Di balik tatapan kosong dan cemoohan sebagai "dokter idiot" yang selalu diremehkan di rumah sakit elit, Arka Prasetya sebenarnya menyimpan kejeniusan otak super serta sertifikasi bedah internasional yang tidak diketahui siapa pun. Ketika hidupnya terus diinjak-injak oleh para dokter senior yang arogan dan terjebak dalam perjodohan tak terduga dengan Clara, seorang pewaris konglomerat yang angkuh, Arka perlahan mulai menunjukkan taringnya lewat operasi-operasi mustahil yang akan memberikan tamparan telak bagi siapa saja yang berani merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Suasana di stasiun perawat lantai tiga pagi itu terasa sangat riuh.
Beberapa perawat tampak bergerombol sambil memegang secangkir kopi hangat di tangan mereka.
"Kamu dengar cerita tentang operasi darurat di IGD kemarin malam tidak?" tanya seorang perawat junior dengan mata berbinar-binar.
"Yang pasien kecelakaan tol dengan kondisi dada hancur itu kan? Katanya tingkat hidupnya nol persen," jawab perawat di sebelahnya.
"Benar! Tapi yang bikin merinding, pasien itu berhasil diselamatkan dengan teknik sayatan kilat yang sangat sempurna!" seru perawat pertama.
Siska yang berdiri tidak jauh dari mereka ikut mendengarkan percakapan itu sambil merapikan berkas rekam medis.
"Kata dokter Dimas, itu adalah keajaiban dari keahlian tingkat dewa miliknya," sahut perawat lain dengan nada kagum.
Siska langsung mendengus pelan mendengar nama dr. Dimas disebut-sebut.
"Dokter Dimas bilang begitu?" tanya Siska sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Iya, dia bilang sendiri di ruang dokter tadi pagi kalau dia mempertaruhkan nyawa pasien dengan kejeniusannya," jawab perawat junior itu.
Siska menggelengkan kepalanya pelan karena merasa ada sesuatu yang sangat janggal.
Sebagai orang yang berdiri tepat di samping brankar saat kejadian semalam, Siska melihat semuanya dengan jelas.
Dr. Dimas saat itu sudah basah oleh keringat dingin dan hampir pingsan karena ketakutan.
Bahkan tangan dr. Dimas gemetar hebat dan sama sekali tidak memegang pisau bedah saat detik-detik penentuan itu terjadi.
"Mana mungkin dokter Dimas yang melakukannya," gumam Siska pelan di dalam hatinya.
"Memangnya kamu bilang apa, Siska? Kamu kan ikut piket malam di IGD semalam," tanya perawat di sebelah Siska.
Siska terdiam sejenak, ragu-ragu untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Ia teringat sosok Arka yang berdiri tenang di sudut ruangan saat semua orang panik ketakutan.
"Ah, tidak ada apa-apa," jawab Siska mengelak cepat.
"Pokoknya rasanya aneh saja kalau dokter Dimas yang melakukan keajaiban itu," lanjut Siska.
"Hus! Jangan keras-keras ngomong begitu, nanti kalau didengar dokter Dimas bisa gawat urusannya," bisik temannya memperingatkan.
Di tempat lain, di dalam ruang dokter yang mewah, dr. Dimas sedang mondar-mandir mondar-mandir dengan gelisah.
Ia terus memegang kepalanya sambil memikirkan kejadian semalam yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman.
"Sialan... sialan... sialan!" maki dr. Dimas dengan suara tertahan.
Ia tahu persis bahwa bukan dirinya yang membuat sayatan ajaib di dada pasien IGD semalam.
Ia ingat betul kilatan pisau bedah di tangan Arka yang bergerak sangat cepat bagai hantu.
"Bagaimana mungkin si idiot itu punya kemampuan tangan sekilat itu?" gerutu dr. Dimas penuh rasa frustrasi.
Jika rahasia ini sampai bocor ke telinga direktur rumah sakit, reputasinya sebagai dokter spesialis terbaik akan hancur lebur.
Ia harus memastikan tidak ada satupun orang di rumah sakit ini yang mempercayai omongan Arka.
"Akan kubuat si bodoh itu segera dipecat dari rumah sakit ini," ancam dr. Dimas sambil memukul meja kerjanya dengan keras.
Brak!
Suara hantaman meja itu membuat beberapa koas yang lewat di depan ruangan langsung mempercepat langkah mereka karena ketakutan.
Sementara itu, Arka sedang mendorong troli pembersihnya menyusuri koridor lantai dua yang tampak sepi.
Ia bersiul kecil dengan wajah santai tanpa beban sedikit pun, kontras dengan suasana tegang di ruang dokter.
"Pagi, Dokter Arka," sapa seorang petugas kebersihan senior sambil membawa sapu.
"Pagi juga, Pak," jawab Arka dengan senyum polos dan sedikit membungkukkan badannya.
Petugas itu menatap Arka dengan tatapan kasihan.
"Kamu sabar ya sering dikerjain sama dokter-dokter sombong di atas," ucap petugas itu dengan suara ramah.
"Iya, tidak apa-apa kok, Pak. Sudah biasa," balas Arka dengan nada polos.
Arka kembali mendorong trolinya pelan-pelan menuju ujung koridor.
Tiba-tiba, langkah kaki seseorang terdengar berlari cepat mengejar posisinya dari belakang.
"Dokter Arka! Tunggu sebentar!" panggil suara seorang perempuan yang cukup akrab di telinganya.
Arka menghentikan dorongan trolinya lalu berbalik badan secara perlahan.
Siska berdiri di hadapannya dengan napas yang sedikit memburu karena habis berlari.
"Ada apa, Siska?" tanya Arka dengan suara lambat dan mata mengerjap-nerjap bingung.
Siska menatap sekeliling koridor untuk memastikan tidak ada orang lain yang memperhatikan mereka berdua.
"Kamu ini pura-pura bodoh atau memang benar-benar tidak peduli dengan apa yang terjadi semalam?" bisik Siska tajam.
Arka memiringkan kepalanya ke samping dengan ekspresi wajah yang tampak semakin dungu.
"Maksudnya apa ya, Siska? Aku tidak mengerti," jawab Arka dengan nada polos.
Siska mendengus pelan lalu mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Arka.
"Semalam di IGD, aku melihat semuanya, Arka," ucap Siska dengan suara berbisik serius.
Arka tidak langsung menjawab, ia hanya diam menatap Siska dengan tatapan mata sayunya yang biasa.
"Aku lihat bagaimana tanganmu bergerak menyayat dada pasien itu saat dokter Dimas sudah menyerah ketakutan," lanjut Siska.
"Kamu jangan sembarangan ngomong loh, Siska," balas Arka sambil terkekeh pelan.
"Nanti aku dimarahi dokter Dimas lagi karena dituduh macam-macam," imbuh Arka pura-pura ketakutan.
Siska menatap lekat-lekat ke dalam bola mata Arka, mencari celah kebohongan di sana.
Namun, ia tidak menemukan apa pun selain tatapan kosong dan polos layaknya orang yang kebingungan.
"Tapi caramu memegang pisau bedah semalam sama sekali bukan cara orang bodoh," kata Siska penasaran.
"Sudahlah, Siska. Aku cuma mau kerja membersihkan lantai supaya tidak dimarahi kepala bagian," ucap Arka sambil kembali mendorong trolinya.
Sebelum Siska sempat melanjutkan pertanyaannya, suara langkah sepatu pantofel yang keras terdengar menggema di ujung koridor.
"Ehm! Sedang apa kalian berdua berbisik-bisik di jam kerja?!" bentak suara yang sangat dikenal oleh mereka berdua.
Dr. Dimas muncul dari balik tikungan koridor dengan wajah masam dan tatapan penuh curiga.
Siska langsung menegakkan tubuhnya kaget dan salah tingkah.
"Tidak ada apa-apa, Dok. Saya cuma minta tolong dokter Arka membersihkan tumpahan air di dekat stasiun perawat," bohong Siska cepat-cepat.
Dr. Dimas melotot tajam ke arah Siska lalu beralih menatap Arka dari atas sampai bawah.
"Cepat pergi dari sini, Arka! Jangan mentang-mentang kamu kasihan lalu suka mengobrol dengan perawat!" usir dr. Dimas dengan nada tinggi.
"Baik, Dok. Saya segera pergi," jawab Arka penurut sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Arka mendorong trolinya menjauh dari hadapan dr. Dimas dan Siska tanpa perlawanan sama sekali.
Dr. Dimas menatap kepergian Arka dengan rasa benci yang semakin membara di dalam dadanya.
"Dan kamu, Siska! Jangan suka berurusan dengan dokter sampah seperti dia kalau tidak mau kariermu hancur di rumah sakit ini!" ancam dr. Dimas tajam.
"Iya, Dokter Dimas. Saya mengerti," jawab Siska dengan nada terpaksa sambil menunduk.
Dr. Dimas mendengus kasar lalu berjalan meninggalkan Siska seorang diri di tengah koridor.
Siska menoleh sekali lagi ke arah punggung Arka yang sudah berjalan jauh di ujung koridor.
"Sebenarnya siapa pria ini?" gumam Siska pelan di dalam hatinya dengan sejuta tanda tanya besar di kepalanya.
[Sistem Mendeteksi Peningkatan Minkat Tokoh Siska Terhadap Karakter Utama]
[Peluang Membuka Jalur Aliansi Rahasia: 45 Persen]
Suara notifikasi kecil berderik pelan di dalam kepala Arka saat ia berjalan menjauh dari pandangan Siska.
Arka tersenyum tipis di balik punggungnya yang membungkuk.
"Perlahan tapi pasti, permainan ini akan menjadi jauh lebih menarik dari perkiraan mereka," batin Arka tenang.
Ia terus mendorong trolinya menuju ruang ganti lantai bawah, bersiap menghadapi hari-hari berikutnya yang penuh dengan intrik rumah sakit.