NovelToon NovelToon
Not Our Time

Not Our Time

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Keluarga
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"

Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.

Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.

Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?

~~~~~~
Happy reading 🦋🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#28

Udara malam di luar lounge privat terasa menusuk tulang, tetapi hawa panas yang menguar dari tubuh Vexana yang limbung justru membakar akal sehat Landon.

Setelah berhasil berpamitan secara kilat dengan Andriana, Landon setengah menyeret, setengah mendekap tubuh ramping Vexana untuk keluar dari keriuhan pesta yang memuakkan itu.

Musik Gasoline yang berdentum di dalam sana perlahan memudar, digantikan oleh sunyinya pelataran parkir eksklusif yang hanya diterangi lampu temaram.

Vexana benar-benar kehilangan kontrol atas kesadarannya. Efek wiski yang ia tenggak tanpa jeda telah meruntuhkan seluruh tembok pertahanan ego Valerio yang ia bangun mati-matian di koridor kampus beberapa hari lalu.

Wanita itu meronta kecil, kepalanya terkulai ke belakang, menatap wajah Landon yang berada sangat dekat di atasnya.

Sepasang mata bulatnya yang sayu mencoba memfokuskan pandangan pada rahang tegas dan rambut acak-acakan pria yang sedang mendekap pinggangnya.

"Kau..." Vexana menunjuk hidung Landon dengan jari telunjuknya yang gemetar, dahi mulusnya berkerut dalam.

"Kau kenapa mirip sekali dengan pria brengsek itu?" tanyanya dengan suara serak, khas orang mabuk yang kehilangan logika.

Landon tidak membalas tatapan itu dengan amarah. Hatinya justru terasa seperti diiris sembilu melihat wanita yang dicintainya merana sampai seperti ini.

"Ayo pulang, Vexa. Kau mabuk," jawab Landon lirih, suaranya parau menahan segala gejolak sesak di dadanya.

"Lepas!!! Lepaskan aku, brengsek!!!"

Vexana tiba-tiba berteriak, menyentakkan tubuhnya dengan sisa tenaga yang ada hingga dekapan Landon mengendur. Ia mundur dua langkah, hampir saja tersandung sepatu hak tingginya sendiri jika Landon tidak dengan sigap memegangi lengan atasnya.

Vexana tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar sangat menyedihkan di telinga Landon.

"Wah..." Vexana mendekatkan wajahnya ke dada Landon, menatap kemeja hitam pria itu yang terbuka dua kancing atasnya. "Kenapa mukamu mirip sekali dengan muka kekasihku? Tapi... tapi tidak apa-apa. Kau tak kalah tampan darinya."

Landon memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas berat yang terasa panas. Rasa pahit kembali memenuhi rongga mulutnya.

Bahkan dalam kondisi sekacau ini, di dalam otak Vexana yang dipenuhi racun alkohol, dirinya masih berstatus sebagai 'kekasih', bukan 'mantan'.

Landon mengabaikan racauan gila itu. Ia kembali meraih pinggang Vexana, mencoba menuntunnya berjalan menuju area yang lebih aman. "Vexana, ayo... Kau benar-benar mabuk. Ikut aku sekarang."

"Tidak!!!" Vexana menepis tangan Landon dengan kasar. Ia menatap berkeliling pelataran parkir yang sepi, lalu kembali menatap Landon dengan binar mata liar yang menantang.

"Aku tidak mau pulang! Aku sedang mencari pria tampan yang akan jadi ayah dari anakku!"

DEG.

Kata 'ayah dari anakku' menghantam ulu hati Landon laksana gada besi yang panas. Darahnya berdesir hebat, memicu letupan emosi yang selama beberapa hari ini ia pendam di bawah nama profesionalisme dosen.

Mengingat kesalahpahaman tentang anak mereka yang dikiranya telah mati, kalimat Vexana terdengar seperti ejekan yang paling kejam.

"Kau gila?" kata Landon, suaranya meninggi, sedikit emosi mulai menyusup dalam nada baritonnya yang berat.

"Ya! Aku memang gila! Kenapa?!" Vexana maju, menantang dada tegap Landon dengan telunjuknya, memukul-mukul kemeja linen hitam itu tanpa ritme. "Kau siapa berani mencampuri urusanku? Kau bukan Daddyku, kau bukan siapa-siapaku!"

"Aku Landon, Vexa!!! Aku Landon!" Landon akhirnya membentak pelan, mencengkeram kedua pergelangan tangan Vexana agar wanita itu berhenti memukulinya.

Matanya menatap tajam ke dalam manik mata sayu Vexana, mencoba menyalurkan realitas yang sedang mereka hadapi. "Kau mabuk dan mari kuantar pulang."

Vexana terdiam sejenak. Kerutan di dahinya semakin dalam, menatap Landon seolah-olah pria di depannya adalah sebuah teka-teki matematika yang rumit. "Kau... Landon? Kau mengaku-ngaku jadi pria brengsek itu?"

Landon mengatupkan rahangnya rapat-rapat, menahan denyut perih di dadanya yang semakin mematikan. "Ya. Ya, aku pria brengsek itu. Sekarang, ayo pulang."

Dengan sisa kendali yang ada, Landon menuntun langkah mereka berdua keluar dari area pelataran pesta, menuju ke jalanan samping gedung yang lebih sepi dan gelap.

Angin malam berembus semakin kencang, menerbangkan beberapa helai rambut acak-acakan Landon dan gaun hitam Vexana.

"Dimana mobilmu?" tanya Landon, matanya mengedar mencari keberadaan sedan hitam Valerio atau sopir pribadi yang biasanya mengawal Vexana.

Vexana menghentikan langkahnya secara mendadak di atas trotoar. Ia mendongak menatap langit malam Los Angeles yang bersih tanpa awan, lalu menoleh ke arah Landon dengan ekspresi wajah yang berubah drastis—polos, tanpa dosa, laksana anak kecil yang sedang berimajinasi.

"Mobil?" Vexana mendengus remeh. "Aku datang dengan pesawat!"

Landon mengerutkan keningnya, mengira ia salah dengar. "Apa?"

"Kau tidak lihat pesawatku di sana, brengsek?!" Jawab Vexana dengan galak, tangannya menunjuk sembarangan ke arah puncak gedung pencakar langit di seberang jalan yang lampunya berkedip-kedip.

Ia kemudian membalikkan badannya menghadap Landon, sepasang matanya yang semula liar mendadak berkaca-kaca. Air mata yang sejak sore ia tahan di balik riasan tebalnya kini mulai menggenang, bersiap untuk runtuh.

"Gendong aku ke pesawatku..." kata Vexana tiba-tiba, suaranya bergetar hebat sebelum akhirnya ia menangis sesenggukan, menyembunyikan wajahnya di dada Landon.

Kehancuran batinnya yang sesungguhnya keluar melalui tangisan kekanakan itu.

Landon tidak tinggal diam. Melihat air mata itu, seluruh sisa pertahanannya runtuh total.

Tanpa memedulikan tempat mereka yang berada di pinggir jalan umum, Landon membalikkan tubuhnya membelakangi Vexana. Ia membungkuk sedikit, meraih kedua paha wanita itu, dan mengangkat tubuh ramping Vexana ke dalam gendongan belakangnya dengan satu sentakan mudah.

Vexana tidak meronta lagi. Ia mengalungkan kedua lengannya yang lemas di sekeliling leher Landon, menyandarkan pipinya yang basah oleh air mata pada bahu tegap pria itu.

Aroma mint dari tubuh Landon yang bercampur dengan kehangatan kulit kemejanya membuat Vexana memejamkan mata dengan nyaman.

"Aku merindukanmu, Landon..." ucap Vexana dengan suara yang sangat lirih, berbisik tepat di dekat telinga Landon.

Kalimat itu meluncur begitu saja dari alam bawah sadarnya, menghancurkan status 'orang asing' yang mereka sepakati di kampus kemarin.

Landon menghentikan langkah kakinya di atas trotoar selama beberapa detik.

Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Vexana bisa merasakannya melalui punggungnya. Air mata Landon sendiri hampir meluncur, namun ia menahannya sekuat tenaga. Kepahitan ini terasa begitu manis saat mendengar pengakuan jujur dari bibir wanita yang paling dicintainya.

Namun, beberapa detik kemudian, kesadaran mabuk Vexana kembali berputar ke arah yang tidak terduga. Ia memukul bahu Landon pelan dengan kepalan tangannya yang kecil.

"Pesawat? Kau pikir disini bandara, hah?! Pesawat apa di gedung ini? Dasar bodoh!" ucap Vexana lagi dengan nada bar-bar khas dirinya, meracau menyalahkan imajinasinya sendiri.

Landon tidak bisa menahan dirinya lagi.

Sebuah kekehan pelan dan tulus lolos dari bibirnya yang kaku.

Pria itu kembali berjalan menyusuri trotoar yang sepi dengan menggendong Vexana erat-earat. Inilah Vexananya yang asli. Vexana yang barbar, yang penuh dengan letupan emosi tak terduga, yang selalu sukses membuatnya pusing sekaligus bertekuk lutut sejak usia enam belas tahun.

Vexana yang kemarin ia temui di koridor kampus—yang berjalan anggun, dingin, mengenakan blazer formal, dan menatapnya laksana orang asing—adalah sosok tiruan yang sama sekali tidak ia kenali.

Landon membenci keanggunan palsu itu; ia jauh lebih merindukan kegilaan wanita ini.

"Kau mau naik pesawat?" kata Landon dengan nada suara yang melembut, mencoba mengikuti permainan logika mabuk wanita di punggungnya.

Landon mempercepat langkahnya, lalu dengan sengaja ia merentangkan kedua tangannya yang menopang paha Vexana sedikit melebar ke samping, meniru kepakan sayap. Ia mulai berlari kecil di atas trotoar yang kosong, membawa tubuh mereka berputar-putar pelan di bawah sorotan lampu jalan.

Tingkah kekanakan dan konyol dari seorang dosen genius itu ternyata sukses memicu tawa dari mulut Vexana.

Rasa sedih dan tangisan wanita itu menguap begitu saja, digantikan oleh tawa renyah yang sudah bertahun-tahun tidak Landon dengar.

"Berputar-putar, Landon! Hahaha! Aaaa aku terbang... aku terbang tinggi sekali!" Jerit Vexana riang, mempererat pelukannya di leher Landon saat angin malam menerpa wajah mereka yang bersemu merah.

Di atas aspal jalanan Los Angeles yang sepi malam itu, mereka berdua seolah berhasil melarikan diri dari realitas yang kejam.

Untuk beberapa menit yang singkat, tidak ada nama keluarga Valerio atau Desmon, tidak ada status dosen dan mahasiswa, dan tidak ada rahasia tentang AJ yang menyiksa.

Yang ada hanyalah Landon dan Vexananya, terbang bersama sebuah pesawat imajiner di atas aspal yang dingin, menertawakan takdir mereka yang penuh luka dengan cara yang paling murni.

1
Mei TResna Rahmatika
ngakak bangett🤣dady maximilian ada aja idenya ngerjain landon🤣
Ros 🍂: susuai reques pembaca 🤭😭😭😭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
satu kata buat pak Desmon"MAMPUSSS" ketawa jahat dulu aku Thor hahahahaha aduh sampai kering ini gigi ketawa Mulu dari tadi🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: huhuhu terharu loh aku kak, Kalo Cerita bikin ketawa 🤭🤣🤣🤣
btw ini kenapa pada musuhan sama bapak Desmon 😭
total 1 replies
nayla tsaqif
Baru bogem daddy max nihh,,, mana nih grandpa kensingtone,, gk mau kasih salam bogem jg,, 😌
Ros 🍂: entah kenapa Saya sulit menghadirkan para Tetua kak 🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
belum puas cuma tiga kali doang harusnya sampai masuk UGD🤭🤣🤣
Ros 🍂: kak astagaaa 🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Vibesnya kayak ketemu musuh bebuyutan waktu masa kcil lihat mommy Eleanor dan daddy max,, 🤣
Ros 🍂: Udahlah kak Author nggak tanggung-jawab sama mereka 🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Hukumannya ringan itu,, harusnya larinya pake baju balet warna pink,,,!!
Ros 🍂: kak😭 ngakak aku kak🤭🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
aaah cuma sepuluh kali doang harusnya hukumannya yg lebih berat misal nyapu halaman mansion,nyabutin rumput mansion🤭🤣🤣🤣🤣🤣 itu terlalu ringan Thor mohon tambahkan hukuman pak Desmon🤭🤣
Ros 🍂: hahaha sesuai request para Reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
emaknya Mr. Desmon kocak asli🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: Reader suka nggak ?🤭😅
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
akhirnya😍 gak sia" perjuangan landon🤣
Ros 🍂: Wkwkw 🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Nunggu daddy max ngasih bogem dan khotbah sama landon,, 😌
Ros 🍂: wah ide bagus itu kak🤭 sesuai request 🤣
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
wahh landon siap bertarung ngadepin daddy max
Ros 🍂: semangatin kak🤭🤣
total 1 replies
Agus Hidayat
jreng jreenngggg akhirnya pak Desmon bisa liat jagoannya juga😍😍😍
Ros 🍂: Yahoooo🤭🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
akhirnya bomnya meledak juga
Ros 🍂: wkwkwk🤭
total 1 replies
Yunie
akhirnya mulai terungkap
Ros 🍂: iya kak🫶
total 1 replies
Yunie
ada apa selama 2 tahun?
Vanni Sr: ohh Aj ank ny vexa dn london , tp daddy ny nutupin seolah itu makam ank mereka , mkny london benci vexa.
total 2 replies
Mei TResna Rahmatika
pliss thorr abis ini bkin mereka sama" mengakui masih cinta😭 nyesek bangett baca dr bab 1 nangisin mereka mulu
Ros 🍂: huhuhu Maafkan author yaa kak 🤭🙏🏻 nanti dibuat sesuai request 😅
total 1 replies
N I S
kak ceritamu bagus banget😍
Ros 🍂: ma'aciww ya Kak 🫶🥰
total 1 replies
Thee-na Tooth
ayoo kak up maraton 🤭
Ros 🍂: siap ya kak🫶
total 1 replies
Kristina NellaWara
semngt up thorrr
Ros 🍂: ma'aciww kak🫶🥰
total 1 replies
Kristina NellaWara
lnjut thor
Ros 🍂: siap kak 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!