NovelToon NovelToon
Hiraisin: Legenda Pedang Kilat

Hiraisin: Legenda Pedang Kilat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Penyelamat
Popularitas:180
Nilai: 5
Nama Author: Astrius

Dianggap sampah tanpa bakat. Dikhianati oleh seniornya sendiri. Dan dipaksa menyaksikan kematian sang guru di depan mata.
Hiraisin hanyalah murid terbuang di Sekte Awan Putih yang dianggap tak punya masa depan karena meridian tubuhnya terluka. Namun, di tengah gempuran brutal pasukan Raja Kegelapan, darah Hiraisin menetes di atas hulu pedang patah berkarat—membangunkan rahasia purba yang lama tertidur.
Segel di tubuhnya hancur. Petir dari langit menyambar, membakar meridiannya dan membangkitkan legenda yang telah lama punah: Pedang Kilat.
Kini, dengan luka pengkhianatan di dada dan percikan listrik yang sanggup merobek malam, Hiraisin memulai perjalanan darah. Di hadapannya berdiri jutaan pengikut iblis, para jenderal mengerikan, dan Raja Kegelapan yang menguasai takhta dunia.
Satu tebasan telah lahir. Dan kegelapan tak akan pernah sama lagi.
"Saat dunia dikuasai bayang-bayang, kilat adalah satu-satunya keadilan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astrius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eksekusi Pengkhianat

Keheningan yang mematikan melingkupi seluruh lantai Red Crow Wine House. Suara benturan cangkir anggur Gani yang jatuh dan pecah di atas panggung kayu berbunyi begitu nyaring, memecah ketegangan yang mendadak mencekat tenggorokan ratusan pengunjung lelang.

Gani melangkah mundur beberapa tindak secara refleks hingga menabrak sudut meja pameran. Wajahnya yang semula penuh kesombongan kini pucat pasi bagaikan mayat, bibirnya gemetar hebat saat menatap sosok bertopeng besi di lantai dua.

"Hiraisin? Tidak... tidak mungkin!" jerit Gani dengan suara melengking panik. "Kau sudah mati! Aku sendiri yang melihat Jenderal Ravaka menghancurkan dadamu dan melemparkanmu ke jurang iblis! Meridianmu rusak, kau hanyalah sampah!"

Hiraisin tidak membalas dengan amarah yang meledak-ledak. Ia melangkah perlahan menuju tepi balkon, melepas topeng besinya dengan satu gerakan dingin, lalu membiarkan wajahnya terpapar jelas di bawah pendar lampion merah. Sepasang matanya membara oleh pendar keemasan yang tersembunyi.

"Sampah ini masih bernapas, Gani," bisik Hiraisin. Suaranya tidak nyaring, namun bergetar hebat menembus seluruh sudut ruangan, membawa aura dingin yang membekukan darah. "Dan aku berada di sini untuk menagih utang darah yang kau tinggalkan."

Gani menggertakkan giginya, mencoba menutupi rasa takut yang merayapi seluruh badannya dengan tawa buas yang dipaksakan.

"Utang darah? Jangan sok suci, Hiraisin!" raung Gani seraya menunjuk Hiraisin dengan jarinya yang bergetar. "Sekte Awan Putih itu sudah membusuk! Tetua Shan adalah tua bangka bodoh yang menahan potensiku dan membiarkan sekte kita menjadi incaran! Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan seorang pendekar sejati: bertahan hidup!"

"Bertahan hidup?" Hiraisin melompat turun dari lantai dua, mendarat tanpa suara tepat di atas panggung mahoni, hanya tiga langkah di hadapan Gani.

Papan panggung berderit pelan di bawah pijakan kaki Hiraisin.

"Malam itu, Guru Shan memberimu ramuan pemurni meridian terakhir yang harusnya bisa menyembuhkan lukamu," ucap Hiraisin dengan tatapan mata lurus menembus mata Gani. "Beliau menganggapmu seperti putranya sendiri. Namun apa yang kau lakukan? Kau membuka gerbang rahasia, menyerahkan peta pertahanan sekte kepada Pasukan Bintang Hitam, dan membiarkan adik-adik perguruanmu dibantai saat mereka tertidur!"

Wajah Gani berkeringat dingin. "Mereka lemah! Di dunia ini yang lemah pantas mati!"

"Dan Guru Shan..." suara Hiraisin mendadak tercekat oleh duka yang teramat dalam, sebelum kembali menjadi sekeras baja. "...beliau memohon pada Ravaka agar mengampuni nyawamu, bahkan saat pedang iblis itu menembus dadanya. Beliau mati memikirkan keselamatanmu, Gani. Dan kau berdiri di sini, menjual lencananya bagaikan barang buangan pasar gelap!"

Kata-kata Hiraisin bagaikan sembilu yang membongkar kebusukan jiwa Gani di hadapan ratusan pasang mata yang menyaksikan. Para pendekar dan pedagang di lantai dasar berbisik-bisik ngeri, memandangi Gani dengan tatapan jijik.

"Diam! Cukup diam!" jerit Gani histeris. Kegilaan dan rasa malu yang meluap memicu amarah brutal dalam dirinya. "Pengawal! Pembunuh bayaran! Bunuh pemuda ini! Tiga ribu keping emas murni untuk kepala Hiraisin!"

Puluhan pengawal Sindikat Gagak Hitam berzirah besi yang bersiaga di sekeliling aula langsung mencabut golok mereka, hendak menerjang panggung.

"Siapa pun yang mencampuri urusan dendam Sekte Awan Putih, akan mati oleh racun pembakar darah!"

Suara Liora bergema nyaring dari balkon. Sambil mengibaskan lengan bajunya, awan debu ungu kemerahan meluas secara mendadak di sekitar panggung, diiringi kibasan ratusan jarum perak yang meluncur presisi.

Prajurit-prajurit yang mencoba mendekat mendadak membeku kaku, leher mereka menghitam sebelum roboh bergelimpangan mengerang kesakitan saat titik meridian vital mereka terkunci rapat.

"Ini pertarungan kita, Gani," desis Hiraisin seraya menarik pedang patah berkarat dari punggungnya. "Tidak ada pengawal, tidak ada tempat bersembunyi."

Gani menyadari dirinya tersudut sepenuhnya. Dengan raungan keji, ia menarik Pedang Angin Perak dari sarungnya. Bilah besi halus itu memancarkan aura angin hijau pekat yang berdesing tajam.

"Kau pikir pedang patah berkarat itu bisa mengalahkanku?!" raung Gani. "Mati kau, Hiraisin!"

Gani menghentakkan kakinya, mengayunkan pedangnya dalam teknik terkuatnya: Tebasan Angin Pemotong. Tiga gelombang udara terkompresi berbentuk sabit meluncur membelah papan panggung, mengincar leher dan dada Hiraisin secara bersamaan.

Hiraisin tidak mundur setindak pun. Di bawah bimbingan Mantra Hati Petir Suci, pergerakan angin Gani yang cepat terasa begitu lambat.

Zap!

Hiraisin bergeser beberapa inci. Gelombang tebasan angin Gani lewat hanya sejengkal di samping jubahnya, menghantam pilar batu di belakang hingga hancur berkeping-keping.

Gani membelalak tak percaya, namun langsung mengubah serangannya dengan Langkah Seribu Karat. Tubuhnya terpecah menjadi lima bayangan semu yang mengepung Hiraisin dari berbagai sudut.

"Di mana mata pedangmu sekarang, Sampah?!" teriak Gani dari balik bayangan, mengarahkan tusukan paling mematikan tepat ke arah jantung Hiraisin dari belakang.

Hiraisin memejamkan matanya rapat-rapat. Arus listrik mikroskopis yang menyebar di udara memberitahunya posisi tepat dari bilah besi Gani.

Czzz...

Garis cahaya ungu keemasan yang sangat tipis merayapi mata pedang patah Hiraisin.

"Tebasan Senyap: Kilat Penjagal Jiwa."

Hiraisin berputar di atas tumitnya, mengayunkan pedang patahnya dari bawah ke atas dalam satu garis vertikal yang sempurna.

CRASSS!

Pedang Angin Perak milik Gani terbelah dua bagaikan ranting kering. Garis cahaya ungu keemasan itu terus melesat tanpa hambatan, menembus dada jubah hijau zamrud Gani dan keluar dari belakang punggungnya.

Pusaran angin lenyap seketika.

Gani membeku di udara, matanya membelalak lebar menatap pedangnya yang patah. Sensasi panas mendidih menjalar cepat di seluruh rongga dadanya, membakar organ dalamnya sebelum darah sempat menetes.

Thump.

Gani jatuh berlutut di atas panggung mahoni, memuntahkan darah hitam.

"Kau... kau tidak akan pernah... lolos dari Raja Kegelapan..." cicit Gani dengan suara serak yang kian meredup, matanya dipenuhi penyesalan dan ketakutan yang teramat sangat. "Dia... akan memburu seluruh... keturunanmu..."

Hiraisin melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Gani yang terkulai. Ia menatap bekas kakak seniornya itu dengan pandangan dingin tanpa empati.

"Mungkin Raja Kegelapan akan memburuku," bisik Hiraisin tepat di telinga Gani. "Tapi kau... tidak akan pernah hidup untuk melihatnya."

Hiraisin menghentakkan ujung kakinya, menyenggol tubuh Gani hingga roboh terjerembap tak bernyawa di atas lantai panggung, tewas di dekat barang-barang hasil jarahannya sendiri.

Hiraisin mengulurkan tangannya ke dalam kotak kayu pameran, mengambil kembali Lencana Pimpinan milik almarhum Tetua Shan. Batu giok hijau dingin itu terasa begitu mantap di dalam genggamannya.

"Dendam pertama telah terbayar, Guru," bisik Hiraisin dalam hati, mengepalkan lencana tersebut erat-erat.

Tiba-tiba, suara klakson tanduk perunggu yang amat keras menggema dari langit-langit bangunan.

HOOOOOONG!

Sinar-sinar runa merah di dinding dan tiang bangunan menyala terang benderang secara serentak. Pintu-pintu besi raksasa di seluruh gerbang keluar jatuh menancap ke tanah dengan bunyi dentang dahsyat, mengunci seluruh bangunan secara total.

Sebuah aura tekanan batin yang sangat berat dan menindas—aura dari seorang Pendekar Ranah Jiwa Pedang tingkat menengah—turun dari lantai lima.

"Siapa pun yang berani menumpahkan darah di domainku..." sebuah suara berat, bergema, dan penuh murka membahana dari atas plafon. "...harus meninggalkan kepalanya sebagai ganti rugi!"

Ketua Vane dari Sindikat Gagak Hitam akhirnya turun tangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!