bercampur mint yang langsung memenuhi indra penciuman Ayara.
Bagaimana kondisi Ayara saat diperlakukan sedemikian romantis oleh mantan musuh bebuyutannya?
Ayara diam terpaku bagaikan patung batu. Seluruh sel di tubuhnya mendadak membeku. Jangankan melawan atau membalas pelukan itu, Ayara bahkan terang-terangan menahan napasnya, takut embusan napasnya sendiri akan merusak momen paling tidak masuk akal dalam sejarah hidupnya. Jantungnya bergemuruh hebat, bukan karena jatuh cinta, tapi karena syok tingkat dewa.
"Ya ampun... dia meluk aku? Dia ngecup kening aku? Ini beneran Guzelar si tukang julid kan?! Atau aku lagi dimasukin roh halus?!" batin Ayara histeris di ambang sakaratul maut kewarasan.
Di tengah kebingungan akut dan debaran jantung yang mencetak rekor tercepat, suara berat Guzelar kembali berbisik tepat di dekat telinganya, meruntuhkan sisa-sisa benteng pertahanan terakhir Ayara.
"Sayang, aku mencintaimu. Sungguh, aku sangat mencintaimu..." ucap Guzelar penuh keseriusan dan ketulusan mutlak.
Mendengar kata-kata cinta yang meluncur begitu mulus dari bibir pria yang paling dibencinya semasa kuliah, ditambah fakta bahwa mereka kini sudah menikah dan punya anak, sistem saraf Ayara benar-benar mengalami shutdown massal. Matanya berputar ke atas, kesadarannya menguap seketika dalam hitungan detik.
Bruk!
Ayara terkulai lemas, pingsan untuk kedua kalinya hari ini tepat di dalam dekapan hangat suaminya.
Melihat istrinya tiba-tiba ambruk tidak sadarkan diri di pelukannya, mata Guzelar membelalak panik. Wajah tampannya berubah pucat pasi dalam sekejap.
"A-Ayara?! Sayang!" teriak Guzelar histeris, suaranya menggema ke seluruh sudut kamar mewah itu, memecah kesunyian malam dengan kepanikan yang teramat sangat.
Bersambung...
tapi dari orang yg paling dia cintai .
yg dikira jadi pelindung dia
😔🥹🥹🥹
sayang akal sehat selalu mengalah. Karena jajan nya aku banyak. kalau kabur susah ntar jajan nya🤣🤣🤣🫣
nanti suaminya marah besar itu istri kesayangan nya main ditarik ajaa🫣🫣🤣
seenggaknya dia inget akyu
eh ..kok cyiin nya kebawa lagi thor🤣🤣
biar trauma nya terputus
anak pertama mereka??🥹🥹🥹
meminta pertolongan adalah langkah pertama kita mau sembuh
jadi ga usah takut dan malu...
ayo kita sembuh bersama