Lin Qian adalah sosok misterius yang menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik kehidupan sederhana sebagai pemilik Pusat Seni Bela Diri di Kota Yunzhou. Di matanya, kehidupan fana adalah pelarian dari dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Namun ketenangan itu terusik ketika murid kesayangannya, Han Yu, hampir tewas akibat konspirasi licik Han Bojin dari Kamar Dagang Yunzhou. Kejadian itu memaksa Lin Qian keluar dari bayang-bayang ketenangan dan menunjukkan secuil kekuatan sesungguhnya—kekuatan yang bahkan membuat seorang Kaisar Bela Diri sekelas Ye Bei berlutut ketakutan hanya dalam hitungan detik.
Kini, berbagai pihak mulai melirik keberadaan Lin Qian. Ada yang ingin berlindung di bawah naungannya, ada yang ingin memanfaatkannya, dan ada pula yang—karena ketidaktahuan—berani mengusiknya.
Semuanya akan segera menyadari satu kebenaran yang sama:
Ada langit di atas langit. Dan langit itu bernama Lin Qian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Aura Tersembunyi & Serigala Iblis Jadi Lauk
Patriark Tianhe menarik napas panjang, matanya masih menatap plakat kayu itu dengan perasaan campur aduk.
"Kurasa… dia berada di ranah Leluhur Bela Diri," ucapnya pelan, suaranya penuh kekaguman dan ketakutan yang mendalam. "Hanya dengan satu tulisan di papan nama, aku hampir hancur berkeping-keping. Hal seperti ini mustahil dilakukan sosok setingkat Kaisar Bela Diri. Apalagi aku sudah mencapai ranah Raja Bela Diri sekarang — namun di hadapan niat bela dirinya, aku terasa lebih lemah dari selembar kertas."
Mei Lian diam terpaku. Ia sangat paham betapa agungnya kedudukan pendiri sektenya — sosok yang mampu membelah gunung dengan satu tebasan pedang — dan itu pun hanya setingkat Kaisar Bela Diri. Lalu seberapa dahsyat seorang Leluhur Bela Diri? Ia tak berani membayangkan. Jika Lin Qian benar-benar menaruh dendam, Sekte Lingxue bisa musnah seketika seperti jerami kering yang disulut api.
"Tenanglah," Patriark Tianhe menepuk bahu muridnya. "Hidup dan mati sudah ditentukan takdir. Jika dia ingin menghukum, rasa takut pun tak ada gunanya. Kita hanya bisa pasrah dan menerima apa pun keputusannya."
Mei Lian mengangguk pelan, menarik napas dalam untuk meneguhkan hati.
Keduanya melangkah masuk ke halaman kios. Sepi. Tidak ada siapa-siapa di dalam.
"Sepertinya pemiliknya sedang keluar," kata Patriark Tianhe. Tanpa banyak bicara, ia langsung duduk bersila di tangga depan pintu — persis seperti orang biasa yang sedang menunggu teman.
Mei Lian tertegun melihat tingkah gurunya. Bagaimana pun juga, Patriark Tianhe adalah ketua sekte yang ditakuti di seluruh wilayah ini. Duduk di tangga jalanan seperti ini…
"Xue'er, kau biasanya anak yang pintar, kenapa jadi bodoh begini?" Patriark Tianhe tersenyum kecut. "Dari cara hidupnya, jelas Senior ini sengaja menyamar dan ingin hidup tenang. Kalau kita datang dengan segala kebesaran sekte, justru kita yang salah. Ikuti kebiasaan di sini — bertindaklah selayaknya warga biasa."
Mei Lian segera mengerti. Ia menyingkirkan rasa sungkannya, lalu ikut duduk di tangga di samping gurunya, membiarkan jubah putih kebesarannya terkena debu jalanan.
Tak lama kemudian, dari ujung jalan muncul sosok yang mereka tunggu.
Lin Qian berjalan santai sambil bersenandung kecil. Tangan kanannya memikul labu besar berisi anggur, dan tangan kirinya menyeret seekor binatang berbulu abu-abu yang pingsan tak berdaya.
Melihat sosok itu mendekat, tubuh Mei Lian menegang. Patriark Tianhe memusatkan seluruh perhatiannya, meneliti setiap gerak-gerik pemuda itu dengan saksama.
Namun semakin ia amati, semakin ia terkejut.
Tak ada sedikit pun aura atau energi yang bocor dari tubuh Lin Qian. Ia berjalan persis seperti manusia biasa — napasnya teratur, kakinya menapak tanah dengan berat badan wajar, seolah benar-benar orang awam tanpa kekuatan apa pun.
Justru karena itulah bulu kuduk Patriark Tianhe berdiri tegak.
"Bahkan setitik pun tidak terdeteksi… Tingkat menyembunyikan diri seperti ini sungguh mengerikan," batinnya gemetar kagum.
Lin Qian melihat mereka berdua. Pandangannya melintas acuh di atas wajah lelaki tua itu, namun saat matanya jatuh pada Mei Lian, alisnya terangkat tipis.
Perempuan sombong itu lagi. Mau apa dia kemari?
Namun sebelum ia sempat membuka mulut, Mei Lian sudah melangkah maju dengan kedua tangan ditangkupkan di dada, kepalanya tertunduk dalam.
"Senior… atas kejadian tempo hari, sepenuhnya itu adalah kesalahan Xue'er. Mohon Senior berkenan memaafkan kelancangan saya," ucapnya dengan suara gemetar tulus.
Patriark Tianhe pun mendekat, tersenyum ramah dan membungkuk hormat. "Salam sejahtera, Tuan Pemilik Toko. Saya paman dari keponakan saya ini. Saya baru tahu dia pernah membeli barang dari Anda, namun kurang bayar. Anak ini masih muda dan belum paham tata krama. Maka kami kemari khusus untuk meminta maaf. Semoga Tuan berkenan memaafkan ketidaktahuan kami."
Lin Qian menatap lelaki tua itu dari atas ke bawah. Sikapnya sopan, tidak sombong, wajahnya jujur.
Pamannya ya. Ternyata masih ada anggota keluarga yang waras.
Ia mengira keduanya hanya manusia biasa seperti dirinya.
"Sudahlah, masalah kecil saja." Lin Qian mengangkat bahu acuh. "Tapi ingat, buku itu aslinya dijual sepuluh koin emas. Dulu kau cuma kasih satu. Bayar kekurangannya — sembilan koin emas."
"Semb… sembilan koin emas?!" Patriark Tianhe hampir meloncat kaget.
Ia mengira sosok sedahsyat ini akan meminta benda pusaka, atau ramuan langka, atau setidaknya sesuatu yang bernilai tinggi. Ternyata… uang receh?
"Kenapa? Mahal ya? Sembilan koin emas itu cukup beli sembilan mangkuk mie daging sapi." Lin Qian berkata seolah itu hal paling wajar di dunia. "Sekarang aku ada murid, pengeluaran bertambah. Harus pas."
Patriark Tianhe dan Mei Lian saling bertukar pandang. Keduanya hampir menangis haru sekaligus tertawa getir.
"Tentu saja kami bayar!" sahut Patriark Tianhe cepat sambil menoleh ke muridnya. "Cepat, Xue'er."
Mei Lian pucat. "Tapi… Guru… saya tidak bawa uang emas."
Patriark Tianhe terdiam. Wajahnya memerah.
Jadilah keduanya sibuk menggeledah seluruh saku dan perbekalan yang mereka bawa — menjual barang-barang kecil dalam pikiran, menghitung ulang, hingga akhirnya terkumpul tepat sembilan koin emas.
Lin Qian menerimanya sambil menimbang-nimbang di telapak tangan.
Wah, ternyata mereka hidup pas-pasan. Tapi meski begitu, tetap mau lunasi utang sampai bersih. Karakternya bagus juga.
"Sudah, urusan selesai." Lin Qian mengangguk. "Kebetulan aku mau makan. Ayo masuk, makan bersama."
Patriark Tianhe nyaris tidak percaya pendengarannya. Diundang makan oleh sosok agung ini — kehormatan macam apa ini?
"Baik! Terima kasih banyak, Tuan!"
"Ayo masuk. Tadi aku tangkap seekor anjing liar besar di jalan. Nanti kita masak, enak buat teman minum anggur," kata Lin Qian santai sambil mengangkat binatang berbulu abu-abu itu.
Patriark Tianhe tersenyum biasa — hingga pandangannya jatuh pada tanda samar berbentuk matahari di dahi makhluk itu.
Senyumnya membeku.
Napasnya tercekat.
"Itu… itu bukan anjing liar."
Ia menahan diri agar tidak berteriak. Bagaimana ia bisa salah kenal? Makhluk itu adalah Serigala Iblis Pemakan Surga — keturunan bangsawan ras iblis tingkat tinggi yang sangat ganas. Satu klan Serigala Iblis saja kekuatannya bisa menyaingi sepuluh Sekte Lingxue sekaligus. Sosok yang bahkan ketua-ketua sekte besar pun tak berani menyentuhnya, kini tergeletak tak berdaya di tangan Lin Qian… dan akan dijadikan lauk makan malam.
Ia berbisik cepat menjelaskan ke Mei Lian.
Mei Lian langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, kakinya lemas seketika.
Mereka berdua menatap punggung Lin Qian yang berjalan santai menyeret makhluk legendaris itu, hati mereka bergetar hebat.
Hanya sosok seperti dia yang bisa memperlakukan Serigala Iblis Pemakan Surga seperti kucing jalanan.
Dengan langkah gemetar bercampur rasa hormat yang meluap, mereka mengikuti Lin Qian masuk ke dalam kios.
Saat melewati ambang pintu, keduanya seolah melangkah memasuki dunia yang berbeda. Suasana di dalam sunyi namun berat — seperti udara yang penuh dengan ribuan pedang terhunus tak kasat mata. Di dinding kiri dan kanan, tergantung delapan belas lukisan besar, masing-masing menggambarkan jurus bela diri dengan berbagai senjata — pedang, tongkat, tombak, hingga cambuk.
Hanya dengan satu pandangan sekilas, Patriark Tianhe dan Mei Lian tersedot masuk.
Mereka tenggelam dalam samudra ilmu yang tak bertepi. Gerakan yang tampak biasa bagi mata awam ternyata menyimpan intisari terdalam dari setiap jurus. Setiap goresan kuas mengandung makna Dao yang sulit dipahami, niat bela diri yang membuat jiwa mereka bergetar hingga ke akar terdalam. Seolah delapan belas dewa perang sedang berdiri di hadapan mereka, menatap langsung ke dalam kesadaran mereka.
Keringat dingin mulai membanjiri tubuh mereka. Mereka semakin tenggelam, semakin kecil, hampir terperangkap selamanya—
"Hei, melamun apa? Duduklah."
Suara santai Lin Qian memecah semuanya seperti guntur.
Keduanya tersentak kembali ke dunia nyata, napas terengah-engah, punggung basah kuyup keringat dingin.
Kalau dia tidak membangunkan kami tepat waktu… kami berdua sudah gila atau mati di tempat ini, batin Patriark Tianhe, menatap Lin Qian dengan rasa syukur yang tak terucap.
"Maafkan tempatku yang sederhana. Duduk saja di bangku itu." Lin Qian menuangkan dua cangkir teh hangat dan menyodorkannya.
Keduanya menerimanya dengan kedua tangan penuh hormat, tak berani bersikap sembarangan sedikit pun.
"Ngomong-ngomong, kami belum tahu nama Tuan," tanya Patriark Tianhe dengan senyum takzim.
"Nama saya Lin Qian. Panggil saja Tuan Lin." Ia melambai santai. "Saya cuma orang biasa yang jaga toko dan cari makan di sini. Tidak perlu pakai sebutan macam-macam."
Patriark Tianhe terdiam sejenak. Ia baru saja menjadi Raja Bela Diri, merasa bangga dan hebat — namun dibandingkan dengan Lin Qian yang menguasai langit dan bumi namun hidup selayaknya manusia biasa, ia merasa ibarat awan yang jauh di bawah lumpur.
"Kalian tunggu sebentar ya. Aku simpan dulu 'anjing liar' ini ke belakang, nanti kita masak."
"Tidak perlu repot, Tuan Lin! Daging… daging anjing itu… kami tidak berani merepotkan Tuan," sahut Patriark Tianhe tergesa-gesa, mengusap keringat dingin. Ia sungguh takut — kalau sampai memakan Serigala Iblis itu, seluruh klan makhluk tersebut akan memburu Sekte Lingxue hingga ke akar-akarnya.
Lin Qian mengangkat bahu dan menghilang di balik tirai.
Keduanya duduk diam, napas masih belum sepenuhnya stabil, ketika suara langkah kaki terdengar dari pintu samping.
"Guru! Saya sudah selesai latihan semua gerakan!"
Han Yu masuk dengan napas terengah namun wajah bersemangat, jubah latihan tipisnya basah keringat.
Patriark Tianhe dan Mei Lian serentak menoleh. Mata mereka berbinar.
Senior Agung ini… sudah punya murid?
Mereka menatap Han Yu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan penuh rasa ingin tahu. Dalam hati, mereka sudah menyimpulkan — murid dari
sosok sehebat Lin Qian pastilah seorang jenius luar biasa, anak ajaib yang bakatnya melampaui segalanya.
Dengan napas tertahan, mereka menatap Han Yu
------Bersambung Bab 5 -----