Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.
Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.
Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.
Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.
Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.
Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.
Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam yang Dijebak
Sejak pagi, langit tampak cerah.
Namun, bagi Niel, hari itu terasa jauh lebih berat dari biasanya.
Di ruang kerjanya, Darren sedang menjelaskan rencana pengamanan untuk makan malam nanti.
"Tuan, empat orang akan berjaga di luar restoran."
Niel mengangguk.
"Dua orang lagi?"
"Menyamar sebagai pelanggan."
"Bagus."
"Kalau benar mereka akan bergerak malam ini..."
"...aku ingin mereka merasa berhasil."
Darren mengernyit.
"Tuan sengaja memberi kesempatan?"
Niel menatap peta restoran yang terpampang di layar tablet.
"Musuh yang terlalu lama bersembunyi hanya bisa ditangkap kalau dia percaya dirinya tidak sedang diawasi."
Darren tersenyum tipis.
"Baik. Semua akan berjalan sesuai rencana."
_________________________________________
Sementara itu...
Di toko buku, Aluna tampak beberapa kali melihat jam dinding.
Siska yang sedang menyusun buku langsung menyenggol pelan lengannya.
"Masih tiga jam lagi."
Aluna pura-pura tidak mengerti.
"Tiga jam apanya?"
"Makan malam."
"Aku cuma lihat jam."
"Iya, iya."
Siska tertawa.
"Kamu gugup."
Aluna menghela napas sambil tersenyum malu.
"Sedikit."
"Sedikit atau banyak?"
"Banyak."
Jawaban jujur itu membuat Siska ikut tersenyum.
"Akhirnya."
"Akhirnya apa?"
"Ada juga laki-laki yang bikin kamu salah tingkah."
Aluna mengambil sebuah buku tipis lalu memukul pelan lengan sahabatnya.
"Jangan godain terus."
"Kalau nanti dia nembak gimana?"
"Siska!"
Wajah Aluna langsung memerah.
Mereka berdua tertawa bersama hingga tidak menyadari ada seseorang yang sedang memperhatikan dari luar etalase toko.
Pria berjaket hitam itu berdiri beberapa saat.
Tatapannya tertuju kepada Aluna.
Lalu...
Ia pergi begitu saja.
______________________________
Malam pun tiba.
Sebuah restoran bergaya klasik di pusat kota menjadi tempat yang dipilih Niel.
Suasananya hangat.
Lampu-lampu berwarna keemasan membuat ruangan terasa nyaman.
Aluna datang beberapa menit lebih awal.
Ia mengenakan gaun sederhana berwarna krem dengan rambut yang dibiarkan tergerai.
Tak lama kemudian...
Niel datang.
Untuk beberapa detik...
Keduanya hanya saling memandang.
"Kamu..."
ucap Niel pelan.
"Kelihatan cantik."
Aluna tersenyum malu.
"Terima kasih."
"Kamu juga kelihatan berbeda."
"Dalam arti?"
"Lebih santai."
Niel tertawa kecil.
"Mungkin karena hari ini aku tidak sedang bekerja."
Mereka pun duduk.
___________________________
Di sudut ruangan, dua orang anak buah Darren sudah berada di posisi masing-masing.
Sementara Darren sendiri memperhatikan keadaan dari mobil yang terparkir di luar restoran.
Makan malam berlangsung hangat.
Mereka membicarakan banyak hal.
Tentang buku.
Tentang masa kecil.
Tentang impian.
"Kalau suatu hari nanti kamu bisa membuka toko buku yang lebih besar..."
tanya Niel.
"Apa yang pertama kali ingin kamu lakukan?"
Aluna tersenyum.
"Aku ingin membuat sudut baca gratis."
"Gratis?"
"Iya."
"Biar siapa pun bisa datang membaca walaupun tidak membeli buku."
Niel mengangguk pelan.
"Itu ide yang bagus."
"Lalu kamu?"
Aluna balik bertanya.
"Kalau suatu hari nanti kamu berhenti bekerja..."
"Apa yang ingin kamu lakukan?"
Niel berpikir cukup lama.
Kemudian ia menjawab pelan.
"Mungkin..."
"...aku ingin menjalani hidup yang sederhana."
"Sederhana?"
"Iya."
"Bangun pagi."
"Minum kopi."
"Membaca buku."
"Lalu..."
Tatapannya perlahan bertemu dengan mata Aluna.
"...menghabiskan waktu bersama orang yang membuatku merasa tenang."
Jantung Aluna kembali berdegup lebih cepat.
Ia tidak tahu...
Apakah Niel memang sedang berbicara secara umum...
Atau sebenarnya sedang mengarah kepadanya.
_______________________________________
Di luar restoran.
Darren menerima panggilan dari salah satu petugas.
"Tuan Darren."
"Katakan."
"Ada satu mobil hitam yang berhenti sejak lima belas menit lalu."
"Pengemudinya tidak turun."
"Awasi."
"Jangan bertindak dulu."
"Baik."
Namun beberapa saat kemudian...
Petugas itu kembali menghubungi.
"Tuan!"
"Apa lagi?"
"Mobilnya pergi."
"Ke mana?"
"Tidak tahu."
"Tapi..."
Petugas itu berhenti sejenak.
"Dia meninggalkan sesuatu di depan restoran."
Wajah Darren langsung berubah serius.
"Apa itu?"
"Sebuah kotak hadiah."
_____________________________________
Di dalam restoran.
Seorang pelayan datang membawa kotak kecil berwarna hitam.
"Maaf."
"Apakah ini milik Bapak Niel?"
Niel mengernyit.
"Aku tidak memesan apa pun."
"Seorang pria menitipkannya."
Niel dan Aluna saling berpandangan.
Perasaan tidak enak mulai muncul.
Niel membuka kotak itu dengan hati-hati.
Di dalamnya hanya ada sebuah jam pasir kecil dari kaca.
Sama persis dengan simbol yang ditemukan Darren.
Di bawahnya terdapat secarik kertas.
"Waktumu untuk memilih hampir habis."
"Selamat menikmati makan malam terakhir yang tenang."
Senyum di wajah Niel perlahan menghilang.
Tangannya mengepal.
Sementara Aluna mulai menyadari...
Bahwa semua kejadian aneh belakangan ini memang bukan sekadar kebetulan.
Dan dari balik jendela restoran...
Seseorang sedang memperhatikan mereka dengan senyum penuh kemenangan.
"Fase kedua..."
"...akhirnya dimulai."
__________________________________________
Ruangan restoran yang semula dipenuhi obrolan hangat mendadak terasa sunyi.
Tatapan Niel terpaku pada jam pasir kecil di dalam kotak hitam itu.
Bentuknya sederhana.
Namun simbol itu kembali membuat kepalanya berdenyut.
Seolah-olah...
Ia pernah menggenggam benda yang sama di masa lalu.
"Niel..."
Suara Aluna terdengar pelan.
"Kamu kenal simbol ini?"
Niel mengangkat pandangannya.
Beberapa detik ia hanya diam.
Lalu menggeleng.
"Tidak."
"Setidaknya... aku tidak mengingatnya."
Jawaban itu terdengar jujur.
Namun Aluna bisa melihat sesuatu di mata Niel.
Kegelisahan.
Dan rasa takut.
________________________________
Darren masuk ke restoran dengan langkah cepat.
"Tuan."
"Ada apa?"
"Kotak itu diperiksa."
"Hasilnya?"
"Tidak ada sidik jari."
"Semua permukaannya sudah dibersihkan."
Niel mengembuskan napas pelan.
"Mereka memang tidak ingin meninggalkan jejak."
Darren kemudian melirik ke arah Aluna.
"Nona Aluna."
"Mulai malam ini, mohon lebih berhati-hati."
Aluna mengangguk, meski masih belum memahami semuanya.
"Apakah... semua ini ada hubungannya dengan Niel?"
Ruangan kembali hening.
Niel dan Darren saling berpandangan.
Untuk sesaat...
Niel ingin mengatakan semuanya.
Bahwa seseorang sedang menjadikan Aluna sebagai sasaran.
Bahwa setiap langkah mereka diawasi.
Namun ia mengurungkan niatnya.
"Maaf."
"Aku belum bisa menjelaskan."
Kalimat itu membuat Aluna sedikit kecewa.
Bukan karena Niel tidak percaya padanya.
Melainkan karena ia tahu...
Pria itu sedang memikul beban sendirian.
Makan malam akhirnya selesai lebih cepat.
_______________________________________
Saat mereka keluar dari restoran, udara malam terasa jauh lebih dingin.
Niel mengantar Aluna menuju mobil.
Sebelum membuka pintu, ia berkata pelan,
"Kalau beberapa hari ke depan aku sulit dihubungi..."
"Jangan panik."
Aluna langsung menatapnya.
"Kenapa?"
"Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan."
"Kamu mau pergi?"
"Bukan."
"Hanya..."
Niel tersenyum tipis, berusaha menenangkan.
"...percayalah padaku."
Aluna mengangguk perlahan.
"Aku percaya."
Jawaban sederhana itu membuat Niel menundukkan kepala sejenak.
Semakin Aluna mempercayainya...
Semakin besar pula rasa takutnya jika suatu saat kepercayaan itu harus dibayar dengan luka.
Dari atap gedung di seberang jalan, pria misterius menurunkan kamera yang sejak tadi mengarah ke mereka.
Ia melihat Niel membukakan pintu mobil untuk Aluna.
Melihat senyum kecil yang mulai tumbuh di antara keduanya.
Lalu ia berbisik pelan,
"Teruslah saling percaya..."
"Karena sebentar lagi..."
"...kepercayaan itulah yang akan paling mudah kuhancurkan."
Angin malam berembus pelan.
Jam pasir kecil di tangan pria itu kembali dibalik.
Butiran pasir mulai jatuh satu per satu.
Waktunya...
Terus berjalan.
— Bersambung —