NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kaisar Pedang Yang Terlupakan

Kebangkitan Kaisar Pedang Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Fantasi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: hajdhts

"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."

Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.

Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.

Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Darah Murni

​Suasana di dalam kamar penginapan mewah itu mendadak hening, hanya menyisakan suara embusan angin malam yang menerobos masuk lewat celah jendela kayu yang sedikit terbuka.

Cahaya lilin di tengah meja bergoyang perlahan, memantulkan bayangan panjang mereka pada dinding sutra kamar yang hangat. Bau dupa melati yang menenangkan perlahan-laman bercampur dengan ketegangan samar yang mendadak melingkupi tempat itu.

​Mu Rong'er menatap lilin yang menyala, sumbunya sesekali memercikkan api kecil. Tangannya yang putih bersih bergerak pelan menuju lehernya, menarik keluar untaian kalung dengan permata merah darah yang kini sudah kembali tenang.

Batu permata itu tidak lagi memancarkan cahaya silau seperti saat berada di gua bawah tanah tadi, tetapi kehangatan yang tertinggal di permukaan kulitnya masih terasa sangat nyata.

Ia mengelus batu itu dengan lembut, seolah benda mati itu bisa menghantarkan kembali kehangatan pelukan seorang ibu yang sudah lama sekali tidak ia rasakan dalam hidupnya.

​"Ayahku sebenarnya bukan berasal dari klan besar di Ibukota ini," Mu Rong'er memulai ceritanya dengan nada suara yang agak bergetar, matanya menatap kosong ke arah permukaan meja kayu yang mengkilap.

"Keluarga Mu hanyalah klan kultivator kecil di pinggiran wilayah selatan, yang bertahan hidup dengan cara mengelola kebun tanaman obat tingkat rendah. Di mata klan-klan besar di pusat kota, kami tidak lebih dari sekadar petani yang beruntung bisa menyentuh energi spiritual."

​Ling Chen mendengarkan tanpa memotong sedikit pun, punggungnya bersandar santai pada kursi kayu berukir naga.

Matanya yang berwarna biru safir menatap tajam, memperhatikan setiap perubahan ekspresi, kerutan di dahi, hingga getaran halus pada jemari gadis di depannya.

Baginya yang berjiwa kaisar, emosi manusia fana adalah sesuatu yang sangat mudah dibaca, namun cerita ini memiliki benang merah yang ia butuhkan untuk menyusun kembali kepingan teka-teki hidupnya yang sekarang.

​"Suatu hari, sekitar belasan tahun yang lalu, ayahku menemukan ibuku pingsan di tepi sungai belakang desa dengan luka bakar energi yang sangat parah di sekujur tubuhnya," lanjut Mu Rong'er, sebuah senyuman kecil yang getir muncul di sudut bibirnya yang tipis.

"Luka itu bukan karena senjata tajam, melainkan akibat hantaman teknik tingkat tinggi yang merusak meridian dalamnya. Ibu tidak pernah menceritakan dari mana asalnya, siapa keluarga besarnya, atau siapa nama aslinya. Beliau hanya menerima nama baru yang diberikan ayah, lalu hidup tenang sebagai wanita biasa yang membantu mengurus dan memilah tanaman obat di kebun."

​Mu Rong'er menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dadanya ketika ingatan masa kecil itu berputar kembali di kepalanya.

"Namun, tepat sebelum ibu meninggal karena luka dalamnya yang kambuh dan tidak bisa disembuhkan oleh obat-obatan biasa, beliau memberikan kalung permata merah ini kepadaku. Ibu berpesan dengan sangat serius, jika suatu saat nanti batu ini bergetar hebat atau memancarkan cahaya murni ketika berdekatan dengan sepotong giok hijau, itu tandanya pemilik takdirku telah muncul. Beliau menyuruhku untuk mengikuti orang tersebut ke mana pun ia pergi, karena hanya di samping orang itulah keselamatanku bisa terjamin."

​Gadis itu mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata Ling Chen dengan binar yang campur aduk antara rasa tidak percaya, kebingungan, dan kepasrahan pada garis nasib yang sudah digariskan sejak lama.

"Aku selalu mengira ucapan itu hanyalah dongeng pengantar tidur agar aku menjaga peninggalan ini dengan baik, tetapi setelah melihat bagaimana batuku bereaksi dengan giok hijau milik ibumu di gua tadi, aku baru sadar bahwa semua ucapan ibuku adalah kebenaran yang nyata yang tidak bisa kuhindari lagi."

​Kuro yang berada di atas pangkuan Mu Rong'er seolah-olah bisa merasakan kesedihan dan beban mental yang sedang dirasakan oleh gadis yang menyuapinya ikan bakar tadi.

Makhluk kecil berbulu hitam itu menggosokkan moncongnya yang lembut ke pergelangan tangan Mu Rong'er, lalu mengeluarkan suara "Kyuu~" yang sangat pelan, seolah sedang menghibur dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja di bawah perlindungan mereka.

​Ling Chen meraih Giok Jiwa Sembilan Langit miliknya dari atas meja, memutarnya perlahan di sela-sela jarinya yang panjang dan kokoh.

"Ibu dari tubuh ini juga tidak pernah mengatakan apa pun tentang Benua Tengah, beliau memilih hidup menderita di dalam paviliun belakang Keluarga Ling yang dingin dan bising hingga akhir hayatnya tanpa pernah mengeluh sedikit pun tentang masa lalunya."

​Sebuah kilatan dingin yang sangat tajam, sewarna dengan es abadi di puncak gunung, melintas sekilas di mata Ling Chen ketika ingatan lama tubuh ini tentang bagaimana mereka diperlakukan dengan semena-mena oleh klan fana Jombang kembali muncul.

Diskriminasi, cacian, hingga penolakan obat-obatan dasar yang membuat ibunya meninggal dalam kondisi mengenaskan adalah hutang yang belum sepenuhnya lunas, meskipun Keluarga Ling saat ini sudah terusir bagai tikus dari kota asal mereka.

​"Tetapi, karena sekarang aku yang memegang giok ini, semua hutang darah, air mata, dan penghinaan di masa lalu pasti akan kubuat lunas," ucap Ling Chen, suaranya sangat tenang namun mengandung daya tekan yang membuat nyala api lilin di meja mendadak mengecil seolah ketakutan.

"Siapa pun musuh yang berdiri di depan jalan kita, entah itu pangeran kekaisaran fana ini atau para penguasa dari Benua Tengah yang sombong itu, mereka semua hanya akan menjadi batu pijakan di bawah kakiku."

​Mendengar penegasan yang begitu mutlak dan penuh percaya diri dari Ling Chen, rasa takut serta keraguan yang sempat membayangi hati Mu Rong'er perlahan-lahan menguap tanpa bekas.

Pemuda di depannya ini memang sangat dingin, bicaranya ketus, dan tidak ragu untuk memotong tangan atau kepala musuhnya dalam sekejap mata, namun di balik sikap acuh tak acuh itu, ada sebuah prinsip kuat dan karisma tak tertandingi yang membuat siapa pun di dekatnya merasa aman dari badai dunia luar.

​"Lalu, apa rencana kita selanjutnya di Ibukota ini, Tuan Muda Ling?" tanya Mu Rong'er setelah emosinya benar-benar kembali stabil, ia membenarkan posisi duduknya agar lebih tegak.

"Pasukan Penjaga Bayangan yang kau tumbangkan di gua bawah tanah tadi pasti memiliki metode khusus untuk melaporkan kematian mereka kepada sang Pangeran Agung, tempat ini mungkin tidak akan aman untuk waktu yang lama sebelum mereka mengirim pasukan yang lebih besar."

​"Biarkan saja mereka mencari kita," ucap Ling Chen sambil memasukkan kembali giok hijaunya ke dalam balik jubah biru tuanya yang baru. "Semakin banyak anjing pemburu yang mereka kirim ke sini, semakin cepat pula aku bisa menemukan jalan lurus menuju istana inti untuk mencabut kepala tuan mereka tanpa perlu membuang-buang waktu mencari gerbangnya."

​Sebelum Mu Rong'er sempat membalas ucapan gila yang terdengar sangat santai itu, indra pendengaran tajam Ling Chen menangkap suara langkah kaki yang tergesa-gesa di koridor luar kamar mereka.

Langkah kaki itu terdengar berat dan goyah, tidak memiliki bobot energi spiritual sama sekali, menandakan bahwa orang yang sedang berlari menuju kamar mereka hanyalah manusia biasa yang sedang didera ketakutan luar biasa.

​TOK! TOK! TOK!

​Suara ketukan pintu yang tidak sabar dan kasar terdengar, disusul oleh suara pelayan hotel muda yang siang tadi mereka beri potongan batu roh murni. "Tuan Muda! Tuan Muda yang agung! Mohon buka pintunya sebentar, ada kabar darurat yang sangat penting dari aula bawah!"

​Ling Chen tidak terkejut, ia hanya memberi isyarat mata yang dingin kepada Mu Rong'er agar tetap duduk di tempatnya dan menjaga Kuro, sementara ia sendiri berdiri dari kursi dan berjalan perlahan menuju pintu kayu besar itu lalu membukanya dengan satu sentakan tangan kanan yang santai.

​Pelayan muda itu berdiri di depan pintu dengan wajah yang pucat pasi, dibanjiri oleh keringat dingin hingga baju seragam penginapannya basah kuyup. Napasnya tersengal-sengal seolah-olah dadanya hendak meledak setelah berlari menaiki tangga empat lantai tanpa henti.

"Tuan Muda... di bawah... di bawah ada satu peleton pasukan dari Garda Emas Kekaisaran! Mereka dipimpin langsung oleh seorang kapten berbaju zirah besi, mereka sedang menyisir dan menggeledah setiap kamar penginapan di distrik ini untuk mencari seorang pemuda berjubah biru tua dan gadis berbaju merah muda!"

​Mu Rong'er yang mendengar hal itu langsung berdiri dari kursinya dengan wajah yang kembali menegang, tangannya secara refleks memeluk Kuro lebih erat hingga makhluk kecil itu mengeluarkan suara protes kecil karena dadanya tertekan.

​Ling Chen hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat tenang namun memancarkan aura membunuh yang sangat pekat, membuat pelayan muda di depannya langsung gemetar ketakutan hingga lututnya lemas tanpa tahu apa sebabnya.

"Ternyata mereka benar-benar datang lebih cepat dari perkiraanku, terima kasih atas informasimu, ambil ini dan pergilah sembunyikan dirimu di ruang bawah tanah jika kau masih ingin melihat matahari besok pagi."

​Ling Chen melemparkan seeping koin emas fana ke tangan pelayan itu, lalu menutup pintu kamar kembali dengan pelan. Ia berbalik, menatap Mu Rong'er yang sudah bersiap dengan kalung merahnya yang kembali berpendar redup.

​"Tuan Muda Ling, apa kita akan menerobos lewat jendela?" tanya Mu Rong'er dengan suara berbisik, matanya melirik ke arah jendela yang menghadap ke jalanan belakang penginapan yang gelap.

​Ling Chen berjalan menuju sudut tempat ia meletakkan pedang hitamnya, mengikatkan sarung senjata itu ke pinggang jubah biru tuanya dengan gerakan yang sangat rapi dan elegan.

"Menerobos lewat jendela? Itu adalah tindakan para pencuri yang ketakutan. Karena mereka sudah repot-repot datang mengantarkan nyawa, mari kita turun ke bawah dan menyambut mereka dengan cara yang semestinya."

​Mendengar kata-kata itu, Mu Rong'er menarik napas dalam-dalam, menyadari bahwa malam pertamanya di Ibukota tidak akan dilewati dengan tidur nyenyak, melainkan dengan lantai yang kembali basah oleh darah para pencari masalah.

1
Nanik S
Giliranku menunjukan permainan yang sesungguhnya👍👍👍
Nanik S
Ganggu orang makan saja... Dasar Pak Tua ..ganti baju dulu🤣🤣🤣
Nanik S
Ceritanya bagus tapi gak hidup sama sekali karena susunan kata saja ditulis aja ..banget .... Loh.....harusnya ditulis yang pas Tor
Siti Hodijah: makasih masukannya
total 1 replies
Nanik S
Lanjutkan dan kata katanya banyak kurang pas
Nanik S
Dikit dikit kata banget... cari kata lain yang Pas Tor
Siti Hodijah: contohin dong kak
total 2 replies
Nanik S
Sebagai masukan .. kata subuh dijaman dulu itu tidak ada Tor
Siti Hodijah: jadi sarannya gmnaa kaka
total 2 replies
Nanik S
Kemana lagi Lin Chen dan Mu Rong
Nanik S
Ada kata yang kurang .. salah satunya Oky dan adalagi Tot
Nanik S
Shiiip
Nanik S
Sang Kapten yang mau menyetor Nyawa ke Lin Chen
Nanik S
Jelas Beda Jiwa Kaisar yang berada didalam tubuh Lin Chen
Nanik S
Maaantaap Poooool
Nanik S
IPasukan bayangan yang berkhianat di kekaisaran
Nanik S
Keluarga Kekaisaran...benua Tengah
Nanik S
Kyuuuuu habis semua
Nanik S
Liontin Mu Rong bersonasi dengan batu peninggalan ibunya
Nanik S
Mu Rong... siapa gadis ini sebenarnya
Nanik S
Segel di Liontin Giok
Nanik S
Habis sudah harapan hidup Yan Ran wanita licik dan Munafik
Nanik S
Bantai semua Aliansi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!