"Jangan dekat-dekat mereka, Mika. Saka dan Devan itu red flag berjalan!"
Mika selalu menertawakan peringatan itu. Bagi Mika, Saka—si bad boy ugal-ugalan yang hobi balapan, dan Devan—si ketua OSIS berprestasi yang kelihatan sempurna, adalah dua sahabat terbaiknya sejak kecil.
Namun, zona nyaman itu hancur total di hari ulang tahun Mika yang ke-17.
Sore hari, Saka membawanya kabur dengan motor gede dan menuntut agresif, "Gue muak jadi sahabat lo. Mulai hari ini, lo cewek gue!"
Belum sempat Mika bernapas, malam harinya Devan justru mengunci pergelangan tangan Mika di sudut sepi, berbisik dingin dengan senyum manisnya, "Jangan pernah terima Saka, Mika. Atau aku bikin hidup cowok itu hancur."
Dua cowok paling populer di sekolah mendadak membuka topeng mereka. Sifat posesif, dominan, dan manipulatif yang selama ini disembunyikan kini berbalik menjerat Mika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ujang Bonang@_@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Payung Hitam di Tengah Hujan
Langit di atas SMA Tunas Bangsa tampaknya sengaja bersekongkol dengan suasana hatiku yang mendung tak berkesudahan. Baru saja bel tanda pulang sekolah berdering nyaring ke seluruh penjuru ruangan, gumpalan awan hitam pekat yang sejak siang hari menggantung rendah di cakrawala langsung tumpah membasahi bumi tanpa ampun. Suara gemuruh petir sesekali terdengar menggelegar, menyelingi riuhnya deru langkah kaki ratusan murid yang berhamburan keluar kelas untuk mencari tempat berteduh yang aman di area lobi utama gedung sekolah.
Aku berdiri kaku di depan pintu kelas XII MIPA 2, menatap rintik air yang kian menderu dan menghantam lantai koridor luar dengan sangat keras. Tanganku bergerak pelan merogoh bagian dalam tas ransel, berniat mengambil payung lipat kecil berwarna biru yang selalu kusiapkan untuk kondisi darurat seperti ini. Namun, gerakanku langsung terhenti ketika sebuah tangan kokoh yang sangat kukenal mendahului langkahku, mengambil alih tas ransel milikku dengan satu gerakan lambat yang sangat teratur.
"Biar aku saja yang bawa tas kamu, sayang. Kamu pasti capek setelah mengikuti pelajaran fisika tadi," suara Devan mengalun tenang dan lembut tepat di sebelah telingaku.
Dia berdiri dengan setelan seragam putih abu-abu yang masih sangat rapi tanpa cela sedikit pun, lengkap dengan papan nama kuningan yang berkilat dan ban lengan Ketua OSIS yang terpasang tegak di bahu kirinya. Tangan kanannya memegang sebuah payung golf hitam besar dengan gagang kayu yang terlihat mahal. Senyuman manis nan protektif yang belakangan ini terasa seperti kurungan beracun itu kembali bertengger di wajah tampannya, seolah mengunci seluruh atensiku agar aku tidak berani melirik ke tempat lain.
"Yuk, mobil aku sudah menunggu di depan lobi utama sejak lima belas menit yang lalu. Kamu jangan sampai kehujanan lagi seperti hari Selasa kemarin. Aku gak mau kamu jatuh sakit," lanjut Devan lembut. Tangannya bergerak merangkul pundakku secara posesif, membimbing langkah kakiku menyusuri koridor sekolah yang mulai ramai oleh lautan murid yang bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing.
Gue cuma bisa pasrah dan membuang muka, membiarkan tubuh gue dituntun membelah kerumunan murid yang menatap kami dengan berbagai macam pandangan yang sulit diartikan. Sebagian besar dari mereka jelas masih membicarakan gosip hangat tentang status baru kami sebagai sepasang kekasih, sebuah status fiktif yang terpaksa gue sepakati demi menyelamatkan masa depan orang lain.
Saat kami akhirnya sampai di ambang pintu lobi utama yang berbatasan langsung dengan aspal parkiran, Devan membuka payung hitam besarnya dengan satu sentakan halus yang menimbulkan suara berdesir pelan di udara.
"Kamu tunggu di sini sebentar ya, Mik. Aku mau buka pintu mobilnya dulu biar kamu gak kena cipratan air," kata Devan sambil menepuk pelan puncak kepalaku dengan gerakan yang sangat natural di depan umum. Dia kemudian melangkah maju, menembus derasnya hujan untuk membukakan pintu mobil sedan mewah hitam milik keluarganya yang sudah terparkir rapi tepat di depan undakan lobi utama gedung sekolah.
Gue berdiri sendirian di bawah kanopi lobi yang mulai terasa tampias oleh hembusan angin malam yang membawa butiran air hujan dingin. Dinginnya cuaca sore itu perlahan merayap masuk ke dalam kulit, membuat tubuh gue sedikit menggigil di balik jaket rajut tebal yang gue pakai. Untuk mengusir rasa cemas, gue melemparkan pandangan ke arah kanan, menatap jalan setapak berkerikil yang memisahkan gedung utama IPA dengan area parkiran motor bagian belakang sekolah.
Tepat di bawah guyuran hujan yang sangat lebat tanpa ampun, tanpa adanya perlindungan dari kanopi, jas hujan, ataupun selembar payung, sosok cowok dengan pakaian seragam yang tidak lagi berantakan sedang berjalan dengan langkah kaki yang konstan dan lambat.
Itu Saka.
Dia berjalan sendirian membelah badai sore itu, membiarkan seluruh kemeja putih yang dimasukkan dengan rapi, dasi sekolah, dan celana abu-abunya basah kuyup hingga melekat erat di kulit tubuhnya yang tegap. Rambut hitam acak-acakannya yang baru saja dipotong pendek sesuai aturan sekolah kini tampak lepek membingkai wajahnya yang datar, dingin, dan benar-benar tanpa ekspresi. Tidak ada lagi aksi nekat berlari ugal-ugalan menembus hujan sambil tertawa lepas seperti yang biasa dia lakukan dulu. Dia berjalan seperti sebuah robot mati yang kehilangan kompas dan tujuan hidupnya.
"Saka..." gumam gue lirih, nyaris tak terdengar di antara riuhnya suara air yang menghantam atap kanopi lobi.
Dada gue seketika berdenyut begitu nyeri, menimbulkan rasa sesak yang teramat sangat melihat pemandangan tragis di depan mata. Isak tangis yang sejak tadi tertahan di tenggorokan membuat pandangan mata gue kembali memburuk karena air mata yang mulai menggenang di pelupuk. Bagaimana bisa cowok yang dulunya begitu bebas dan penuh kehidupan kini berubah menjadi sosok yang begitu redup dalam diam?
Saka terus berjalan lurus menyusuri jalan setapak, melewati lobi utama tempat gue sedang berdiri kaku. Pada satu momen krusial yang terasa berjalan lambat seperti sebuah adegan film drama, mata elang Saka yang biasanya memancarkan binar perlindungan yang hangat, kini melirik ke arah gue dengan pandangan yang sangat dingin dan kosong.
Tidak ada lagi sisa-sisa amarah di dalam manik matanya. Tidak ada lagi tuntutan agresif yang meminta gue untuk menjadi ceweknya seperti sore itu di atas bukit senja. Tatapan mata Saka saat itu benar-benar kosong, seolah-olah gue hanyalah seonggok batu tidak bernyawa di pinggir jalan raya yang kebetulan berpapasan dengannya. Dia benar-benar memperlakukan gue seperti seorang asing yang tidak pernah memiliki sejarah atau kenangan manis bersama dIrinya selama belasan tahun ini.
"Mika, ayo masuk sekarang. Nanti baju kamu basah semua terkena angin tampias," panggilan Devan memecah lamunan singkat gue yang menyakitkan.
Sang Ketua OSIS rupanya sudah kembali berdiri di samping gue. Dia memayungi tubuh gue sepenuhnya dengan payung golf hitam besar miliknya, memastikan tidak ada satu tetes air pun yang berani menyentuh kulit gue, sementara tangan kirinya kembali mengunci pinggang gue dengan sangat erat tanpa memberikan ruang untuk menghindar. Devan melirik sekilas ke arah siluet tubuh Saka yang mulai menjauh menembus gerbang utama sekolah di bawah guyuran hujan lebat. Sebuah senyuman meremehkan yang sangat tipis kembali terukir di sudut bibirnya yang dilapisi plester medis.
"Biarkan saja dia, sayang. Orang yang tidak punya akal sehat dan tidak berpendidikan memang selalu suka mencari perhatian dengan cara-cara yang bodoh dan kekanak-kanakan seperti itu. Gak usah kamu lihatin lagi," bisik Devan dingin, lalu menuntun langkah kaki gue dengan tegas untuk masuk ke dalam kursi penumpang mobil sedan mewahnya yang beraroma terapi menenangkan dan hangat.
Begitu pintu mobil ditutup dengan suara bantingan yang solid, suara derasnya hujan di luar mendadak teredam sempurna oleh kekedapan kabin mobil mewah ini. Devan berjalan memutari mobil, lalu masuk ke kursi kemudi di sebelah gue dengan gerakan yang tenang. Dia menyalakan wiper mobil, lalu mulai melajukan kendaraannya membelah jalanan sekolah yang basah dan licin.
Gue memalingkan wajah ke arah jendela samping, meremas ujung rok abu-abu gue kuat-kuat di bawah kolong meja mobil dengan tangan yang gemetar hebat. Gue mencoba sekuat tenaga menahan napas dan mengatupkan bibir agar isak tangis gue tidak pecah di depan Devan. Dari pantulan kaca spion samping yang buram karena titik-titik air, gue masih bisa melihat siluet tubuh Saka yang basah kuyup berjalan sendirian di sepanjang trotoar jalan raya, semakin mengecil seiring laju mobil yang kian cepat, dan akhirnya benar-benar menghilang di balik tikungan jalan yang gelap.
Payung hitam besar milik Devan memang berhasil melindungi tubuh fisik gue dari basahnya air hujan sore ini, dan mobil mewahnya memberikan kehangatan yang tidak bisa diberikan oleh motor sport milik Saka. Namun, di dalam hati kecil gue yang paling dalam, gue tahu betul bahwa payung hitam dan mobil mewah ini adalah simbol dari sebuah kurungan paling nyata yang memisahkan gue dari dunia luar. Devan telah berhasil mengisolasi gue dari lingkungan sosial gue, dan yang paling kejam, dia telah menjauhkan gue dari sosok *bad boy* yang kini memilih untuk hancur dan melebur bersama badai dalam kesendirian demi menjaga masa depannya sendiri dari kehancuran hukum sekolah. Perang babak pertama ini dimenangkan secara mutlak oleh sang Ketua OSIS yang posesif, dan gue harus bersiap menghadapi babak-babak selanjutnya yang pasti akan terasa jauh lebih mencekam.
### **Komentar Penulis (Author's Corner)**
> **Aduh, ambyar banget perasaan gue pas ngetik bagian akhir bab ini!** Visualisasinya bener-bener dapet banget antara kontrasnya kehidupan Mika di dalam kurungan emas Devan yang serba mewah, dengan Saka yang memilih berjalan sendirian menembus badai hujan dengan pakaian seragam rapi yang basah kuyup. Sifat patuh Saka yang mendadak ini justru terasa jauh lebih menyiksa dan menyakitkan daripada sifat berandalnya yang dulu ya, guys. Tatapan matanya yang menganggap Mika seperti orang asing itu bener-bener definisi dari patah hati terdalam seorang cowok.
> Perang psikologis yang dimainkan oleh Devan secara rapi benar-benar berhasil membuat Mika terisolasi dan berada di titik nadir mentalnya. Kira-kira apakah Mika bakal selamanya bertahan di bawah payung hitam pelindung milik Devan, atau bakal ada satu momen di mana dia nekat menerobos badai demi mengejar Saka kembali?
>