Sejak bayi, Lin Yuxin ditukar demi kemewahan anak keluarga Chen... Chen Ruoxi. Bertahun-tahun disiksa di rumah orang asing, dia akhirnya kembali ke keluarga kandungnya, hanya untuk difitnah habis-habisan oleh Chen Ruoxi yang iri pada kecantikan Lin Yuxin, apalagi saat Kaisar menjodohkannya dengan Putra Mahkota Li Chen... Sifat iri nya semkin menjadi. Lin Yuxin dituduh wanita murahan sekaligus dalang percobaan racun, Lin Yuxin yang tak mampu membela diri pun dijatuhi hukuman mati... sementara pelayan setianya, Xiao Yan, dibungkam selamanya oleh Chen Ruoxi.
Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Lin Yuxin bangkit kembali tepat di hari dia pertama menginjak rumah keluarga aslinya, membawa ingatan penuh tentang kehidupannya yang lalu. Kali ini, dia bersumpah, setiap fitnah akan dibalas, dan Xiao Yan tak akan mati lagi untuknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arjunasatria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Kereta kuda yang membawa Yuxin kembali ke kediaman Lin diiringi dua pengawal istana, berbeda dari rombongan sederhana yang mengantarnya pagi tadi. Begitu memasuki gerbang, para pelayan yang melihatnya langsung membungkuk lebih dalam dari biasanya, menyadari status barunya sebagai Putri Mahkota.
Lin Boqing dan Nyonya Su menyambutnya di depan pintu utama, wajah mereka campuran antara bangga dan cemas.
"Yuxin, kau pulang secepat ini?" tanya Nyonya Su, memeluknya singkat. "Kami dengar kejadian di jalan tadi pagi. Apa kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, Ibu," jawab Yuxin tenang. "Aku pulang untuk memastikan hasil interogasi penyusup itu. Apa dia sudah diperiksa?"
Lin Boqing mengangguk, raut wajahnya mengeras. "Kepala pengadilan kota baru saja mengirim kabar. Pria itu masih berusaha membantah tuduhan."
"Aku ingin ikut mendengar langsung interogasinya," ucap Yuxin.
Lin Boqing tampak ragu sejenak. "Yuxin, kau baru saja resmi menjadi Putri Mahkota. Apa pantas kau turun tangan langsung ke kantor pengadilan?"
"Justru karena statusku sekarang, Ayah." Yuxin menjawab tegas, "aku punya hak untuk memastikan kebenaran di balik serangan yang menimpaku. Aku tidak ingin ada yang menyembunyikan sesuatu hanya karena segan padaku."
Nyonya Su dan Lin Boqing bertukar pandang, akhirnya mengangguk setuju.
Kantor pengadilan kota tidak jauh dari kediaman Lin, bangunan sederhana dengan ruang interogasi di bagian belakang. Begitu Yuxin tiba, kepala pengadilan segera menyambutnya dengan hormat berlebihan, menyadari status barunya.
Chen Muyang duduk terikat di kursi kayu, wajahnya penuh memar bekas introgasi awal, matanya yang tadinya penuh keyakinan kini dipenuhi ketakutan.
"Putri Mahkota," kepala pengadilan membungkuk, "pria ini masih bersikeras bertindak sendirian, meski kami sudah menanyainya berkali-kali."
Yuxin melangkah mendekat, menatap Chen Muyang lurus-lurus. "Kau masih berbohong, Chen Muyang?"
Chen Muyang mengangkat wajahnya, mencoba mempertahankan sisa keberanian yang tersisa. "Aku sudah bilang, aku bertindak sendiri. Aku hanya ingin bicara denganmu secara pribadi..."
"Melihat tindakanmu, aku tidak percaya kau bertindak sendirian." potong Yuxin dingin. "Siapa yang menyuruhmu, Chen Muyang? Aku tahu kau tidak punya cukup keberanian atau alasan untuk melakukan ini sendirian."
Keringat dingin mulai membasahi dahi Chen Muyang. Dia melirik ke arah kepala pengadilan, lalu kembali pada Yuxin, bimbang antara rasa takut akan hukuman dan janji bayaran besar yang sudah dia terima.
"Kalau kau tetap diam," Yuxin melanjutkan, suaranya semakin tajam, "hukumanmu akan jauh lebih berat. Percobaan pencemaran nama baik Putri Mahkota bisa berujung hukuman mati. Tapi kalau kau mengaku siapa yang menyuruhmu, aku bisa mempertimbangkan keringanan hukuman."
Kata "hukuman mati" membuat tubuh Chen Muyang gemetar hebat. Dia menelan ludah, matanya bergerak liar mencari jalan keluar yang tidak ada.
"Aku..." suaranya tercekat, "aku hanya disuruh seseorang. Tapi aku tidak tahu motifnya, aku hanya dibayar olehnya."
"Siapa?" desak Yuxin.
Chen Muyang menunduk dalam, napasnya memburu, pertarungan batin antara kesetiaan pada janji bayaran dan rasa takut akan hukuman mati jelas terlihat di wajahnya.
"Siapa?" ulang Yuxin, suaranya tidak lagi sabar.
Chen Muyang mengangkat wajahnya perlahan, matanya sudah basah oleh keringat dingin dan sisa air mata ketakutan.
"Ruoxi," ucapnya akhirnya, suaranya pecah. "Ruoxi yang menyuruhku. Dia yang mendatangiku semalam di kedai arak, membayarku untuk menggagalkan keberangkatanmu ke istana."
Ruangan itu mendadak sunyi. Kepala pengadilan yang berdiri di sudut ruangan menoleh cepat, pena di tangannya berhenti mencatat sejenak sebelum kembali bergerak, kali ini lebih hati-hati.
"Apa yang dia perintahkan padamu, secara persisnya?" tanya Yuxin, meski dia sudah tahu jawabannya, dia butuh pengakuan itu terucap jelas untuk menjadi bukti resmi.
"Dia menyuruhku menyelinap ke dalam keretamu," Chen Muyang melanjutkan, suaranya semakin lemah seiring setiap kata yang keluar, "lalu membuat keributan di jalan, berpura-pura seolah kita tertangkap basah berduaan. Dia bilang, itu akan cukup membuat istana ragu menerimamu sebagai calon Putri Mahkota."
"Dia membayarmu berapa?" tanya kepala pengadilan, ikut mencecar.
"Sekantung perak di awal," jawab Chen Muyang, "dan janji bayaran tiga kali lipat setiap bulan kalau rencana ini berhasil."
Yuxin berdiri diam, mendengarkan setiap kata itu dengan ketenangan yang mengejutkan dirinya sendiri. Dia sudah menduga ini sejak awal, tapi mendengarnya diucapkan secara gamblang tetap memberikan rasa yang berbeda, campuran antara kepuasan dan kepahitan lama yang belum sepenuhnya hilang.
"Catat semua pengakuan ini," ucap Yuxin pada kepala pengadilan, suaranya kembali tenang dan terkendali. "Aku ingin ini menjadi berkas resmi, lengkap dengan tanda tangan atau cap jarinya."
"Baik, Putri Mahkota," kepala pengadilan membungkuk, segera memerintahkan juru tulisnya menyalin pengakuan itu ke dalam dokumen resmi.
Chen Muyang menatap Yuxin, matanya memohon. "Kumohon, Putri Mahkota. Aku hanya menjalankan perintah. Aku tidak tahu kalau ini akan seburuk ini."
"Kau tahu persis apa yang kau lakukan," jawab Yuxin dingin, tidak sedikit pun tergerak oleh permohonan itu. "Kau memilih uang di atas segalanya, bahkan rela mencemarkan nama orang lain demi kepentinganmu sendiri. Sekarang, kau harus menanggung akibatnya."
Dia berbalik menghadap kepala pengadilan. "Proses hukumannya sesuai aturan yang berlaku. Tapi pastikan berkas pengakuan ini disalin dan dikirim ke istana, sebagai bukti resmi dalam kasus ini."
"Akan segera saya laksanakan, Putri Mahkota."
Yuxin melangkah keluar dari ruang interogasi, meninggalkan Chen Muyang yang masih terisak ketakutan di belakangnya. Di luar, udara sore terasa lebih dingin dari biasanya, namun pikirannya sudah jauh melayang pada satu hal.
Sekarang, dia punya bukti tertulis dan bercap resmi, yang secara langsung menunjuk Chen Ruoxi sebagai dalang di balik rencana pencemaran nama baiknya.