"Jangan tertipu dengan kelembutan kelopak bunga, karena di balik keindahannya ada duri yang bisa menembus jantungmu tanpa suara."
Putri Arabella Costa adalah perpaduan keanggunan bangsawan dan ketangguhan jiwa modern. Terlahir kembali sebagai putri bungsu Kerajaan Costa, Bella menolak diam di istana mewahnya dan memilih hidup bebas menyamar sebagai gadis biasa. Dia memiliki ruang dimensi berisi air kehidupan yang mampu menyembuhkan segala penyakit.
Lucian Alistair sosok pria yang dingin, dominan, memiliki insting bertarung serta indra penciuman yang tajam, menguasai garis depan militer, dan memiliki harga diri setinggi langit yang tidak bisa disentuh oleh sembarang orang.
Dua karakter kuat pemilik rahasia besar ini mendadak terikat dalam pernikahan tak terencana. Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Akankah kebuasan serigala bisa menaklukkan sang putri rahasia, atau justru sang Alpha yang akan bertekuk lutut di bawah kendali Arabella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMBALI KE ISTANA
"Tidak mau!" tolak Ara mentah-mentah, memundurkan langkahnya bersiap mengambil posisi kuda-kuda nya jika kedua kakaknya nekat maju.
"Aku tidak akan pernah mau kembali ke istana itu! Aku lebih suka jualan sayur di sini!" ucap Ara, tegas.
Pangeran Xavier menghela napas panjang, bertukar pandang dengan Raymond seolah sudah menduga reaksi keras dari adik perempuan mereka yang keras kepala ini.
"Bella, jangan keras kepala seperti anak kecil. Kali ini kami datang bukan untuk berdebat denganmu," ucap Pangeran Xavier.
"Lalu untuk apa? Kalau mau menyeret ku, langkahi dulu mayatku!" tantang Ara dengan mata bulatnya yang menyipit tajam, siap menggunakan kekuatan tangan kosongnya untuk menghajar ksatria istana jika diperlukan.
"Penyakit jantung Ayahanda kambuh lagi, Bella. Kondisinya drop sejak dua hari lalu," ucap Raymond melangkah maju selangkah, menatap langsung ke dalam mata Ara.
"A-Apa? Ayahanda... sakit lagi?" tanya Ara, terkejut.
"Benar. Ayahanda terus memanggil namamu dalam tidurnya," jawab Xavier, suaranya melunak.
"Beliau menolak minum obat dari tabib istana sebelum melihat putri bungsunya kembali dengan selamat. Apa kamu tega membiarkan Ayahanda pergi tanpa sempat menemui mu, Bella?" lanjut Pangeran Xavier, mencoba memanfaatkan titik kelemahan terbesar adik bungsunya yang sangat menyayangi ayah mereka.
Ara mengepalkan kedua tangan kecilnya kuat-kuat hingga kukunya memutih, jiwa modernnya berteriak bahwa ini bisa saja berupa trik manipulasi istana, namun ingatan tentang wajah sang Ayah yang selalu menemaninya sebelum tidur dari kecil, membuat hatinya langsung dilingkupi rasa cemas.
"K-kalian... kalian tidak sedang membohongiku kan?" tanya Ara, menatap kedua kakaknya bergantian mencari kebohongan.
"Kami tidak berbohong soal kesehatan Ayahanda, Bella," jawab Raymond tegas.
Ara mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat, menatap nanar ke arah kebun kubisnya dan pintu kamar gubuk tempat Ian biasanya tidur.
Perasaannya mendadak menjadi sangat kacau, terpecah antara rasa tanggung jawab pada ayahnya dan rasa berat hati meninggalkan suami palsunya tanpa pamit yang jelas.
Bagaimana kalau Ian nya kembali dan tidak menemukan dirinya?
"Baiklah, aku ikut pulang," ucap Ara akhirnya dengan nada pasrah.
"Tapi beri aku waktu sepuluh menit di dalam untuk mengemas beberapa barang penting ku, jangan ada yang berani masuk!" lanjut Ara, penuh penekanan.
"Sepuluh menit, tidak boleh lebih," jawab Pangeran Xavier, sambil mengangguk pelan.
Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Earl Kendrick.
Lady Michelle sedang berbaring di atas ranjangnya, wajahnya masih agak pucat, tapi matanya memancarkan kemarahan yang luar biasa besar.
Di sampingnya, Earl Kendrick sedang berjalan bolak-balik dengan wajah cemas dan kesal.
"Kamu ini benar-benar bodoh, Michelle! Kenapa kamu harus nekat datang ke kediaman Alistair saat Duke Lucas ada di rumah?!" bentak Earl Kendrick, menjambak rambutnya sendiri karena frustrasi.
"Kamu tahu sendiri bagaimana kejamnya pria itu! Dia bahkan mengancam akan meratakan rumah kita!" lanjut Earl Kendrick, menatap putrinya tajam.
"Ayah, aku terpaksa melakukannya! Jika aku tidak datang ke sana, kak Lucian bisa saja mengelak! Tapi jalang tua Jasmine itu malah merusak semuanya!" jerit Michelle dengan suara serak yang dipaksakan.
"Jaga bicaramu, Michelle! Kalau ada yang dengar-"
BRAAAKKKK!
"AAAAAKKKKKKHHHHHHH!"
Kalimat Earl Kendrick terputus seketika oleh suara dentuman yang sangat keras dari arah lantai bawah.
BRAK
BRAK
PYARR
Suara jeritan para pelayan dan pengawal terdengar bersahut-sahutan, diikuti oleh suara benda-benda berharga yang hancur berkeping-keping.
"Ada apa di bawah?! Siapa yang berani membuat keributan di rumahku?!" teriak Earl Kendrick dengan wajah memerah, langsung melangkah menuju pintu kamar putrinya.
Namun, belum sempat tangan Earl Kendrick menyentuh gagang pintu, pintu itu sudah terbuka akibat tendangan yang sangat kuat.
BRAKK
Sesosok pria dengan tatapan tajam nya, masuk, aura serigala buas nya langsung memenuhi kamar tersebut, membuat pasokan udara di dalam ruangan itu mendadak menipis hingga terasa mencekam.
"L-Lucian?!" pekik Michelle, matanya melebar sempurna antara rasa tidak percaya, senang, sekaligus ketakutan setengah mati melihat penampilan pria yang dicintainya itu.
Bruk
Earl Kendrick langsung berlutut di lantai karena tidak kuat menahan tekanan aura menakutkan yang dikeluarkan oleh Duke muda di hadapannya, tubuh pria paruh baya itu gemetar hebat.
"D-Duke Lucian... ada angin apa Anda mendatangi kediaman kami..." ucap Earl Kendrick dengan suara terbata-bata, mencoba bersikap sopan meski jantungnya berdegup kencang.
Lucian tidak memperdulikan keberadaan Earl Kendrick, mata tajam nya langsung melihat sosok Michelle yang sedang bersandar di kepala ranjang.
Langkah kaki Lucian terasa sangat berat dan lambat, namun setiap ketukan sepatunya di lantai terdengar seperti lonceng kematian bagi Michelle.
"Kak Lucian... kamu kembali untukku, kan? Uhuk... leherku sakit sekali, Ayahmu hampir membunuhku dan anak kita-"
SREEKK
"AAAKKKHHH!"
Michelle menjerit histeris ketika Lucian tiba-tiba maju dan menjambak rambut pirangnya dengan sangat kasar hingga kepala Michelle terpaksa mendongak ke atas dengan menyakitkan.
"Anak kita, katamu?" desis Lucian tepat di depan wajah Michelle.
Suara Lucian terdengar begitu tenang, namun justru ketenangan itulah yang membuat bulu kuduk Michelle berdiri.
"Bahkan jika seluruh wanita di dunia ini mati, aku tidak akan pernah sudi menyentuh kulitmu yang menjijikkan ini, Lady Michelle," ucap Lucian, dingin.
"D-Duke Lucian! Tolong lepaskan putriku! Tolong ampuni dia!" mohon Earl Kendrick dari lantai, mencoba merangkak mendekat namun langsung dihadang oleh pedang Patrik yang sudah terhunus di depan lehernya.
SRING
"Diam, Earl Kendrick, jika kamu mengeluarkan satu suara lagi, aku akan memastikan kepalamu terpisah dari tubuhmu sekarang juga," ancam Patrik dengan wajah datar tak tersentuh.
Lucian mempererat jambakannya pada rambut Michelle, membuat gadis itu menangis, karena rasa sakit yang luar biasa di kulit kepalanya.
"Kamu tahu apa kesalahan terbesarmu, Michelle?" tanya Lucian, suaranya naik satu oktaf, menggema penuh amarah di dalam kamar mewah itu.
"Kamu berani menginjakkan kaki kotor mu di rumahku! Kamu berani membohongi semua orang! Dan karena akting murahanmu itu, Ibundaku sekarang jatuh sakit!"bentak Lucian, dengan mata berkilat-kilat tajam.
"Ugh...k-Kak Lucian... aku melakukan ini karena aku mencintaimu... aku pantas menjadi duchess-mu, bukan wanita desa itu!" rintih Michelle, masih mencoba membela diri dengan ego tingginya.
Beberapa hari yang lalu, saat Michelle pergi ke kota kerjaan Costa, wanita itu memang tidak sengaja melihat Lucian sedang bersama Ara, makanya Michelle mengambil tindakan nekat dengan mendatangi kediaman Alistair, dan membuat kegaduhan dengan kehamilan nya.
Mendengar ucapan Michelle, mata Lucian semakin berkilat berbahaya, dia teringat pada Ara, istrinya yang tulus dan berhati bersih, walaupun dia galak, sangat jauh berbeda dengan wanita tidak tahu malu di depannya ini.
"Menjadi duchess ku? Dalam mimpimu yang paling indah pun, itu tidak akan pernah terjadi," ucap Lucian dengan senyuman yang sangat dingin dan kejam.