NovelToon NovelToon
SANGHYANG RASA

SANGHYANG RASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.

Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.

Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.

Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.

Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.

Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.

Dan apinya... baru saja mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 : PASAR CIKAWUNG

Langkah kaki Bayu dan Karta terus maju menembus rimbunnya Wana Kelor. Hutan lebat ini menjadi batas alami yang memisahkan Kampung Cikabuyutan dari wilayah Kadipaten Ciaruteun. Pepohonan tua menjulang tinggi, menutupi sebagian cahaya matahari hingga udara terasa sejuk namun agak suram. Sesekali sinar menembus celah dedaunan, membentuk bintik cahaya yang bergerak pelan mengikuti hembusan angin.

Di sekeliling terdengar kicau burung bersahutan dan gemerisik daun yang saling bergesek. Sesekali terdengar suara hewan kecil berpindah tempat di balik semak belukar. Jalan yang dilalui terjal dan berkelok, tapi tekad keduanya tak pernah goyah sedikit pun.

Bayu berjalan di depan, matanya tak lepas mengamati setiap sisi dengan waspada. Karta mengikuti di belakang, sesekali mengeluarkan celotehan yang entah kenapa membuat perjalanan melelahkan itu terasa lebih ringan.

“Kalau jalannya terus begini, rasanya sampai tua pun kita belum sampai tujuan, Kang,” ucap Karta sambil menyeka keringat dengan ujung lengan.

Ia melangkah terhuyung sedikit sambil menunjuk ke arah jalan setapak.

“Lihat batu ini, seolah sengaja ditaruh supaya kita tersandung. Dan akar ini juga, panjang sekali melintang di jalan, seolah tak mau memberi jalan.”

Bayu hanya tersenyum tipis tanpa menoleh ke belakang.

“Kalau kau terus mengeluh, jalan ini akan terasa makin panjang. Anggap saja ini ujian bagi kaki dan pikiran, sebelum menghadapi hal yang jauh lebih berat nanti.”

“Ujian katamu? Aku lebih suka ujian yang bisa dijawab sambil duduk santai makan ubi rebus,” sahut Karta cepat.

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, kakinya tersandung akar yang baru saja ia keluhkan. Ia hampir jatuh, tapi berhasil menahan tubuh dengan kedua tangannya.

“Lihat kan? Benar saja dia berniat menjatuhkanku.”

Kejadian itu membuat Bayu berhenti dan menoleh, menahan tawa yang hampir keluar.

“Sudah, jangan salahkan benda mati. Itu karena matamu yang kamana daek nempona. Ayo duduk sebentar, perut juga sudah minta diisi.”

Mereka duduk di bawah pohon besar yang rindang, membuka bungkusan bekal dari kampung. Isinya hanya nasi dibungkus daun pisang, tempe goreng kering, dan sepotong gula aren. Makanan sederhana itu terasa nikmat sekali setelah berjalan berjam-jam tanpa istirahat.

Sambil mengunyah, Karta terus bercerita dan melempar lelucon. Suasana hening di dalam hutan jadi terasa lebih hidup berkat celotehannya. Tiga hari perjalanan berlanjut begitu saja tanpa henti.

Mereka melintasi lembah dalam, menaiki bukit terjal, dan menyeberangi sungai yang airnya jernih serta dingin. Setiap malam beristirahat di tempat aman, menyalakan api unggun kecil untuk menghalau dingin. Mereka tidur bergantian agar selalu ada yang berjaga menjaga keselamatan.

Di saat Karta tertidur lelap, Bayu sering terbangun lebih awal. Ia memandang kegelapan sambil meraba bungkusan kain di punggungnya yang berisi busur pusaka. Beban di pundak terasa makin berat, tapi keyakinan melangkah demi kebenaran membuatnya tetap tegar.

“Kau tahu, Kang,” ucap Karta suatu malam sambil menatap nyala api yang menari-nari, “aku tak paham soal aturan kekuasaan atau urusan istana. Yang aku tahu, kalau melihat orang lemah diinjak begitu saja, kita harus menolong. Itu saja yang ada di kepalaku.”

Bayu menoleh, menatap adiknya dengan pandangan lembut.

“Itu sudah lebih dari cukup, Karta. Kebenaran itu sebenarnya sederhana. Hanya saja orang yang memegang kekuasaan sering membuatnya rumit, semata-mata demi keuntungan diri sendiri.”

Memasuki hari keempat, saat matahari tepat di atas kepala, mereka mulai mencium bau asap dan mendengar hiruk-pikuk dari kejauhan. Semakin jauh melangkah, suara itu makin jelas terdengar. Ada teriakan pedagang, lenguhan hewan, derit roda gerobak, dan tawa orang berkumpul.

Di balik lereng bukit terakhir, terlihat Pasar Cikawung yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Pasar ini menjadi pintu gerbang penghubung pedalaman dengan pusat pemerintahan Kadipaten. Tempatnya sangat luas, dipenuhi ratusan orang dari berbagai daerah.

Lapak berjejer rapat, ada yang beralaskan tikar, ada pula yang bertenda kayu. Segala macam barang ada di sana: beras, garam, rempah, kain tenun, alat tani, hingga hasil hutan dari tempat jauh. Namun begitu masuk, Bayu dan Karta langsung merasakan perbedaan yang menyakitkan hati.

Di satu sisi rakyat biasa bekerja keras dengan wajah lelah dan pakaian lusuh. Mereka menawarkan barang murah, berharap hasilnya cukup untuk makan sekaligus membayar pajak yang makin berat. Seorang pedagang sayur meremas tangan cemas, takut dagangannya tak laku. Seorang ibu tua duduk termenung menatap hasil bumi, tak tahu uangnya cukup untuk bertahan hidup atau tidak.

“Lihat mereka, Kang,” bisik Karta pelan. “Mereka banting tulang seharian, tapi tetap saja hidup serba kekurangan. Ke mana sebenarnya hasil kerja keras mereka pergi?”

Bayu mengangguk pelan, matanya tak berhenti mengamati setiap sudut pasar.

“Karena keadilan tak pernah ditegakkan di sini. Semakin banyak diambil oleh mereka yang berkuasa, semakin sedikit sisa yang diterima oleh mereka yang bekerja.”

Belum sempat percakapan berlanjut, suasana mendadak hening. Orang-orang menyingkir ke pinggir dan menunduk memberi jalan dengan wajah takut. Terdengar langkah kaki teratur, denting senjata, dan derap kuda yang melangkah gagah.

Dari ujung jalan muncul rombongan yang sangat mencolok. Empat pengawal berzirah rapi memegang tombak dengan lambang elang emas di dada—tanda kerabat dekat Adipati Rangga Sasmita. Di tengahnya duduk pria paruh baya di atas kuda terawat, berpakaian sutra keemasan berhias manik berkilau. Wajahnya angkuh, seolah tak ada rakyat yang layak ia lihat.

“Minggir! Beri jalan bagi Gusti Arya Wicaksana!” teriak salah satu pengawal lantang.

Bayu dan Karta ikut mundur menyatu kerumunan. Namun saat orang lain menunduk gemetar, Bayu tetap mengamati tenang mencatat setiap gerak mereka.

“Baju yang dia pakai saja mungkin cukup untuk memberi makan satu kampung selama setahun, Kang,” bisik Karta tak percaya. “Tapi lihat wajahnya, seolah memikul beban berat padahal hanya duduk diam di atas punggung kuda.”

“Beban yang dia bawa bukan miliknya, Karta,” jawab Bayu pelan. “Itu beban yang diambil dari pundak orang lain, lalu dipindahkan ke mereka yang makin lemah. Itulah sebabnya dia merasa berhak atas segalanya.”

Saat melintas, pengawal menyenggol lapak pedagang kain hingga barangnya jatuh berdebu. Pedagang itu langsung berlutut pucat pasi ketakutan.

“Ampun Ki... hamba tidak sengaja menghalangi jalan...”

Pengawal itu melirik jijik lalu meludah.

“Jagalah barang-barangmu dengan baik. Kalau sampai menghalangi jalan Gusti Arya, nyawamu yang menjadi taruhan.”

Rombongan terus melaju tanpa peduli. Tak ada yang berani menegur karena tahu akibatnya fatal. Rahang Bayu mengeras, tangannya mengepal menahan amarah, namun ia sadar belum waktunya bertindak. Tujuannya mencari akar masalah, bukan membuat keributan sia-sia.

Setelah rombongan hilang dan pasar kembali riuh, Karta mendekat sambil menggeleng.

“Sekarang aku benar-benar mengerti kenapa kampung kita terus ditekan begitu, Kang. Di sini saja orang sudah terbiasa melihat ketidakadilan seolah itu hal yang wajar.”

“Itu karena mereka merasa tak punya kuasa melawan, dan tak ada yang berani berdiri menengahi,” jawab Bayu menatap jalan tadi. “Tapi rasa takut itu tak akan bertahan selamanya. Selama masih ada hati lurus dan niat tulus, keseimbangan pasti kembali.”

Mereka melanjutkan langkah mencari tempat istirahat sekaligus menggali informasi. Setiap keluhan pedagang menjadi catatan penting bagi Bayu. Semakin banyak didengar, semakin jelas terlihat bahwa beban rakyat bukan demi wilayah, melainkan keserakahan segelintir orang.

Di bawah pohon beringin tua, keduanya duduk menyusun rencana. Di depan masih terbentang jalan penuh intrik dan bahaya. Namun melihat semangat yang tersisa di mata rakyat yang terus berjuang, tekad Bayu makin menguat.

Perjalanan ini baru memasuki pintu gerbangnya, ujian yang sesungguhnya baru dimulai. Dengan hati bersih, niat tulus, dan kekuatan hanya untuk keadilan, mereka siap melangkah masuk ke wilayah kekuasaan itu. Siap melihat, mendengar, dan mencari jalan agar kebenaran kembali bersinar di tempat yang lama tertutup keserakahan.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!