Lin Xiu returned to civilization confident and proud after training with a master who cannot be named on a celestial island cut off from the real world. In his quest to uphold justice, he courageously picks fights with elites in the community wreaking havoc among the rich and the powerful. Be it ghosts, spirits, or seniors of the daoist association, he is fearless. Will the little girl Xiao Tong stay a little girl as she accompanies him on his journey to track down the rest of his friends from the orphanage they once shared?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Turun Gunung
Laut Cina Selatan bergolak, tetapi di sebuah pulau terpencil yang tak terpetakan oleh satelit modern mana pun—Pulau Surgawi—suasananya begitu sunyi.
Seorang pemuda berdiri di tepi tebing, menatap hamparan ombak di bawahnya. Namanya Lin Xiu. Pakaiannya sederhana, hanya kaus oblong putih polos dan celana jins pudar, dengan sebuah tas kain usang yang diselempangkan di bahu. Namun, sepasang matanya berkilat tajam, memancarkan kepercayaan diri yang mutlak.
"Sepuluh tahun, Guru," gumam Lin Xiu, senyum tipis terukir di wajahnya. "Kau mengurungku di pulau terkutuk ini, memaksaku menghafal jutaan kitab medis kuno, menusuk tubuhku dengan ribuan jarum, dan bertarung melawan monster-monster di dalam gua. Sekarang, saatnya aku melihat dunia luar."
Di belakangnya, sebuah gubuk tua berdiri sunyi. Gurunya—seorang pria tua misterius yang namanya bahkan dilarang untuk diucapkan—telah menghilang sejak tadi malam, hanya meninggalkan selembar surat dan sebuah kotak kayu berisi set jarum akupunktur perak surgawi.
*“Pergilah ke Kota Jiangnan. Temukan adik-adikmu dari panti asuhan, dan tegakkan keadilan dengan tanganmu sendiri,”* tulis pesan terakhir sang guru.
Lin Xiu menarik napas dalam-dalam. Detik berikutnya, tubuhnya melesat maju, melompat dari tebing setinggi ratusan meter. Bukannya jatuh terhempas, tubuhnya seringan kapas, menginjak permukaan air laut dengan ujung kaki, menciptakan riak kecil sebelum akhirnya melesat cepat ke arah cakrawala kota metropolitan yang tampak samar di kejauhan.
Peradaban, Lin Xiu kembali.
Kota Jiangnan – Distrik Pusat
Kontras dengan keheningan pulau, Kota Jiangnan adalah hutan beton yang bising, dipenuhi gedung pencakar langit dan kendaraan yang merayap. Di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah taksi berhenti di depan Rumah Sakit Pusat Jiangnan.
Lin Xiu melangkah keluar. Matanya langsung menyipit ketika melihat kerumunan orang yang berkumpul di lobi rumah sakit. Suasana di sana sangat tegang.
"Minggir! Berikan jalan! Jika sesuatu terjadi pada Tuan Besar Wang, kalian semua tidak akan bisa menanggung akibatnya!" bentak seorang pria berjas hitam, mendorong beberapa perawat yang mencoba membantu.
Di atas brankar, seorang pria tua berpakaian mewah tampak kejang-kejang. Wajahnya membiru, matanya memutih, dan dari sudut mulutnya keluar busa hitam. Di sekelilingnya, beberapa dokter terbaik kota itu tampak panik, memeriksa monitor jantung yang grafiknya mulai mendatar.
"Ini... ini aneh. Semua organ dalamnya tiba-tiba gagal berfungsi tanpa alasan medis yang jelas!" seru Kepala Dokter dengan keringat dingin mengucur di dahinya.
"Dasar tidak berguna!" Pria berjas hitam itu—yang merupakan putra sulung Keluarga Wang, salah satu faksi elite penguasa kota—menarik kerah baju dokter tersebut. "Selamatkan ayahku, atau aku akan meratakan rumah sakit ini!"
Di tengah kepanikan itu, Lin Xiu berjalan santai mendekati brankar. Dia tidak melihat ke arah monitor medis, melainkan menatap dadanya pria tua itu. Dengan kemampuan *Kandungan Mata Dewa* yang dilatihnya di Pulau Surgawi, Lin Xiu bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat manusia biasa.
Bukan penyakit. Ada kabut hitam pekat berbentuk cakar tak kasat mata yang sedang mencengkeram jantung Tuan Besar Wang.
*Teknik kutukan roh,* batin Lin Xiu dingin. *Seseorang dari Asosiasi Daoist atau ahli mistis hitam sengaja ingin membunuh orang tua ini.*
"Hentikan bentakanmu, Tuan Muda Sombong," suara Lin Xiu terdengar tenang namun memotong kepanikan di ruangan itu. "Doktermu tidak akan bisa menyembuhkannya. Dalam tiga menit, pria tua itu akan mati karena jantungnya hancur."
Semua mata langsung tertuju pada Lin Xiu.
"Siapa kau?! Berani-beraninya bicara lancang di depan Keluarga Wang!" bentak Tuan Muda Wang dengan mata memerah. "Penjaga, seret gelandangan ini keluar!"
Dua pengawal berbadan besar langsung maju, mencoba mencengkeram bahu Lin Xiu. Namun, tanpa menoleh, Lin Xiu hanya mengibaskan tangan kanannya dengan santai.
*BUM!*
Gelombang energi yang tak terlihat menghantam kedua pengawal itu hingga terpental lima meter, menabrak dinding rumah sakit hingga retak. Mereka langsung pingsan di tempat.
Semua orang di lobi terengah-engah, syok melihat kekuatan pemuda yang tampak biasa saja ini.
"Aku adalah orang yang bisa menyelamatkan nyawanya," kata Lin Xiu sambil membuka tas kainnya. Dari dalamnya, dia mengeluarkan sebuah gulungan kain panjang. Saat gulungan itu dibuka, puluhan jarum perak berkilauan di bawah lampu rumah sakit, memancarkan hawa murni yang menenangkan.
"Kau... kau seorang dokter tradisional?" Kepala Dokter bertanya dengan gemetar.
"Aku adalah Dokter Surgawi," jawab Lin Xiu arogan.
Sebelum ada yang bisa menghentikannya, gerakan tangan Lin Xiu berubah menjadi bayangan cepat. *Swis! Swis! Swis!*
Tiga jarum perak menusuk tiga titik nadi utama di dada Tuan Besar Wang. Ajaibnya, begitu jarum itu menancap, terdengar suara pekikan melengking yang hanya bisa didengar oleh Lin Xiu—kabut hitam cakar roh itu langsung meledak dan sirna.
Grafik di monitor jantung yang tadinya hampir rata, tiba-tiba melonjak kembali normal. Warna biru di wajah sang miliarder perlahan memudar, digantikan oleh rona merah sehat.
*Uhuk!* Tuan Besar Wang tiba-tiba membuka matanya, memuntahkan sisa darah hitam ke lantai, lalu bernapas dengan lega. "Aku... di mana aku?"
Lobi rumah sakit seketika hening. Para dokter terbelalak tak percaya. Hanya dengan tiga jarum, penyakit misterius yang mematikan berhasil disembuhkan dalam hitungan detik!
Lin Xiu dengan santai mencabut kembali jarum-jarumnya dan membersihkannya. Dia menatap Tuan Muda Wang yang masih membeku karena syok.
"Ingat ini, kaum elite," ujar Lin Xiu sambil tersenyum tipis, matanya memancarkan aura mengintimidasi. "Nyawa yang kalian banggakan dengan uang, di mataku, hanya seharga selembar jarum. Jangan pernah sombong di depanku."
Saat Lin Xiu berbalik untuk pergi, dari arah pintu masuk rumah sakit, seorang gadis muda dengan pakaian pelayan yang agak lusuh berlari tergesa-gesa sambil membawa obat. Ketika pandangan mereka bertemu, gadis itu menghentikan langkahnya. Air mata mulai menggenang di matanya yang indah.
"Kak... Kak Lin Xiu? Apakah itu benar-benar kau?"
Lin Xiu tertegun. Suara itu, wajah itu... meskipun sudah sepuluh tahun berlalu, dia tidak akan pernah lupa.
"Xiao Tong?" gumam Lin Xiu, hatinya bergetar. Little girl yang dulu selalu menangis di panti asuhan sambil memegang ujung bajunya, kini telah tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik, namun tampak membawa beban hidup yang teramat berat di pundaknya.
Pertemuan yang dinanti telah tiba, namun Lin Xiu tahu, ini barulah awal dari badai yang akan dia ciptakan di kota ini.