Dinzy Aurora, gadis berusia 21tahun yang hidup sebatang kara di Ibukota, mengadukan nasibnya berharap memiliki kehidupan yang layak. Saat ini Dinzy baru saja lulus dari kampus terbaik di kota tersebut, mendapatkan gelar cumlaude bukan berarti Dinzy bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Setalah 2 bulan menerima Ijazahnya, Dinzy belum juga mendapat panggilan wawancara kerja. Dan selama 2 bulan tersebut sambil tetap mencari pekerjaan baru, Dinzy masih bekerja di sebuah coffee shop. Selama Dinzy tinggal di Ibukota, Dinzy memang melakukan pekerjaan paruh waktu untuk menyambung hidupnya, meskipun Dinzy mendapatan beasiswa dan juga biaya hidup, namun itu tidak menghalangi Dinzy untuk tetap bekerja. Dinzy tumbuh di sebuah panti asuhan di pesisir Ibukota. Ia tidak mengenal siapa Ayah dan Ibunya. Meskipun ia sangat penasaran, tapi pihak panti juga tidak bisa membantu Dinzy karena saat itu, Ibunya Dinzy hanya menyerahkan Dinzy begitu saja dan meninggalkan Dinzy di panti asuhan tersebut. Hanya nama yang Dinzy terima dari Ibunya, nama pemberian dari sang Ibu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayalifeupdate, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Gossip beredar begitu cepat, bahkan sebelum Dinzy sampai di ruangannya. Rekan kerjanya sudah mendengar berita tersebut.
"CIEEEE" Semua staff kompak menggoda Dinzy yang baru saja tiba di ruangan tersebut
Tidak ada bully, mereka semua terlihat senang karena Dinzy dekat dengan Luca. Dan benar saja, Dinzy menjadi bulan-bulanan Siska hari ini.
Bukan kerena iri, tapi mereka senang melihat Dinzy dekat dengan pria yang memiliki value.
"Jadi teman tadi pagi yang kamu maksud itu Pak Luca" goda Siska
"Semangat Din. Kita dukung kamu" sahut Hendra
"Bener Din. Gas pol" Ucap Maya yang di jawab dengan gelak tawa oleh beberapa staff disana
Sementara Dinzy menahan malu dengan wajahnya yang berubah merah padam, kemudian ia segera menuju mejanya dan meletakkan barang-barangnya di meja.
"Sudah-sudah, Mbak Mas ayo kita kerja" ucap Dinzy berusaha menghentikan topik.
Semua orang kembali ke mejanya, dan mulai fokus dengan pekerjaan masing-masing. Namun Dinzy, pikirannya terpecah antara pekerjaan dan perasaannya.
Komunikasinya dengan Luca sangat intens, setiap hari mereka saling mengirim pesan dan bertukar kabar lalu membagikan kegiatan mereka masing-masing.
Tentu saja sebagai perempuan, perasaan Dinzy merasa hidup kembali dengan hadirnya Luca sebagai 'teman' nya saat ini.
"Din, di panggil GM" ucap Maya
"Baik Mbak. Terimakasih" jawab Dinzy
Dinzy merasa hawatir karena ini pertama kalinya Dinzy dipanggil atasannya. Meskipun Dinzy tidak merasa berbuat kesalahan, ia tetap merasa cemas.
"Selamat Pagi Pak" ucap Dinzy
"Pagi Din. Duduk" jawabnya
Dinzy menarik kursi oerlahan kemudian duduk di hadapan managernya.
"Din, kamu kenal Pak Luca?"
"Iya Pak"
"Hubungan kamu sama Pak Luca apa?"
Dinzy terdiam, dia kembali mengulang pertanyaan Managernya tentang 'hubungan kamu dengan Pak Luca apa'.
"Tidak ada hubungan Pak" jawab Dinzy
"Din, kedekatan kamu dengan Pak Luca bisa membantu departemen kita. Saya tidak bermaksud ikut campur, tapi tolong jaga baik-baik hubungan kalian"
Dinzy hanya mengangguk perlahan, Dinzy tidak ada power untuk melawan Managernya meskipun Dinzy tidak suka perihal yang disampaikan oleh atasannya tersebut.
Setelah itu Dinzy kembali ke mejanya dengan wajah sedikit cemberut yang menarik perhatian Siska.
"Din, kamu gak apa-apa?"
"Gak apa-apa kok Mbak, aman"
"Kamu bisa cerita kalau ada sesuatu Din"
"Nanti aku cerita sama Mbak Siska, jangan disini ya Mbak"
"Oke Din"
Siska ikut merasa cemas, karena tiba-tiba Dinzy di panggil Mnager, lalu kembali dengan wajah di tekuk. Padahal menurutnya, Dinzy adalah seseorang yang ceria. Bahkan selama mengenal Dinzy, ia tidak pernah melihat Dinzy seperti ini.
"Dinzy gak apa-apa?" tanya Hendra
"Belum cerita Hen" jawab Siska
"Tenang-tenangin deh, tau sendiri itu agak gila"
"Bukan agak, memang gila"
Hendra menahan tawanya mendengar jawaban Siska, kemudian mereka kembali bekerja hingga waktu makan siang, mereka meninggalkan ruangan dan menikmati waktu istirahatnya.
Dinzy bersama dengan Siska menceritakan apa yang Manager mereka sampaikan. Siska terbelalak mendengar cerita Dinzy.
"Kenapa dia ikut campur? Mau cari muka tuh" ucap Siska
"Gak tahu Mbak. Aku juga gak nyaman dengan ini, karena jujur saja hubunganku sama Pak Luca hanya teman"
"Kalau aku jadi kamu, aku juga gak akan nyaman Din. Hidup pribadi dibawa ke ranah profesional apalagi untuk keuntungan mereka"
"Aku harus gimanaMbak?"
"Jangan hiraukan. Abaikan saja... selama kamu meeting tidak melakukan kesalahan jangan pedulikan apapun kata mereka"
Dinzy terdiam, baru beberapa bulan dia merasa bekerja dengan tenang tanpa gangguan. Tapi hari ini gangguan pertamanya muncul dan membuatnya sedikit gelisah.