Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Traktiran Dari Bos
Lembayung senja sudah hampir habis berganti pekat malam saat deru knalpot motor Zidan membelah kesunyian gang rumah orang tua Shakira. Lampu depan motornya menyorot tajam ke arah teras, di mana sosok gadis dengan daster batik modern dan kardigan tipis sedang duduk bersedekap di kursi rotan.
Wajah Shakira tampak menekuk. Ia melirik jam tangan digitalnya berkali-kali sebelum akhirnya berdiri saat Zidan mematikan mesin motor tepat di depan pagar.
"Mas... kok lama banget sih? Kamu abis dari mana?" semprot Shakira langsung, bahkan sebelum Zidan sempat membuka helmnya. Suaranya melengking khas, tanda bahwa tingkat kesabarannya sudah di ambang batas.
Zidan turun dari motor dengan gerakan yang santai, bahkan cenderung terlalu santai untuk ukuran orang yang telat menjemput istrinya hampir satu jam. Ia melepas helm, menyugar rambutnya yang sedikit lepek, lalu tersenyum lebar—senyum tanpa dosa yang biasanya langsung membuat Shakira ingin melempar sandal.
"Maaf, Sayang. Tadi ada interupsi dikit di bengkel," jawab Zidan enteng sambil melangkah masuk ke halaman.
"Interupsi apa? Katanya jam lima udah sampe sini, ini udah mau jam setengah tujuh, Mas Zidan Karatan!" Shakira berkacak pinggang, menatap suaminya dengan mata menyipit.
"Abis traktir Bobby sama Indra tadi," sahut Zidan sambil meletakkan helm di atas meja teras, lalu tanpa permisi menyambar gelas teh manis Shakira yang masih tersisa separuh.
Shakira melongo. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba mencerna ucapan suaminya. "Ha? Traktir? Kamu ulang tahun? Perasaan masih tiga bulan lagi deh. Atau jangan-jangan kamu menang undian sabun colek?"
Zidan terkekeh, ia duduk di kursi sebelah Shakira dan menarik napas dalam-dalam, menikmati udara sore yang sejuk. "Nggak ulang tahun, nggak menang undian juga. Cuma lagi pengen syukuran kecil-kecilan aja sama anak buah."
"Syukuran apaan? Bengkel dapet borongan truk?" tanya Shakira penasaran. Ia ikut duduk kembali, rasa kesalnya sedikit luntur terganti oleh rasa ingin tahu yang besar.
Zidan menoleh, menatap istrinya dengan tatapan yang sangat dalam, tipe tatapan yang membuat Shakira tiba-tiba merasa salah tingkah. Zidan memajukan duduknya, mendekatkan wajahnya ke telinga Shakira hingga gadis itu bisa mencium aroma sate kambing dan parfum maskulin yang bercampur jadi satu.
"Syukuran karena 'Garis Khatulistiwa' di kamar kita resmi jadi museum sejarah," bisik Zidan rendah, suaranya serak-serak basah yang sangat menyebalkan sekaligus bikin merinding.
Shakira langsung memukul lengan Zidan dengan keras. Plak!
"ZIDAN! Kamu bener-bener ya! Kamu bilang itu ke mereka?!" pekik Shakira dengan wajah yang seketika berubah merah padam, lebih merah dari warna piyama yang ia pakai semalam.
"Aduh! Sakit, Sayang," rintih Zidan sambil mengelus lengannya, meski tawanya pecah. "Enggak spesifik gitu juga kali. Aku cuma bilang kalau performa bos mereka lagi meningkat seribu persen gara-gara dapet asupan 'energi' dari istri tercinta. Mereka mah paham-paham aja."
"Malu-maluin banget sih! Nanti kalau aku main ke bengkel, muka aku mau ditaruh di mana, Mas?" Shakira menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, merasa ingin menghilang dari bumi detik itu juga.
"Ditaruh di pundak aku aja, aman kok," goda Zidan lagi. Ia meraih tangan Shakira, menjauhkan jemari itu dari wajah istrinya agar ia bisa melihat rona merah yang sangat cantik di sana. "Lagian kenapa harus malu? Kita kan udah sah. Wajar dong kalau suaminya seneng terus traktir temen-temennya."
"Tetep aja... ih, kamu tuh emang nggak ada remnya kalau ngomong," gerutu Shakira, meski ia tidak menarik tangannya dari genggaman Zidan.
"Udah ah, jangan ngambek terus. Nih, aku bawain 'upeti' buat permintaan maaf karena telat," Zidan merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah bungkusan plastik kecil berisi martabak manis mini kesukaan Shakira. "Tadi mampir beli ini dulu, makanya agak lama."
Shakira melirik bungkusan itu. Pertahanannya runtuh. Bau cokelat dan kacang yang gurih langsung menggoda indra penciumannya. "Ini bukan sogokan kan?"
"Sogokan biar kamu nggak panggil aku 'Karatan' lagi malam ini," Zidan nyengir. "Gimana di rumah Mama? Seru?"
"Seru. Tadi Mama masak rendang, aku dibawain satu rantang buat kita makan di rumah," jawab Shakira mulai melunak. Ia membuka bungkusan martabak itu dan menyuapkan satu potong kecil ke mulutnya. "Tapi tetep ya, besok-besok kalau mau traktir bilang dulu. Aku kan nungguin kamu kayak orang ilang di teras."
"Siap, Permaisuri. Besok kalau aku mau syukuran lagi—siapa tahu malam ini ada 'syukuran' babak kedua—aku pasti lapor dulu," ujar Zidan tanpa dosa.
"ZIDAN! Pulang sekarang atau aku jalan kaki?!" ancam Shakira sambil berdiri, mencoba menutupi kegugupannya yang memuncak.
Zidan tertawa terbahak-bahak melihat reaksi istrinya. Ia berdiri, menyambar helm dan tas Shakira dengan sigap. "Iya, iya, ayo pulang. Kasihan rendang Mama kalau didiemin kelamaan, nanti dingin kayak sikap kamu dulu."
"Mas!"
"Iya Sayang... ayo naik," Zidan menghidupkan motornya.
Sepanjang perjalanan pulang, Shakira memeluk pinggang Zidan dengan sangat erat. Meski mulut suaminya itu sangat "karatan" dan tengil, namun Shakira tahu bahwa setiap kata-katanya adalah bentuk kejujuran tentang betapa bahagianya pria itu memilikinya. Di bawah sinar lampu jalanan yang remang, Shakira tersenyum kecil di punggung Zidan, menyadari bahwa hidupnya kini jauh lebih berwarna dengan kehadiran si mekanik bucin ini.
"Mas," panggil Shakira di tengah deru angin.
"Ya?"
"Makasih ya... buat martabaknya. Dan buat semuanya."
Zidan tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya meraih tangan Shakira yang melingkar di perutnya dan mencium punggung tangan itu dengan lembut di tengah kecepatan motor yang sedang melaju. Sebuah jawaban yang lebih dari cukup bagi Shakira.
***
Motor besar Zidan akhirnya terparkir sempurna di dalam garasi rumah mereka. Suasana rumah terasa sangat sunyi, hanya suara detak jam dinding di ruang tengah yang menyambut kepulangan sepasang suami istri ini. Shakira turun dari boncengan, masih mendekap erat rantang berisi rendang dari Mamanya, sementara Zidan menyampirkan helm dengan gerakan yang tampak sedikit terburu-buru.
"Mas, aku taruh rendangnya di dapur dulu ya. Mau dipanasin nggak?" tanya Shakira, mencoba mencairkan kecanggungan yang tiba-tiba merayap saat mereka hanya berdua di dalam rumah yang remang.
Zidan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melangkah mendekat, menutup pintu depan dan menguncinya dengan bunyi klik yang terdengar sangat tegas di telinga Shakira. Ia berbalik, menatap istrinya dengan tatapan yang jauh lebih intens daripada saat di teras rumah mertuanya tadi.
"Rendangnya bisa nunggu, Ra," bisik Zidan. Suaranya rendah, serak, dan penuh dengan vibrasi yang membuat bulu kuduk Shakira meremang.
"T-tapi nanti dingin..."
"Aku lebih suka yang panas," potong Zidan cepat. Ia melangkah maju, memerangkap tubuh Shakira di antara pintu dan dadanya yang bidang. Aroma sate kambing yang tadi sempat ia makan bersama teman-temannya sudah berganti dengan aroma maskulin yang khas, bercampur sedikit wangi keringat jantan yang justru terasa sangat menggoda.
Shakira mendongak, matanya bertemu dengan manik hitam Zidan yang berkilat-kilat di bawah lampu temaram ruang tamu. "Mas... kamu tadi bilang ada syukuran babak kedua. Itu... cuma bercanda kan?"
Zidan menyeringai nakal. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. "Kapan aku pernah bercanda soal hal-hal yang bikin aku bahagia, Sayang?"
Tangan Zidan yang besar mulai bergerak, menelusuri pinggang Shakira yang terbalut kardigan tipis, lalu perlahan masuk ke balik rambut panjang istrinya yang terurai. Ia menarik tengkuk Shakira dengan lembut, memaksa gadis itu untuk tetap menatapnya.
"Kamu tau nggak, tadi di bengkel aku nggak bisa fokus sama sekali. Setiap kali aku pegang kunci pas, yang aku inget cuma gimana suara kamu manggil 'Mas' semalam," bisik Zidan tepat di depan bibir Shakira.
Wajah Shakira memanas sempurna. "Zidan... kamu bener-bener ya. Otak kamu isinya cuma itu aja?"
"Isinya cuma kamu, Ra. Kamu yang sekarang udah nggak pasang guling pembatas lagi di ranjang kita," Zidan tidak menunggu jawaban lagi. Ia langsung membungkam bibir Shakira dengan ciuman yang dalam dan penuh tuntutan.
Berbeda dengan ciuman-ciuman sebelumnya yang terasa manis dan ragu-ragu, kali ini Zidan seolah melepaskan semua kerinduan dan gairah yang ia tahan sepanjang hari di bengkel. Shakira terengah, ia meletakkan rantang rendangnya di atas meja konsol di samping pintu dengan gerakan rabaan, lalu melingkarkan kedua lengannya di leher Zidan, membalas tautan itu dengan keberanian yang baru ia temukan.
Zidan mengerang rendah dalam ciuman itu, tangannya semakin posesif meremas pinggang Shakira, mengangkat tubuh mungil itu hingga kaki Shakira harus berjinjit. "Ke kamar... sekarang," perintah Zidan di sela napasnya yang memburu.
Tanpa menunggu persetujuan, Zidan menyisipkan lengannya di bawah lutut Shakira, menggendong istrinya itu dengan gaya bridal style menaiki tangga. Langkahnya mantap, seolah setiap anak tangga adalah menuju puncak kebahagiaannya.
Begitu sampai di kamar, Zidan menendang pintu hingga tertutup rapat dan langsung menguncinya. Ia meletakkan Shakira di atas ranjang yang spreinya masih sedikit berantakan—sisa dari 'pergulatan' mereka tadi pagi.
Cahaya lampu jalanan masuk lewat celah gorden, menyinari lekuk tubuh Shakira yang kini tampak sangat cantik dengan napas yang naik turun. Zidan mulai melepas jaket dan kaosnya, menampakkan otot-otot tubuhnya yang liat dan atletis.
"Mas... lampunya matiin," bisik Shakira malu-malu saat melihat tatapan lapar Zidan.
"Enggak. Aku mau liat setiap jengkal wajah kamu malam ini," sahut Zidan tegas. Ia merangkak naik ke atas ranjang, memerangkap Shakira di bawah tubuhnya. "Pelajaran dari Nina tadi sore... ada lanjutannya nggak?"
Shakira tertawa kecil di tengah debar jantungnya yang menggila. Ia memberanikan diri menyentuh rahang Zidan yang tegas dengan kedua tangannya. "Lanjutannya... katanya aku harus lebih berani manjain suami aku sendiri."
"Oh ya? Coba tunjukin seberapa berani mahasiswi tata boga kesayangan aku ini," tantang Zidan dengan senyum miring yang menantang.
Shakira menarik kerah kaos Zidan yang sudah dilepas setengah, menarik wajah suaminya itu agar kembali menyatu dengannya. Malam itu, kamar mereka menjadi saksi bisu betapa "syukuran" babak kedua jauh lebih membara daripada yang dibayangkan Zidan. Tidak ada lagi kata-kata kasar, tidak ada lagi sebutan "karatan" yang penuh ejekan. Yang ada hanyalah bisikan-bisikan mesra, desahan napas yang saling memburu, dan penyatuan dua jiwa yang kini benar-benar telah menemukan rumahnya satu sama lain.
Zidan membuktikan ucapannya bahwa komunikasi di atas ranjang itu penting, namun ia lebih memilih komunikasi lewat sentuhan yang membuat Shakira berkali-kali memanggil namanya dengan suara parau yang memabukkan.
"I love you, Shakira Naomi. Selamanya, kamu cuma punya aku," bisik Zidan di sela-sela peluh yang membasahi tubuh mereka.
"I love you too, Mas Zidan... suami aku," sahut Shakira tulus, memeluk erat punggung suaminya, membiarkan malam membawa mereka ke puncak kebahagiaan yang tak pernah mereka bayangkan saat awal pernikahan dulu.
tinggal daerah mano nyo Thor
di palembang jugo soalnyo