NovelToon NovelToon
Kelopak Bunga Dan Duri Jiwa

Kelopak Bunga Dan Duri Jiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mafia / Transmigrasi
Popularitas:31
Nilai: 5
Nama Author: kawaichanopi

🌹 Kelopak Bunga dan Duri Jiwa

Shen Yue, dokter psikologi tegas berusia 25 tahun, berpindah jiwa ke tubuh Su Xinyi, gadis penjaga toko bunga yang hidup menderita di bawah kekejaman kerabatnya. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, penguasa mafia kejam yang menyimpan rahasia: ia mengidap gangguan kepribadian ganda—berubah dari sosok dingin mematikan menjadi pemuda ceria yang memuja bunga.

Di tengah bahaya, intrik musuh, dan tingkah laku Xiao Chen yang sering kali konyol, Shen Yue berusaha menyeimbangkan jiwa orang yang dicintainya. Di antara kelopak bunga indah dan duri tajam, tumbuhlah cinta gelap antara penyembuh jiwa dan pria yang terbelah hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keajaiban Di Tanah Beku

Setelah meninggalkan gurun yang kini telah berubah menjadi hamparan hijau subur dan penuh air, perjalanan Shen Yue dan Xiao Chen berlanjut ke arah utara. Semakin jauh mereka melangkah, pemandangan berubah drastis. Udara yang tadinya panas dan kering perlahan menjadi dingin, makin lama makin menusuk tulang. Tanah yang tadinya berpasir kini berubah menjadi bebatuan keras yang tertutup lapisan salju dan es tebal.

Berhari-hari mereka berjalan menanjak naik, melewati jalanan berliku di antara pegunungan tinggi yang puncaknya menembus awan. Di sini, tidak ada suara hewan, tidak ada suara air mengalir, tidak ada warna lain selain putih salju dan abu-abu batu. Keheningan yang dingin dan mati menyelimuti seluruh wilayah ini, sama sunyinya seperti Hutan Terlarang dulu, tapi dengan rasa dingin yang jauh lebih menyiksa.

"Ini wilayah Pegunungan Beku," ucap Xiao Chen pelan, suaranya sedikit berembun karena udara yang sangat dingin. Ia berjalan di depan, membelah angin kencang yang membawa butiran salju halus. "Orang-orang bilang, tanah di sini sudah beku selama ribuan tahun. Tidak ada yang bisa tumbuh, tidak ada yang bisa hidup. Tanah ini keras seperti besi, dan air di bawahnya membatu menjadi es selamanya."

Shen Yue berjalan di belakangnya, dibalut jubah tebal namun tetap terlihat anggun. Aura hijau lembut terus memancar perlahan dari tubuhnya, menjaga suhu di sekeliling mereka tetap hangat dan nyaman, seolah membawa sepotong musim semi ke tengah musim dingin yang abadi ini.

"Aku bisa merasakannya, Xiao Yi... rasa sakitnya sangat dalam di sini," jawab Shen Yue pelan, matanya menatap hamparan luas es dan salju di bawah sana. "Tanah di sini sebenarnya sangat kaya, sangat subur... tapi dia terperangkap. Terperangkap dalam dingin yang membekukan segalanya, terpisah dari sinar matahari dan kehangatan dunia. Dia tidak mati... dia hanya tidur panjang, terkurung dalam dingin."

Mereka berhenti sejenak di tepi sebuah tebing tinggi, memandang ke bawah ke arah lembah luas yang tertutup es tebal. Di sana, di tengah hamparan putih itu, terlihat gugusan rumah-rumah kecil yang terbuat dari batu dan balok es. Asap tipis mengepul dari beberapa cerobong, tanda ada kehidupan yang bertahan hidup di tempat yang sangat keras ini.

"Lihat di bawah sana," tunjuk Xiao Chen. "Ada penduduk yang tinggal di sini. Mereka adalah suku Pegunungan Beku. Mereka dikenal sebagai orang-orang yang kuat dan tangguh, tapi hidup mereka sangat sulit. Mereka hanya bisa berburu hewan liar dan memakan daging kering, karena tidak ada satu pun tanaman yang bisa tumbuh di sini. Mereka selalu kekurangan makanan, dan sering sakit karena kekurangan gizi."

Shen Yue mengangguk pelan, matanya penuh rasa iba dan tekad.

"Mereka tidak perlu hidup seperti ini. Tanah ini mampu memberi mereka lebih banyak, jauh lebih banyak. Kita ke bawah, Xiao Yi. Saatnya membangunkan tanah yang tertidur ini."

Mereka pun turun menuruni lereng yang curam dan licin, menuju ke desa kecil yang terletak di dasar lembah beku itu.

Saat mereka tiba di pinggiran desa, beberapa penduduk yang sedang beraktivitas langsung berhenti dan menatap mereka dengan penuh kewaspadaan dan keterkejutan. Mereka heran melihat dua orang asing bisa sampai ke sini dengan selamat, apalagi berjalan dengan santai seolah tidak merasakan dingin yang bisa membekukan darah itu.

Penduduk suku ini bertubuh tegap, berkulit agak gelap karena angin dingin, dan berpakaian tebal dari kulit hewan. Senjata selalu tergantung di pinggang mereka, tanda bahwa mereka harus selalu waspada menghadapi alam yang keras dan hewan buas.

Seorang pria tua yang berbadan besar dan berwajah tegas, mengenakan jubah kulit berhiaskan tulang-tulang binatang, berjalan mendekat. Ia adalah Kepala Suku di sana.

"Siapa kalian? Dan apa tujuan kalian datang ke tempat terkutuk ini?" tanyanya dengan suara berat dan tegas, tanpa ramah sedikit pun. "Tidak ada apa pun di sini selain dingin dan kelaparan. Tidak ada emas, tidak ada permata, tidak ada yang bisa kalian ambil."

Shen Yue tersenyum lembut, tidak merasa tersinggung dengan nada bicara yang kasar itu. Ia melangkah maju, suaranya tenang dan hangat, seolah membawa kehangatan itu sendiri ke telinga setiap orang yang mendengarnya.

"Kami tidak datang untuk mengambil apa pun, Kakek Kepala Suku. Kami datang karena kami mendengar bahwa tanah di sini sedang sakit, dan rakyat di sini sedang kesusahan. Kami datang untuk memberi, bukan mengambil. Kami datang untuk membawa kehidupan ke tempat yang dingin ini."

Kepala Suku itu mengerutkan kening, menatap Shen Yue dan Xiao Chen dari ujung kepala sampai kaki, penuh keraguan.

"Membawa kehidupan? Kau anak muda pasti tidak tahu apa yang kau katakan. Tanah ini beku keras seperti besi. Tidak ada benih yang bisa menembusnya, tidak ada akar yang bisa bertahan hidup. Nenek moyang kami sudah ribuan tahun tinggal di sini, dan kami tahu betul: di sini hanya ada es, salju, dan kematian. Tidak ada kehidupan."

"Karena belum ada yang membangunkannya, Kakek," jawab Shen Yue mantap. Ia melangkah melewati pria tua itu, berjalan menuju ke tengah lapangan luas di tengah desa, tempat tanahnya tertutup lapisan es yang sangat tebal dan bening.

Semua penduduk desa mulai berkumpul, penasaran dan ingin tahu apa yang akan dilakukan gadis asing cantik ini. Mereka berpandangan satu sama lain, ada yang merasa geli, ada yang merasa ragu, ada yang berharap meski rasanya mustahil.

Shen Yue berhenti tepat di tengah lapangan itu. Ia berdiri tegak, mengangkat kedua tangannya perlahan ke atas langit yang kelabu dan dingin itu. Napasnya panjang dan tenang.

"Xiao Yi... jagaku sebentar. Proses di sini akan lebih lama dan lebih berat daripada di gurun tadi. Dingin di sini sudah mengakar terlalu dalam, ribuan tahun lamanya. Aku harus mencairkan hati tanah ini dulu sebelum kehidupan bisa masuk."

Xiao Chen mengangguk, berdiri di sampingnya dan mengedarkan pandangan tajam ke seluruh penjuru desa. Aura putih bersih memancar dari tubuhnya, membentuk lingkaran pelindung yang lembut namun kokoh, memastikan tidak ada gangguan angin kencang atau bahaya apa pun yang bisa mengganggu Shen Yue.

"Lakukan saja, Yue. Aku ada di sini. Tidak ada apa pun yang bisa mengganggumu."

Shen Yue memejamkan matanya rapat. Kali ini, cahaya yang memancar dari tubuhnya bukan lagi sekadar hijau keemasan seperti biasa. Cahaya itu perlahan berubah, bercampur dengan nuansa merah muda dan kuning keemasan, persis seperti warna sinar matahari yang paling hangat dan lembut.

Cahaya kehangatan itu naik perlahan, lalu menyebar luas, menutupi seluruh langit di atas desa itu. Awan kelabu dan gelap perlahan menyingkir, menampakkan matahari yang bersinar terang, memancarkan sinarnya langsung ke bawah, menembus sampai ke permukaan tanah beku itu.

Perlahan, suara gemericik air mulai terdengar. Suara yang sudah ribuan tahun tidak pernah terdengar di tempat itu.

Tetes... tetes...

Lapisan es yang tebal itu mulai berubah. Di bawah sinar hangat dan energi kehidupan yang murni itu, es yang keras dan dingin perlahan menjadi lunak, berubah menjadi air jernih yang mengalir. Uap air naik ke udara, membawa aroma tanah yang basah dan subur yang tersembunyi di bawah sana.

Penduduk desa ternganga tak percaya. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana lapisan es setebal puluhan jengkal itu mencair perlahan di seluruh wilayah desa, bahkan sampai ke lereng-lereng bukit di sekelilingnya. Dingin yang menusuk tulang perlahan hilang, digantikan oleh udara yang sejuk, segar, dan nyaman.

Namun, itu baru permulaan.

Setelah es mencair dan tanah keras di bawahnya terbuka, Shen Yue menggerakkan tangannya ke bawah. Cahaya hijaunya kini melesat masuk ke dalam celah-celah tanah yang baru saja bebas dari kurungan dingin itu.

"Bangunlah... bangunlah wahai tanah yang kaya... wahai tanah yang kuat... Kau bukan tempat kematian. Kau adalah tempat kelahiran tanaman yang paling tangguh, buah yang paling manis, dan rumput yang paling bergizi..." bisik Shen Yue dalam hati, berbicara langsung dengan jiwa tanah itu.

Dan ajaib pun terjadi.

Dari tanah yang baru saja mencair itu, muncul jutaan tunas-tunas hijau yang berwarna lebih gelap, lebih kuat, dan lebih kokoh daripada tanaman biasa. Mereka tumbuh cepat, tidak takut pada suhu dingin, malah tumbuh makin subur karena kelembapan yang melimpah.

Tumbuhlah ladang-ladang tanaman umbi-umbian yang besar dan padat, yang bisa menjadi makanan pokok bagi seluruh penduduk. Tumbuhlah semak-semak buah berwarna merah dan ungu cerah, buahnya besar dan berkilau, mengandung kehangatan dan vitamin yang melimpah. Tumbuhlah padang rumput yang tinggi dan lebat, yang nantinya bisa menjadi tempat makan ternak yang banyak.

Di lereng-lereng bukit, tumbuhlah pohon-pohon besar berdaun jarum yang hijau sepanjang tahun, menjaga tanah agar tidak longsor dan menjadi benteng alami penghalang angin kencang. Di celah-celah batu, muncul mata air jernih yang mengalir turun, membentuk sungai-sungai kecil yang airnya dingin tapi segar, penuh ikan-ikan kecil yang berenang riang.

Seluruh desa itu, yang tadi hanya putih dan abu-abu, kini berubah menjadi hamparan warna hijau, merah, dan kuning yang indah dan hidup. Pemandangannya begitu mempesona, seolah sepotong surga baru saja jatuh dan mendarat di tengah pegunungan dingin itu.

Shen Yue perlahan membuka matanya, napasnya sedikit terengah tapi wajahnya bersinar bahagia. Ia tersenyum lebar melihat pemandangan di sekelilingnya.

"Selesai... tanah ini sudah bangun. Dia tidak lagi terkurung dingin. Dia siap memberi kalian segala yang kalian butuhkan, selamanya."

Keheningan menyelimuti desa itu selama beberapa detik, sebelum akhirnya pecah menjadi sorak sorai dan tangis bahagia yang riuh rendah.

Para penduduk, laki-laki, perempuan, tua, muda, semuanya berlutut di tanah yang kini hijau dan subur itu. Mereka menangis tersedu-sedu, menyentuh rumput, menyentuh buah, menyentuh air... tidak percaya bahwa penderitaan panjang mereka akhirnya berakhir.

Kepala Suku itu berjalan terhuyung-huyung mendekati Shen Yue, air mata besar mengalir di pipi keriputnya. Ia berlutut di depan gadis itu, kepalanya menunduk sangat rendah sampai menyentuh tanah.

"Dewa... kalian benar-benar dewa yang dikirimkan langit... Kami sudah menyerah, kami sudah berpikir kami akan hidup menderita selamanya di sini... tapi kalian datang... kalian mengubah segalanya... makanan, kehangatan, kehidupan... semuanya kalian berikan..."

Ia mengangkat wajahnya penuh hormat dan permohonan.

"Dari hari ini dan seterusnya, seluruh suku Pegunungan Beku adalah milik kalian. Kami adalah pengikut setia kalian. Apa pun yang kalian butuhkan, nyawa kami pun akan kami berikan. Kalian adalah penyelamat kami, Tuan Putri Kehidupan."

Shen Yue segera membangkitkan pria tua itu, matanya juga berkaca-kaca melihat kebahagiaan orang-orang ini.

"Jangan sebut kami dewa, jangan sebut kami tuan putri. Kami sama seperti kalian, saudara sebangsa. Yang kami lakukan hanya mengembalikan hak alam semesta. Sekarang tugas kalian dimulai: rawatlah tanah ini, cintailah dia, dan ajarkan anak cucu kalian untuk selalu hidup selaras dengan alam. Maka kebahagiaan dan kelimpahan ini tidak akan pernah hilang."

Malam itu, desa Pegunungan Beku yang dulu sunyi dan suram menjadi sangat meriah. Penduduk mengadakan pesta besar, memasak makanan dari hasil bumi yang baru tumbuh itu, bernyanyi dan menari penuh sukacita di bawah langit yang kini bersih dan bercahaya. Udara yang dingin kini terasa nyaman dan sejuk, seolah musim semi abadi telah tiba di tempat itu.

Xiao Chen dan Shen Yue duduk di atas bukit kecil di pinggiran desa, memandang pesta rakyat yang bahagia itu dengan hati yang puas dan damai.

"Satu tempat lagi selesai," ucap Xiao Chen pelan, menggenggam tangan kekasihnya erat. "Gurun di barat sudah hidup. Pegunungan Beku di utara sudah makmur. Tinggal satu arah lagi, Yue. Timur. Pulau-pulau yang terpisah dan kering."

Shen Yue mengangguk, menatap ke arah timur jauh, di mana samudra luas terbentang menunggu kedatangan mereka.

"Ya. Kita ke timur besok. Menyeberangi lautan, membawa kehidupan ke setiap pulau yang ada di sana. Dan setelah itu... mungkin kita sudah bisa duduk diam sejenak, melihat dunia yang sudah semuanya indah dan sehat kembali."

Xiao Chen tersenyum, mengusap rambut panjang gadis itu lembut.

"Kita akan pergi ke mana pun kau mau, melakukan apa pun yang kau inginkan. Selama kita berdua bersama, tidak ada gunung yang terlalu tinggi, tidak ada lautan yang terlalu luas, dan tidak ada tanah yang terlalu mati untuk kita hidupkan kembali."

Di bawah cahaya bulan yang bersinar terang di atas pegunungan yang kini indah itu, dua jiwa yang ditakdirkan bersatu itu kembali bersiap melangkah. Perjalanan menyembuhkan dunia masih berlanjut, membawa harapan dan keajaiban ke setiap sudut bumi.

Dan di mana pun mereka melangkah, kehidupan selalu tumbuh, dan kebahagiaan selalu mekar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!