Ketika perbedaan kasta memaksa mereka berpisah dan amnesia menghapus ingatan Neya, akankah kisah cinta delapan tahun yang mereka rajut sejak SMP benar-benar berakhir atau takdir punya cerita lain ?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaul Mardhiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun Manis sang Ratu
Ibu kota adalah tempat di mana kepolosan mati muda, dan Mama Casandra adalah mentor terbaik untuk mempercepat proses itu. Sejak Neya resmi bekerja di bawah yayasannya, Casandra tidak hanya memberikan fasilitas kelas atas dan gaji yang melimpah, tetapi juga mulai menyuntikkan racun pemikiran barunya ke dalam kepala gadis itu.
Bagi Casandra, penyesalan masa lalunya atas kematian Verian memang nyata, namun cara pandangnya terhadap dunia tidak pernah berubah. Ia tetaplah seorang perempuan yang gila kehormatan dan percaya bahwa di dunia ini, uang dan kekuasaan adalah segalanya. Siasat manipulatifnya kini beralih: jika Kinan memang keras kepala menginginkan gadis miskin ini, maka Casandra akan membentuk Neya menjadi replika dirinya sendiri—seorang wanita yang licik, ambisius, dan gila harta, agar pantas bersanding di puncak dinasti Dirgantara Group.
Di dalam ruang kerja pribadi Casandra yang mewah, botol-botol parfum mahal dan berkas saham bertebaran. Casandra berdiri di belakang Neya yang sedang memeriksa laporan keuangan, lalu meletakkan tangannya di bahu gadis itu dengan gerakan yang sangat persuasif.
"Lihat semua angka ini, Neya," bisik Casandra lembut, suaranya bagai desis ular yang menawan. "Dulu kamu diusir dan kehilangan bayimu karena kamu tidak punya angka-angka ini di rekeningmu. Dunia ini kejam pada orang miskin. Jika kamu ingin mengunci hati Kinan selamanya dan memastikan tidak ada lagi wanita kaya seperti Sherly yang berani menginjak harga dirimu, kamu harus menggenggam harta ini. Cintamu pada Kinan tidak akan bertahan tanpa tameng kekuasaan."
Neya terdiam. Kata-kata Casandra perlahan mulai meresap ke dalam sanubari terdalamnya. Bayang-bayang rasa sakit saat ia diusir bagai sampah di malam pengusiran itu kembali berputar.
Malam itu, ruang tengah apartemen baru mereka terasa begitu hangat, namun kehangatan itu semu bagi Neya. Di bawah pendar lampu gantung yang mewah, Neya duduk sembari mengaduk teh hangatnya, menunggu kepulangan adik angkatnya. Pikirannya masih melayang pada momen di aula pertemuan siang tadi—saat di mana Kinan menatapnya penuh damba, menggenggam tangannya erat di depan Mama Casandra, dan memanjakannya dengan segala kemesraan yang selama ini ia rindukan. Mereka telah kembali menjalin hubungan, sebuah ikatan rahasia yang direstui penuh oleh sang ratu lama.
Pintu apartemen terbuka, memecah keheningan. Ishita melangkah masuk dengan wajah yang begitu cerah dan rona merah yang menghiasi kedua pipinya. Gadis polos itu langsung menghampiri Neya, duduk di sampingnya dengan mata yang berbinar-binar penuh riang.
"Kak Neya! Aku punya cerita yang sangat aneh tapi membuatku senang sekali hari ini," ujar Ishita, menyandarkan kepalanya di bahu Neya tanpa beban.
Neya mengulas senyuman manisnya. "Cerita apa, Ishita? Kelihatannya kamu bahagia sekali."
"Ini tentang Pak Kinan, Kak," bisik Ishita malu-malu. "Hari ini di kantor pusat, sikapnya berubah drastis padaku. Biasanya dia sangat dingin dan kaku jika berbicara soal pekerjaan. Tapi sore tadi, tiba-tiba saja dia melembut. Dia bahkan berbicara denganku dengan nada suara yang begitu manis, sangat berbeda dari biasanya. Dia seperti... sengaja ingin membuatku merasa nyaman di dekatnya. Aku merasa hubungan kami ini mulai berjalan ke arah yang lebih baik."
Ishita menceritakan setiap detail perubahan sikap Kinan dengan kepolosan yang luar biasa. Gadis lugu itu sama sekali tidak tahu bahwa perubahan sikap Kinan yang mendadak melembut dan memanjakannya di kantor terjadi karena pria itu baru saja meluapkan seluruh rasa rindu dan cintanya pada Neya di ruang privat beberapa jam sebelumnya. Kinan yang diliputi kebahagiaan setelah kembali ke pelukan Neya, secara tidak sadar membawa energi positif itu saat berinteraksi dengan Ishita, menganggap gadis itu sebagai perantara yang telah mempertemukannya kembali dengan sang pujaan hati.
Namun, di telinga Neya, cerita itu terdengar bagai tabuhan genderang perang. Rasa cemburu yang teramat pekat seketika membakar batinnya. Ego Neya yang kini melambung tinggi sejak dididik oleh Mama Casandra berontak hebat. Ia takut. Ia sangat takut jika kepolosan Ishita perlahan-lahan benar-benar akan merebut hati Kinan.
Alih-alih menunjukkan kemarahan, mata bulat Neya justru menatap Ishita dengan pandangan paling teduh yang bisa ia rekayasa. Ia mengusap rambut Ishita dengan sangat lembut.
"Wah, benarkah? Kakak ikut senang mendengarnya, Ishita," ucap Neya dengan nada suara yang sangat suportif. "Jika Pak Kinan bersikap manis padamu, itu artinya kamu harus semakin sering berada di dekatnya. Jangan pernah menjauh darinya, ya? Katakan pada kakak apa saja yang dia lakukan atau bicarakan bersamamu setiap hari di kantor pusat. Kakak akan membantumu membaca apa maunya pria seperti dia."
Setelah Ishita masuk ke dalam kamarnya, Neya melangkah menuju balkon, membiarkan angin malam ibu kota menerpa wajahnya.
Tak bisa dipungkiri, jauh di lubuk batinnya yang terdalam, Neya masih memiliki sisi sayang yang teramat besar pada Ishita dan Kak Aldo. Mereka adalah keluarga yang mendekapnya saat ia hancur dan miskin. Neya sama sekali tidak ingin kehilangan mereka. Tetapi di saat yang sama, ia juga tidak ingin kehilangan Kinan. Rasa sayangnya kini telah terdistorsi oleh ego dan keangkuhan yang diajarkan oleh Mama Casandra. Neya ingin memiliki segalanya: ia ingin cinta mati Kinan sepenuhnya miliknya, ia ingin takhta kekayaan di yayasan Casandra, dan ia ingin kesetiaan mutlak dari Aldo serta kepatuhan dari Ishita tanpa ada yang melangkah pergi darinya.
Langkah kaki berat terdengar mendekat. Kak Aldo berdiri di ambang pintu balkon, menatap punggung Neya dengan tatapan mata yang sarat akan rasa sakit dan kekecewaan. Pria itu telah mendengar bagaimana Neya menanggapi cerita Ishita tadi.
"Sampai kapan kamu mau bermain api dengan perasaan sadarmu sendiri, Neya?" tanya Aldo, suaranya berat menahan rasa frustrasi. "Kamu tahu Ishita tulus menyukai Kinan. Dan kamu... kamu sengaja mendorongnya agar tetap mendekati pria itu padahal aku tahu kamu sedang menyembunyikan sesuatu. Sejak dekat dengan Nyonya Casandra, kamu berubah menjadi wanita yang egois."
Neya membalikkan tubuhnya. Sorot mata bulatnya yang dulu rapuh kini memancarkan kilat dingin keangkuhan elite ibu kota.
"Aku tidak berubah, Kak Aldo. Aku hanya tidak ingin kita kembali menjadi orang miskin yang bisa diinjak-injak kapan saja," jawab Neya dengan nada suara yang datar namun menusuk. "Aku mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milikku. Kinan adalah milikku."
"Lalu bagaimana dengan perasaanku, Neya?!" potong Aldo dengan suara bergetar. Sepasang matanya memerah, menatap wanita yang telah belasan tahun dicintainya dalam diam. "Kamu menahanku di sini, memberiku posisi di perusahaan ini, membuatku tetap berada di jangkauanmu agar aku selalu melindungimu, sementara kamu tahu hatiku hancur setiap kali melihatmu memikirkan pria lain! Kamu egois, Neya! Kamu mengendalikan kami semua demi egomu!"
Denyut perih sempat menghantam dada Neya melihat kerapuhan Aldo. Rasa sayang itu masih ada, namun egonya yang telanjur tinggi menolak untuk mengalah.
Neya melangkah maju, meraih tangan kasar Aldo dan menatapnya dengan pandangan mata yang mendadak berkaca-kaca. "Kak Aldo... maafkan aku," bisik Neya dengan suara lirih yang mengiba. "Aku melakukan ini semua karena aku tidak bisa hidup tanpa Kakak di sisiku. Aku butuh Kak Aldo untuk menjagaku di kota yang kejam ini. Tolong... jangan pergi dariku, tetaplah di sini bersamaku dan Ishita. Aku hanya ingin kita semua tetap bersama."
Melihat air mata dan mendengar rintihan lembut dari wanita yang teramat dicintainya, runtuhlah sudah seluruh pertahanan batin Aldo.
lalu Kinan ?