NovelToon NovelToon
TALI MERAH & TEH TARIK

TALI MERAH & TEH TARIK

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:32
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Suasana di dalam toko masih terasa hening dan indah beberapa saat setelah itu. Aira masih berdiri di depan cermin besar itu, matanya tak lepas menatap bayangannya sendiri. Dia masih sulit percaya, bahwa kain panjang yang tadi cuma terlihat biasa saja di gantungan, sekarang berubah jadi baju yang begitu anggun dan pas banget menempel di tubuhnya.

Warna merah marun yang disulam benang emas itu memancarkan cahaya lembut setiap kali dia bergerak sedikit, dan kulitnya yang sawo matang bersih kelihatan makin cerah, makin eksotis, dan makin berkarakter.

Di sebelahnya, Arjun berdiri tegak dengan tinggi 183 cm, tangannya masuk ke saku celana, matanya masih memandang Aira dengan tatapan yang sama-penuh kekaguman dan rasa bangga yang tulus. Dia nggak bosan-bosannya lihat temannya itu yang terlihat beda banget tapi tetap jadi dirinya sendiri.

"Kamu tau nggak, Aira..." Arjun buka suara pelan, memecah keheningan yang manis itu.

"Di budaya kami, warna merah itu bukan cuma sekadar warna. Merah itu warna kehidupan, warna keberanian, warna kebahagiaan, dan warna kehormatan. Biasanya dipakai sama wanita-wanita yang punya kedudukan, atau dipakai pas momen-momen paling penting dan bahagia dalam hidup."

Dia melangkah maju sedikit, menunjuk sulaman bunga kecil di bagian pinggang sari yang dipakai Aira.

"Dan motif bunga melati ini... ini tambahan aku sendiri pas aku pesan kain ini. Ingat nggak dulu aku pernah kasih kamu bunga melati? Aku bilang itu simbol kesederhanaan dan kebaikan. Nah, di kain ini pun aku selipkan hal yang sama. Biar siapa pun yang pakainya, diingatkan terus buat tetap rendah hati, tetap tulus, dan tetap jadi orang yang bawa manfaat buat sekitarnya. Persis kayak kamu."

Aira menoleh cepat, matanya membelalak kaget banget.

"Lho? Maksud kamu... kain ini udah kamu siapkan dari dulu? Udah kamu pesan khusus sebelum hari ini?"

Arjun tersenyum malu dikit, menggaruk belakang lehernya.

"Iya... jujur aja, udah sekitar sebulan yang lalu aku pesan ini. Sejak pertama kali aku ajak kamu ngobrol panjang lebar di kafe, sejak aku tau kamu orangnya gimana, hatinya gimana... aku langsung kepikiran: 'Pasti dia bakal kelihatan indah banget kalau pakai baju adat kami. Pasti dia bakal ngerti maknanya, nggak cuma anggap kain biasa'."

Dia menatap Aira lekat-lekat.

"Aku nunggu waktu yang pas aja. Nunggu momen di mana aku yakin kamu bakal mau nerima ini, bakal mau ngerti ini, dan bakal mau menghargai ini. Dan hari ini pas banget... hari ini kamu libur lebih awal, hari ini suasana hati kamu lagi senang, jadi momen yang paling pas buat kasih ini."

Hati Aira rasanya meleleh banget denger penjelasan itu. Dia nggak nyangka, ternyata Arjun udah mikirin dia sedemikian rupa, udah siapin hal indah ini jauh-jauh hari, cuma buat berbagi keindahan budayanya. Rasanya tersanjung banget, rasanya dihargai banget.

"Jun... kamu ini emang nggak pernah berhenti bikin aku kaget ya," kata Aira pelan, suaranya agak bergetar terharu. Dia menyentuh ujung kain di bahunya pelan, merasakan setiap sulaman yang ada di situ.

"Aku kira cuma kain biasa yang kamu ambil sembarangan dari gantungan. Ternyata udah disiapin khusus, ada maknanya, ada ceritanya... Makasih banget ya. Beneran makasih banyak. Aku nggak tau harus bilang apa lagi selain terima kasih."

Arjun menggeleng santai, senyumnya lebar banget.

"Udah, nggak usah banyak terima kasih. Senang banget aku bisa lihat ekspresi kamu kayak gini. Senang banget aku bisa ngelihat budaya aku lewat sudut pandang orang lain yang seindah kamu. Ini bukan sekadar baju, Aira. Ini tanda kalau buat aku, persahabatan kita itu berharga banget, berarti banget, dan indah banget. Seindah kain ini."

Di sebelah mereka, Bibi Meera cuma tersenyum-senyum sambil membereskan sisa benang dan peniti. Dia udah paham banget, kalau Arjun jarang banget melakukan hal seistimewa ini buat siapa pun. Anak muda itu memang selalu tertutup, selalu simpan segala hal buat dirinya sendiri.

Tapi semenjak kenal gadis sawo matang yang tinggi dan ceria ini, Arjun jadi lebih banyak senyum, lebih banyak cerita, lebih banyak berbagi.

"Nona Aira," panggil Bibi Meera lembut.

"Sekarang coba lihat ke arah cermin lagi, tapi kali ini lihat caramu berdiri, caramu memandang, dan aura yang keluar dari dirimu. Bibi udah puluhan tahun kerja di sini, lihat ratusan wanita pakai baju sari. Tapi jujur... belum pernah ada yang pakai seanggun dan sepas kamu. Tinggi badanmu, postur tubuhmu, wajahmu, dan hati baikmu... semuanya nyatu jadi satu keindahan yang luar biasa pas dibalut kain ini."

Aira menatap pantulannya lagi. Bibi Meera bener. Biasanya dia merasa biasa aja, merasa cuma gadis biasa yang kerja di kafe, yang punya masa lalu kelam, yang sempat hancur. Tapi sekarang... lihat dirinya di cermin, berdiri tegak 175 cm ditambah sepatu hak tinggi 7 cm, baju indah penuh makna, di sebelah teman yang begitu menghargai dia... rasanya dia merasa jadi sosok yang jauh lebih besar, jauh lebih berharga, jauh lebih berarti.

Dia merasa indah. Bukan cuma indah secara fisik, tapi indah karena merasa diterima, merasa dimengerti, dan merasa punya tempat.

"Jun..." kata Aira lagi, matanya masih tertuju ke cermin.

"Dulu aku pernah mikir... setelah kejadian sama mantan pacarku itu, aku rasa aku nggak bakal pernah ngerasa berharga lagi. Aku rasa aku cuma orang biasa yang bakal jalan hidupnya biasa aja, tanpa warna indah apa pun. Tapi semenjak kenal kamu... semuanya berubah. Kamu bawain aku cerita, bawain aku pelajaran, bawain aku ke tempat indah, dan sekarang bawain aku warna merah indah ini. Kamu tau nggak? Kamu udah nambahin warna baru banget di hidup aku yang dulu sempat abu-abu banget."

Arjun diam sebentar, mendengar itu dengan hati yang penuh. Dia senang banget denger itu, tapi dia tetap rendah hati. Dia mendekat ke sebelah Aira, ikut menatap pantulan mereka berdua di cermin. Di situ terlihat dua sosok yang sama-sama tinggi, sama-sama tegap, sama-sama punya keindahan masing-masing, berdiri berbarengan.

Arjun dengan gayanya yang gagah, modern, dan khas India. Aira dengan kecantikannya yang alami, kulit cerah, dan sekarang dibalut budaya teman baiknya.

"Kamu salah, Aira..." jawab Arjun pelan dan lembut.

"Warna indah itu udah ada di diri kamu dari dulu. Udah ada di kebaikan hatimu, di ketulusanmu, di kesederhanaanmu. Aku cuma orang yang beruntung aja, yang dikasih kesempatan buat melihat warna-warna indah itu, dan beruntung bisa nyumbang satu warna kecil aja buat nambah keindahan kamu. Semua keindahan ini... asalnya dari kamu sendiri, bukan dari kain ini, bukan dari aku."

Dia menepuk pelan bahu Aira yang tertutup kain sutra itu.

"Dan satu hal lagi... aku seneng banget denger kamu bilang gitu. Karena sebenernya, kamu pun sama. Kamu juga udah nambahin warna baru banget di hidup aku. Warna persahabatan yang jujur, warna kebersamaan yang sederhana, warna rasa percaya yang murni. Warna yang nggak pernah aku temuin sama orang lain sebelumnya."

Suara langkah kaki terdengar dari luar, ada pelanggan masuk, bikin momen indah itu perlahan selesai. Arjun mundur selangkah, kembali ke sikapnya yang lebih formal tapi tetap ramah.

"Yaudah, nanti sore pas mau pulang, kamu bisa pakai ini langsung pulang atau bawa di bungkus ya. Bebas aja. Yang penting ingat maknanya aja. Dan ingat... ini milikmu, jadi jangan ragu buat pakai, buat kenang momen hari ini, momen di mana kamu bikin budaya aku terlihat paling indah seumur hidup aku."

Aira mengangguk mantap, senyumnya paling lebar yang pernah dia punya.

"Siap, Pak Arjun. Bakal aku simpan, bakal aku ingat, dan bakal aku jaga baik-baik. Terima kasih buat semuanya hari ini."

Sore itu, Aira meninggalkan toko Arjun dengan hati yang penuh banget. Di tangannya ada bungkusan kain indah itu, dan di hatinya ada rasa bahagia yang meluap-luap. Dia makin sadar, bahwa persahabatan dengan Arjun itu bukan sekadar ngobrol atau jalan bareng.

Persahabatan itu adalah saling berbagi keindahan, saling menguatkan, dan saling nambah warna di hidup masing-masing.

Di belakangnya, Arjun berdiri di depan toko melambaikan tangan sampai sosok Aira menghilang di tikungan jalan. Dia tersenyum puas banget.

Di dalam hatinya, dia berjanji diam-diam dia bakal terus menjaga persahabatan ini, bakal terus berbagi kebaikan, dan bakal terus bikin Aira merasa berharga, sama berharganya dengan kain sutra indah yang baru aja dia berikan tadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!