cinta pertama jaman aku SMP sulit sekali aku lupakan... kenangan manis nya masih sama dan luka semasa SMA juga yang sulit aku lupa.. hingga suatu hari sahabat terdekat yang dari lahir udah barengan sama aku! kenalkan aku sama dia.. Tutor nakal ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
...
..
Sebulan terakhir, suasana di rumah Mama Langit berubah drastis. Yayan nggak lagi jadi "hantu galau" yang cuma bisa natap kopi pahit dengan wajah datar dan dingin nya. Sebaliknya, Yayan mulai sering pulang dengan senyum tipis di bibirnya, auranya lebih hidup, dan dia kembali ke setelan pabriknya: Berandalan Mode On.
yayan sadar. jika dia tidak egois dan agresif jelitanya makin menjauh dan susah di gapai. dan ternyata rasanya menyenangkan mengganggu jelita meski gadis itu jengkel setengah mati
...----------------...
Sore itu, suasana Fakultas Ekonomi mulai melengang. Jelita Anna Tasya baru saja selesai merapikan jurnal akuntansinya saat dia menyadari ada sesuatu yang salah. Suara langkah sepatu yang berat mendekat ke arah pintu kelasnya.
BRAKK! Cklek!
"Loh... kenapa dikunci pintunya?!" pekik Jelita panik saat sadar Yayan sudah berdiri bersandar di pintu dengan kunci di tangannya. Seringai (smirk) andalan pria itu terukir di wajahnya, menciptakan aura intimidasi yang sangat kental.
"Sengaja, biar punya gue nggak kabur lagi," sahut Yayan santai, seolah-olah menyandera orang di dalam kelas adalah kegiatan rutinnya.
Jelita berdiri, matanya melotot tajam. "Gila lo ya, Kak! Buka nggak! Gue bilang gue udah punya pacar!"
Yayan justru tertawa rendah, tawa yang meremehkan sekaligus memabukkan. Dia berjalan mendekat, setiap langkahnya membuat Jelita harus mundur hingga terbentur meja dosen.
"Persetan pacar lo," gumam Yayan rendah saat jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. "Gue nggak peduli siapa dia, mau dia pangeran atau bodyguard lo, gue nggak peduli. Karena sejak awal... lo itu udah jadi milik gue, Jee. Lo itu milik gue yang tertunda."
"milik bapak lo!" semprot Jelita tepat di depan muka Yayan. "Gue bukan punya siapa-siapa selain cowok gue! Lo itu cuma bayangan masa lalu yang gue benci! Buka pintunya atau gue teriak biar satpam dateng!"
"Teriak aja," tantang Yayan sambil melipat tangan di depan dada. "Biar satu kampus tau kalau lo lagi berduaan sama gue di sini. Biar 'pacar' kebanggaan lo itu tau kalau lo nggak pernah bener-bener lepas dari sejarah kita."
"Sinting! Psikopat!" Jelita benar-benar frustrasi. Dia mencoba mendorong bahu Yayan, tapi pria itu justru menangkap kedua tangannya dan menguncinya di sisi tubuhnya. "Gue muak liat muka lo, Kak! Lo kabur lima tahun terus dateng-dateng klaim gue? Modal dikit kek kalau mau nyulik orang, jangan di kelas berdebu begini!"
Yayan justru semakin mendekatkan wajahnya, menghirup aroma vanilla dari rambut Jelita. "Gue nggak butuh modal buat ambil yang emang punya gue. Satu jam, Jee. Lo temenin gue di sini, kita selesaikan kencan yang nggak pernah terjadi jaman SMP dulu."
"Kencan di kelas akuntansi?! Lo beneran bokek atau gimana?!" umpat Jelita lagi, benar-benar nggak habis pikir dengan jalan pikiran berandalan di depannya ini. "Gue nggak mau kencan sambil liat papan tulis! Gue mau pulang!"
Yayan tidak melepaskan genggamannya. Dia menatap Jelita dengan tatapan haus yang tidak pernah padam. "Lo boleh maki gue, lo boleh umpat gue pake semua kamus bahasa kasar lo. Tapi lo nggak akan kemana-mana sampai satu jam ini berakhir."
Jelita benar-benar lemas. Kekuatan Yayan, dominasi pria ini, benar-benar mengingatkannya pada Langit, tapi versinya jauh lebih gelap. Dia merasa seperti sedang mengkhianati Langit di setiap detik dia berada di sini.
"Lo bener-bener berandalan nggak punya urat malu," desis Jelita lemas.
"Makasih pujiannya, Sayang," balas Yayan telak.
Jelita mendengus kasar, mencoba menghempaskan bokongnya kembali ke kursi kayu yang keras. Dia menatap Yayan dengan pandangan yang seolah ingin memutilasi pria itu hidup-hidup. "Oke, satu jam. Lo mau apa? Lo mau gue jelasin rumus neraca saldo biar otak berandalan lo itu ada isinya?!"
Yayan tertawa pelan. Dia menarik kursi dosen ke depan meja Jelita, duduk berhadapan dengan jarak yang sangat intim. Dia meletakkan kunci kelas di atas meja—bentuk provokasi nyata—lalu menopang dagu dengan telapak tangannya.
"Gue nggak butuh angka, Jee. Gue cuma butuh lo duduk di situ, diem, dan liat gue," ucap Yayan tenang. Matanya menyisir wajah Jelita, dari kening hingga bibir yang masih cemberut. "Lo jauh lebih cantik kalau lagi emosi gini. Tembok lo roboh bukan karena sedih, tapi karena marah. Dan gue suka itu."
"Sakit lo!" umpat Jelita lagi. Dia merogoh tasnya, mengambil kotak susu cokelat yang tersisa dan meminumnya dengan beringas seolah sedang meminum darah Yayan. "Satu jam ini bakal jadi satu jam paling sampah dalam hidup gue."
"Masa?" Yayan menaikkan alisnya. Dia mengambil spidol hitam di meja dosen, lalu berdiri menuju papan tulis putih yang penuh dengan coretan angka-angka akuntansi milik kelas sebelumnya.
Dengan gerakan santai, Yayan menghapus sebagian angka itu dengan tangannya sendiri, mengabaikan debu spidol yang mengotori jaket denimnya. Dia menulis sesuatu dengan huruf kapital besar yang bikin Jelita hampir tersedak susunya.
YAYAN ❤️ JELITA: SEJAK TUJUH TAHUN YANG LALU
"Hapus nggak! Malu-maluin banget sih lo, Kak!" pekik Jelita, mukanya memerah padam. "Kalau ada dosen liat gimana?!"
"Biarin. Biar mereka tau kalau mahasiswi teladan mereka punya sejarah panjang sama cowok Teknik paling berandalan," sahut Yayan tanpa dosa. Dia berbalik, menyandarkan pinggangnya di pinggiran meja dosen sambil melipat tangan. "Inget nggak dulu di perpus SMP? Lo duduk di pojokan, pura-pura baca buku sejarah padahal mata lo ngintip gue yang lagi dihukum lari di lapangan?"
Jelita tertegun. Ingatannya terseret paksa ke masa itu. Masa di mana jantungnya masih polos dan cuma tau nama Yayan. "Itu dulu. Sebelum lo jadi brengsek yang hobi nyakitin orang."
"Gue nggak pernah bermaksud nyakitin lo, Jee. Gue cuma bego. Gue pikir dengan gue nunjukkin kalau gue bisa dapetin siapa aja, lo bakal cemburu dan ngejar gue," Yayan melangkah maju lagi, kali ini suaranya merendah, pengakuan yang telat tujuh tahun. "Tapi gue salah. Lo justru makin jauh, makin kaku, sampe gue ngerasa nggak punya jalan lagi buat balik."
"Makanya lo kabur? Pengecut!"
"Iya, gue pengecut. Tapi pengecut ini udah balik, dan dia nggak bakal lari lagi. Walaupun lo udah punya pacar yang lo banggain itu," Yayan meraih jemari Jelita yang ada di atas meja, mengusap gelang perak pemberian Langit dengan ibu jarinya. "Gue nggak peduli dia siapa. Selama janur kuning belum melengkung, lo tetep target operasi gue."
Jelita menarik tangannya kasar. "Gue nggak butuh dioperasi! Gue udah sehat, gue udah bahagia!"
"Bahagia yang dipaksain?" Yayan menyeringai. "Gue liat mata lo, Jee. Pas lo liat gue tadi, ada rasa takut yang bercampur sama... rindu? Lo nggak bisa bohongin gue. Kita itu satu server. Lo kaku karena gue, dan lo bakal cair juga karena gue."
"Nggak akan!" Jelita berdiri, mencoba meraih kunci di meja, tapi Yayan lebih cepat. Dia menangkap tangan Jelita, menariknya hingga tubuh Jelita menabrak dada bidangnya.
Suasana kelas mendadak sunyi. Hanya ada deru napas mereka yang saling memburu. Yayan menatap bibir Jelita dengan pandangan lapar, sementara Jelita berusaha sekuat tenaga menahan getaran di lututnya. Wajah ini... wajah yang identik dengan Langit, tapi memberikan sensasi bahaya yang berbeda.
"Satu jam hampir abis, Jee," bisik Yayan tepat di depan bibir Jelita. "Dan gue baru sadar... satu jam ternyata nggak cukup buat nebus tujuh tahun yang ilang."
"Buka pintunya, Kak. Gue mohon," suara Jelita melemah, kali ini benar-benar memohon karena dia takut pertahanannya rubuh jika terus begini.
Yayan menatap Jelita lama, lalu perlahan melepaskan tangannya. Dia mengambil kunci, berjalan menuju pintu, dan membukanya dengan satu gerakan sentakan. Angin koridor yang dingin langsung menyeruak masuk.
"Silakan pulang, Tuan Putri," ucap Yayan dengan gaya gentleman berandalan. "Tapi inget, besok gue bakal ada di sini lagi. Di kelas ini, di parkiran, atau di mimpi lo. Gue nggak akan kasih lo napas sampe lo sadar kalau tempat lo sebenernya di samping gue."
Jelita tidak membuang waktu. Dia menyambar tasnya dan lari keluar kelas tanpa menoleh sedikit pun. Dia berlari menyusuri koridor, mengabaikan detak jantungnya yang kacau balau. Begitu sampai di parkiran, dia langsung memesan taksi online dengan tangan gemetar.
susah jadi dirimu Jee. mana sodaraan pula. 🤦♀️
hohoho jawbanya ada di tangan kk author tercinta ini 🤣🤣🤣