"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."
Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.
Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.
kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.
Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Bungkam dalam Mobil.
***
Suara desis AC mobil Mercedes-Benz hitam beradu dengan rintik sisa hujan di luar kaca jendela. Di dalam kabin, atmosfer terasa panas dan mendidih. Freya duduk meringkuk di balik balutan jas besar milik Galen, namun bibirnya tidak bisa berhenti bergerak. Ia terus meremas pinggiran kain jas mahal itu dengan jemari yang gemetar akibat sisa amarah yang meluap.
"Awas saja ya, Raisa sialan itu. Berani-beraninya dia menyiramku". Gumam Freya dengan nada geram, matanya menatap tajam ke arah luar.
"Diam, Freya. Suaramu mengganggu fokus saya menyetir". Potong Galen tanpa menoleh, suaranya terdengar bariton dan sedingin es.
Freya langsung menoleh dengan kilat amarah yang membara di matanya. "Aku tidak bicara dengan Kakak! Aku sedang mengoceh sendiri!".
"Tapi telinga saya terpaksa mendengar polusi suara dari mulutmu". Balas Galen dingin, tangannya mencengkeram kemudi semakin erat.
"Kalau terganggu, turunkan saja aku di pinggir jalan! Aku juga tidak sudi semobil dengan Kakak!".
"Jangan memancing amarah saya lebih jauh, Anak Nakal."
"Siapa yang memancing? Kakak sendiri yang selalu mulai duluan!".
Galen menghembuskan napas panjang dari hidungnya, rahang tegasnya mengetat sempurna. "Kau berkelahi seperti binatang jalanan, lalu sekarang merengek seolah kau korban?".
"Aku memang korban! Raisa yang menyiramku duluan dengan es kopi!".
"Lalu kenapa kau membalas menyiramnya? Itu bukti kau sama rendahnya dengan dia."
"Oh, jadi aku harus diam saja ditindas seperti orang bodoh? Begitu maumu, Kak Galen?!".
"Tugasmu di sekolah itu belajar, bukan membuat kekacauan menjijikkan seperti ini!".
"Aku tidak membuat kekacauan! Mereka yang mengusik hidupku!".
"Jika kau bertingkah benar, tidak akan ada orang yang sudi mengusikmu". Sindir Galen, suaranya merendah penuh racun intimidasi.
"Kakak tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi di sekolah! Jangan sok tahu!".
"Saya tahu kau hanya pembawa masalah di mana pun kau berada."
"Aku bukan pembawa masalah! Kakak saja yang selalu memandangku dengan otak kotor Kakak!".
"Jaga ucapanmu, Freya Anindita!". Bentak Galen, nada suaranya naik satu oktaf memotong kalimat Freya dengan mutlak.
"Tidak mau! Aku sudah muak selalu disalahkan atas segala hal di hidup ini!".
Ckiiiiitttt!
Ban mobil mewah itu berdecit keras di atas aspal jalanan yang sepi dan remang-remang. Galen menginjak pedal rem secara mendadak, menepikan kendaraannya secara kasar di bahu jalan. Sentakan hebat membuat tubuh Freya terdorong ke depan sebelum tertahan sabuk pengaman.
Sebelum Freya sempat menghela napas, Galen sudah melepas sabuk pengamannya dengan sentakan kaku. Pria tersebut memutar tubuh tegapnya secara penuh, merangsek maju dan mencengkeram kedua sisi sandaran kursi Freya, mengunci pergerakan gadis itu di dalam kabin yang sempit.
"Kau benar-benar sudah tidak punya rasa takut lagi rupanya". Desis Galen tepat di depan wajah memucat Freya.
"Kenapa aku harus takut pada monster egois seperti Kakak?!". Tantang Freya, menolak mundur satu senti pun meski jantungnya berdegup brutal.
"Karena nyawamu dan seluruh pasokan hidupmu berada di dalam genggaman tangan saya!".
"Ambil saja semuanya! Aku tidak peduli! Biarkan aku bebas!".
"Bebas?". Galen terkekeh sinis, sebuah tawa smirk yang teramat sadis tanpa riak kebahagiaan. "Bebas agar kau bisa kembali memamerkan tubuh basahmu dan bertingkah murahan di depan bocah bernama Rendy itu, hah?".
PLAK!
Suara tamparan yang teramat nyaring seketika memecah keheningan kabin mobil yang kedap suara. Tangan mungil Freya bergerak kilat, menghantam pipi tegas Galen dengan seluruh sisa tenaga yang ia miliki. Sentakan itu begitu keras hingga membuat wajah tampan Galen sempat terlempar ke samping.
Suasana di dalam mobil seketika berubah menjadi teramat mencekam, seolah pasokan oksigen lenyap seluruhnya.
Freya terengah-engah, tangannya yang baru saja menampar bergetar hebat di udara. "Jaga... jaga mulut kotor Kak Galen! Jangan pernah sebut aku dengan kata menjijikkan itu lagi!".
Galen bergeming selama beberapa detik. Pria dua puluh sembilan tahun itu perlahan menurunkan pandangannya, meraba sudut pipinya yang terasa panas dan memerah akibat tamparan Freya.
Urat-urat di sepanjang leher dan pelipisnya menegang kaku, menjadi sinyal nyata bahwa amarah dewasanya telah tersulut hingga ke titik tertinggi yang teramat berbahaya.
Galen perlahan memutar kembali wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata bulat Freya dengan sepasang mata elang yang menggelap gulita penuh kilat membunuh.
"Kau... berani menampar saya?". Suara Galen merendah menjadi bisikan bariton yang teramat berat, namun sarat akan ancaman yang menembus tulang.
"Iya! Karena Kakak pantas mendapatkannya!". Balas Freya keras kepala, meskipun di dalam lubuk hatinya, rasa takut yang amat besar kembali merayap naik melihat wajah menyeramkan pria di hadapannya.
"Kau benar-benar tidak tahu diri, Freya."
"Kakak yang tidak tahu diri! Selalu menghinaku pelacur, menghinaku murahan! Aku bukan barang dagangan!".
"Tindakanmu di luar rumah selalu membuktikan kata-kata saya!".
"Aku hanya mengerjakan tugas kelompok! Aku hanya berteman! Apa itu salah, hah?!".
"Teman tidak akan menyentuh pinggangmu di atas motor pagi tadi!".
"Rendy cuma menolongku agar tidak jatuh! Kakak saja yang cemburu gila!".
"Saya tidak sudi cemburu pada anak pembawa sial sepertimu!".
"Kalau begitu berhenti mencampuri urusanku! Berhenti mengurung hidupku!".
"Saya pemilik hidupmu selama kau berada di rumah saya!".
"Aku bukan milikmu! Hubungan kita hanya sebatas saudara angkat, tidak lebih!".
"Saudara angkat, hm?". Galen memajukan wajahnya satu jengkal lebih dekat, mengikis habis jarak di antara mereka hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.
"Iya! Jadi berhenti bertingkah seolah Kakak adalah pemilik jiwa dan ragaku!".
"Kau terlalu banyak bicara, Freya."
"Aku akan terus bicara sampai Kakak sadar betapa egois dan sakit jiwanya tindakan Kakak selama ini!".
Freya terus mengoceh tanpa henti, menumpahkan seluruh larik kalimat pembangkangannya tepat di depan wajah Galen. Bibir ranumnya yang sedikit memucat bergerak lincah, memancarkan pesona remaja yang teramat keras kepala namun memikat di bawah remang cahaya jalanan malam.
Melihat bibir Freya yang terus bergerak mengoceh memakinya, ingatan Galen mendadak terdistraksi secara brutal. Otak dewasanya diacak-acak oleh memori beberapa hari lalu di dalam kamar yang terkunci—momen saat ia maju dan melumat habis bibir ranum itu, yang ia ketahui murni sebagai ciuman pertama milik Freya.
Gejolak asing yang teramat liar dan hasrat binal yang mati-matian ia tekan di bawah kucuran air mandi semalam, mendadak bangkit kembali meremukkan sisa-sisa logika sehatnya sore ini. Ego dominannya meledak total melihat pembangkangan kelinci buruannya.
"Kak Galen, lepas! Jangan menatapku seperti itu... Hmmmptt—".
Kalimat tantangan Freya seketika terputus kaku di tengah jalan. Kata-kata kemarahan yang hendak keluar dari mulut manisnya langsung dibungkam tanpa ampun.
Tanpa memberikan aba-aba, peringatan, atau belas kasihan sedikit pun, Galen merangsek maju memotong sisa jarak. Tangannya bergerak kilat mencengkeram kuat tengkuk Freya hingga jemarinya menyusup di antara rambut hitam lebat gadis itu, mengunci pergerakannya. Detik berikutnya, bibir tipis Galen langsung menubruk dan melumaat bibir ranum Freya dengan tiba-tiba.
Deg.
Jantung Freya seolah melewatkan satu detakan besar. Seluruh dunianya seketika runtuh dan berhenti berputar dalam satu kedipan mata. Mata bulat indahnya membelalak sempurna karena keterkejutan yang teramat luar biasa yang belum pernah ia bayangkan akan terjadi lagi di dalam mobil ini.
Sentuhan bibir Galen kali ini terasa puluhan kali lipat lebih kasar, menuntut, dan penuh dengan luapan hasr4t serta amarah yang meledak-ledak.
Pria itu melum4tnya secara brutal, merampas seluruh pasokan oksigen di dalam dada Freya hingga ocehan dan rontaan gadis remaja itu terputus begitu saja, tenggelam sepenuhnya di bawah dominasi ciuman paksa dari Galen.
Deg.
***