Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran di Balik Senyum
Tiga hari setelah operasi penggusuran yang gagal itu, sebuah undangan datang dengan cara yang paling tidak kuduga—bukan lewat ancaman, bukan lewat surat panggilan, melainkan lewat Pak Wisnu, pengacara yang membantu kasus Sari dulu.
"Ada yang menghubungi kantor saya," kata Pak Wisnu, suaranya penuh kehati-hatian waktu kami bertemu diam-diam di rumah salah satu warga bantaran kali. "Mengaku dari pihak Bupati Hardian langsung. Mereka mau ketemu kamu, Rangga. Katanya, buat 'menyelesaikan masalah ini secara baik-baik'."
Aku menatapnya lama, mencoba mencerna maksud di balik kata-kata itu. "Kenapa tiba-tiba mau ketemu langsung?"
"Menurut saya," jawab Pak Wisnu, "mereka mulai kewalahan sama tekanan publik. Video kamu, artikel Mira, kegagalan operasi kemarin—semua itu bikin posisi mereka nggak senyaman biasanya. Mungkin mereka pikir, lebih gampang 'ngobrol baik-baik' sama kamu daripada terus-terusan hadapin ini di depan publik."
Yanto, yang duduk di sampingku, langsung menggeleng tegas begitu mendengar penjelasan itu. "Ini jebakan, Rangga. Jangan datang."
Tapi ada sesuatu di dalam diriku yang justru penasaran—bukan naif, melainkan sadar bahwa mendengar langsung apa yang ingin dikatakan Hardian bisa memberi kami informasi berharga, asalkan kami cukup hati-hati.
---
Pertemuan itu diatur di sebuah rumah pribadi di kawasan elit kota, jauh berbeda dari gang-gang sempit yang selama ini jadi duniaku. Aku datang dengan syarat ketat yang kami sepakati bersama: Yanto menunggu di luar dengan kendaraan siaga, Ujang mengawasi dari kejauhan, dan Pak Wisnu mendampingiku langsung sebagai saksi sekaligus perlindungan hukum minimal.
Bupati Hardian Wibowo menyambutku sendiri di ruang tamu yang begitu luas hingga terasa asing bagiku, dengan senyum ramah yang sama seperti yang kulihat di papan proyek dan rekaman konferensi pers—senyum yang, dari dekat, terasa lebih terlatih daripada tulus.
"Rangga," katanya, mengulurkan tangan yang tidak langsung kusambut. "Akhirnya kita bertemu langsung. Saya sudah dengar banyak soal kamu."
Aku duduk di kursi yang ditunjukkan, menjaga jarak yang cukup formal. "Saya juga udah dengar banyak soal Bapak."
Ia tertawa kecil, seolah menganggap kalimatku sebagai lelucon ringan alih-alih sindiran. "Saya suka anak muda yang berani bicara terus terang. Itu sebabnya saya pikir, kita berdua bisa selesaikan ini tanpa perlu drama lebih jauh lagi."
---
Hardian berbicara panjang lebar soal "visi besar" pembangunan kota, soal bagaimana proyek revitalisasi sebenarnya "demi kebaikan jangka panjang" warga Karang Wetan sendiri, meski aku tahu persis kata-kata itu jauh dari kenyataan yang kami alami.
"Saya paham," katanya akhirnya, nada suaranya berubah lebih pelan dan personal, "proses ini nggak mudah buat warga yang harus pindah. Makanya, saya mau tawarkan sesuatu yang lebih baik buat kamu secara khusus, Rangga."
Ia menggeser sebuah map tipis ke arahku. Di dalamnya, aku menemukan dokumen yang membuat dadaku terasa aneh membacanya—tawaran kompensasi jauh di atas standar untuk keluargaku, sebuah rumah baru di kawasan yang lebih layak, bahkan tawaran pekerjaan tetap di salah satu perusahaan yang terafiliasi dengan proyeknya.
"Ini bukan suap," katanya cepat, seolah membaca pikiranku. "Ini kompensasi yang adil, yang seharusnya dari awal kamu dan keluarga kamu dapatkan. Sebagai gantinya, saya cuma minta satu hal sederhana—kamu berhenti bikin keributan soal proyek ini di publik, dan bantu saya yakinkan warga lain buat terima proses relokasi dengan tenang."
---
Aku menatap dokumen itu lama, merasakan godaan yang jujur saja, sempat membuat dadaku berdebar dengan cara yang berbeda—bayangan Bapak tidak perlu lagi menjahit sepatu sampai larut malam, Ibu tidak perlu lagi berjualan gorengan di pinggir jalan yang panas, keluarga kecilku akhirnya hidup dengan sedikit lebih lapang.
Tapi bayangan lain juga muncul bersamaan—wajah Bu Inah yang warungnya pernah dibakar, Sari yang rela ditahan demi mencari kebenaran, Dedi yang nyaris celaka karena berani bicara jujur, Pak Rusdi dan warga kampung nelayan yang berdiri diam menghadapi alat berat beberapa hari lalu.
"Kalau saya terima ini," kataku pelan, menatap Hardian langsung, "keluarga saya mungkin hidup lebih enak. Tapi ratusan keluarga lain di Karang Wetan, di bantaran kali, di kampung nelayan—mereka tetap bakal digusur dengan kompensasi yang jauh di bawah standar, kayak yang selama ini kami temukan datanya. Bapak nggak nawarin solusi buat semua orang. Bapak cuma nawarin cara buat bikin saya diam."
Untuk sesaat, senyum di wajah Hardian memudar, digantikan tatapan yang jauh lebih dingin dari yang ditunjukkannya sepanjang pertemuan itu.
"Kamu masih muda, Rangga," katanya, suaranya turun jadi lebih tajam. "Kamu pikir bisa menang lawan sistem yang udah berjalan lama sebelum kamu lahir? Saya kasih kamu kesempatan buat keluar dari ini dengan baik-baik. Kalau kamu tolak, saya nggak bisa jamin lagi kesempatan sebaik ini bakal datang dua kali."
"Saya ngerti risikonya," jawabku, berdiri dari kursiku. "Tapi saya juga ngerti, kalau saya terima tawaran ini, saya nggak akan pernah bisa lihat wajah orang-orang yang udah percaya sama saya, tanpa ngerasa saya udah jual mereka demi hidup saya sendiri yang lebih enak."
---
Aku keluar dari rumah itu dengan tangan kosong, menolak map berisi tawaran yang, kalau dipikir ulang, cukup untuk mengubah hidup keluargaku selamanya. Yanto yang menungguku di kendaraan langsung menatapku cemas begitu melihat wajahku.
"Gimana?" tanyanya.
"Dia coba beli aku," jawabku singkat, duduk di kursi penumpang dengan perasaan campur aduk antara lega dan berat. "Aku tolak."
Yanto diam sesaat, lalu mengangguk pelan, seolah tidak terkejut sama sekali dengan jawabanku. "Berarti sekarang kita harus lebih hati-hati dari sebelumnya. Orang yang ditolak kayak dia, biasanya nggak akan tinggal diam."
Aku menatap ke luar jendela, menyaksikan gedung-gedung tinggi kawasan elit itu perlahan berganti dengan gang-gang sempit yang lebih kukenali, lebih terasa seperti rumah. Malam itu, aku menyadari satu hal dengan jelas: pertemuan itu bukan akhir dari negosiasi, melainkan awal dari babak baru yang jauh lebih berbahaya—karena sekarang, Hardian tahu pasti, aku tidak bisa dibeli, dan itu berarti ia akan mencari cara lain untuk menyingkirkanku.
---
*(Bersambung ke Bab 23)*