Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 - Dihukum Lagi
Keesokan harinya Ge kembali mendatangi rumah besar tempat Arif menunggunya. Kali ini dia datang dengan motor tuanya yang berisik. Kontras sekali dengan deretan mobil mewah yang terparkir di halaman rumah itu.
Begitu Ge turun dari motor, seorang pelayan langsung membukakan pintu. Ge memasukkan tangan ke saku jaketnya sambil berjalan santai masuk ke dalam rumah.
Arif sudah menunggunya di ruang tamu.
“Cepat juga kamu kembali,” kata Arif.
Ge menyeringai sambil mengeluarkan dua plastik kecil dari sakunya. “Om minta DNA, kan?”
Dia meletakkan plastik itu di meja. “Ini rambut mamak.” Lalu dia mengangkat plastik yang satunya. “Dan ini…” Ge menahan tawa sebentar. “Bulu ketiak bapakku.”
Arif menatap plastik itu sebentar. Ekspresinya tetap datar, tapi sudut matanya berkedut sedikit. “Kenapa kau memilih bulu ketiak? Dari semua rambut?" tukasnya heran. Dia merasa lucu, tapi sengaja menahan tawa sebisa mungkin.
Ge mengangkat bahu. "Aku nggak punya pilihan, Om. Bapakku kan botak! Rambutnya udah susah tumbuh sejak beberapa tahun ini," ungkapnya.
Arif tidak bertanya lebih jauh. Dia hanya mengambil kedua sampel itu dengan hati-hati. “Saya akan mengirimkannya ke laboratorium hari ini.”
Ge langsung duduk santai di sofa. “Berapa lama hasilnya keluar?”
“Beberapa hari.”
Ge mengangguk. “Yaudah.” Dia berdiri lagi sambil meregangkan badan. “Kalau udah keluar, kabarin aku, Om.”
Arif menatapnya serius. “Kamu tidak penasaran?”
Ge memasukkan tangan ke saku celana. “Penasaran sih.” Dia menyeringai. “Tapi aku juga udah siap ketawa kalau hasilnya bilang Tarno itu bapakku.”
Arif hanya mengangguk pelan. “Baik.”
...***...
Pagi itu Ge, Bimo, dan Taufik berdiri di halaman belakang sekolah dengan wajah kusut. Di depan mereka berdiri Pak Rudi dengan tangan di pinggang.
“Kalian bertiga pikir sekolah ini tempat wisata?” bentak Pak Rudi.
Bimo langsung menunduk. Taufik menggaruk kepala. Sementara Ge hanya memasang wajah santai.
“Kemarin kalian bolos!” lanjut Pak Rudi.
Dia menunjuk tumpukan dedaunan kering yang memenuhi halaman belakang sekolah.
“Sekarang bersihkan semua itu!”
Ge mengambil sapu lidi. “Baik, Pak.”
Pak Rudi menatapnya curiga sebentar lalu pergi. Begitu guru itu menghilang, Bimo langsung menggerutu. “Anjir… panas banget.”
Taufik ikut mengeluh. “Ini daun banyak banget.”
Ge mulai menyapu sambil bersiul santai.
Bimo meliriknya. “Lu santai banget sih.”
Ge tertawa kecil. “Gue lagi nunggu hasil tes DNA.”
Bimo berhenti menyapu. “Hah?”
Taufik juga menoleh. “Apa?”
Ge mengangkat alis. “Gue kemarin ketemu orang aneh.”
"Oh yang pas di warung itu kan?" tebak Bimo.
Ge pun langsung mengangguk. Dia lalu mulai menceritakan semuanya. Tentang Arif. Tentang rumah mewah. Tentang cerita kalau dia sebenarnya anak konglomerat bernama Romy Armansyah.
Baru setengah cerita, Bimo sudah tertawa keras.
“HAHAHAHA!”
Taufik bahkan sampai membungkuk sambil memegang perut.
“ANJIR GE!”
Bimo menepuk bahu Ge. “Lu kebanyakan nonton drama China ya?!”
Taufik ikut menambahkan. “Judulnya apa? ‘Anak Rentenir Jadi Pewaris Triliunan’?”
Ge memutar mata. “Gue serius.”
Bimo malah makin tertawa. “Terus apa lagi? Nanti tiba-tiba ada CEO datang jemput lu pake helikopter?”
Taufik menambahkan sambil menirukan gaya drama. “‘Nak… sebenarnya kamu pewaris perusahaan!’”
Mereka berdua tertawa keras.
Ge hanya menghela napas. “Yaudah lah.”
Bimo masih menyapu sambil tertawa kecil. “Lu kena demam drama China.”
Taufik menunjuk Ge. “Parah banget.”
Bersamaan dengan itu, suara langkah kaki terdengar mendekat. Ketiganya menoleh bersamaan. Seorang gadis berdiri beberapa meter dari mereka. Seragamnya rapi. Rambut panjangnya jatuh lembut di bahu. Wajahnya cantik dan bersih. Dia adalah Naya. Murid baru yang sedang jadi bahan gosip di sekolah.
Bimo langsung menyenggol Taufik. “Woy…”
Taufik berbisik. “Ngapain dia ke sini?"
Naya menatap ke arah mereka sebentar. Lalu pandangannya berhenti pada Ge.
“Ge,” katanya.
Ge mengangkat alis. “Iya?”
Naya berjalan mendekat sedikit. “Gue mau bicara sama lu.”
Bimo langsung menyeringai lebar. Taufik menahan tawa.
“Berdua saja,” lanjut Naya.
Bimo langsung berbisik keras ke telinga Ge. “Woy… jackpot.”
Ge meletakkan sapunya. Dia berjalan mendekati Naya dengan gaya santai khasnya.
“Ngomong aja,” kata Ge.
Naya menatapnya sebentar. “Gue ingin bicara empat mata.”
Ge menyeringai tipis. “Empat mata?”
Dia melirik ke kanan kiri seolah mencari sesuatu. “Yang dua lagi siapa?” tanyanya polos.
Bimo langsung terbahak di belakang. Naya menghela napas kecil. Ge lalu mendekat sedikit sambil menatap wajahnya.
“Kalau mau ngobrol sama gue…” Dia tersenyum nakal. “…hati-hati.”
Naya mengerutkan kening. “Kenapa?”
Ge menunjuk dadanya sendiri. “Biasanya cewek yang terlalu lama ngomong sama gue… ujung-ujungnya jatuh cinta.”
Di belakang mereka, Bimo dan Taufik langsung tersedak menahan tawa.
Naya tersenyum singkat. "Ayo ikut gue!" ajaknya seraya berjalan lebih dulu. Dia tak peduli dengan gombalan Ge.